Home Kisah Islami Kisah Terbelenggunya Dajjal Sebelum Keluar Ke Bumi

Kisah Terbelenggunya Dajjal Sebelum Keluar Ke Bumi

232
0

Loading...
tak ada fitnah yang paling besar dihari kiamat kecuali datangnya Dajjal. Itulah yang disabdakan oleh Rasulullah kepada para sahabat beliau. Sungguh Begitu hebatnya keadaan disaat datangnya Dajjal. Sehingga Rasulullah banyak menyabdakan mengenai fitnah Dajjal. Semoga kita tak berada di jaman hadirnya Dajjal. Berikut Nukilan mengenai asal usul Dajjal dan kisah Terbelunggunya Dajjal, sebelum ia keluar kebumi untuk menebarkan Fitnah.
          
Dajjal Yaitu sosok yang sangat jenius, ia mengetahui berbagai ilmu pengetahuan dan menguasai berbagai macam rahasia alam semesta. Sebagian riwayat menyebutkan bahwa ia juga sangat menguasai ilmu-ilmu keislaman, sehingga di awal kemunculannya nanti, ia tampil Bagaikan seorang muballigh yang saleh. Ia Bisa menampilkan berbagai macam keajaiban di karenakan pengetahuannya akan rahasia alam semesta, dan tentunya di karenakan diijinkan oleh Allah, sehingga pengikutnya makin banyak. Lama-kelamaan ia mengaku dirinya Bagaikan nabi, dan saat makin banyak orang yang memujanya, ia mengaku dirinya Bagaikan Tuhan.
tak ada riwayat pasti yang jelaskan kapan Dajjal ini dilahirkan? Seorang ulama, pemikir dan jurnalis dari Mesir bernama Syech Muhammad Isa Dawud menyatakan bahwa Dajjal dilahirkan sekitar satu abad sebelum Nabi Musa AS dilahirkan. Kesimpulan itu diambil berdasarkan kajian mendalam beberapa ayat-ayat Al Qur’an, berbagai hadist-hadist Nabi SAW, dan berbagai macam manuskrip (literatur) kuno yang beliau dapatkan dari berbagai daerah di Timur Tengah.
Orang tua Dajjal itu tinggal di daerah Samirah, suatu daerah kecil di Palestina, yang di setelah itu hari Jadi kota besar, ibukota dari kerajaan Nabi Daud dan Nabi Sulaiman. Masyarakat Samirah itu Yaitu para penyembah berhala dan pelaku berbagai macam kemaksiatan, termasuk sodomi dan liwath (homoseksual). Orang tua Dajjal mempunyai sesembahan berhala yang mirip dengan sapi betina, dan sejak pernikahannya, mereka selalu membuat persembahan kepada berhalanya itu, dengan permintaan supaya mereka diberi keturunan seorang anak laki-laki.
Seusai tigapuluh tahun berlalu, barulah istrinya mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, akan tetapi kedua matanya cacat, satu aja yang Bisa melihat dan tubuhnya tak banyak Dinamis. Selama bertahun-tahun layaknya ia hanya tidur aja, akan tetapi anehnya ia tumbuh sebagaimana bayi di umumnya. di umur empat tahun, di suatu malam ia Dinamis meninggalkan tempat tidurnya di antara ayah ibunya dan berpindah ke sebelah berhala mirip sapi betina itu, dan tidur di sana. Beberapa kali dikembalikan, ia berpindah lagi ke Hepotenusa berhala itu tanpa diketahui siapapun. Keadaan yang menghebohkan itu Sempat membuat ayahnya diperiksa dan ditahan oleh Hakim.
saat ia berusia lima tahun, Allah menimpakan azab di penduduk Samirah, buminya diguncang gempa amat keras hingga tanahnya terbalik seperti yang terjadi kaum Sadumi dan Amurah. Anehnya, anak kecil berusia lima tahun itu selamat, tinggal sendirian di antara reruntuhan puing-puing yang berserakan. Sepertinya Allah mempunyai ‘rencana besar’ dengan anak kecil Itu, dan memerintahkan Jibril untuk memindahkan anak Itu ke suatu pulau terpencil di antara berbagai pulau di “belantara” Bahari Yaman, bagian dari Samudra Hindia.
