Home Berita Islam Terbaru Hukum nyanyian dan musik di islam

Hukum nyanyian dan musik di islam

330
0
                                                 بسم الله الرحمن الرحيم 

Hukum nyanyian dan musik di islam | dengan cara fitrah orang menyenangi Estetika dan keserasian.  Sebagaimana suara gemercik air yang turun ke bawah, kicau burung dan suara binatang-binatang di alam bebas, senandung suara yang merdu, lantunan tilawah yang indah dan sebagainya.
Nyanyian dan musik termasuk bagian dari seni yang menimbulkan Estetika, terutama untuk pendengaran. Allah SWT menghalalkan kepada manusia tuk menikmati Estetika alam, mendengar suara-suara yang merdu serta indah, hal ini di karenakan pasti itu semuanya diciptakan untuk manusia.
Hukum nyanyian dan musik di islam

di Hepotenusa yang lain Allah SWT telah mengharamkan sesuatu dan keseluruhannya sudah diterangkan di di Al-Qur`an dan hadits Rasulullah saw. Allah SWT. menghalalkan yang bagus dan mengharamkan yang buruk. Halal dan haram sudah jelas. Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. di antara keduanya muncul yang syubhat, manusia tak banyak memahami. Siapa aja yang melindungi diri daripada  syubhat, maka selamatlah agama serta kehormatannya. Dan siapa aja yang jatuh di syubhat, maka jatuh di yang haram.” (HR Bukhari dan Muslim).

Sehingga jelaslah Keseluruh urusan untuk umat Islam. Allah SWT bukan membiarkan umat manusia Hayati di di bimbang, segalanya sudah diatur di di Syariah Islam yang sungguh-sungguh jelas seperti jelasnya matahari di siang hari. Oleh sebab itu seluruh manusia mesti komitmen di Syari`ah Islam yang Yaitu pedoman Hayati mereka.

Landasan hukum nyanyian dan musik
Bagaimana Islam membahas terhadap nyanyian dan musik ? tuk  memutuskan hukum di 2 perkara ini, apa halal ataupun haram, mesti betul-betul berlandaskan dalil yang shahih (bener) dan sharih (jelas). Dan tajarud, Yaitu hanya tunduk dan menjejaki sumber landasan Islam aja Yaitu Al- Qur`an, Sunnah yang shahih serta Ijma`. Bukan terpengaruh dengan karakter ataupun kecenderungan perorangan dan adat-istiadat ataupun budaya suatu rakyat.
Dan sekali lagi dikarenakan ini perkara fiqih, kembali ulama beda pendapat mengenai status hukum nyanyian dan musik. Sebelum berbicara Disparitas pendapat para ulama terhadap 2 perkara ini dan pembahasan dalilnya. Kami wajib mendudukkan 2 perkara ini. Nyanyian dan musik di di Fiqh Islam termasuk di kategori muamalah ataupun urusan Global dan bukan ibadah. hingga terikat oleh kaidah: Hukum dasar di sesuatu (muamalah) merupakan halal (mubah) hingga datang dalil yang melarangnya.
Sehingga yang memutuskan hukum haram di perkara muamalah termasuk nyanyian dan musik mesti didukung dengan landasan dalil yang shahih dan sharih. Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah `Aza wa Jalla sudah menetapkan tanggung jawab, janganlah engkau lalaikan, menetapkan hudud, jangan engkau langgar, mengharamkan sesuatu jangan engkau perbuat. Dan diam atas sesuatu, Jadi rahmat untukmu dan bukan sebab lupa, oleh sebab itu jangan engkau cari-cari (hukumnya) ` (HR Ad-Daruqutni).
Demikian pula di di salahsatu hadits diterangkan : Halal merupakan sesuatu yang Allah halalkan di di kitab-Nya. Dan haram merupakan sesuatu yang Allah haramkan di di kitab-Nya. Padahal yang Allah diamkan maka itu merupakan sesuatu yang dima`afkan` (HR at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan al-Hakim )

