Home Ceramah Islam Terbaru SYARAT Absah SHALAT, KAJIAN FIKIH MAZHAB SYAFII

SYARAT Absah SHALAT, KAJIAN FIKIH MAZHAB SYAFII

98
0
KAJIAN FIKIH MAZHAB SYAFII
FIKIH SHALAT

BAB SYARAT-SYARAT SHALAT
B. Syarat Absah Shalat
Syarat Absah shalat Yaitu hal-hal yang wajib dipenuhi supaya shalat yang dilakukan Jadi Absah. Syarat ini berkaitan dengan perbuatan shalat bukan pelakunya. Syarat Absah shalat ada lima Yaitu:

1. Suci dari hadas.
bagus hadas kecil ataupun besar. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ … وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوْا
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kita hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu, … dan bila kita junub maka mandilah.” (Al-Mâidah: 6).

Diriwayatkan dari Ibnu Umar RA, ia berkata: “Aku Sempat mendengar Rasulullah SAW bersabda:

لَا تُقْبَلُ صَلَاةٌ بِغَيْرِ طُهُوْرٍ
“tak diterima shalat tanpa bersuci.” (HR. Muslim).

جامع الأزهر

bila seorang terlupa tak bersuci lalu melaksanakan shalat maka shalatnya tak Absah dan wajib diulang. bila ia shalat tanpa bersuci dengan cara sengaja maka berdosa. bila seorang imam terlupa tak bersuci dan shalat telah selesai maka ia wajib mengulangi shalatnya, sementara makmum tak wajib mengulang.

Orang yang tak mendapati air dan debu (fâqiduth thahûrain) sementara waktu shalat hampir selesai atau tak ada Asa mendapatkan Disorientasi satunya sebelum selesai waktu shalat maka ia wajib melaksanakan shalat dengan keadaannya itu akan tetapi wajib mengulangi lagi bila telah mendapatkan air atau debu.


2. Suci dari najis.
Seorang yang melaksanakan shalat wajib suci dari najis di tiga hal, Yaitu badannya, pakaiannya dan tempat shalatnya, kecuali bila najis Itu dimaafkan.
Yang dimaksud badan disini Yaitu semua permukaan tubuh seseorang, termasuk rongga mulut, hidung, mata, telinga, dan bawah kuku. Rasulullah SAW berkata kepada Fatimah binti Abi Hubaisy RA:

فَإِذَا أَقْبَلَتِ الحَيْضَةُ فَاتْرُكِي الصَّلاَةَ، فَإِذَا ذَهَبَ قَدْرُهَا، فَاغْسِلِي عَنْكِ الدَّمَ وَصَلِّي
“bila datang haid maka tinggalkan shalat. bila telah pergi kadarnya maka cucilah darah darimu dan laksanakanlah shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Yang dimaksud pakaian disini Yaitu semua benda yang dipakai seseorang bagus berupa pakaian, perhiasaan, tutup kepala, sandal, dan lain sebagainya yang menempel dengan cara langsung di tubuhnya atau tak.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA bahwa Khaulah binti Yasar RA datang kepada Rasulullah SAW dan berkata: “Ya Rasulullah, aku tak mempunyai kecuali satu pakaian sementara aku mendapati darah haid di pakaian itu. Apa yang wajib aku lakukan?” Beliau menjawab:

إِذَا طَهُرْتِ فَاغْسِلِيْ ثُمَّ صَلِّيْ عَلَيْهِ
“bila engkau sudah suci maka bersihkanlah dan shalatlah dengannya.” Khaulah berkata: “bila darahnya tak hilang?” Beliau menjawab:

يَكْفِيْكِ غَسْلُ الدَّمِ وَلاَ يَضُرُّكِ أَثَرُهُ
“Cukuplah bagimu pencucian darah itu sementara bekasnya tak apa-apa.” (HR. Abu Daud).

bila seorang menggendong anak kecil atau seekor Fauna saat shalat maka tak batal shalatnya di karenakan najis yang berada di di tubuh tak diperhitungkan. Ini seperti najis yang ada di tubuh orang yang shalat itu sendiri. Tapi bila ia membawa suatu botol yang berisi najis atau kain yang terkena najis maka batal shalatnya.
Tempat Yaitu semua ruang yang bersentuhan dengan badan dan pakaian seseorang yang melaksanakan shalat. Dalilnya Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah RA mengenai kisah seorang Arab badui yang buang air kecil di Disorientasi satu bagian masjid. Lalu Nabi SAW memerintahkan untuk menyiramnya dengan seember air.

bila seorang shalat di atas sajadah yang di Disorientasi satu bagiannya terkena najis maka shalatnya Absah selama bagian yang terkena najis itu tak bersentuhan dengan badan atau pakaiannya. Meskipun najis itu berada di bawah dadanya saat ia sedang sujud tapi hukumnya Yaitu makruh.