Walau terpencil, pulau Itu mempunyai semua kelengkapan untuk kehidupan, air yang segar, buah-buahan dan berbagai jenis Boga lainnya. Di sana juga ada gua yang cukup besar dan nyaman, yang Bisa melindunginya dari Geothermal dan hujan. Allah menugaskan Jibril untuk merawat dan mengajari anak kecil Itu, khususnya mengenai aqidah dan keimanan, termasuk mengenai akan datangnya Nabi Muhammad SAW Bagaikan Epilog para nabi dan rasul. dengan cara Eksklusif Allah menciptakan seekor binatang berbulu sangat tebal, yang Bisa berbicara seperti manusia, yang disebut Al-Jassasah (yang selalu memata-matai). Al-Jassasah inilah yang sehari-harinya mengajar anak kecil, calon fitnah akhir Masa, Dajjal. Ajaran-ajaran yang disampaikan malaikat Jibril itu tertulis di tujuh buah panel/dinding batu yang ada di Disorientasi satu bagian dari pulau Itu.    
Seusai bertahun-tahun tinggal di pulau itu dan ia makin dewasa, suatu saat ada Bahtera yang merapat di pulau Itu, dan ia dibawa serta ke luar pulau. Mereka beranggapan, lelaki itu mungkin korban dari Disorientasi satu Bahtera yang tenggelam dan terdampar di pulau itu. Mereka menurunkan calon Dajjal ini di daratan Yaman yang jaraknya sekitar 4000 km dari pulau Itu. Ia Berawal Dari mengembara, menjelajah berbagai tempat, dan di karenakan Allah membekalinya dengan otak yang sangat jenius, ia Berguru dengan Genjah dan kepandaiannya makin meningkat, dengan mudah pula menyesuaikan dirinya dengan lingkungan baru. Ia membahasakan (menamakan) dirinya dengan Ibnu Samirah, dinisbahkan di tempat asalnya seperti diceritakan al Jassasah.
Ia bekerja Jadi pelayan seorang filosof Yaman. Suatu saat sang filosof tertarik untuk memeriksa daya pikir dan keanehan perilakunya, dan akhirnya sang filosof menyimpulkan, “bila engkau Bisa Hayati lama, engkau Bisa Jadi seorang raja yang sangat adil, atau sebaliknya raja yang sangat lalim!!”
Seusai tinggal beberapa tahun lamanya bersama sang filosof, Ibnu Samirah berkeinginan untuk mengunjungi negeri asalnya Samirah, yang berada di Palestina. Ia membeli suatu Bahtera besar dan menggaji beberapa nelayan untuk menjalankannya. Segala kebutuhan dan perlengkapan juga dipersiapkan di perahunya itu. akan tetapi sebelum mengarahkan ke Palestina, ia ingin mengunjungi pulau terpencil tempat masa kecilnya tinggal bersama al Jassasah. Walau tak mudah untuk orang lain menemukannya, akan tetapi kekuatan ingatan dan pikirannya dengan mudah membawanya ke pulau itu.
saat ia berlabuh dengan Bahtera kecil di pantainya, al Jassasah menatapnya dengan tajam, akan tetapi setelah itu meninggalkannya ke di hutan tanpa berkata apapun. Ibnu Samirah berjalan berkeliling mengenang masa kecilnya. tak terasa ia telah berusia seratus tahun lebih, akan tetapi Serupa sekali tak ada gurat ketuaan di wajahnya. Bahkan tampaknya ia makin merasa kuat dan tegar, layaknya saat berusia tigapuluhan. saat hingga di panel batu yang bertuliskan pengajaran Malaikat Jibril, ia menemukan suatu bejana berisi semacam tinta yang digunakan menulis di batu. Ia mengambil bejana Itu, ia juga mengambil atau memotong dari tiap panel batu pengajaran itu untuk kenang-kenangan. setelah itu ia kembali lagi ke perahunya dan mengarahkan ke Palestina.
