Home Ceramah Islam Terbaru SYARAT WAJIB SHALAT, KAJIAN FIKIH MAZHAB SYAFII

SYARAT WAJIB SHALAT, KAJIAN FIKIH MAZHAB SYAFII

130
0
KAJIAN FIKIH MAZHAB SYAFII
FIKIH SHALAT

SYARAT SHALAT 

Syarat Yaitu apa yang tergantung padanya keberadaan sesuatu, tapi ia bukan bagian dari sesuatu itu. Syarat shalat ada dua macam, Yaitu syarat wajib dan syarat Absah shalat.

جامع المحضار
Masjid al-Muhdhar Hadramaut Yaman

 
A. SYARAT WAJIB SHALAT
Yang dimaksud dengan syarat wajib shalat Yaitu hal-hal yang bila terpenuhi di diri seseorang maka ia wajib melaksanakan shalat. Dengan demikian, syarat-syarat ini berkaitan dengan pelaku shalat (manusia) bukan shalat yang dilakukan (perbuatan).
Syarat wajib shalat ada enam, Yaitu islam, balig, berakal, suci dari haida dan nifas, hingga kepadanya dakwah Islam, dan sehat indera.

1. Islam
Orang kafir asli tak wajib melaksanakan shalat dan tak pula wajib mengqadha shalat selama masa kekafirannya bila ia masuk Islam. Allah SWT berfirman:

قُلْ لِلَّذِيْنَ كَفَرُوْا إِنْ يَنْتَهُوْا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ سَلَفَ

“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: “bila mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka mengenai dosa-dosa mereka yang sudah lalu.”

Diriwayatkan dari Abu Thawil Syathab al-Mamdud, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

اَلْإِسْلاَمُ يَجُبُّ مَا قَبْلَهُ

“Islam memutus (menutup) apa yang telah lalu.” (HR. Thabrani).

Adapun orang murtad maka wajib mengqadha shalat yang ia tinggalkan selama masa murtad hingga kembali kepada Islam memperberat hukuman atasnya. Adapun shalat yang ia lakukan sebelum murtad maka tak wajib diqadha di karenakan ibadah Itu tak batal dengan kemurtadan kecuali bila mati di keadaan murtad. Allah berfirman

وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُوْلَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ

“Barangsiapa yang murtad di antara kita dari agamanya, lalu dia mati di kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya.” (Al-Baqarah: 217).

2. Balig.
Shalat tak wajib untuk anak kecil meskipun telah mumayiz (mampu membedakan bagus dan buruk), Yaitu berusia Anemia lebih 7 tahun. Rasulullah SAW bersabda:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ: عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ، وَعَنِ الْمَجْنُوْنِ حَتَّى يَعْقِلَ

“Kewajiban diangkat (tak berlaku) untuk tiga: orang yang tidur hingga terbangun, anak kecil hingga balig, dan orang gila hingga sadar.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah dan Ahmad).

Seseorang dianggap telah balig bila ditemukan Disorientasi satu Asterik berikut di dirinya, Yaitu:

Loading...
  • Mencapai usia 15 tahun dengan perhitungan kalender qamariah (bulan Hijriah) bagus laki-laki ataupun perempuan.
  • Mimpi basah, bagus untuk laki-laki ataupun perempuan di usia minimal 9 tahun qamariah.
  • Haid untuk perempuan di usia minimal 9 tahun qamariah.

Namun demikian, meskipun seorang anak belum balig tapi kedua orang tuanya wajib memerintahkannya untuk melaksanakan shalat bila ia telah berumur 7 tahun. Mereka juga boleh dipukul bila telah berusia 10 tahun. Rasulullah SAW bersabda:

مُرُوْا أَبْنَاءَكُمْ بِالصَّلَاةِ لِسَبْعِ سِنِيْنَ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا لِعَشْرِ سِنِيْنَ

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan shalat saat berusia tujuh tahun. Dan pukullah mereka karenanya saat berusia sepuluh tahun.” (HR. Ahmad).

3. Berakal.
Shalat tak wajib untuk orang gila, anak kecil yang belum mumayiz dan orang pingsan. Mereka juga tak wajib mengqadhanya. Ini berdasarkan Elaborasi Nabi SAW mengenai orang yang tak dikenai kewajiban syariat yang diantaranya Yaitu:

وَعَنِ الْمَجْنُوْنِ حَتَّى يَعْقِلَ

“Dan orang gila hingga sadar.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah dan Ahmad).

4. Suci dari haid dan nifas.
Perempuan yang kedatangan haid ataupun nifas tak boleh melaksanakan shalat bahkan dianggap berdosa bila tetap melakukannya sementara ia tahu Embargo Itu. Tapi ia tak wajib mengqadhanya bila telah suci.

Aisyah RA Sempat ditanya mengapa perempuan haid mengqadha puasa tapi tak mengqadha shalat. Ia menjawab: “Kami mendapati hal itu bersama Rasulullah SAW maka kami diperintahkan mengqadha puasa tapi tak diperintahkan mengqadha shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

5. hingga kepadanya dakwah Islam.
bila seseorang Hayati di suatu tempat yang terpencil sekali sehingga tak Sempat hingga kepadanya dakwah Islam atau apapun mengenai syariat Islam maka ia tak wajib shalat dan tak pula mengqadhanya. Allah SWT berfirman:

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِيْنَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُوْلًا

“Dan Kami tak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (Al-Isrâ`: 15).

6. Sehat indera.
Seseorang yang dilahirkan di keadaan buta dan tuli, atau kedua cacat Itu terjadi sebelum balig, maka ia tak wajib melaksanakan shalat meskipun Bisa berbicara. Ia juga tak wajib mengqadhanya bila kecacatan itu hilang darinya.

di karenakan informasi mengenai kewajiban ibadah dan tatacaranya hanya Bisa diketahui melalui indera mata dan telinga. Sehingga bila keduanya tak berfungsi maka mustahil seorang Bisa menjalankan suatu perintah atau meninggalkan suatu Embargo syariat.

wallahu a’lam

Sumber : http://ahmadghozali.com

abdkadiralhamid@2016

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Share on LinkedIn

Subscribe to receive free email updates:

SYARAT WAJIB SHALAT, KAJIAN FIKIH MAZHAB SYAFII

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here