Home Berita Islam Terbaru Siap Muktamar, Waketum PERSIS: Transformasikan Gagasan untuk Kemaslahatan Umat Islam & Indonesia

Siap Muktamar, Waketum PERSIS: Transformasikan Gagasan untuk Kemaslahatan Umat Islam & Indonesia

40
0
577 views

Siap Muktamar, Waketum PERSIS: Transformasikan Gagasan untuk Kemaslahatan Umat Islam & Indonesia

JAKARTA (Ceramahterbaru.net) – Persatuan Islam (PERSIS) akan menyelenggarakan Muktamar XVI dengan waktu yang berbarengan dengan Muktamar badan otonomnya di akhir tahun 2022 ini, Yaitu Muktamar XIII PERSISTRI, Muktamar XII Pemudi PERSIS, dan Muktamar X Himi PERSIS.

Muktamar XVI PERSIS sendiri akan dilaksanakan di tanggal 23—25 September 2022, di Hotel Sutan Raja dan Hotel Sunshine Soreang, Kab. Bandung.

Wakil Ketua Generik PP PERSIS Dr. H. Jeje Zaenudin, M.Ag. menyampaikan beberapa alasan diundurnya Aplikasi Muktamar PERSIS, yang di awalnya diagendakan akan dilaksanakan di tahun 2020.

Alasan pertama, di karenakan adanya pandemi Covid-19. Kedua, adanya Asa jamaah yang menginginkan keterlibatan peserta yang maksimal.

“Pandemi mengakibatkan adanya pembatasan, yang konsekuensinya di pengurangan peserta yang mengikuti muktamar. Hal ini yang tak diharapkan oleh pimpinan-pimpinan cabang. Sehingga, disepakati muktamar akhirnya diundur ke tahun 2022,” ungkap Dr. Jeje saat konfrensi pers di kantor PP PERSIS Jakarta Jl. Bambu Apus Cipayung Jakarta, Kamis (11/08) sore.

Dr. Jeje yang juga ketua Steering Committee (SC) pun mengungkapkan makna dari pemilihan tema yang diangkat di Muktamar XVI, Yaitu Transformasi Gerakan Dakwah PERSIS untuk Mewujudkan Islam Rahmatan Lil’alamin di Bingkai NKRI.

“Tema Itu kami pilih Itu di karenakan kita mengetahui bahwa gerakan dakwah PERSIS sudah lebih dari satu abad, bila dilihat dari Almanak hijriah, Yaitu 102 tahun. Padahal dari Almanak masehi masih Anemia satu tahun, Yaitu 99 tahun,” terangnya.

Lebih lanjut ia menerangkan, terdapat beberapa landasan pemilihan tema Itu. Pertama, hadits Nabi saw., Innallah yab’atsu li hadzihil ummati ala ra’si kulli miati sanatin man yujaddidu laha diinaha, bahwa Allah akan membangkitkan di umat nabi Muhammad ini setiap penggujung 100 tahun orang yang memperbaharui lagi, menyegarkan lagi pemikiran regakan dan pengamalan ajaran Islam.

“Inilah landasan teologisnya. Jadi, bila di awal kebangkitannya kita melahirkan mujaddin-mujaddid yang menginspirasi gerakan dakwah Islam di Indonesia, seperti KH. Hasyim Asyari, KH. A. Dahlan, KH. Ahmad Surkati, dan KH. A. Hassan yang menggambarkan mujaddin-mujaddin abad 20, sekarang kita berada di abad 21 berharap mudah-mudahan di 100 tahun jamiyyah Persatuan Islam ini Allah karuniakan juga para mujaddid,” harapnya.

Kedua, landasan dengan cara historis dan sosiologis yang dihadapi oleh umat Islam Indonesia, khususnya jamiyyah Persatuan Islam. Menurutnya, yang dibutuhkan ke depan Yaitu transformasi gagasan-gagasan besar dan pemikiran normatif kepada gerakan aplikatif dan gerakan nyata. Sehingga, bila Dulu Yaitu gagasan pembaharuan, pemurnian yang besifat teoritis dan normatif, yang diperluan sekarang Yaitu gerakan implementatif dari pemurnian, dari gagasan pembaharuan itu.

“Apa wujud nyata untuk kemaslahatan dan kepentingan kehidupan umat Islam dan bangsa Indonesia. Intinya, bagaimana kita memperkuat dan melonjakkan peran jamiyyah PERSIS di Indonesia bersama ormas yang lain. Tentu aja untuk mewujudkan cita-cita keislaman kita, Yaitu hasanah di Global dan hasanah di akhirat, dan mewujudkan cita-cita kebangsaan kita, Yaitu Jadi bangsa yang adil, makmur, sejahtera, dan Berdikari,” katanya.

Loading...

Menurutnya, apa yang dicita-citakan dengan cara internal di konstitusi organisasi –di hal ini AD-ART atau Qanun Asasi dan Qanun Dakhili (QA-QD) jamiyyah— sebetulnya sudah sejalan dan sebangun dengan apa yang dicita-citakan konstitusi negara, Yaitu bagaimana mewujudkan kehidupan berbangsa yang adil, makmur, sejahtera, dan Berdikari melalui tips melindungi seluruh bangsa Indonesia, mencerdaskan kehidupan bangsa, meratakan kesejahteraan Generik, dan mewujudkan perdamaian Global.

Ia pun berharap tak ada lagi dikotomi antara cita-cita berbangsa dan bernegara dengan cita-cita kita berislam.

“Kegagalan menjaga keharmonisan antara cita-cita keumatan dan kebangsaan, cita-cita kenegaran dan cita-cita keagamaan, akan Jadi pintu masuk terjadinya disintegrasi dan pepecahan di kehidupan kita beragama dan berbangsa,” harapnya. [syahid/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga Jadi amal sholeh kita!

Berita Dakwah Indonesia lainnya:

  • AQL Islamic Center Gelar Khatam Quran Kemerdekaan
  • Israel Serang Gaza, Adara Relief International Kirim dukungan Obat-Obatan
  • Korupsi Penyakit Paling Besar di Indonesia
  • MER-C Mengutuk Agresi Israel ke Jalur Gaza
  • MUI Daerah Didorong Optimalkan Forum Seni Budaya
  • PW Daiyat Parmusi Babel Dikukuhkan, Fahira Idris: Muslimah Yaitu Rahim Peradaban
  • Gelar Munas III, PJMI Teguhkan Peran Jurnalis Muslim di Era Digital
  • DPP Hidayatullah Sambut bagus Gerakan Tolak Timnas Israel

Siap Muktamar, Waketum PERSIS: Transformasikan Gagasan untuk Kemaslahatan Umat Islam & Indonesia

Siap Muktamar, Waketum PERSIS: Transformasikan Gagasan untuk Kemaslahatan Umat Islam & Indonesia

Siap Muktamar, Waketum PERSIS: Transformasikan Gagasan untuk Kemaslahatan Umat Islam & Indonesia
Siap Muktamar, Waketum PERSIS: Transformasikan Gagasan untuk Kemaslahatan Umat Islam & Indonesia

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here