Home Ceramah Islam Terbaru RUKUN SHALAT (BAG. 3): MEMBACA AL-FATIHAH, KAJIAN FIKIH MAZHAB SYAFII

RUKUN SHALAT (BAG. 3): MEMBACA AL-FATIHAH, KAJIAN FIKIH MAZHAB SYAFII

33
0
KAJIAN FIKIH MAZHAB SYAFII

RUKUN SHALAT (BAGIAN KE-3)
4. Membaca Surah al-Fatihah.
Membaca surah al-Fatihah di shalat Yaitu rukun, bagus shalat fardu ataupun shalat sunah, dan bagus Bagaikan imam, makmum ataupun orang yang shalat sendirian. Diriwayatkan dari Ubadah bin Shamit RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ
“tak Absah shalat untuk yang tak membaca surah al-Fatihah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Surah Al-Fatihah
Surah Al-Fatihah
Adapun dalil kewajiban membacanya untuk makmum Yaitu hadits Ubadah bin Shamit RA, ia berkata: “Kami shalat Shubuh bersama Rasulullah SAW. Lalu beliau membaca Alquran akan tetapi agak tersendat di membacanya. saat selesai shalat beliau berkata: “Sepertinya kalian membaca Alquran di belakang imam kalian.” Kami menjawab: “Benar, ya Rasulullah.” Maka beliau bersabda:
 
لَا تَفْعَلُوْا إِلَّا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَإِنَّهُ لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِهَا
“Jangan kalian lakukan kecuali membaca surah al-Fatihah, di karenakan tak Absah shalat untuk yang tak membacanya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).
Syarat membaca al-Fatihah
Terdapat syarat-syarat yang wajib dipenuhi supaya Absah di membacanya. Syarat-syarat Itu Yaitu:
  1. Membaca setiap ayatnya dengan cara berurutan.
  2. Membaca dengan cara terus berkelanjutan dan tak terputus (al-muwâlah). bila antara dua ayat terpisah jarak melebihi seorang bernafas maka batal shalatnya.
  3. Menyebutkan setiap huruf dengan benar sesuai makhrajnya (tempat keluar huruf). bila Disorientasi satu hurufnya tak dibaca atau diganti dengan huruf lain maka shalatnya tak Absah. Di di surah al-Fatihah terdapat 156 (seratus lima puluh enam) huruf termasuk huruf yang ditasydid (didobel).
  4. Menjaga setiap tasydid hurufnya. Ada 14 (empat belas) huruf yang bertasydid di al-Fatihah. bila tak membaca tasydid di huruf yang bertasydid maka bacaannya tak Absah sehingga wajib diulang. Sebaliknya, bila membaca tasydid bacaan yang tak bertasydid sehingga merubah makna maka tak Absah juga bacaannya. Bahkan, shalatnya Jadi batal bila dilakukan dengan cara sengaja.
  5. tak berhenti di membaca bagus lama ataupun sebentar dengan maksud memotong bacaan.
  6. Membaca seluruh ayatnya. Termasuk bacaan basmalah.
  7. tak Disorientasi membaca yang Bisa merusak makna. bila merusak makna seperti: “an’amtu” atau “an’amti” maka batal shalatnya.
  8. Membacanya di keadaan berdiri dengan cara sempurna di shalat fardu. bila dibaca sambil merunduk saat akan rukuk atau akan bangkit berdiri maka bacaannya tak Absah.
  9. Memperdengarkan bacaan itu kepada dirinya. di karenakan al-Fatihah merupakan rukun qauli (rukun bacaan).
  10. tak disisipi bacaan zikir asing, Yaitu zikir yang tak ada kaitannya dengan shalat, seperti membaca “alhamdulillah” Seusai bersin, dan menjawab azan. Yang termasuk zikir bukan asing Yaitu seperti menjalankan sujud tilawah, membaca “amin”, dan berdoa memohon rahmat atau perlindungan dari azab.
  11. tak membacanya dengan maksud lain selain bacaan shalat. bila membacanya untuk mendapatkan keberkahan, zikir atau doa maka tak Absah bacaan Itu.
  12. Membacanya di bahasa Arab, di karenakan terjemahan al-Fatihah bukan Alquran.
tak mampu membaca surah al-Fatihah
Seorang wajib mempelajari surah al-Fatihah hingga Bisa membacanya dengan bagus. bila telah Berguru tapi belum Bisa membaca dengan bagus sementara waktu shalat sudah akan berakhir maka ia boleh shalat dengan keterbatasannya Itu. Shalatnya dihukumi Absah namun ia tetap wajib terus Berguru hingga Bisa. bila seorang malas atau lalai sehingga tak Bisa membaca al-Fatihah Padahal ia mampu melakukannya di karenakan terdapat waktu dan pengajar maka ia berdosa dan shalatnya tak Absah.
Selain kemampuan membaca maka terdapat beberapa hal lain yang wajib ia lakukan, Yaitu:
  1. Menghapal surah al-Fatihah.
  2. bila tak mampu menghapalnya maka wajib menuliskannya di suatu kertas dan membacanya di shalat.
  3. bila tak mampu menulis dan membacanya maka ia wajib membaca tujuh ayat yang jumlah hurufnya tak Anemia dari jumlah huruf al-Fatihah (156 huruf).
  4. bila tak mampu maka membaca tujuh bacaan zikir yang hurufnya tak Anemia dari huruf al-Fatihah. Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW mengajarkan seorang lelaki tatacara shalat. Beliau bersabda:

فَإِنْ كَانَ مَعَكَ قُرْآنٌ فَاقْرَأْ بِهِ، وَإِلَّا فَاحْمَدِ اللَّهَ وَكَبِّرْهُ وَهَلِّلْهُ
“bila kita mempunyai hapalan Alquran maka bacalah. bila tak maka bertahmidlah, bertakbirlah, dan bertahlilla.” (HR. Abu Daud).
5. bila tak mampu maka ia cukup berdiam selama waktu yang dibutuhkan untuk membaca al-Fatihah.
Gugurnya bacaan al-Fatihah
dengan cara hukum asal, membaca al-Fatihah di shalat Yaitu rukun yang tak Bisa ditinggalkan kecuali untuk makmum yang masbuk. Yang dimaksud masbuk disini Yaitu seseorang yang tak mempunyai waktu untuk membaca surah al-Fatihah bagus seluruhnya ataupun sebagiannya aja. Hal ini berdasarkan kisah Abi Bakrah RA yang saat memasuki masjid, imam sudah rukuk. Maka ia pun rukuk sebelum masuk shaf lalu berjalan Futuristis shaf. Seusai shalat, ia menceritakan keadaannya itu kepada Nabi SAW, maka beliau bersabda:
زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا وَلا تَعُدْ
“Semoga Allah menambah kedisiplinanmu (di ibadah) dan jangan diulangi lagi.” (HR. Bukhari).
Makmum yang masbuk tak lepas dari dua keadaan:
  • Masbuk yang tak mempunyai waktu Serupa sekali untuk membaca al-Fatihah, Yaitu bila ia mendapati imam telah rukuk atau sedang bersiap rukuk. Maka di keadaan ini kewajiban membaca al-Fatihah Jadi gugur.
  • Masbuk yang mempunyai sedikit waktu yang hanya cukup untuk membaca sebagian al-Fatihah. Maka kewajibannya Yaitu membaca al-Fatihah sesuai waktu yang tersedia. bila imam rukuk maka ia wajib rukuk bersamanya meskipun ada beberapa ayat al-Fatihah yang belum terbaca.
di keadaan ini, ia tak dianjurkan untuk membaca doa iftitah. bila ia membacanya maka ia wajib menambah waktu berdiri untuk membaca al-Fatihah sesuai waktu yang ia pakai di membaca doa iftitah. bila ia masih mendapati rukuk imamnya maka dianggap telah mendapatkan satu rakaat, tapi bila imamnya telah berdiri dari rukuk maka ia telah Dehidrasi satu rakaat dan wajib langsung mengikuti i’tidal imam. bila ia menjalankan rukuk maka batal shalatnya di karenakan telah menambah perbuatan di shalat.
Keadaan masbuk ini juga berlaku untuk seseorang yang terlambat bangkit dari sujud sehingga saat berdiri ia mendapati imamnya telah rukuk atau hampir rukuk, maka ia tak wajib membaca al-Fatihah atau menyempurnakan bacaannya.
Adapun bila makmum tak di keadaan masbuk akan tetapi ia belum selesai membaca al-Fatihah saat imam rukuk maka bila keterlambatannya itu dikarenakan suatu uzur, seperti bacaan imam yang sangat Genjah, atau bacaannya yang lambat, maka ia tetap wajib melanjutkan bacaan al-Fatihah hingga selesai. di hal ini diberikan keringanan baginya untuk terlambat dari gerakan imam di batas maksimal 3 (tiga) rukun besar. bila telah lebih dari itu maka makmum mempunyai dua pilihan, Yaitu memisahkan diri dari imam (mufâraqah) atau tetap bersama imam akan tetapi rakaat pertama dihitung tak ada sehingga ia wajib menambah satu rakaat lagi Seusai imam salam.
Catatan:
Bacaan basmalah merupakan ayat pertama dari surah ini sehingga wajib dibaca bersamanya dengan cara keras di shalat jahriyah dan dengan cara lirih di shalat siriyah. Ini berdasarkan apa yang diriwayatkan dari Ummu Salamah RA bahwa: “Nabi SAW menganggap basmalah Bagaikan ayat.” (HR. Ibnu Khuzaimah).

WALLAHU A’LAM

Sumber : http://ahmadghozali.com

abdkadiralhamid@2016
Loading...
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Share on LinkedIn

Subscribe to receive free email updates:

RUKUN SHALAT (BAG. 3): MEMBACA AL-FATIHAH, KAJIAN FIKIH MAZHAB SYAFII

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here