Seusai beberapa hari lamanya mengarungi lautan, ia berlabuh di Disorientasi satu lembah di Palestina yang tersembunyi. Ia meneruskan ke Samirah dengan onta yang dibelinya. Walau ia tak menemukan apa-apa dari negeri Samirah yang masih luluh lantak tanpa penghuni, dari beberapa orang berusia lanjut di negeri sekitar Samirah seperti al-Jalil dan al-Arbad, ia mendengar kisah mengenai anak kecil yang diambil dewa-dewa ke pangkuannya. Ada juga kisah selentingan mengenai anak kecil yang diculik malaikat saat terjadi Bala besar yang menghancurkan Samirah. Kisah-kisah Itu seolah membenarkan jati dirinya seperti yang diceritakan oleh al Jassasah.
Seusai tinggal di Palestina beberapa tahun lamanya, ia memutuskan Futuristis negeri sang Fir’aun, Mesir. Ia ‘melamar’ Jadi pelayan seorang dukun terkenal di negeri itu, yang dengan suka hati menerimanya Seusai mengetahui kemampuan dan kecerdasannya. di itu Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS sedang mendakwahkan agama Tauhid kepada Fir’aun dan masyarakat Mesir, khususnya kaum Bani Israil yang Hayati di perbudakan di negeri itu. Dukun yang diikutinya itu seorang yang berusia tigaratus tahun dan sangat mengenal sejarah Hayati Nabi Musa AS di Mesir. saat ia mendengar kisah Musa Itu, ia Genjah menceritakan kisah kehidupannya, yang Genjah aja sang dukun berkata, “Seandainya begitu engkau Yaitu Musa yang lain, yakni Musa dari Samirah (Musa as Samiri).”
Mungkin di karenakan inilah, muncul suatu ungkapan dari sebagian ulama di hal pendidikan dan pengajaran, “Musa yang dididik oleh Fir’aun Jadi Disorientasi seorang Nabi dan Rasul, sedang Musa (as Samiri) yang dididik oleh malaikat Jibril malah Jadi orang yang paling ingkar kepada Allah…!!”
Ibnu Samirah sangat kagum dengan komentar sang dukun itu, dan ia merasa derajadnya tidaklah terlalu jauh daripada Nabi Musa AS. Seusai beberapa waktu lamanya, ia memutuskan untuk bergabung dengan Bani Israil di karenakan ada kedekatan kedaerahan dan garis darah leluhurnya yang bertemu dengan Nabi Musa, yakni di Nabi Ya’kub. Ia juga menikahi Disorientasi seorang wanita Bani Israil akan tetapi tak mempunyai keturunan. Namun demikian, walau ia melihat berbagai macam mu’jizat yang ditunjukkan Nabi Musa AS, hatinya tak Bisa sepenuhnya mengimani Nabi Musa AS, termasuk juga mengimani Allah SWT. Sementara itu, beberapa orang dari Bani Israil menunjukkan penghargaan dan kedekatannya kepada Ibnu Samirah di karenakan kecerdasan dan kepiawaiannya di beberapa hal. Walau tak banyak, mereka itu layaknya ‘budaknya’ Ibnu Samirah, yang akan selalu menurut bila diperintahkannya.
saat Allah SWT memerintahkan Nabi Musa dan Bani Israil untuk meninggalkan Mesir Futuristis Palestina, Ibnu Samirah Empati serta di rombongan besar itu. Beberapa kali lagi ia melihat dengan mata kepalanya sendiri mu’jizat Nabi Musa AS, termasuk membelah lautan dengan tongkat beliau, akan tetapi semua itu tak membuatnya beriman. Bahkan terbersit di pikirannya, “Akupun Bisa melakukannya suatu di nanti, bahkan Bisa lebih dahsyat!!”
saat Bani Israil telah selamat dari kejaran Fir’aun dan tiba di Hepotenusa gunung Thursina, Nabi Musa meninggalkan mereka di pengawasan Nabi Harun untuk Genjah ‘menghadap’ Allah di Bukit Thursina. di di itulah Ibnu Samirah membikin ulah dengan membuat suatu patung anak sapi dari emas dan Bisa bersuara, dan Menyebut bahwa itulah tuhannya Musa dan Bani Israil. Sebagian besar dari mereka mempercayainya dan menyembah patung emas Itu, segala upaya dilakukan oleh Nabi Harun untuk mencegah mereka akan tetapi menemui kegagalan.
Lebih lengkapnya Bisa dilihat di Al Qur’an Surat Thaha ayat 83-97, lebih bagus lagi Seandainya dilengkapi dengan tafsirnya. Hanya aja yang Jadi dasar renungan Syech Muhammad Isa Dawud sehingga ‘menyimpulkan’ bahwa Samiri atau Ibnu Samirah ini Yaitu calon Dajjal, Yaitu sikap Nabi Musa di peristiwa itu.
