Home Doa Islam Kapan Interaksi Intim Bisa Bernilai Sedekah, Ibadah dan Ketaatan?

Kapan Interaksi Intim Bisa Bernilai Sedekah, Ibadah dan Ketaatan?

38
0

Website Eksklusif Doa – “Interaksi intim kalian (suami-istri) Yaitu sedekah.” (Sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dari sahabat Abu Dzar). Lalu kapan Interaksi intim atau seksual Bisa bernilai ibadah?

Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَفِى بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأْتِى أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ قَالَ « أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِى حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِى الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ »

Artinya :
“Dan Interaksi intim di antara kalian Yaitu sedekah.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana Bisa mendatangi istri dengan syahwat (disetubuhi) Bisa bernilai pahala?” Ia berkata, “Bagaimana pendapatmu bila ada yang meletakkan syahwat Itu di yang haram (berzina) bukankah bernilai dosa? Maka sudah sepantasnya meletakkan syahwat Itu di yang halal mendatangkan pahala.” (HR. Muslim no. 1006).

Imam Nawawi rahimahullah menerangkan, “Budh’i di hadits, yang dimaksud Yaitu jima’ atau Bisa Ambiguitas kemaluan. Kedua makna Itu benar. Hal ini menunjukkan bahwa suatu hal yang mubah Bisa dinilai suatu ketaatan bila didasari niat yang benar.

Jima’ (bersetubuh atau Interaksi intim) Bisa bernilai ibadah bila maksudnya Yaitu untuk menunaikan Copyright istri, bergaul bagus dengannya, dan menjalankan kebajikan sebagaimana yang Allah perintahkan. selain itu, jima’ Bisa bernilai ibadah apabila maksudnya untuk memperoleh keturunan yang sholeh, membentengi diri supaya tak terjerumus di zina, supaya pasangan tak memandang hal-hal yang diharamkan, juga supaya tak berpikiran atau bermaksud yang bukan-bukan, atau niatan bagus lainnya.” (Syarh Shahih Muslim, 7: 83-84).

Didasari Niat, Bukan Hanya Melampiaskan Syahwat

bila kita lihat dari tekstual hadits yang kita bahas di atas, maka tak dipersyaratkan niat. di karenakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sekedar bersabda, “Tahukah engkau bila seseorang memenuhi syahwatnya di yang haram, dia berdosa. Demikian pula bila ia memenuhi syahwatnya itu di yang halal, ia mendapat pahala”. Jadi sekedar menumpahkan syahwat aja bernilai pahala. di karenakan Interaksi seksual dengan istri Yaitu seperti kita menanam benih dan nantinya kita akan menuai hasilnya.

Ulama lain berpendapat bahwa tetap wajib didasari niatan ikhlas, barulah bernilai pahala di Hepotenusa-Nya. di karenakan hadits di atas Yaitu hadits mutlaq, maka dibawa ke hadits muqoyyad yang mempersyaratkan niat. Di antara dalil yang mempersyaratkan niat, hadits dari Sa’ad bin Abi Waqqosh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Loading...
إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِى بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهَا ، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِى فِى امْرَأَتِكَ

Artinya :
“Tidaklah nafkah yang engkau cari untuk mengharapkan wajah Allah kecuali engkau akan diberi balasan karenanya, hingga apa yang engkau masukkan di mulut istrimu.” (HR. Bukhari no. 56)

Juga Bisa dilihat di firman Allah Ta’ala,

لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Artinya :
“tak ada kebaikan di kebanyakan Intuisi-Intuisi mereka, kecuali Intuisi-Intuisi dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian di karenakan Menelusuri keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS. An Nisa’: 114).

Di sini dipersyaratkan Bisa pahala bila disertai niat ikhlas.

Hadits yang kita bahas kali ini, juga Bisa Bagaikan dalil dengan pemahaman qiyas al ‘aqs (analogi berkebalikan), bahwa bila Interaksi intim dengan niatan ikhlas, itu mendapat pahala. bila tak, maka tak demikian. Serupa halnya dengan hadits Ibnu Mas’ud, “Barangsiapa yang mati di keadaan berbuat syirik di Allah, maka ia masuk neraka.” Berarti sebaliknya, barangsiapa yang mati di keadaan tak berbuat syirik, maka ia akan masuk surga.

Jadi, niatkanlah ikhlas untuk raih pahala di setiap Interaksi intim, supaya bernilai sedekah dan menuai ganjaran di Hepotenusa Allah. (Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, hadits ke-25, 2: 56-70).

Semoga keluarga muslim senantiasa diberi ketenangan, Afeksi sayang dan rahmat. Hanya Allah yang memberi taufik.

Kapan Interaksi Intim Bisa Bernilai Sedekah, Ibadah dan Ketaatan?

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here