Home Ceramah Islam Terbaru RUKUN SHALAT (BAG. 4) : RUKUK, I’TIDAL, DAN SUJUD, KAJIAN FIKIH MAZHAB...

RUKUN SHALAT (BAG. 4) : RUKUK, I’TIDAL, DAN SUJUD, KAJIAN FIKIH MAZHAB SYAFII

49
0
KAJIAN FIKIH MAZHAB SYAFII — FIKIH SHALAT

RUKUN SHALAT (BAGIAN KE-4)
RUKUN KELIMA : RUKUK
Rukuk Yaitu membungkukkan badan hingga kedua telapak tangan mencapai kedua lutut. Rukuk Yaitu rukun di di shalat berdasarkan firman Allah SWT:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا ارْكَعُوْا وَاسْجُدُوْا
“Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kita, dan sujudlah kita.” (Al-Hajj: 77).
Nabi SAW bersabda kepada seseorang yang beliau ajari shalat:
ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا
“Lalu rukuklah hingga engkau tenang di rukuk.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Orang yang tak mampu rukuk maka cukup menundukkan kepalanya. bila tak mampu maka dengan kelopak matanya. Adapun orang yang shalat sambil duduk maka membungkukkan kepalanya hingga sejajar dengan bagian depan lututnya. Namun yang sempurna Yaitu hingga sejajar dengan tempat sujudnya. Seseorang yang menjalankan shalat sunah atau shalat Khauf maka cukup sekedar membungkukkan tubuh aja. 
Rukuk
Syarat-syarat rukuk
Untuk menjalankan rukuk yang benar disyaratkan beberapa hal berikut:
1. Rukun-rukun sebelum rukuk wajib Absah. bila tak Absah maka seluruh perbuatan selanjutnya tak dianggap sehingga ia menyempurnakan rukun yang Anemia.
2. saat membungkuk tak boleh meniatkan perbuatan selain rukuk, seperti di karenakan takut sesuatu. di karenakan niat shalat mencakup semua gerakan di dalamnya sehingga bila ia menyimpangkan gerakan bukan untuk shalat maka dianggap tak Absah. Namun bila ia meniatkan rukuk dan sesuatu yang lain maka dibolehkan.
3. menjalankan tuma’ninah di dalamnya, Yaitu menenangkan anggota tubuh sehingga tampak terpisah gerakan membungkuk dan gerakan berdiri dari rukuk. Keadaan ini ditaksir seperti waktu yang dibutuhkan untuk mengucapkan tasbih (subhanallah). Dalilnya Yaitu sabda Rasulullah SAW:
ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا
“Lalu rukuklah hingga engkau tenang di rukuk.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Tuma’ninah wajib dilakukan dengan cara yakin. bila seseorang ragu apakah telah melakukannya atau belum maka tak Absah rukuknya.
4. Membungkukkan tubuh sehingga kedua telapak tangannya mencapai kedua lututnya meskipun ia tak menempelkannya. Diriwayatkan dari Abu Humaid as-Sa’idi RA yang menceritakan tata tutorial Rasulullah SAW melaksanakan shalat: “bila beliau rukuk maka memantapkan kedua telapak tangannya di kedua lututnya.” (HR. Bukhari).
5. tak menjalankan inkhinâs, Yaitu menekuk lutut sambil menurunkan pinggulnya dan menegakkan tubuh bagian atas seraya membusungkan dada. Perbuatan ini haram dilakukan di shalat, dan dihukumi batal dilakukan dengan sengaja.

