Home Berita Islam Terbaru Takjil Dipopulerkan Muhammadiyah

Takjil Dipopulerkan Muhammadiyah

32
0
129 views

Takjil Dipopulerkan Muhammadiyah

JAKARTA (Ceramahterbaru.net)–Berbeda dengan bulan-bulan lainnya, bulan suci Ramadan menyimpan beberapa momen kultural yang khas dan Jadi Asterik keistimewaan bulan Ramadan.

Momen kultural terpenting di bulan Ramadan selain ibadah Tarawih berjama’ah Yaitu sahur dan menyediakan takjil.

Ibadah sahur, umumnya dilakukan di akhir waktu guna memperpendek jarak berpuasa menahan nafsu, lapar dan haus.

Sementara itu, takjil umumnya disediakan di masjid-masjid dengan cara gratis atau dibagikan di tepi jalan untuk kaum muslimin yang sedang di perjalanan.

Tak banyak tahu, ternyata dua budaya di atas yang di ini nampak Generik di Indonesia pertama kali dipopulerkan Muhammadiyah. Ah masa? Begini penjelasannya.

Takjil Artinya

Peristilahan Takjil diambil dari Hadis Nabi Muhammad Riwayat Bukhari dan Muslim yang berbunyi, “Manusia masih terhitung di kebaikan selama ia menyegerakan (Ajjalu) berbuka”.

Istilah ‘menyegerakan’ di hadis Itu (Ajjalu), di bahasa Arab mempunyai medan semantik Yaitu ajjala–yu’ajjilu–ta’jilan yang artinya ‘momentum’, ‘tergesa-gesa’, ‘menyegerakan’, atau ‘mempercepat’. Glosarium Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengistilahkan Takjil Bagaikan Boga untuk berbuka puasa yang disegerakan.

di tataran Budaya, Takjil dimiliki oleh setiap bangsa muslim di seluruh Global dan Indonesia jauh sebelum Muhammadiyah lahir.

Snouck Hurgonje di De Atjehers, yakni laporannya Seusai mengunjungi Aceh di antara tahun 1891-1892 mencatat bahwa masyarakat lokal telah mengadakan buka puasa (takjil) di masjid beramai-ramai dengan ie bu peudah atau bubur pedas.

di catatan lain yang belum terkonfirmasi kebenarannya, takjil bahkan Jadi medium dakwah Wali Songo untuk menjalankan dakwah dan Islamisasi di bumi Nusantara.

Meskipun Takjil dikenal Bagaikan bagian dari perintah Nabi dan diadopsi di berbagai budaya yang berbeda, nyatanya di masa-masa itu Takjil hanya Jadi kebudayaan lokal, dan bukan kebudayaan populer.

Takjil dipopulerkan Muhammadiyah

Profesor Munir Mulkhan di bukunya yang berjudul Kiai Ahmad Dahlan – Jejak Pembaruan Sosial dan Manusia (2010) mencatat bahwa Muhammadiyah mempunyai peran besar di mempopulerkan Takjil beserta seremoni kultural lain di di Ramadan seperti mengakhirkan sahur ataupun kegiatan kultural di momen hari besar keagamaan Islam lainnya.

Munir mencatat bahwa Muhammadiyah Bagaikan gerakan tajdid mempopulerkan tradisi mengakhirkan makan sahur menjelang waktu subuh tiba dan menggelar takjil untuk menyegerakan kaum muslimin untuk berbuka.

Sebagaimana usaha Kiai Dahlan membawa ajaran Islam Muhammadiyah yang ditentang oleh kelompok tradisional hingga Kiai Dahlan Sempat dituduh Bagaikan ‘Kiai Kafir’, usaha Muhammadiyah di mempopulerkan Takjil dan mengakhirkan sahur pun mendapatkan tuduhan dan sematan miring.

“tips Muhammadiyah memenuhi ibadah puasa di atas waktu itu menyebabkan pengikut Muhammadiyah dicap tak tahan lapar, tapi di ini tips pengikut Muhammadiyah itu sudah Jadi tradisi puasa semua warga muslim di Indonesia,” catat Munir.

Kontribusi Muhammadiyah di Tradisi Takjil, Sahur dan Salat di Lapangan

Lebih luas, Profesor Munir Mulkhan mencatat bahwa Muhammadiyah mempunyai sumbangan lebih luas di mempopulerkan momen kultural keagamaan hari besar Islam.

Loading...

Misalnya, salat dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) yang dilakukan oleh Muhammadiyah di tempat terbuka dengan dikelola oleh demikian orang yang dinamakan panitia. Tak ayal, terobosan Muhammadiyah seperti itu menurut Munir juga turut mendapatkan tuduhan miring (lagi).

“Muhammadiyah pun dikecam keras Bagaikan agama baru, dan salat hari raya di tempat terbuka Yaitu bukti bila aktivis gerakan Muhammadiyah tak mengerti thaharah (bersuci) di Islam,” catatnya.

di momen Idul Adha atau Idul Fitri, Munir juga mencatat bahwa Muhammadiyah Empati meramaikan syiar Islam dengan mengumpulkan anak-anak Hizbul Wathan yang bertakbir keliling ke sudut-sudut kampung sembari mendatangi rumah kaum fakir miskin untuk membagi beras zakat atau daging kurban.

“di ini kegiatan itu sudah Jadi tradisi keagamaan yang dilakukan oeh semua orang tak terbatas pengiktu Muhammadiyah. Melalui guru agama di sekolah negeri/swasta, murid sekolah mengumpulkan uang fitrah di bulan puasa atau uang kurban di bulan haji. Uang fitrah yang terkumpul dan daging Fauna kurban setelah itu dibagikan kepada fakir miskin,” tulis Munir.*

Sumber: Muhammadiyah.or.id

Sebarkan informasi ini, semoga Jadi amal sholeh kita!

Berita Dakwah Indonesia lainnya:

  • Dayah Darul Quran Aceh Gelar Mukhayyam Ramadhan
  • Ponpes Tahfidz Wahdah Islamiyah Cibinong Gelar Ujian Hafalan Terbuka untuk Pertama Kali
  • MUI: RS Indonesia di Hebron Butuh dukungan Ummat
  • Persis Desak Polri Tangkap Joseph Paul Zhang yang Diduga Menista Islam
  • Josep Paul Zhang Nistakan Islam, Persis Minta Polisi Bertindak Tegas
  • Percepat Layanan Halal, BPJPH-LPPOM MUI Siapkan Integrasi SIHALAL-CEROL
  • Dewan Dakwah Jabar Lepas 12 Dai Kafilah
  • Dari Balik Penjara, Habib Rizieq Raih Gelar Doktor

Takjil Dipopulerkan Muhammadiyah

Takjil Dipopulerkan Muhammadiyah

Takjil Dipopulerkan Muhammadiyah
Takjil Dipopulerkan Muhammadiyah

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here