Home Berita Islam Terbaru Sebarkan! Fatwa MUI: Hukum memakai Atribut Keagamaan Non Muslim Yaitu Haram

Sebarkan! Fatwa MUI: Hukum memakai Atribut Keagamaan Non Muslim Yaitu Haram

114
0
Sebarkan! Fatwa MUI: Hukum memakai Atribut Keagamaan Non Muslim Yaitu Haram
Berita Islam 24H – MUI keluarkan fatwa baru perihal penggunaan atribut keagamaan non muslim, berikut keterangan selengkapnya:
FATWA
MAJELIS ULAMA INDONESIA
Nomor 56 Tahun 2016
mengenai
HUKUM memakai ATRIBUT KEAGAMAAN NON-MUSLIM
Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Seusai:
MENIMBANG :
a. bahwa di masyarakat terjadi fenomena di mana di peringatan hari besar agama non-Islam, sebagian umat Islam atas nama toleransi dan persahabatan, memakai atribut dan/atau simbol keagamaan nonmuslim yang berdampak di siar keagamaan mereka;
b. bahwa untuk memeriahkan kegiatan keagamaan non-Islam, ada sebagian pemilik usaha seperti hotel, super market, departemen store, restoran dan lain sebagainya, bahkan kantor pemerintahan mengharuskan karyawannya, termasuk yang muslim untuk memakai atribut keagamaan dari non-muslim;
c. bahwa terhadap masalah Itu, muncul pertanyaan mengenai hukum memakai atribut keagamaan non-muslim;
d. bahwa oleh di karenakan itu dipandang wajib menetapkan fatwa mengenai hukum memakai atribut keagamaan non-muslim guna dijadikan pedoman.
MENGINGAT :
1. Al-Quran :
a. Firman Allah SWT yang jelaskan Embargo meniru Ungkap orang-orang kafir, antara lain:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انْظُرْنَا وَاسْمَعُوا وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kita katakan (kepada Muhammad): ‘Raa´ina’, akan tetapi katakanlah: ‘Unzhurna’, dan ‘dengarlah’. Dan untuk orang-orang yang kafir siksaan yang pedih.”(QS. Al-Baqarah: 104)
b. Firman Allah SWT yang melarang mencampuradukkan yang haq dengan yang bathil, antara lain:
وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Dan janganlah kita campur adukkan yang Copyright dengan yang bathil dan janganlah kita sembunyikan yang Copyright itu, sedang kita mengetahui.”_ (QS. al-Baqarah : 42)
c. Firman Allah SWT yang jelaskan mengenai toleransi dan Interaksi antar agama, khususnya terkait dengan ibadah, antara lain:
قُلْ يَاأَيُّهَا الْكَافِرُونَ(1)لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ(2)وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ(3)وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ(4)وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ(5)لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ(6)
“Katakanlah: “Hai orang-orang yang kafir, aku tak akan menyembah apa yang kita sembah. Dan kita bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tak Sempat Jadi penyembah apa yang kita sembah. Dan kita tak Sempat (pula) Jadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku” (QS. al-Kafirun: 1-6)
d. Firman Allah SWT yang jelaskan Embargo mengikuti jalan, petunjuk, dan syi’ar selain Islam, antara lain:
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini Yaitu jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kita mengikuti jalan-jalan (yang lain), di karenakan jalan-jalan itu mencerai-beraikan kita dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu supaya kita bertakwa._ (QS. Al-An’am: 153)
e. Firman Allah SWT yang tak melarang orang Islam bergaul dan berbuat bagus dengan orang kafir yang tak memusuhi Islam
لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
“Allah tak melarang kita untuk berbuat bagus dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangi kita di karenakan agama dan tak (pula) mengusir kita dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”_. (QS. Al-Mumtahanah : 8)
f. Firman Allah SWT yang mengkhabarkan bahwa orang mukmin tak Bisa saling berkasih sayang dengan orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, antara lain:
لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ
“kita tak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (QS. Al-Mujadilah: 22)
2. Hadis Rasulullah SAW, antara lain:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ وَفِّرُوا اللِّحَى وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ
Dari Ibnu Umar ra, dari Rasulullah Saw beliau bersabda: Selisihilah kaum musyrikin, biarkanlah jenggot panjang, dan pendekkanlah kumis”_ (HR. al-Bukhari dan Muslim)
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا شِبْرًا وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى َقالَ فمَنْ
Dari Abi Sa’id al-Khudri ra dari Nabi Saw: “Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti tuntunan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, hingga seandainya mereka memasuki lubang biawakpun tentu kalian mengikuti mereka juga” Kami berkata: Wahai Rasulullah, Yahudi dan Nashara? Maka beliau berkata: “Maka siapa lagi?.”_ (HR. al-Bukhari dan Muslim).