bila seorang mengetahui bahwa ada najis di tanah atau lantai tempat shalat lalu ia menutupnya dengan sesuatu dan shalat di atasnya maka shalatnya Absah.
bila seorang selesai melaksanakan shalat lalu melihat ada najis di pakaiannya maka tak lepas dari tiga keadaan:
  1. bila ia yakin bahwa najis itu menempel sebelum shalat maka ia wajib mengulangi shalatnya bagus waktu shalat masih ada atau tak.
  2. bila yakin bahwa najis itu menempel Seusai shalat maka ia tak wajib mengulang shalatnya.
  3. bila ragu atau tak yakin apakah najis itu menempel sebelum shalat atau sesudahnya maka tak wajib mengulang shalat.
bila seorang makmum mengetahui dengan cara yakin bahwa imamnya membawa najis maka bila ia tak Bisa memperingatkannya maka ia wajib memisahkan diri dari imamnya (mufâraqah). bila tak maka batal shalatnya. Adapun imam maka ia wajib mengulangi shalatnya Seusai mengetahui najis Itu.


3. Mengetahui telah masuk waktu.
tak Absah shalat seseorang kecuali ia mengetahui bahwa waktu shalat telah masuk bagus dengan cara yakin ataupun kira-kira (dzan) yang berdasarkan ijtihad (usaha) di Menelusuri tahu waktu.
Terdapat tiga tingkatan mengetahui waktu shalat, Yaitu:
  1. Pengetahuan yang meyakinkan (al-‘ilmul yaqîniy). Yaitu berdasarkan pengamatan inderawi, seperti melihat fajar, terbenam atau terbitnya matahari, dan lainnya. Termasuk di dalamnya Yaitu pemberitahuan dari orang yang terpercaya, muadzin terpercaya, dan jam yang akurat.
  2. Pengetahuan yang berdasarkan ijtihad (usaha Menelusuri tahu waktu). Yaitu berdasarkan Asterik-Asterik yang bersifat tak pasti seperti suara ayam jago bila terbiasa mengokok saat fajar, bacaan zikir, pekerjaan, dan lainnya.
  3. Pengetahuan berdasarkan taklid (mengikuti) kepada orang yang mengamati melalui indera atau mengikui mujtahid.
bila seorang shalat tanpa mengetahui waktu dan tak berusaha Menelusuri tahu (berijtihad) maka shalatnya tak Absah meskipun ternyata shalatnya itu bertepatan dengan waktunya. bila seorang shalat berdasarkan ijtihad lalu ternyata shalat itu belum masuk waktunya maka shalatnya Absah akan tetapi dihitung Bagaikan qadha bila ia mempunyai hutang shalat semisal, atau dihitung Bagaikan shalat sunah Absolut bila tak mempunyai hutang shalat.

4. Menutup aurat.
Aurat berasal dari bahasa Arab: ‘aurah yang berarti kekurangan. dengan cara istilah fikih, aurat Yaitu sesuatu yang wajib ditutupi dan dilarang untuk dilihat.
Menutup aurat di shalat Yaitu wajib bila mampu –meskipun seseorang shalat sendiri di tempat tertutup atau tempat yang gelap– dengan pakaian yang tak tembus pandang dan Bisa menutup bagian aurat bila dilihat dari arah atas atau samping, bukan dari arah bawah.
مسجد الشافعي
Masjid Imam Syafii, Kairo Mesir

bila seorang shalat dengan pakaian sempit yang membentuk lekuk tubuhnya maka shalatnya Absah selama warna kulitnya tak tampak, akan tetapi makruh, terlebih bila yang melakukannya Yaitu perempuan.

