Home Berita Islam Terbaru Obsesi Surya Paloh, Tersandung Di Monas

Obsesi Surya Paloh, Tersandung Di Monas

114
0
Obsesi Surya Paloh, Tersandung Di Monas

Berita Islam 24H – MENJELANG hari-hari terakhir saya di Media Indonesia Group tahun 1999, Surya Paloh bertanya apakah mungkin dia mendirikan suatu stasiun televisi setara CNN. Dilanjutkan pertanyaan bagaimana menghubungkannya dengan Ted Turner, pendiri CNN?
Surya Paloh bertanya demikian, di karenakan di itu, 17 tahun lalu, reputasinya Bagaikan pemilik media, belum terlalu diperhitungkan. Sangat jauh berbeda dengan situasi seperti di tahun 2016 ini. Di Global politik juga Anemia lebih demikian.
Kebetulan, Ian MacIntosch, wartawan Australia yang bekerja untuk Ted Turner, saya cukup kenal. di itu Ian menjabat Vice President CNN Asia Pacific yang berkedudukan di Hong Kong. Pertanyaan Surya Paloh (SP) itu pun saya teruskan ke Ian.
Sesudah keluar dari Media Group, saya hanya mendengar dari Lisa Luhur, Sekertarisnya SP, bahwa SP sudah ke Atlanta, kantor pusat CNN International di Amerika.
Tapi Lisa tak Bisa jelaskan apakah terjadi kesepakatan bisnis antara SP dengan Ted Turner atau bagaimana?
Yang pasti hingga di di usianya yang ke-16, Metro TV bukanlah stasiun televisi berita seperti CNN.
Namun yang saya tangkap dari bahasa tubuh SP, cukup jelas. SP punya obsesi untuk Jadi Ted Turner-nya Indonesia.
Sementara itu, di karenakan SP sudah punya media cetak, SP ingin Jadi seperti Ruppert Murdoch, raja koran asal Australia yang Jadi warga negara Amerika.
Jadi SP di perspektif kerennya Yaitu ingin Jadi “two in one” nya konglomerasi media di Indonesia.
Sekalipun tak diucapkan dengan cara eksplisit, tapi tips SP berpikir, Bisa dimengerti. Yaitu ingin Jadi pemilik media, yang Bisa membentuk opini publik sesuai agendanya. Dengan begitu, SP Bisa mengontrol kekuasaan, siapapun yang berkuasa.
untuk SP Jadi pengontrol kekuasaan, jauh lebih efektif dan strategis ketimbang Jadi penguasa. Dan nampaknya status seperti ini yang dimainkan SP.
Pemahaman saya ini Bisa Galat. di karenakan pemahaman ini berangkat dari situasi yang sudah terlalu lama.
Tapi Bagaikan wartawan yang Sempat Jadi bagian awal dari tim pendiri konglomerasi bisnis medianya, sangat sering gagasan dan wawasan ataupun obsesinya itu dia sampaikan.
Semuanya Jadi sangat menarik, sebab di itu kami berada di kehidupan pers yang represif. Nyaris tak punya kebebasan.
Di di represif, di Masa Orde Baru pun, SP sudah punya konsep dan Etos yang selalu berbeda dengan kebanyakan. SP suka melawan arus dan menantang badai.
akan tetapi di Hepotenusa lain, saya juga merasakan, untuk menerjemahkan obsesinya itu, sekalipun di era rezim demokratis, tak gampang.
Mengawal obsesinya itu, kendala pertamanya langsung bertemu dengan ketersediaan tenaga profesional atau sumber daya manusia. Sementara SP tak punya waktu menyiapkan SDM.
di keterbatasan SDM yang betul-betul memahami obsesi SP, lalu situasi inilah yang menghasilkan suatu stasiunTV berita Metro TV.
Tanpa disadari, keadaan seperi itulah yang saya duga Jadi penyebab, mengapa Metro TV akhirnya bermasalah dengan peserta Demo Aksi Super Damai 212.
Obsesi SP Bagaikan pemilik media, tersandung di Monas.
Kru Metro TV yang meliput di aksi damai di Monas, ditolak oleh sejumlah anak muda berpakaian gamis.
Penolakan mana Serupa dengan mengabaikan peran dan perjuangan SP di Global demokrasi. Penolakan mana Serupa dengan menghalangi pers di bekerja.
tak bermaksud mendegradasi kualitas manajemen SDM Metro TV. akan tetapi sekali lagi saya menduga terjadinya penolakan terhadap para awak medianya, tak berdiri sendiri. Semua ada sejarahnya dan saling terkait dan berkaitan.
Manajemen dan kru pemberitaan tetap menganggap bahwa Metro TV Yaitu stasiun televisi berita seperti CNN.
Dengan Asumsi itu, maka kru pun beranalogi, Metro TV Bisa meliput dimana aja. Serupa seperti yang dilakukan CNN International. Bisa hadir di mana aja di belahan Global ini.
Metro TV juga begitu. Apalagi cuma di Indonesia, di tanah air sendiri. Jadi Metro TV juga bebas meliput Aksi Super Damai di Monas.
Yang lepas dari perhatian, kru CNN yang dilepas oleh Ted Turner, tak Serupa dengan kru Metro TV yang dibackingi SP.
Apalagi Seandainya mengambil contoh bagaimana CNN meliput demo, konflik atau perang.