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُعِثْتُ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي وَجُعِلَ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُم
Dari Ibnu Umar ra, Rasulullah Saw bersabda: “Aku diutus dengan pedang menjelang hari kiamat hingga mereka menyembah Allah Ta’ala semata dan tak mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun, dan telah dijadikan rizkiku di bawah bayangan tombakku, dijadikan kehinaan dan kerendahan untuk siapa yang menyelisihi perkaraku. Dan barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka”_ (HR. Ahmad)
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
Dari Ibnu Umar ra, Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk di golongan mereka.”_ (HR Abu Dawud)
عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا لَا تَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ وَلَا بِالنَّصَارَى فَإِنَّ تَسْلِيمَ الْيَهُودِ الْإِشَارَةُ بِالْأَصَابِعِ وَتَسْلِيمَ النَّصَارَى الْإِشَارَةُ بِالْأَكُفِّ
Dari Amru bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda: “Bukan dari golongan kami orang yang menyerupai selain kami, maka janganlah kalian menyerupai Yahudi dan Nasrani, di karenakan sungguh mereka kaum Yahudi memberi salam dengan isyarat jari jemari, dan kaum Nasrani memberi salam dengan isyarat telapak tangannya”._ (HR. al-Tirmidzi)
3. Qaidah Sadd al-Dzari’ah, dengan mencegah sesuatu perbuatan yang lahiriyahnya boleh akan akan tetapi dilarang di karenakan dikhawatirkan akan mengakibatkan perbuatan yang haram, Yaitu pencampuradukan antara yang Copyright dan bathil.
4. Qaidah Fidhiyyah:
دَرْأُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ
“Mencegah kemafsadatan lebih didahulukan (diutamakan) daripada menarik kemaslahatan”_
MEMPERHATIKAN :
1. Pendapat Imam Khatib al-Syarbini di kitab “Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifati Alfazh al-Minhaj, Jilid 5 halaman 526, Bagaikan berikut:
ﻭَﻳُﻌَﺰَّﺭُ ﻣَﻦْ ﻭَﺍﻓَﻖَ ﺍﻟْﻜُﻔَّﺎﺭَ ﻓِﻲ ﺃَﻋْﻴَﺎﺩِﻫِﻢْ ، ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻤْﺴِﻚُ ﺍﻟْﺤَﻴَّﺔَ ﻭَﻳَﺪْﺧُﻞُ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ ، ﻭَﻣَﻦْ ﻗَﺎﻝَ ﻟِﺬِﻣِّﻲٍّ ﻳَﺎ ﺣَﺎﺝُّ ، ﻭَﻣَﻦْ ﻫَﻨَّﺄَﻩُ ﺑِﻌِﻴﺪِﻩِ….
“Dihukum ta’zir terhadap orang-orang yang menyamai dengan kaum kafir di hari-hari raya mereka, dan orang-orang yang mengurung ular dan masuk ke di api, dan orang yang berkata kepada seorang kafir dzimmi ‘Ya Hajj’, dan orang yang mengucapkan selamat kepadanya (kafir dzimmi) di hari raya (orang kafir)…”
2. Pendapat Imam Jalaluddin al-Syuyuthi di Kitab “Haqiqat al-Sunnah wa al-Bid’ah : al-Amru bi al-Ittiba wa al-Nahyu an al-Ibtida’, halaman 42:
ومن البدع والمنكرات مشابهة الكفار وموافقتهم في أعيادهم ومواسمهم الملعونة كما يفعله كثير من جهلة المسلمين من مشاركة النصارى وموافقتهم فيما يفعلونه …والتشبه بالكافرين حرام وإن لم يقصد ما قصد
Termasuk bid’ah dan kemungkaran Yaitu sikap menyerupai (tasyabbuh) dengan orang-orang kafir dan menyamai mereka di hari-hari raya dan perayaan-perayaan mereka yang dilaknat (oleh Allah). Sebagaimana dilakukan banyak kaum muslimin yang tak berilmu, yang Empati-ikutan orang-orang Nasrani dan menyamai mereka di perkara yang mereka lakukan… Adapun menyerupai orang kafir hukumnya haram sekalipun tak bermaksud menyerupai”.