Disparitas ulama di menghukumi nyanyian yang tak diiringi musik
a. Pendapat yang melarang

Golongan ulama ini melarang dengan cara Absolut bernyanyi bagus diiringi oleh suara musik ataupun tak. Pendapat inilah yang dipegang oleh ulama’ ulama Hijaz misalnya Bin Baaz Shalih bin Fauzan Al-Fauzan,  dan Utsaimin.  Padahal  Sebagian Madzhab Maliki, asy-Syafi`i dan sebagian Hambali berpendapat yakni mendengar nyanyian merupakan makruh. Apabila mendengarnya dari wanita asing maka makin makruh. Berdasarkan Maliki yakni mendengar nyanyian merusak muru`ah. Adapun menurut asy-Syafi`i lantaran mengandung lahwu. Dan Ahmad mengomentari melalui ungkapannya:`Saya tak menggemari nyanyian sebab melahirkan kemunafikan di hati.’

   b. Pendapat yang membolehkan

Jumhur ulama bersepakat bolehnya bernyanyi (bernasyid) melalui lantunan bait syair yang berisi ajakan untuk taat, shalawat kepada nabi SAW, nyanyian yang bagus, menggugah antusiasme kepahlawanan dan perkara – perkara mubah. Ulama bersepakat mengharamkan nyanyian yang berisi syair-syair kotor, jorok dan cabul. Seperti Ungkap lainnya, dengan cara Generik yang kotor dan jorok diharamkan di di Islam. 
Adapun ulama yang menghalalkan nyanyian,  seperti yang dijelaskan oleh imam An-Nahawi mencantumkan nama-nama para sahabat dan tabi’in diantaranya : ‘Umar, ‘Utsman, ‘Abd-ur-Rahman bin ‘Auf, Abu ‘Ubaidah Al-Jarrah, Saad bin Abi Waqqash, Bilal bin Rabbah, Al-Bura’ bin Malik, Abdullah bin Al-Arqam, Usamah bin Zaid, Hamzah bin ‘Umar, Abdullah bin ‘Umar, Qurrazhah bin Bakkar, Khawwat bin Jubair, Rabah Al-Mu’tarif, Al-Mughirah bin Syu’bah, ‘Amru bin Al-Ash, Aisyah binti Abu Bakar, Ar-Rabi’, dan masih ramai lagi dari kalangan sahabat.
Padahal dikalangan tabi’in terdapat nama-nama misalnya Said bin Al-Musayyab, Salim bin ‘Umar, Ibnu Hassan, Kharizah bin Zaid, Syuraih Al-Qadli, Said bin Jubair, ‘Amir Asy-Sya’bi, ‘Abdullah bin Abi ‘Athiq, ‘Atha bin Abi Rabah, Muhammad bin Shahab Az-Zuhri, ‘Umar bin Abd-ul-‘Aziz, Saad bin Ibrahim Az-Zuhri.
Adapun dari kalangan tabi’in which tabi’in jumlahnya luar biasa banyak, di antaranya Imam yang empat, Ibnu ‘Uyainah, dan jumhur Syafi’iyah. (Lihat Imam Asy-Syaukani, NAIL-UL-AUTHAR, Jilid VIII, hlm. 114-115).
Sehingga dengan cara Generik Bisa disimpulkan bahwa para ulama menghalalkan untuk umat Islam mendengarkan nyanyian yang bagus-bagus apabila terbebas dari semua jenis yang diharamkan seperti dijelaskan di atas.