Begitu turun dari Thursina sambil membawa shuhuf yang terbuat dari batu berisi Perintah-perintah Allah (The Ten Command The Men, istilah baratnya), Nabi Musa melihat kaumnya telah menyembah dan menari-nari di depan tuhan barunya, suatu patung sapi betina dari emas yang Bisa bersuara. Hati Nabi Musa sangat marah, mukanya merah padam dan tanpa disadari beliau melemparkan shuhuf yang beliau pegang sambil berteriak keras. Mendengar suara keras beliau Itu, kaum Bani Israil langsung menghentikan aktivitas penyembahannya dengan ketakutan.
setelah itu Nabi Musa menghampiri Nabi Harun, menarik janggut dan memegang kepalanya dan berkata dengan marah, seolah-olah Nabi Harun telah mengabaikan perintahnya, lihat Surat Thaha ayat 92-94. Padahal Nabi Harun telah berusaha keras, akan tetapi beliau tak mampu mempengaruhi Bani Israil yang telah berada di bawah kendali dan pengaruh Samiri atau Ibnu Samirah itu.
akan tetapi saat Nabi Musa menghadapkan diri kepada Samiri, otak dari segala macam kekacauan dan fitnah untuk Bani Israil sepeninggal beliau ke Thursina, Al Qur’an (Surat Thaha ayat 95-97) tak jelaskan ‘sikap keras’ Nabi Musa seperti sebelumnya, bahkan akhirnya beliau hanya berkata, “Pergilah kita, maka sesungguhnya bagimu di kehidupan Global ini hanya Bisa berkata : Janganlah menyentuhku. Dan sesungguhnya bagimu telah ada ketentuan waktu, yang kita tak akan Bisa menghindarinya….!!” (QS Thaha 97). 
Nabi SAW telah jelaskan, “Sesungguhnya saya memperingatkan kalian akan Dajjal. Dan tak ada seorang nabi-pun kecuali mereka mengingatkan kaumnya (mengenai dirinya). Akan akan tetapi saya akan menyampaikan kepada kalian apa yang belum Sempat disampaikan nabi-nabi kepada kaumnya. Sesungguhnya ia (Dajjal) itu buta sebelah dan sesungguhnya Allah tidaklah buta sebelah. Dan tertulis di antara kedua mata Dajjal ka-fa-ra (artinya kafir)!!”
Mungkin saat Nabi Musa menghadap ke Samiri, beliau melihat Asterik-Asterik Dajjal di dirinya. di karenakan itu, walau beliau termasuk seorang yang sangat keras di menerapkan syariat, akan tetapi beliau membiarkan Samiri pergi, di karenakan beliau meyakini Allah telah mempunyai rencana sendiri dengan dirinya. Sementara kepada kaum Bani Israil yang menyatakan dirinya bertobat, beberapa di antara mereka yang punya andil besar di penyembahan berhala Itu, disyaratkan untuk bunuh diri supaya taubatnya diterima, dan mereka mau melakukannya. Bagaimanapun, kehidupan akhirat jauh lebih bak daripada kehidupan Global.
Seusai diusir Nabi Musa, Ibnu Samirah kembali melanjutkan pengembaraannya dari satu negeri ke negri lainnya. Entah berapa tahun atau berapa abad perjalanannya ia hampir tak merasakannya di karenakan ia tetap di kemudaannya. Pengetahuannya makin bertambah banyak dan semua itu makin menambah kesombongan dan ambisinya. Seusai cukup lelah menjelajah, ia memutuskan untuk kembali ke pulau tempat ia dibesarkan. Ia mengira, al Jassasah yang telah Jadi ‘teman’ masa kecilnya itu telah mati, ternyata tak. Ia menemukannya di dekat panel batu yang berisi pengajaran malaikat Jibril. akan tetapi ia Serupa sekali tak berbicara (menjawab) saat diajaknya bercakap-cakap. Yang keluar dari mulutnya hanyalah ucapan yang berulang-ulang, “Laa ilaaha illallaah, lahul mulku wa lahul hamdu, yukhyii wa yumiit, wahuwa ‘alaa kulli syai-in qodiir!!”