Di tahun 1988, misalnya Amerika Serikat terlibat perang dengan Irak. Menariknya, sekalipun AS dan Irak terlibat peperangan, akan tetapi wartawan CNN yang berkewarga negaraan Amerika, tetap Bisa meliput di Irak. Bagdad ibukota Irak, tak berbeda dengan Washington, ibukota AS.
Peter Arnett, seorang wartawan senior CNN berkebangsaan AS, sewaktu meliput perang Irak-AS dengan berbasis di Irak, justru disambut sangat hangat oleh masyarakat Irak termasuk Presiden Saddam Husein. tak ada penolakan dari Irak terhadap wartawan yang berasal dari negara musuh.
Kontras dengan yang terjadi di peliputan Aksi Super Damai 212. Kru Metro TV yang mau meliput aksi damai, justru ditolak. Yang menolak dan yang ditolak, Serupa-Serupa berasal dari satu negara; Indonesia.
Mengapa kontradiksi ini Bisa terjadi?
Ada yang lupa sebelum Peter Arnett terbang ke Bagdad, lobi-lobi untuk meyakinkan pemerintah Irak, sudah dilakukan melalui berbagai pintu. Lobi dilakukan tak hanya oleh level pemilik (Ted Turner). akan tetapi juga termasuk para eksekutif dan produser.
Sehingga saat Peter Arnett menyiarkan situasi Irak ke pemirsa di seluruh Global, laporannya itu tak menimbulkan persoalan.
Sebetulnya Seandainya dicermati, apa yang dilaporkan oleh Peter Arnett hanya bersifat Generik.
Yang membuat CNN diterima oleh publik bagus di Irak ataupun di Amerika, manakala media ini Bisa menampilkan gambar tentara AS yang tertawan.
Nama CNN semakin melambung, di karenakan kamera person CNN Bisa merekam suasana dimana Presiden Saddam Husein memperlakukan para tawanannya dengan tips yang terhormat.
Saddam Husein bertegur sapa dengan tawanan marinir AS di sikap yang menunjukkan tingkat kepeduliannya terhadap anak muda, sangat tinggi.
Disamping itu, Peter Arnett di setiap kali laporannya yang “live”, ia betul-betul memperhitungkan setiap kosa kota yang diucapkannya. Ucapannya tak terbata-bata, jelas menunjukkan dia menguasai lapangan dan sedang tak menjalankan “show” pribadi.
di karenakan yang penting yang mau dipetik oleh CNN di Atlanta, bahwa CNN Bisa hadir di daerah peperangan.
Artinya faktor kehadiran Jadi jauh lebih penting ketimbang substansi yang dilaporkan.
Bagaimana dengan Metro TV?
Sebetulnnya penolakan oleh sejumlah kelompok Islam, bukan muncul tanpa sebab. Penolakan itu tak berdiri sendiri.
Jauh sebelum Aksi Super Damai 212, dengan cara tak resmi sudah ada benih-benih ketidak sukaan terhadap Metro TV. Hal ini dipicu atau dipengaruhi oleh suatu viral yang menuduh kebijakan redaksional Metro TV ditentukan oleh wartawan yang beragama Kristen. Lalu muncul tudingan, penentu kebijakan inilah yang membuat liputan Metro TV banyak yang merugikan umat Islam.
SP Bagaikan pemilik, di tudingan itu dikesankan hanya simbol aja. Selain itu, kepemilikan Metro TV sebetulnya sudah beralih ke Lippo Group dengan taipannya James Riady.
Jelas tudingan ini suatu masalah yang sensitif. Sayangnya, masalah sensitif ini tak Sempat ditanggapi oleh Metro TV dengan cara serius dan bersifat korporat.
Bahkan beberapa twitter yang diposting ulang, ada sejumlah karyawan Metro TV yang membalas tudingan Itu dengan tips yang justru tak tepat.
Memancing emosi.
tak Sempat terdengar ada pertemuan antara pimpinan Metro TV dengan pihak-pihak yang menyebarkan viral Itu. Apalagi antara SP dengan pihak yang mewacanakan memboikot Metro TV.
Ketidak hadiran SP semakin dipersoalkan. Sebab untuk urusan seperti Divestasi wartawatinya Meutia Hafid yang disandera pejuang Irak, SP turun tangan langsung.
Sementara di soal persinggungan Metro TV dengan mereka yang menamakan mewakili kelompok Islam, SP tak menunjukan kepeduliannya.
Dan saat persoalan yang tak terselesaikan ini masih menggantung, terjadilah peliputan Aksi Super Damai 212, aksi mana semangat Islaminya sangat kuat.
Pimpinan Metro TV yang tak menjalankan lobi-lobi intensif, semakin dilihat Bagaikan konglomerasi yang tak punya kepedulian.
Sesungguhnya kejadian yang menimpa Metro TV merupakan suatu ironi.
Sebab bagaimana mungkin, SP Bagaikan pemilik yang beragama Islam, tapi medianya justru dianggap Bagaikan penyebar berita yang bertentangan dengan kepentingan Islam.
SP Jadi tersandung jadinya. [ceramahterbaru.net / pmc]
Loading...

Obsesi Surya Paloh, Tersandung Di Monas

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here