Home Ceramah Islam Terbaru RUKUN SHALAT (BAGIAN KE-1) : NIAT , KAJIAN FIKIH MAZHAB SYAFII

RUKUN SHALAT (BAGIAN KE-1) : NIAT , KAJIAN FIKIH MAZHAB SYAFII

39
0
KAJIAN FIKIH MAZHAB SYAFII — FIKIH SHALAT
RUKUN SHALAT (BAGIAN KE-1)
BAB IV
RUKUN SHALAT
Yang dimaksud rukun Yaitu perbuatan yang tanpanya tak mungkin terwujud keberadaan sesuatu, dan ia merupakan bagian dari sesuatu itu sendiri. Rukun shalat berarti sesuatu yang shalat tak akan terwujud tanpa sesuatu itu dan merupakan bagian dari shalat itu sendiri, seperti rukuk dan sujud. Oleh di karenakan itu, rukun merupakan kewajiban di di shalat yang tak Absah shalat tanpanya.
Rukun shalat merupakan bagian utama di tata tutorial shalat. Tata tutorial shalat bersifat ta’abbudi (berasal dari Allah dan tak didasarkan akal) yang diajarkan kepada Nabi SAW oleh malaikat Jibril AS. Lalu Nabi SAW melaksanakannya dan mengajarkannya kepada para sahabat. Beliau bersabda:
صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ
“Shalatlah kalian seperti kalian melihatku shalat.” (HR. Bukhari).

Loading...
Menghadirkan niat di hati
Menghadirkan niat di hati
Diantara hal inti yang berkaitan dengan tatacara shalat Yaitu jumlah rakaatnya. Shalat Shubuh berjumlah dua rakaat, Zhuhur empat rakaat, Ashar empat rakaat, Magrib, tiga rakaat, dan Isya empat rakaat.
Perbuatan yang termasuk di rukun shalat berjumlah tiga belas yang terbagi di empat macam rukun, Yaitu:
  1. Rukun qauli (ucapan), Yaitu rukun yang wajib dibaca (dilafalkan) dengan mengeluarkan suara minimal terdengar oleh dirinya sendiri. Jumlahnya ada lima, Yaitu takbiratul ihram, membaca al-Fatihah, tasyahud akhir, shalawat kepada Nabi SAW dan salam.
  2. Rukun fi’li (perbuatan), Yaitu rukun yang diwujudkan dengan menjalankan perbuatan itu. Ada enam, Yaitu berdiri, rukuk, i’tidal, sujud, duduk diantara dua sujud dan duduk di tasyahud akhir.
  3. Rukun ma’nawi (maknawi), Yaitu rukun yang berwujud keadaan. Ada satu, Yaitu tertib (menjalankan dengan cara berurutan).
  4. Rukun qalbi (hati), Yaitu rukun yang diwujudkan di hati. Ada satu, Yaitu niat.
Rukun thuma`nînah (ketenangan antara dua gerakan sejarak minimal suatu ucapan tasbih) dimasukkan (digabungkan) di rukun yang lain. Berikut Elaborasi dengan cara terperinci rukun-rukun Itu.
1. NIAT
Niat Yaitu tekad (keinginan kuat) untuk menjalankan sesuatu yang dihadirkan bersamaan dengan menjalankan bagian awal dari perbuatan Itu. Niat Yaitu perbuatan yang wajib dilakukan di setiap ibadah. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan itu tergantung di niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Tempat menghadirkan niat Yaitu di hati.  Di di shalat niat dilakukan bersamaan dengan mengucapkan takbiratul ihram (takbir pembuka). bila seseorang berniat sebelum takbiratul ihram atau sesudahnya maka niatnya tak Absah. Yang dimaksud kebersamaan ini bukan kebersamaan Absolut, akan tetapi kebersamaan takbiratul ihram dengan sebagian lafal niat.
Meskipun niat yang terhitung Yaitu yang dihadirkan di hati namun orang yang akan melaksanakan shalat dianjurkan untuk melafalkan niat sebelum bertakbir guna membantu menghadirkan niat saat bertakbir.
Tingkatan menghadirkan niat di shalat terbagi Jadi tiga, Yaitu:
  1. Niat untuk shalat wajib. di shalat wajib ada tiga hal yang minimal wajib dihadirkan di niat, Yaitu niat untuk menjalankan perbuatan shalat, kefarduan (keharusan) shalat dan jenis shalat. Misalnya dengan Menyebut: أُصَلِّيْ فَرْضَ الْمَغْرِبِ “Ushallî fardhal maghribi” (aku berniat melaksanakan shalat Magrib).
  2. Niat untuk shalat sunah yang mempunyai waktu, seperti shalat Dhuha, Witir, rawatib qabliyah dan ba’diyah. Atau shalat sunah yang mempunyai sebab, seperti shalat Kusuf (gerhana) dan Istisqa` (meminta hujan). di shalat jenis ini, minimal dua hal yang wajib disebutkan, Yaitu keinginan menjalankan perbuatan shalat dan menentukan jenisnya. Seperti dengan mengucapkan: أُصَلِّيْ الضُّحَى “Ushallid Dhuhâ” (aku berniat melaksanakan shalat Dhuha).
  3. Niat untuk shalat sunah Absolut, Yaitu shalat sunah yang tak dibatasi waktu atau di karenakan sebab Eksklusif. Minimal menyebutkan perbuatan shalat, seperti Menyebut: أُصَلِّيْ “Ushallî” (aku berniat melaksanakan shalat).
Catatan :
1. saat berniat dianjurkan menyebutkan beberapa hal tambahan, Yaitu: ثَلاَثَ رَكَعَاتٍ (menunjukkan jumlah rakaat), مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ (menghadap kiblat), أَدَاءً (dilaksanakan tepat waktu), dan لِلهِ تَعَالَى (dilakukan di karenakan Allah SWT).
2. Seorang makmum wajib menambahkan niat Bagaikan makmum, dengan menyatakan misalnya: “makmûman” atau “jamâ’atan”. Tapi niat ini tak wajib dinyatakan di awal shalat. bila ia masuk di shalat tanpa niat Bagaikan makmum dan tak menyatakannya hingga berlalu waktu yang panjang maka batal shalatnya.
Adapun imam maka ia tak wajib menambahkan niat Bagaikan imam kecuali di empat shalat, Yaitu shalat Jum’at, shalat yang diulang, shalat nazar berjamaah, dan shalat jamak takdim di karenakan hujan.
3. bila seseorang ingin melaksanakan shalat qashar di di perjalanan maka ia wajib berniat mengqashar shalat. bila tak meniatkannya maka ia wajib menjalankan shalat dengan cara lengkap (tak diqashar).
4. bila seorang berniat keluar dari shalat, memutus niat shalat, atau ragu apakah akan terus shalat atau membatalkannya, maka shalatnya batal di semua keadaan itu.
WALLAHU A’LAM
Sumber :
abdkadiralhamid@2016
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Share on LinkedIn

Subscribe to receive free email updates:

RUKUN SHALAT (BAGIAN KE-1) : NIAT , KAJIAN FIKIH MAZHAB SYAFII

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here