Seusai beberapa waktu lamanya Hayati di pulau itu tanpa Bisa berkomunikasi, ia kembali mengadakan perjalanan berkelana. Ia mendengar mengenai seorang nabi yang menghebohkan, dengan gelaran al masih, yakni Nabi Isa AS. Ibnu Samirah tak mau langsung bertemu atau menyatu dengan umat Nabi Isa seperti saat dengan Nabi Musa Dulu. Ia mengirim seorang utusan sementara ia menunggu di luar, dengan suatu pesan kepada Nabi Isa AS, “bila engkau benar-benar seorang nabi, katakan kepadaku siapa yang di luar?”
saat utusan itu menghadap Nabi Isa dan menyampaikan pesan Itu, sejenak Nabi Isa terdiam, setelah itu beliau bersabda, “Wahai saudaraku, katakan kepada orang yang mengutusmu itu, bahwa Allah yang Maha Perkasa dan Maha Agung menerima taubat dan mengampuni semua dosa hamba-Nya, bila hamba Itu mau bertaubat dan mengesakan Allah maka ia benar-benar akan kembali (suci). Allah-lah yang melindungi anak kecil yang sedang tidur dari kekejaman penguasa, Dia-lah pula yang memeliharanya di pulau tempat tinggal binatang raksasa saat ia masih kecil. Dia-lah yang mengajarkan kepadanya Keesaan Allah dan shalat melalui tulisan kepercayaan-Nya Jibril. Dia Maha Kuasa untuk memaafkan fitnah yang dibuatnya kepada Bani Israil, asalkan dia beriman kepada al Masih ar Rabb (yakni Nabi Isa AS), dan kepada kitab Injil yang diturunkan kepadanya..!!”
Seusai mendengar jawaban Itu dari orang yang diutusnya, Ibnu Samirah Genjah berlalu pergi. Tampaknya pengalaman Getir saat bertemu dengan Nabi Musa membuatnya jengah untuk bertemu dan bergaul dengan Nabi Isa, apalagi tak niatan Serupa sekali di hatinya untuk bertaubat. Maka ia melanjutkan ‘tradisi’ pengembaraannya dari satu negeri ke negeri lainnya. Seandainya ada suatu tempat yang belum Sempat dikunjunginya, maka ia akan Genjah Futuristis ke tempat itu. Seusai berabad-abad tanpa ia menyadarinya, kerinduannya kepada pulau tempat al Jassasah itu muncul juga, dan ia mengarahkan perahunya ke sana.
Ibnu Samirah menambatkan perahunya dan berjalan Futuristis gua tempat tinggalnya Dulu. akan tetapi tiba-tiba muncul al Jassasah menghalangi jalannya, binatang raksasa berbulu tebal ‘teman’ masa kecilnya itu tak sendirian. Ada duapuluh orang berwajah seperti matahari, tingginya seperti pepohonan dan masing-masing dari mereka membawa semacam rantai besi bercampur baja yang mengkilat laksana emas. Ibnu Samirah yang mempunyai pengetahuan luas mengenai berbagai macam barang tambang di bumi, sepertinya tak mengenali jenis logam Itu.
Tiba-tiba aja ia merasakan suatu ketakutan amat di sehingga tubuhnya menggigil. Padahal selama ini ia tak Sempat merasa takut kepada apapun dan siapapun, termasuk saat ia menghadapi Nabi Musa AS, Seusai fitnah yang dikobarkannya lewat patung emas anak sapi yang Sempat Jadi sesembahan Bani Israil. Ketakutan yang pertama kali dirasakannya itu membuat ia lupa jati dirinya, lupa di kecerdikannya, kekuatannya, kesombongannya, ambisinya dan lupa di semua kelebihannya yang selama ini Jadi andalannya. Dengan terbata-bata ia berkata, “Apa ini? Siapa mereka? Bagaimana mereka hingga di sini?”
Al Jassasah berkata dengan tegas, “Wahai orang yang paling bodoh, engkau telah menyia-nyiakan dua kesempatan (untuk bertaubat, yakni saat bertemu dengan Nabi Musa AS dan Nabi Isa AS), dan di ini tak tersisa lagi bagimu kecuali janji terakhir!!”
