Home Kisah Islami Peristiwa Geothermal Di Ka’bah Sebelum Muhammad Diangkat Jadi Rasul

Peristiwa Geothermal Di Ka’bah Sebelum Muhammad Diangkat Jadi Rasul

102
0
saat Nabi Muhammad SAW berusia 35 tahun, sebelum diangkat Jadi seorang Rasulullah untuk mendakwahkan agama Islam. Ada suatu peristiwa Geothermal yang terjadi di baitullah (Ka’bah). Dimana  masyarakat Quraisy memutuskan untuk merenovasi Ka’bah. Keadaan Ka’bah di itu hanya berupa susunan batu-batu yang lebih tinggi dari badan manusia, yang telah dibuat sejak Masa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail tanpa perbaikan yang memadai. Bagian atasnya di keadaan terbuka tanpa atap, sehingga sering ada pencurian terhadap barang-barang yang ada di dalamnya. Beberapa waktu sebelumnya juga terjadi banjir hingga melanda Baitullah, akibatnya keadaan Ka’bah makin memprihatinkan aja.
Semua pemuka kabilah dari suku Quraisy bermusyawarah, dan mereka memutuskan untuk merenovasi Ka’bah. akan tetapi mereka mereka memutuskan hanya akan Menelusuri dan mengumpulkan bahan dan dana dari jalan yang ‘bagus-bagus’ aja (halal, istilah syariatnya). Walau ‘maksiat’ Yaitu hal yang biasa untuk umumnya mereka, akan tetapi untuk renovasi Ka’bah itu mereka memutuskan untuk menolak ‘sumbangan’ dan pengumpulan dana dari hasil kedzaliman, hasil transaksi yang mengandung riba, dari hasil merampas atau merampok, penggelapan atau korupsi, pelacuran dan berbagai tutorial ‘maksiat’ lainnya.
Sempat terjadi kebimbangan saat akan merobohkan bangunan lama, mereka takut terkena bala’ bila melakukannya. Seperti pasukan yang ingin menghancurkan Ka’bah. Mereka sangat memuliakan Ka’bah, melebihi berhala-berhala sesembahannya. Akhirnya Walid bin Mughirah al Makhzumy yang mengawali melakukannya. Seusai beberapa di lamanya tak terjadi apa-apa di Walid, mereka baru berani Dinamis bersama-Serupa merobohkannya.
Untuk membangun kembali Ka’bah, kaum Quraisy mendatangkan seorang ‘arsitek’ dari Romawi bernama Pachomius, atau lebih dikenal dengan nama Baqum. Mereka bergotong-royong mengerjakannya, setiap kabilah diserahi satu bagian dari Ka’bah. Nabi SAW juga terjun langsung di pembangunan itu, beliau bekerja berdampingan dengan paman beliau, Abbas bin Abdul Muthalib, mengangkat batu-batuan. Kebanyakan orang mengangkat jubahnya hingga di atas lutut di bekerja, akan tetapi beliau tetap membiarkannya hingga hampir pertengahan betis atau mata kaki. Abbas berkata, “Angkatlah jubahmu supaya engkau tak terluka oleh batu!!”
Nabi SAW mengikuti saran Abbas, yang artinya terlihat paha beliau (dengan cara syariat, terlihat auratnya), akan tetapi seketika itu beliau jatuh terjerembab. Beliau memandang ke langit, setelah itu berkata, “Ini gara-gara jubahku (yang terbuka), ini gara-gara jubahku (yang terbuka)!!”
setelah itu beliau membiarkan jubahnya seperti semula, atau malah justru mengikatkannya supaya tak terbuka. Dan Seusai peristiwa itu Nabi SAW tak Sempat lagi menampakkan auratnya.
saat pembangunan telah hingga di batas tempat Hajar Aswad, terjadi perselisihan. Masing-masing kabilah merasa paling berhak untuk meletakkan Hajar Aswad di tempatnya semula, dan tak ada yang mau mengalah. Perselisihan itu terus berlanjut sehingga pembangunan Sempat terhenti selama empat atau lima hari. Begitu panasnya suasana pertentangan ini hingga hampir terjadi perang saudara.
