Home Kisah Islami Kisah Pasukan Besar Ingin Menghancurkan Ka’bah

Kisah Pasukan Besar Ingin Menghancurkan Ka’bah

42
0

Loading...
Sebelum Kelahiran Besar Muhammad SAW kemuka bumi ini. Ada peristiwa yang luar biasa yang di abadikan didalam Al Qur’an. Kejadian ini diperkirakan di tahun 570 Masehi. suatu pasukan besar ingin menghancurkan ka’bah. Mereka terhimpun dari 60.000 ribu prajurit. Para komandan pasukan dilengkapi dengan kendaran gajah untuk lebih jelasnya, ikuti kisah selengkapnya  :
Peristiwa Itu berawal dari kecemburuan penguasa Yaman yang beragama Nashrani terhadap “popularitas” Baitullah dan Ka’bah di Makkah. Telah ratusan tahun orang-orang di Jazirah Arabia menjalankan ritual (ibadah haji) mengunjungi atau ziarah ke Baitul Athiq (Rumah Tua, yakni Ka’bah) Itu, termasuk yang berasal dari Yaman. Penguasa atau Gubernur Yaman yang bernama Abrahah ash Shabbah al Habsyi itu berkeinginan supaya mereka mengalihkan kebiasaannya Itu ke Kota Shan’a, ibukota Yaman. di karenakan itu membangun suatu gereja yang amat besar dan menghiasinya dengan seindah-indahnya.
Seusai gereja yang begitu megah, indah dan mengagumkan itu selesai dibangun, Abrahah mengirimkan Pembertitahuan ke seluruh penjuru Arabia. Ia memerintahkan supaya para kabilah itu “mengalihkan” ritual ibadah hajinya kepada gerejanya yang diberi nama Qalis Itu. Para pemimpin kabilah itu amat marah dengan “pemaksaan” yang dilakukan Abrahah. Seseorang dari Bani Kinanah mendatangi Gereja Qalis Itu, dan di suatu malam ia memasukinya dan melumurkan kotoran ke pusat (kiblat)nya gereja Itu. Riwayat lainnya menyebutkan, dua orang pemuka dari Bani Fuqaim dan Bani Malik yang mendatangi dan mengotori gereja Qalis, Padahal utusan  Abrahah yang dikirim ke Bani Kinanah tewas tertembus panah dari orang tak dikenal.
Melihat keinginannya tak tercapai, ditambah lagi pengotoran Qalis dan pembunuhan di utusannya, Abrahah memuncak kemarahannya. akan tetapi ia menyadari bahwa tak mungkin menyerang dan menaklukkan semua kabilah yang menyebar seantero Jazirah Arabia itu, yang di antara mereka dipisahkan bermil-mil padang pasir. di pemikirannya, Seandainya Baitullah dan Ka’bah telah hilang, maka akan mudah menggiring masyarakat Arab untuk mendatangi Qalis di Shan’a, di karenakan itu ia memutuskan untuk menyerang dan menghancurkan Ka’bah di Makkah Itu.
Abrahah menghimpun pasukan yang sangat besar untuk merealisasikan maksudnya, yakni hingga enampuluh ribu prajurit. Para komandan pasukan berkendaraan gajah, ada tigabelas ekor (atau sembilan ekor di riwayat lainnya) gajah di antara tunggangan lainnya, dan  Abrahah menunggangi gajah yang Paling Besar. Beberapa kabilah Sempat menjalankan perlawanan untuk membatalkan maksud Abrahah, akan tetapi dengan mudah mereka Bisa dikalahkan. Sepanjang perjalanan ke Makkah mereka juga menjarah harta dan ternak para kabilah yang dilaluinya, termasuk duaratus ekor unta milik Abdul Muthalib.
Pasukan bergajah Itu beristirahat di luar kota Makkah, dan Abrahah mengirim utusan untuk menemui sayyid (sesepuh) kota Makkah yang juga kepada suku Quraisy, yang tak lain Yaitu kakek Nabi Muhammad SAW, Abdul Muthalib. Utusan Itu berkata kepada Abdul Muthalib, “Raja Abrahah berpesan bahwa dia tak bermaksud memerangi bangsa Quraisy, akan tetapi hanya bermaksud meruntuhkan Ka’bah. bila tuan dan bangsa tuan tak menghalangi, tak akan terjadi pertumpahan darah. Dan Raja berharap tuan bersedia menemuinya!!”
Abdul Muthalib berkata, “Demi Allah, kami tak mempunyai kekuatan untuk memerangi tentara rajamu. Dan aku memang bermaksud untuk menemuinya!!”