RUKUN KEENAM : I’TIDAL
I’tidal Yaitu kembali tegaknya seseorang seperti sedia kala dari Letak rukuk. I’tidal termasuk rukun pendek yang ditetapkan Bagaikan pemisah antara rukuk dan sujud. Diriwayatkan dari Aisyah RA, bahwa ia jelaskan tutorial shalat Nabi SAW: “apabila beliau bangkit dari rukuk maka beliau tak akan sujud hingga berdiri dengan sempurna.” (HR. Muslim).
Syarat-syarat i’tidal
Syarat menjalankan i’tidal ada enam, Yaitu:
1. Rukun-rukun sebelum i’tidal wajib Absah.
2. saat bangkit tak meniatkan selain untuk i’tidal. bila ia berdiri di karenakan terkejut atau takut, misalnya, maka tak Absah i’tidalnya Itu.
3. menjalankan tuma’ninah di dalamnya dengan cara yakin.
4. Menegakkan tulang punggunya dengan cara sempurna. Rasulullah SAW kepada seorang yang beliau ajari shalat:
ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْدِلَ قَائِمًا
“Lalu bangkitlah hingga engkau berdiri dengan sempurna.” (HR. Bukhari dan Muslim).
5. tak memanjangkan i’tidal dari bacaan yang ditetapkan atau bacaan al-Fatihah. di karenakan i’tidal Yaitu rukun pendek sehingga bila dipanjangkan dari batas Itu maka batallah shalatnya, kecuali i’tidal di rakaat terakhir di karenakan merupakan tempat berdoa panjang (qunut).

RUKUN KETUJUH : SUJUD DUA KALI.
Sujud Yaitu meletakkan dahi di tempat shalat. Sujud merupakan rukun shalat yang dilakukan dua kali di setiap rakaat. Kewajiban ini berdasarkan firman Allah SWT:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا ارْكَعُوْا وَاسْجُدُوْا
“Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kita, dan sujudlah kita.” (Al-Hajj: 77).
Dan sabda Rasulullah SAW kepada seorang yang tak Bisa melaksanakan shalat:
ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا
“Lalu sujudlah hingga engkau tenang di sujud. Lalu bangkitlah hingga engkau tenang di duduk. Lalu sujudlah hingga engkau tenang di sujud.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Syarat-syarat sujud
supaya sujud Jadi Absah maka terdapat syarat-syarat yang wajib dipenuhi, Yaitu:
1. Rukun-rukun sebelum sujud wajib Absah.
2. tak meniatkan selain untuk sujud.
3. menjalankan tuma’ninah di dalamnya dengan yakin.
4. Meletakkan tujuh anggota sujud di lantai, Yaitu dahi, kedua telapak tangan, kedua lutut dan ujung kedua telapak kaki. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الجَبْهَةِ – وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ – وَاليَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ، وَأَطْرَافِ القَدَمَيْنِ
“Aku diperintah untuk bersujud di tujuh tulang (anggota badan): di dahi –seraya menunjuk ke hidungnya–, kedua tangan, kedua lutut, dan ujung kedua telapak kaki.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Yang dimaksud kedua tangan Yaitu kedua telapak tangan bagian di bukan punggung telapak. Dan yang dimaksud ujung telapak kaki Yaitu bagian di jemari kaki, bukan Hepotenusa atau punggung jemari.
Serta yang dimaksud menempelkan di lantai Yaitu menempelkan sebagian dari masing-masing anggota sujud di lantai bukan keseluruhannya.
5. Dahi yang diletakkan di lantai wajib terbuka (tersingkap) meskipun hanya sebagian aja. Diriwayatkan dari Khabab bin al-Arat RA bahwa: “Kami mengeluhkan panasnya terik matahari kepada Rasulullah SAW akan tetapi beliau tak memperhatikannya.” (HR. Muslim).
6. tak bersujud di suatu benda yang Dinamis dengan pergerakan orang yang shalat, seperti ujung serban atau lengan pakaiannya.
7. Bagian pinggul wajib lebih tinggi daripada pundak dan kepalanya sebagaimana yang dilakukan Nabi SAW.
8. Meletakkan kepala dengan mantap sehingga terlihat beban kepalanya yang sekiranya ia sujud di atas suatu benda yang lembut, seperti kapas, maka akan menciut. Diriwayatkan dari Abu Humaid as-Sa’idi RA ia berkata: “Rasulullah SAW bila bersujud maka memantapkan hidung dan dahinya di tanah.” (HR. Tirmidzi dan Abu Daud).

WALLAHU A’LAM

Sumber : http://ahmadghozali.com

abdkadiralhamid@2016
Loading...
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Share on LinkedIn

Subscribe to receive free email updates:

RUKUN SHALAT (BAG. 4) : RUKUK, I’TIDAL, DAN SUJUD, KAJIAN FIKIH MAZHAB SYAFII

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here