Home Ceramah Islam Terbaru RUKUN SHALAT (BAG. 6) : BERSHALAWAT, MENGUCAPKAN SALAM, DAN TERTIB

RUKUN SHALAT (BAG. 6) : BERSHALAWAT, MENGUCAPKAN SALAM, DAN TERTIB

36
0
KAJIAN FIKIH MAZHAB SYAFII — FIKIH SHALAT

RUKUN SHALAT (BAGIAN KE-6)
RUKUN KESEBELAS : BERSHALAWAT KEPADA NABI SAW
Membaca shalawat Yaitu diwajibkan di duduk tahiyat yang diikuti salam. Waktu membacanya Yaitu Seusai membaca tasyahud. Kewajiban membaca shalawat didasarkan di perintah Allah SWT di ayat:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kita untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Al-aAhzâb: 56).
Ayat ini Yaitu perintah yang Ambiguitas wajib. Sementara para ulama berijmak bahwa bershalawat tak wajib di luar shalat sehingga kewajiban bershalawat Yaitu saat melaksanan shalat.
Dan diriwayatkan dari Abu Mas’ud –Uqbah bin Amr– RA, ia bertanya: “Bagaimana tutorial kami mengucapkan salam kepadamu di shalat kami?” Nabi SAW menjawab:
قُوْلُوْا: اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ … ـ
“Katakan: ALLAHUMMA SHALLI ‘ALÂ MUHAMMADININ NABIYYIL UMMIYYI…. (Ya Allah, sampaikanlah shalawat kepada Muhammad nabi yang ummi…). (HR. Ibnu Hibban, Hakim, Daruqutni, dan lainnya).
Bacaan minimal untuk shalawat Yaitu:
اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ
(ALLAHUMMA SHALLI ‘ALÂ MUHAMMAD)
“Ya Allah, sampaikanlah shalawat kepada Muhammad.”
Bacaan yang lengkap Yaitu:
اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَّجِيْدٌ
(ALLAHUMMA SHALLI ‘ALÂ MUHAMMAD ‘ABDIKA WA RASÛLIKAN NABIYYIL UMMIYYI, WA ‘ALÂ ÂLIHI WA AZWÂJIHI WA DZURRIYYATIH, KAMÂ SHALLAYTA ‘ALÂ SAYYIDINÂ IBRÂHÎMA WA ‘ALÂ SAYYIDINÂ IBRÂHÎM, WA BÂRIK ‘ALÂ SAYYIDINA MUHAMMADIN ‘ABDIKA WA RASÛLIKAN NABIYYIL UMMIYYI, WA ‘ALÂ ÂLIHI WA AZWÂJIHI WA DZURRIYYATIH, KAMÂ BÂRAKTA ‘ALÂ SAYYIDINÂ IBRÂHÎMA WA ‘ALÂ SAYYIDINÂ IBRÂHÎM. FIL ‘ÂLAMÎNA INNAKA HAMÎDUN MAJÎD)
“Ya Allah, sampaikanlah shalawat kepada penghulu kami Muhammad, hamba-Mu dan rasul-Mu, nabi yang ummi, dan kepada keluarganya, para isterinya serta keturunannya. Sebagaimana Engkau membagikan shalawat kepada penghulu kami Ibrahim dan kepada keluarga penghulu kami Ibrahim. Dan berikanlah keberkahan kepada penghulu kami Muhammad, hamba-Mu dan rasul-Mu, nabi yang ummi, dan kepada keluarganya, para isterinya serta keturunannya. Sebagaimana Engkau membagikan keberkahan kepada penghulu kami Ibrahim dan kepada keluarga penghulu kami Ibrahim. Sesungguhnya engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.”
Bacaan ini didasarkan di beberapa hadits yang diantaranya Yaitu hadits Abu Humaid as-Sa’idi RA: “Para sahabat bertanya kepada Nabi SAW: ‘Bagaimanakah tutorial kami bershalawat kepadamu?’ Beliau menjawab: “Katakan:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
“Ya Allah, sampaikanlah shalawat kepada Muhammad, dan kepada para isterinya dan keturunannya. Sebagaimana Engkau membagikan shalawat kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim. Dan berikanlah keberkahan kepada Muhammad, dan kepada para isterinya dan keturunannya. Sebagaimana Engkau membagikan keberkahan kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.” (HR. Bukhari).
Syarat-syarat membaca shalawat
Syarat membaca shalawat kepada Nabi SAW Yaitu seprti syarat di membaca tasyahud dengan beberapa tambahan berikut:
1. Dibaca Seusai tasyahud.
2. memakai Perkataan-Perkataan Eksklusif, Yaitu:
  • Perkataan shalawat (الصلاة). bila dirubah dengan Perkataan salam (السلام) atau rahmat (الرحمة) maka tak Absah.
  • Perkataan Muhammad, atau Ahmad. Atau memakai sifat beliau Yaitu nabi (النبي) atau rasul (الرسول). bila memakai Perkataan ganti ketiga, seperti: (اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ) maka tak Absah.
3. Membaca bacaan shalawat dengan cara tertib.

