Home Berita Islam Terbaru MUI Kritik tindakan GP Ansor Bangil yang Tolak Felix Siauw

MUI Kritik tindakan GP Ansor Bangil yang Tolak Felix Siauw

92
0
MUI Kritik tindakan GP Ansor Bangil yang Tolak Felix Siauw
Berita Islam 24H – Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amirsyah Tambunan mengkritik tindakan Gerakan Pemuda (GP) Ansor Bangil dan sejumlah organisasi sayap Nahdlatul Ulama (NU) lain yang menolak kedatangan Felix Siauw di Masjid Manarul Gempeng, Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, Sabtu (4/11) kemarin. Felix Siauw rencananya akan Jadi pemateri di suatu forum diskusi.
Penolakan ini, menurut Amirsyah, terlalu terburu-buru. Penolakan tak Bisa dilakukan hanya berdasarkan Berpretensi bahwa Felix Siauw akan mempromosikan gagasan khilafah sebagaimana yang kerap dilakukannya saat Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) masih ada (baca: berbadan hukum).
“Seandainya dia belum terbukti apakah akan menyampaikan ceramah sebagaimana HTI, sebaiknya pihak-pihak ini menahan diri Dulu,” Perkataan Amirsyah di dihubungi Tirto, Minggu (5/11/2017).
Kendati demikian, ia mafhum bahwa apa yang dilakukan cabang GP Ansor Itu merupakan upaya preventif untuk mencegah tumbuhnya radikalisme di komunitas muslim Indonesia. Terlebih, dengan cara hukum HTI telah dianggap ilegal dan dilarang di Indonesia. Namun, bila tak berhati-hati, tindakan pembubaran semacam itu akan memicu tindakan persekusi di berbagai daerah di Indonesia.
“Seandainya itu bersifat anjuran khilafah, tak wajib. Apalagi hingga kepada upaya mengubah [pancasila]. Apalagi HTI juga kan sudah dibubarkan,” ujarnya.
Pendapat hampir serupa juga Disampaikan oleh Galesh, aktivis dari kelompok yang memperjuangkan kebebasan berekspresi dan mengeluarkan pendapat, Gema Demokrasi (Gedor). Kepada Tirto, ia mengungkapkan bahwa pembubaran yang dilakukan oleh GP Ansor Lebih dan telah merenggut Copyright-Copyright dasar warga untuk Bisa berkumpul, berserikat dan mengungkapkan pendapat.
Seharusnya, tak wajib ada pembubaran selama tak ada ujaran kebencian serta hasutan untuk menjalankan tindak kekerasan di forum Itu. bila pun ada, hal itu Jadi tanggung jawab kepolisian selaku penjaga keamanan dan ketertiban nasional.
“Seandainya cuma diskusi, itu bagian dari Copyright mereka,” Perkataan Galesh.
Masalahnya, Perkataan dia, polisi Bagaikan penegak hukum kerap lalai di menangani laporan yang ada di masyarakat. Ia mencontohkan, misalnya, tak adanya tindakan tegas kepolisian terhadap para pelaku utama pembubaran dan penyerangan diskusi dan acara di LBH Jakarta beberapa waktu lalu. “Padahal sudah vulgar sekali pengaduan dan kekerasannya,” katanya.
saat dikonfirmasi, Sekretaris Jenderal GP Ansor Adung Abdul Rachman menampik adanya upaya pelarangan yang dilakukan GP Ansor Bangil terhadap acara Felix Siauw. Menurutnya, pihak Ansor sudah menjalankan dialog beberapa hari sebelum acara Itu dihelat. Memang ada pelarangan, tapi itu dilakukan oleh kepolisian.
“Yang melarang polisi. Itu kewenangan mereka,” ujarnya.
Namun, ia membenarkan bahwa memang ada upaya sadar dan terencana untuk membatasi segala aktivitas yang Bisa merongrong pancasila. Menurutnya, GP Ansor berkomitmen untuk menjaga Pancasila dan NKRI dari paham-paham dan bentuk negara lain, tak hanya khalifah, tapi juga komunisme. Itu sebab mengapa penolakan ini telah terjadi beberapa kali. Selain Bangil, penolakan GP Ansor terhadap Felix Siauw juga Sempat muncul di Sragen dan Semarang.
di kronologi yang diterima Tirto, disebutkan bahwa atas instruksi Pengurus Cabang NU Kabupaten Pasuruan, GP Ansor Bangil langsung meminta ke polisi untuk berdiskusi dengan Felix Siauw begitu tahu bahwa pentolan HTI ini akan mengisi diskusi. di karenakan tak ada tanggapan, PCNU akhirnya menyatakan keberatan kepada polisi.
Kamis (2/11) malam, GP Ansor dan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) sepakat untuk memperbolehkan Felix Siauw hadir, tapi dengan syarat bersedia menandatangani surat pernyataan yang isinya mengakui pancasila, 4 pilar negara, dan tak bicara soal khilafah. GP Ansor dan Banser pun akan menjaga keamanan dan duduk bersama mendengar kajian Felix Siauw.
Namun, Felix Siauw menolak membubuhkan Asterik tangannya.
“Akhirnya kepolisian mempersilakan Felix keluar dari Masjid Manarul Gempeng dengan pengawalan kepolisian Futuristis ke rumah temannya di daerah Sidogiri,” tulis kronologi itu. “GP Ansor Bangil tak melarang kajian ilmiah asalkan si penceramah mengakui Pancasila Bagaikan dasar negara Indonesia serta tak koar-koar khilafah,” demikian kalimat terakhir kronologi itu.
di akun Instagramnya, Felix Siauw Menyebut bahwa ia sudah tahu bahwa kedatangannya ke Bangil ditolak sejumlah Ormas. Sehari sebelum acara (3/11), ia mendapat kabar lanjutan bahwa semua persoalan sudah selesai. Pertemuan tokoh agama, bupati, dan pejabat terkait memastikan bahwa acaranya tetap diselenggarakan dengan jadwal yang juga tak berubah.
Tapi saat sudah hingga di lokasi, sudah ada ormas yang berdemonstrasi. Sempat terjadi ketegangan. Pihak polisi setelah itu memilih memenangkan tuntutan demonstran: membatalkan acara.
Kapolres Pasuruan setelah itu meminta Felix, yang sudah ada di lokasi pukul 8 pagi, untuk keluar dengan alasan bahwa ia tak mau menandatangani surat pernyataan bermaterai. Menurut Felix, ia tak tahu menahu soal surat Itu sebelum diperlihatkan, bagus isinya, ataupun siapa yang membuatnya.
“untuk saya ini jelas-jelas suatu jebakan, dan juga penghinaan. Sebab bila saya menandatangani, Serupa aja saya mengaku bahwa semua yang dituduhkan di saya benar adanya,” katanya. [beritaislam24h.info / tti]
Loading...

MUI Kritik tindakan GP Ansor Bangil yang Tolak Felix Siauw

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here