Belum Sempat Ibnu Samirah berkata atau berbuat apapun, duapuluh orang berwajah cahaya itu menyerangnya dan ia langsung pingsan di karenakan takutnya. saat terbangun, ia telah berada di di gua, kaki dan tangannya terbelenggu dengan rantai yang cukup panjang sehingga ia Bisa Dinamis leluasa di di gua Itu. saat ia mencoba mengerahkan kekuatan dan ilmunya untuk Mengakses/mematahkan rantai Itu, tampaknya sia-sia aja. Padahal berbagai jenis logam di bumi dengan mudah ‘dikendalikan’ dengan ilmu dan kekuatannya.
Al Jassasah yang juga berada di di gua itu, Seusai melihatnya Frustasi asa dengan segala upayanya, berkata dengan tegas kepadanya, “Wahai Dajjal masa depan, sekarang engkau berada di Masa Epilog para nabi, kekasih Allah, Nabi Muhammad SAW. Ia telah lahir beberapa hari yang lalu saat engkau berada di tengah lautan. Engkau berada di penghujung akhir Masa di bumi. Janji Allah telah datang masanya, engkau tak akan terlepas dari belenggumu itu kecuali bila telah kekasih Allah, Muhammad SAW telah wafat, berpulang ke hadirat Yang Maha Tinggi. Padahal Asterik keluarmu Bagaikan orang yang paling Arogan di muka bumi Yaitu terputusnya pohon kurma Baisan (dari berbuah), berkurangnya air danau Thabariyah, mengeringnya mata air Zhugar, dan banyak terjadinya gempa bumi yang dahsyat…!!”
Seusai itu al Jassasah meninggalkannya sendiri. Sesekali ia datang ke di gua membawa berbagai buah-buahan, akan tetapi tak Sempat berbicara atau menjawab saat diajak bicara, kecuali hanya Etos Kesedihan. Beberapa puluh tahun berselang, sekelompok orang dari Palestina terdampar di pulau itu di karenakan perahunya menemui kerusakan. Mereka itu Yaitu Tamim ad Daari, seorang pendeta Nashrani dan teman-temannya, yang Sempat menjalankan pembicaraan dengan Ibnu Samirah atau calon Dajjal ini, dan akhirnya memeluk Islam dan Jadi Disorientasi seorang sahabat Nabi SAW.
di versi Syech Muhammad Isa Dawud ini, Seusai Rasulullah SAW wafat, belenggu Ibnu Samirah atau Dajjal Itu tiba-tiba melunak dan dengan mudah ia melepaskan diri. Ia Genjah keluar dari pulau Itu dan sepertinya ia tak Sempat ingin kembali lagi ke pulau Itu Seusai ‘pengalaman Getir’ 63 tahun (qomariah/hijriah atau 61 tahun masehi) terbelenggu di keadaan lemah tak berdaya. Tak lupa al Jassasah mengantar kepergiannya dengan doa laknat sebagaimana laknat yang ditimpakan Allah kepada Iblis. Ia setelah itu melanjutkan kebiasaannya melanglang buana ke seluruh penjuru Global, khususnya negeri-negeri yang belum Sempat dikunjunginya.
di versi lainnya, yakni pengajian dari para ulama yang Sempat saya dengar, belenggu Dajjal sebenarnya belum terlepas hingga di ini. Setiap di ia ‘menggerogoti’nya supaya belenggu itu terlepas, akan tetapi bersamaan dengan itu, setiap kali adzan dikumandangkan, belenggu itu makin kuat dan makin menebal lagi. akan tetapi Dajjal tak Sempat beristirahat dan Frustasi asa untuk berusaha memutuskan belenggu Itu. bila suatu di nanti di bumi tak ada lagi yang mengumandangkan adzan, tak ada lagi yang menguatkan belenggu Dajjal dan ia akan terlepas dan menyebarkan fitnah ke seluruh penjuru Global. Namun untuk kisah versi yang ini, saya belum menemukan Acum kitabnya. Wallahu ‘Alam.(Ibnu Ghufron)

Baca Info Menarik berikut ini di >>> Peristiwa Unik Matahari Yang wajib kita Ketahui

Tag : Kisah Inspiratif Islam

Kisah Terbelenggunya Dajjal Sebelum Keluar Ke Bumi

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here