3. Pendapat Ibnu Hajar al-Haitami di Kitab al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah, jilid IV halaman 239 :
ومن أقبح البدع موافقة المسلمين النصارى في أعيادهم بالتشبه بأكلهم والهدية لهم وقبول هديتهم فيه وأكثر الناس اعتناء بذلك المصريون وقد قال صلى الله عليه وسلم { من تشبه بقوم فهو منهم } بل قال ابن الحاج لا يحل لمسلم أن يبيع نصرانيا شيئا من مصلحة عيده لا لحما ولا أدما ولا ثوبا ولا يعارون شيئا ولو دابة إذ هو معاونة لهم على كفرهم وعلى ولاة الأمر منع المسلمين من ذلك
Di antara bid’ah yang paling buruk Yaitu tindakan kaum muslimin mengikuti kaum Nasrani di hari raya mereka, dengan menyerupai mereka di Boga mereka, memberi hadiah kepada mereka, dan menerima hadiah dari mereka di hari raya itu. Dan orang yang paling banyak memberi perhatian di hal ini Yaitu orang-orang Mesir, Padahal Nabi Saw telah bersabda: “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dari mereka”. Bahkan Ibnul Hajar Menyebut: “tak halal untuk seorang muslim menjual kepada seorang Nasrani apapun yang termasuk kebutuhan hari rayanya, bagus daging, atau lauk, ataupun baju. Dan mereka tak boleh dipinjami apapun (untuk kebutuhan itu), walaupun hanya Fauna tunggangan, di karenakan itu Yaitu tindakan membantu mereka di kekufurannya, dan wajib untuk para penguasa untuk melarang kaum muslimin dari tindakan Itu”.
4. Pendapat Ibnu Katsir di Tafsir Ibnu Katsir Juz I halaman 373 di jelaskan makna surah al-Baqarah [2] ayat 104:
أن الله تعالى نهى المؤمنين عن مشابهة الكافرين قولا وفعلا . فقال: (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انْظُرْنَا وَاسْمَعُوا وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Sesungguhnya Allah melarang orang-orang mukmin untuk menyerupai orang-orang kafir bagus di ucapan atau perbuatan, Maka Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kita katakan (kepada Muhammad): “Raa´ina”, akan tetapi katakanlah: “Unzhurna”, dan “dengarlah”. Dan untuk orang-orang yang kafir siksaan yang pedih.”
5. Pendapat Imam Ibnu Taimiyyah di Kitab “Majmu’ al-Fatawa” jilid XXII halaman 95:
أن المشابهة في الأمور الظاهرة تورث تناسبا وتشابها في الأخلاق والأعمال ولهذا نهينا عن مشابهة الكفار
Keserupaan di perkara lahiriyah Bisa berdampak di kesamaan dan keserupaan di akhlak dan perbuatan. Oleh di karenakan itu, kita dilarang tasyabbuh dengan orang kafir.”
6. Pendapat Imam Ibnu Qoyyim al Jauzi di kitab Ahkam Ahl al-Dzimmah, Jilid 1 hal. 441-442:
وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم فيقول عيد مبارك عليك أو تهنأ بهذا العيد ونحوه فهذا إن سلم قائله من الكفر فهو من المحرمات وهو بمنزلة أن يهنئه بسجوده للصليب بل ذلك أعظم إثما عند الله وأشد مقتا من التهنئة بشرب الخمر وقتل النفس وارتكاب الفرج الحرام ونحوه. وكثير ممن لا قدر للدين عنده يقع في ذلك ولا يدري قبح ما فعل فمن هنأ عبدا بمعصية أو بدعة أو كفر فقد تعرض لمقت الله وسخطه
“Adapun memberi ucapan selamat (tahniah) di syiar-syiar kekufuran yang Eksklusif untuk orang-orang kafir Yaitu haram berdasarkan kesepakatan. Misalnya memberi ucapan selamat di hari raya dan puasa mereka seperti Menyebut, ‘Semoga hari raya ini Yaitu hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan “selamat di hari raya ini” dan yang semacamnya. Maka ini, bila orang yang mengucapkan itu Bisa selamat dari kekafiran, maka ini termasuk perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini di mereka setara dengan ucapan selamat atas sujud yang mereka lakukan di salib, bahkan perbuatan itu lebih besar dosanya di Hepotenusa Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dimurkai Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat di orang yang minum minuman keras, membunuh Heroisme, berzina, atau ucapan selamat di maksiat lainnya. Banyak orang yang Anemia paham agama terjatuh di hal Itu, dan dia tak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh di karenakan itu, barangsiapa memberi ucapan selamat di seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia layak mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.”