==========

RUKUN KEDUABELAS : MEMBACA SALAM 
السلام
Yang merupakan rukun di shalat Yaitu salam pertama aja. Minimal bacaan salam Yaitu: assalâmu ‘alaikum (semoga keselamatan tercurah untuk kalian), dan yang lengkap Yaitu: assalâmu ‘alaikum wa rahmatullah (semoga keselamatan dan rahmat Allah tercurah untuk kalian). Dalil rukun ini Yaitu hadits yang diriwayatkan Ali bin Abi Thalib RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ، وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ، وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ
“Kunci shalat Yaitu bersuci, pembukanya Yaitu takbir, dan penutupnya Yaitu salam.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).
Syarat membaca salam
Syarat membaca salam Yaitu:
1. Perkataan salam dibaca dengan cara ma’rifah (dengan menyebutkan huruf alif dan lam di depan Perkataan), Yaitu: assalâmu, bukan: salâmu, salâmullah, salâmi.
2. memakai Perkataan ganti kedua, Yaitu: ‘alaikum (untuk kalian). tak boleh: ‘alaihim (untuk mereka), ‘alainâ (untuk kita).
3. memakai bentuk jamak, Yaitu: ‘alaikum (untuk kalian). tak boleh: ‘alaika (untuk kita), ‘alaikumâ (untuk kalian berdua).
4. Kedua Perkataan tak boleh dipisah dengan Perkataan lain.
5. Dibaca dengan cara al-muwâlâh, Yaitu tak dipisahkan antara kedua Perkataan dengan jeda.
6. Diucapkan sambil menghadap kiblat dengan dadanya.
7. tak mengucapkan salam Bagaikan kalimat berita akan tetapi wajib meniatkan Bagaikan doa.
8. Dibaca sambil duduk.
9. Memperdengarkan bacaannya kepada dirinya.
10. memakai bahasa Arab.


RUKUN KETIGABELAS : TERTIB
menjalankan rukun-rukun diatas dengan cara berurutan, Yaitu menjalankan niat dan takbiratul ihram, lalu membaca al-Fatihah, lalu rukuk, lalu i’tidal, lalu sujud, dan seterusnya. Dalilnya Yaitu perbuatan Nabi SAW saat shalat yang diperintahkan untuk diikuti.
menjalankan rukun dengan cara tak berurutan terbagi Jadi dua:
1. Dilakukan dengan cara sengaja. bila seseorang mendahulukan suatu rukun dari tempatnya dengan cara sengaja maka batal shalatnya.
2. Dilakukan dengan cara tak sengaja
  • bila ia teringat rukun yang tertinggal sebelum hingga di rukun yang Serupa di rakaat berikut maka ia wajib langsung menjalankan rukun yang tertinggal Itu dan melanjutkan shalatnya seperti biasa lalu menjalankan sujud sahwi.
  • bila ia teringat rukun yang tertinggal Seusai hingga di rukun yang Serupa di rakaat berikut maka ia cukup melanjutkan shalatnya akan tetapi gerakan yang telah Disorientasi ia lakukan Yaitu batal dan dianggap seperti tak Sempat terjadi sehingga ia wajib menambah satu rakaat lagi.

WALLAHU A’LAM

Sumber : http://ahmadghozali.com

abdkadiralhamid@2016
Loading...
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Share on LinkedIn

Subscribe to receive free email updates:

RUKUN SHALAT (BAG. 6) : BERSHALAWAT, MENGUCAPKAN SALAM, DAN TERTIB

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here