Hukum nyanyian yang diiring alat musik
Padahal hukum yang terikat oleh nyanyian yang memakai alat musik dan mendengarkannya, para ulama juga berselisih pendapat. Sebagian mengharamkan dan sebagian memakruhkan alat musik. Seperti di beberapa hadits di antaranya, seperti berikut:

  1. Sungguh akan muncul di antara umatku, kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamr dan alat-alat yang melalaikan`. (HR Bukhari)
  2. Dari Nafi bahwa Ibnu Umar mendengar suara seruling gembala, lalu ia menutupi telingannya dengan 2 jarinya dan mengalihkan kendaraannya dari jalan Itu. Ia berkata:`Wahai Nafi` apa engkau dengar?`. Aku menjawab:`Ya`. Lalu melanjutkan berjalanannya hingga aku berkata:`tak`. Lalu Ibnu Umar mengangkat tangannya, dan mengalihkan kendaraannya ke jalan yang lain dan berkata: Aku melihat Rasulullah saw. mendengar seruling gembala setelah itu menjalankan semacam ini` (HR Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah).
  3. Dari Umar bin Hushain, bahwa Rasulullah saw. berkata mengenai umat ini:` Gerhana, gempa dan fitnah. Berkata seseorang di kaum muslimin:`Wahai Rasulullah kapan itu terjadi?` Rasul menjawab:` Apabila biduanita, musik dan minuman keras dominan` (HR At-Tirmidzi)
    Akan akan tetapi para ulama juga mendiskusikan dan memperselisihkan hadits-hadits mengenai haramnya nyanyian dan musik. Hadits pertama diriwayatkan dari Imam Bukhari di di Shahihnya, dari Abi Malik Al-Asy`ari ra. Hadits ini meskipun terdapat di di hadits shahih Bukhori, namun para ulama memperselisihkannya. Banyak di antara mereka yang Menyebut yakni hadits ini merupakan mualaq (sanadnya terputus), di antaranya disebutkan oleh Ibnu Hazm. selain itu di antara para ulama menyatakan bahwa matan dan sanad hadits ini tak selamat dari kegoncangan (idhtirab). Katakanlah, bahwa hadits ini shohih, dikarenakan terdapat di di hadits shohih Bukhori, namun nash di hadits ini masih bersifat Generik, tak menunjuk alat-alat Eksklusif dengan namanya. Batasan yang ada ialah apabila ia melalaikan.