Kabilah Bani Abdid Dar datang membawa baki berisi darah. Mereka mengangkat sumpah bersama Bani Ady bin Ka’ab bin Luay untuk berjuang hingga titik darah penghabisan demi memperoleh kehormatan meletakkan Hajar Aswad di tempatnya semula. Semua orang dari dua kabilah itu mencelupkan tangannya ke baki berisi darah, dan peristiwa itu terkenal dengan nama Luq’atud-Daam (Jilatan Darah).
Melihat perkembangan situasi yang membahayakan Itu, para pemuka itu berkumpul di Baitullah untuk Menelusuri jalan tengah. Disorientasi seorang tetua bijaksana yang dihormati di antara mereka, Abu Umayyah bin Mughirah al Makhzumy berkata, “Wahai kaum Quraisy, serahkanlah masalah yang kalian pertentangkan itu kepada orang yang pertama muncul dari pintu masjid ini (yakni pintu Bani Syaibah), dan biarkanlah dia yang memutuskan!!”
Mereka menerima saran dari Abu Umayyah Itu. Dan tak lama berselang, sepertinya Allah berkehendak menunjukkan keutamaan beliau, Nabi SAW muncul dari pintu Bani Syaibah Itu. Begitu melihat kemunculan beliau, mereka langsung berseru, “Inilah dia Muhammad, inilah dia al Amin (yang Bisa dipercaya), kami rela dengan apa yang diputuskannya!!”
Mereka memanggil Nabi SAW mendekat dan menyampaikan hasil musyawarah mereka. Walau beliau mengetahui terjadinya pertentangan, akan tetapi selama empat atau lima hari Itu beliau menjauhkan diri dari mereka, sambil menunggu pembangunan dilanjutkan kembali. Seusai mendengar keputusan mereka itu, Beliau membentangkan surban beliau. setelah itu beliau meminta setiap pimpinan kabilah untuk memegang Hepotenusa-Hepotenusa kain atau surban Itu, beliau meletakkan Hajar Aswad di atasnya dan memerintahkan mereka untuk membawanya ke tempatnya di Disorientasi satu sudut Ka’bah. Setibanyanya di sana, Nabi SAW mengambil Hajar Aswad dari tengah kain/surban dan meletakkan/menanamkan di tempatnya semula.
Para pemuka Quraisy itu sangat gembira dengan keputusan yang diambil oleh Nabi SAW. Mereka terselamatkan dari perpecahan dan pertumpahan darah di karenakan kecerdikan dan kebijakan beliau, yang tak lain Yaitu bagian dari Hepotenusa kenabian (Disorientasi satu sifat kenabian, yakni Fathonah), dan mereka mengakui hal itu. Sayangnya, beberapa tahun setelah itu saat beliau menyampaikan Risalah Kebenaran Islam, sebagian besar dari mereka justru menentang Demisioner-habisan. Lebih sayangnya lagi, mereka menentang bukan di karenakan mereka tak tahu bahwa Islam itu Yaitu kebenaran, dan Nabi Muhammad SAW Yaitu orang yang sangat Bisa dipercaya sebagaimana mereka mengenali sejak kecil. akan tetapi mereka menentang hanya di karenakan kehormatan, gengsi, kesombongan dan arogansi kekuasaan yang sudah lama mereka miliki dan takut terlepas dari tangan mereka.  Wallahu A’lam

Loading...
[Ibnu Ghufron]

Baca Info Menarik berikut ini di >>> Peristiwa Unik Matahari Yang wajib kalian Ketahui

Tag : Kisah Inspiratif Islam

Peristiwa Geothermal Di Ka’bah Sebelum Muhammad Diangkat Jadi Rasul

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here