Maka mereka berdua Genjah menghadap Abrahah di perkemahannya, dan Abdul Muthalib diperlakukan dengan penuh kehormatan. Abdul Muthalib berkata, “Wahai raja Abrahah, tolong dikembalikan duaratus ekor unta milik saya yang telah engkau ambil dari penggembala saya…!!”
Abrahah memandangnya penuh keheranan, dan berkata, “Kami datang untuk meruntuhkan Ka’bah, akan tetapi engkau hanya membicarakan unta-unta milikmu itu? Bagaimana dengan agama dan Ka’bah yang selama ini kalian puja-puja? ”
 “Saya hanya tuannya unta-unta itu. Padahal Ka’bah mempunyai Tuannya sendiri yang akan memeliharanya!!” Perkataan Abdul Muthalib.
Abrahah menegaskan, “Jadi engkau tak akan menghalangi kami?”
 “Serupa sekali tak!! Hanya aja berilah kami sedikit waktu untuk mengucapkan salam perpisahan kepada Ka’bah sebelum engkau menghancurkannya!!”
Abrahah sangat gembira dengan jawaban Itu, dan memerintahkan pasukannya untuk mengembalikan duaratus unta milik Abdul Muthalib Itu. setelah itu Abdul Muthalib dan beberapa pemuka Quraisy menghampiri Ka’bah, berdoa kepada Allah untuk memelihara Ka’bah dari pasukan Abrahah. Dan sebelum mereka pergi ke tempat perlindungan di bukit-bukit sekeliling Makkah, sebagaimana penduduk lainnya, masing-masing dari mereka mencium Ka’bah dengan air mata bercucuran penuh kesedihan Bagaikan salam perpisahan.
Abrahah menggerakkan pasukannya memasuki kota Makkah yang telah kosong layaknya kota mati. Ia berjalan dengan pongahnya seolah-olah kemenangan telah berada di genggamannya. saat tiba di Wadi Mahsar yang berada di antara Mina dan Muzdalifah, gajah-gajah Itu tiba-tiba menderum (duduk) dan tak mau Dinamis maju, begitu juga dengan tunggangan-tunggangan lainnya. akan tetapi bila diarahkan ke tempat lain menjauhi Ka’bah, binatang itu Genjah Dinamis Genjah seolah-olah ingin melarikan diri. bila diarahkan kembali Futuristis Ka’bah, tiba-tiba mereka menderum dan tak mau Dinamis maju.
saat Nabi SAW dan kaum muslimin ingin menjalankan umrah yang setelah itu berakhir dengan Perjanjian Hudaibiyah, Unta Nabi SAW yang bernama Al Qashwa tiba-tiba menderum saat tiba di Tsaniyyatul Murar. Mereka beranggapan mungkin unta itu lelah dan wajib beristirahat sebentar. akan tetapi Seusai cukup istirahat dan diberdirikan lagi untuk meneruskan perjalanan ke Makkah, Al Qashwa menderum lagi. Maka Nabi SAW bersabda, “Tidaklah al Qashwa itu menderum atas kemauannya sendiri, sesungguhnya ia ditahan oleh (malaikat) yang Dulu menahan pasukan bergajah Abrahah…!!”
di keadaan seperti itu, dimana Abrahah tak mampu menggerakkan pasukannya, tiba-tiba Allah mendatangkan ribuan burung Ababil di atas mereka. Burung-burung yang menyerupai burung Khathathif dan Balsan itu, masing-masing membawa tiga batu sebesar kacang kedelai dari tanah yang sangat Geothermal, dua di cengkeraman kaki dan satu di paruhnya. Batu-batu itu dijatuhkan ke tentara Abrahah dan tepat mengenai satu persatu dari mereka. Ada riwayat yang menyebutkan, di masing-masing batu itu tertulis nama-nama dari tentara Abrahah, sehingga tak satupun yang lolos.
Sebagian besar langsung mati di tempat, akan tetapi ada juga yang Bisa melarikan diri di keadaan luka dan mengidap penyakit, hanya aja akhirnya mati juga dengan cara mengenaskan, termasuk di antaranya Abrahah sendiri. Ia mati saat tiba di Shan’a. Begitu Dahsyatnya kejadian Itu hingga Al-Qur’an menggambarkan keadaan tentara gajah “Laksana Daun-daun Yang Dimakan Ulat” (Ibnu Ghufron)

Baca Info Menarik berikut ini di >>> Peristiwa Unik Matahari Yang wajib kalian Ketahui

Tag : Kisah Inspiratif Islam

Kisah Pasukan Besar Ingin Menghancurkan Ka’bah

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here