Dasar kewajiban ini Yaitu firman Allah SWT:
يَا بَنِي آدَمَ خُذُوْا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid.” (Al-A’râf: 31).
Ibnu Abbas RA menyatakan bahwa yang dimaksud ayat diatas Yaitu memakai pakaian di di shalat.
Dan didasarkan juga di hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah RA, bahwa Nabi SAW bersabda:
لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةَ حَائِضٍ إِلَّا بِخِمَارٍ
“Allah tak menerima shalat seorang perempuan (yang telah) haid kecuali dengan khimar (Epilog badan).” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad).
bila seorang melaksanakan shalat lalu auratnya tersingkap maka ia wajib Genjah menutupnya kembali. bila tak Genjah menutup –dan berlalu waktu yang diperlukan untuk menutup—maka shalatnya batal dan wajib diulang.
bila Seusai shalat ia menyadari bahwa pakaiannya terdapat robekan atau lubang yang menampakkan aurat maka ia wajib mengulangi shalatnya. bila seorang tak mempunyai pakaian atau pakaian yang ada terkena najis maka ia wajib melaksanakan shalat dengan telanjang dan tak wajib mengulangi shalatnya. Tapi bila ada pakaian yang Bisa dibeli atau disewa dengan harga Generik dan ia mempunyai uang untuk itu maka wajib membeli atau menyewanya.
Batasan aurat
a. Aurat laki-laki. Terdapat empat keadaan aurat lelaki:
  1. saat shalat, di hadapan perempuan mahram, atau lelaki lainnya, Yaitu antara pusar dan lutut. Pusar dan lutut sendiri bukan bagian dari aurat tapi sebaiknya ditutup untuk menghindari terbukanya aurat.
  2. saat sendiri, Yaitu kemaluan depan (qubul) dan belakang (dubur).
  3. Di hadapan perempuan asing, Yaitu seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.
  4. Di hadapan isteri dan budak perempuannya, Yaitu tak ada aurat.
b. Aurat perempuan. Lima keadaan aurat perempuan:
  1. Aurat perempuan di di shalat, Yaitu seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Yang dimaksud telapak tangan disini Yaitu telapak dan punggung tangan hingga batas pergelangan.
  2. saat sendiri, di hadapan perempuan lain, atau di hadapan lelaki mahram, Yaitu antara pusar dan lutut.
  3. Di hadapan perempuan muslimah yang fasik (pelaku dosa besar), dan perempuan kafir, Yaitu yang umumnya tak terbuka saat bekerja, Yaitu kepala, wajah, leher, kedua tangan hingga siku-siku, dan keuda kaki hingga lutut. Selain anggota badan Itu maka dianggap aurat.
  4. Di hadapan lelaki asing, Yaitu seluruh tubuhnya. Sebagian ulama menyatakan selain wajah dan telapak tangan kecuali bila khawatir fitnah (godaan).
  5. Di hadapan suaminya, Yaitu tak ada aurat.
5. Menghadap kiblat.
dengan cara bahasa kiblat (al-qiblah) berarti arah. Adapun yang dimaksud kiblat di shalat Yaitu Ka’bah. Dinamakan demikian di karenakan Ka’bah berada di arah depan seorang yang melaksanakan shalat.
Seseorang wajib menghadap ke arab kiblat bila mampu. bila tak mampu, seperti seorang yang diikat di suatu tiang, maka menghadap ke arah manapun yang ia mampu akan tetapi wajib mengulang shalatnya bila telah mengetahui arah yang benar.
Keharusan menghadap kiblat ini berdasarkan dalil dari Alquran, hadits, dan ijmak para ulama. Allah SWT berfirman:
فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهُ
“Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana aja kita berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” (Al-Baqarah: 144).
Rasulullah SAW berkata kepada Khallad bin Rafi’ az-Zurqi RA:
إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ، فَأَسْبِغِ اْلوُضُوءَ، ثُمَّ اسْتَقْبِلِ اْلقِبْلَةَ، فَكَبِّرْ
“bila engkau akan melaksanakan shalat maka sempurnakanlah wudhu, lalu menghadaplah ke arah kiblat dan bertakbirlah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Seorang yang melaksanakan shalat dengan melihat langsung ke arah kiblat maka wajib menghadap ke arahnya dengan cara yakin. Dan bila tak melihat langsung di karenakan ada penghalang antara keduanya maka wajib menghadap ke arahnya berdasarkan Estimasi (dzann).
Seorang yang melaksanakan shalat dengan berdiri dan duduk maka ia wajib menghadap dengan dadanya. Menghadap dengan wajah Yaitu anjuran aja. bila ia shalat sambil tidur dengan Hepotenusa badan maka wajib menghadap dengan dada dan wajahnya sekaligus. Dan bila shalat dengan berbaring terlentang maka dengan dengan wajah dan telapak kakinya.
Terdapat dua keadaan seseorang dibolehkan untuk tak menghadap kiblat, Yaitu:
  1. di keadaan sangat takut di peperangan, menghadapi bahaya, dan lainnya.
  2. Melaksanakan shalat sunah di perjalanan, bagus diatas kendaraan atau tak. Diriwayatkan oleh Jabir RA: “Bahwa Rasulullah SAW shalat ke arah kendaraannya berjalan. Dan bila akan melaksanakan shalat wajib maka beliau akan turun dan menghadap kiblat.” (HR. Bukhari).
Demikianlah syarat-syarat Absah shalat. Sebagian ulama menambahkan dua syarat lainnya, Yaitu:
6. Mengetahui hukum kewajiban shalat.
bila ragu mengenai wajib atau sunahnya shalat yang ia lakukan maka tak Absah shalatnya.
7. tak meyakini hal yang wajib Bagaikan sunah.
bila meyakini bahwa rukun shalat Bagaikan sunah maka tak Absah shalatnya.

WALLAHU A’LAM

Sumber : http://ahmadghozali.com

abdkadiralhamid@2016

Loading...
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Share on LinkedIn

Subscribe to receive free email updates:

SYARAT Absah SHALAT, KAJIAN FIKIH MAZHAB SYAFII

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here