7. Pendapat al-‘Allamah Mulla Ali al-Qari, sebagaimana dikutip Abu Thayyib Muhammad Syams al-Haq al-Adzim Abadi di kitab Aun al-Ma’bud, Juz XI/hal 74 di jelaskan hadits mengenai tasyabbuh:
وقال القارئ: أي من شبه نفسه بالكفار مثلا من اللباس وغيره أو بالفساق أو الفجار أو بأهل التصوف والصلحاء الأبرار فهو منهم أي في الإثم والخير
Al-Qori berkata: “Maksudnya barangsiapa dirinya menyerupai orang kafir seperti di pakaiannya atau lainnya atau (menyerupai) dengan orang fasik, pelaku dosa serta orang ahli tashawwuf dan orang saleh dan bagus (maka dia termasuk di dalamnya) yakni di mendapatkan dosa atau kebaikan.”
8. Fatwa MUI mengenai Perayaan Natal Bersama di Tanggal 7 Maret 1981.
9. Pasal 29 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
10. Presentasi dan makalah Prof. DR. H. Muhammad Amin Summa, MA, SH., SE mengenai Seputar Sya’airillah.
11. Pendapat, saran, dan masukan yang berkembang di Sidang Komisi Fatwa MUI di tanggal 14 Desember 2016.
Dengan bertawakkal kepada Allah SWT
MEMUTUSKAN
MENETAPKAN : FATWA mengenai HUKUM memakai ATRIBUT KEAGAMAAN NON-MUSLIM
Pertama : Ketentuan Generik
di Fatwa ini yang dimaksud dengan:
Atribut keagamaan Yaitu sesuatu yang dipakai dan digunakan Bagaikan identitas, ciri khas atau Asterik Eksklusif dari suatu agama dan/atau umat beragama Eksklusif, bagus terkait dengan keyakinan, ritual ibadah, ataupun tradisi dari agama Eksklusif.
Kedua : Ketentuan Hukum
1. memakai atribut keagamaan non-muslim Yaitu haram.
2. Mengajak dan/atau memerintahkan penggunaan atribut keagamaan non-muslim Yaitu haram.
Ketiga : Rekomendasi
1. Umat Islam supaya tetap menjaga kerukunan Hayati antara umat beragama dan memelihara harmonis kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara tanpa menodai ajaran agama, serta tak mencampuradukkan antara akidah dan ibadah Islam dengan keyakinan agama lain.
2. Umat Islam supaya saling menghormati keyakinan dan kepercayaan setiap agama. Disorientasi satu wujud toleransi Yaitu menghargai kebebasan non-muslim di menjalankan ibadahnya, bukan dengan saling mengakui kebenaran teologis.
3. Umat Islam supaya memilih jenis usaha yang bagus dan halal, serta tak memproduksi, membagikan, dan/atau memperjualbelikan atribut keagamaan non-muslim.
4. Pimpinan perusahaan supaya menjamin Copyright umat Islam di menjalankan agama sesuai keyakinannya, menghormati keyakinan keagamaannya, dan tak memaksakan kehendak untuk memakai atribut keagamaan non-muslim kepada karyawan muslim.
5. Pemerintah wajib membagikan perlindungan kepada umat Islam Bagaikan warga negara untuk Bisa menjalankan keyakinan dan syari’at agamanya dengan cara murni dan benar serta menjaga toleransi beragama.
6. Pemerintah wajib mencegah, mengawasi, dan menindak pihak-pihak yang membuat peraturan (termasuk ikatan/kontrak kerja) dan/atau menjalankan ajakan, pemaksaan, dan tekanan kepada pegawai atau karyawan muslim untuk menjalankan perbuatan yang bertentangan dengan ajaran agama seperti Anggaran dan pemaksaan penggunaan atribut keagamaan non-muslim kepada umat Islam.
Keempat : Ketentuan Epilog
1. Fatwa ini berlaku di tanggal ditetapkan, dengan ketentuan bila di setelah itu hari ternyata dibutuhkan perbaikan, akan diperbaiki dan disempurnakan sebagaimana mestinya.
2. supaya setiap muslim dan pihak-pihak yang memerlukan Bisa mengetahuinya, menghimbau semua pihak untuk menyebarluaskan fatwa ini.
Ditetapkan di : Jakarta
di tanggal :
14 Rabi’ul Awwal 1437 H
14 Desember 2016 M
MAJELIS ULAMA INDONESIA
KOMISI FATWA
Ketua
PROF. DR. H. HASANUDDIN AF, MA
Sekretaris
DR. HM. ASRORUN NI’AM SHOLEH, MA
Download Link PDF: https://drive.google.com/file/d/0Bx8kMo1f1KCHUkt1UTdfME5Ib1k/view
Silakan share sebanyak-banyaknya supaya kaum muslimin memahami permasalahan ini. [ceramahterbaru.net / ppc]
Loading...

Sebarkan! Fatwa MUI: Hukum memakai Atribut Keagamaan Non Muslim Yaitu Haram

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here