    Hadits kedua disebutkan oleh Abu Dawud Bagaikan hadits mungkar. Kalaupun hadits ini shohih, hingga Rasulullah saw. tak terang mengharamkannya. Malah Rasulullah saw mendengarkannya sebagaimana pula yang dilakukan oleh Ibnu Umar. Padahal hadits ketiga merupakan hadits ghorib. Dan hadits-hadits lain yang terikat oleh hukum musik, apabila diteliti rupanya tak ada yang shohih.
    Adapun ulama yang menghalalkan musik seperti Disampaikan  oleh Imam sy-Syaukani di di kitabnya, Nailul Authar ialah seperti berikut: Ulama Madinah dan yang lain, misalnya ulama Dzahiri dan jama`ah ahlu Sufi memberi keringanan di nyanyian meskipun dengan gitar dan biola`. Juga diriwayatkan oleh Abu Manshur Al-Bagdadi As-Syafi`i di di kitabnya yakni Abdullah bin Ja`far menganggap bahwa nyanyi tak apa-apa, terlebih-lebih membolehkan budak-budak wanita untuk menyanyi dan beliau sendiri mendengarkan alunan suaranya. Dan perihal Itu terjadi di masa khilafah Amirul Mukminin Ali ra. Begitu pula Abu Manshur meriwayatkan perkara serupa di Qodhi Syuraikh, Said bin Al-Musayyib, Atho bin abi Ribah, Az-Zuhri dan Asy-Sya`bi.
    Imam Al-Haramain di di kitabnya, An-Nihayah dan Ibnu Abi Ad-Dunya yang menukil dari Al-Itsbaat Al-Muarikhiin; bahwa Abdullah bin Zubair mempunyai budak-budak wanita dan gitar. Dan Ibnu Umar Sempat ke rumahnya ternyata di sampingnya ada gitar, Ibnu Umar berkata:` Apa ini wahai sahabat Rasulullah saw. lalu Ibnu Zubair mengambilkan untuknya, Ibnu Umar merenungi setelah itu berkata:` Ini mizan Syami (alat musik) dari Syam?`. Berkata Ibnu Zubair:` Dengan ini akal seseorang Bisa seimbang`. Dan diriwayatkan dari Ar-Rowayani dari Al-Qofaal bahwa madzhab Malik bin Anas membolehkan nyanyian dengan alat musik.
    Alat musik yang dipermasalhkan ulama disini ialah Keseluruh alat musik. Padahal untuk dub (rebana) dalil yang kuat ialah yang menyatakan kebolehannya. Perkara ini berlandaskan hadits :
    1. Diriwayatkan dari Ar-Rubayyi’ binti Mu’awwidz, ia berkata, “Sempat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke tempatku di saya menikah. Beliau duduk di atas kasurku dan jarak beliau dengan saya layaknya jarak tempat dudukku dengan tempat dudukmu. Untuk memeriahkan pernikahan kami, sebagian gadis tetangga kami menabuh rebana dan menyanyikan lagu-lagu yang mengisahkan para pahlawan Perang Badar. Selagi mereka asik bernyanyi, muncul Disorientasi seorang di antara mereka yang mendendangkan, ‘Di tengah-tengah kita ada Nabi yang memahami mengenai apa yang akan timbul besok.’ Mendengar syair seperti itu Nabi berkata kepadanya, ‘Tinggalkan ucapan semacam itu! Bernyanyilah semacam nyanyian-nyanyian sebelumnya aja!’” (HR. Bukhari)
    2. Hadits dari Muhammad bin Hathib, yakni Rasulullah SAW bersabda: “Pembeda antara perkara halal dengan yang haram di pesta pernikahan ialah rebana dan nyanyian.
    3. Dan hadits -hadits lainnya
    Demikianlah pendapat ulama mengenai mendengarkan alat musik. Dan apabila diteliti dengan Akurat, maka ulama muta`akhirin yang mengharamkan alat musik hal ini di karenakan mereka mengambil sikap waro`(hati-hati). Mereka melihat kerusakan yang timbul dimasanya. Padahal ulama salaf dari kalangan sahabat dan tabi`in menghalalkan alat musik sebab mereka mencermati memang tak datang dalil bagus di Al-Qur`an ataupun hadits yang terang mengharamkannya. Sehingga dikembalikan di hukum asalnya Yaitu mubah.
    Maka dari itu kepada umat Islam di mendengarkan nyanyian dan musik hendak memperhatikan faktor-faktor berikut:

    1. Lirik Lagu yang Dilantunkan.
    Hukum yang Herbi dengan lirik ini ialah semacam hukum yang diberikan kepada tiap ucapan dan ungkapan yang lain. Maksudnya, apabila muatannya bagus berdasarkan syara`, maka hukumnya dibolehkan. Dan bilamana muatanya buruk berdasarkan syara`, maka diharamkan.

    2. Alat Musik yang Dipakai.
    Seperti sudah Disampaikan di muka yakni, hukum dasar yang berlaku di di Islam merupakan bahwa segala sesuatu di dasarnya dibolehkan kecuali ada Embargo yang terang. Dengan peraturan ini, oleh sebab itu alat-alat musik yang dipakai buat mengiringi lirik nyanyian yang bagus di dasarnya dibolehkan. Padahal alat musik yang disepakati bolehnya oleh jumhur ulama ialah ad-dhuf (alat musik yang dipukul). Adapun alat musik yang diharamkan untuk mendengarkannya, para ulama berselisih pendapat satu Serupa lainnya. Satu perihal yang disepakati Yaitu Keseluruh alat itu diharamkan apabila melalaikan.

    3. tips Penampilan.
    Mesti dijaga tips penampilannya selalu terlindung dari perkara yang diharamkan syara` misalnya pengeksposan cinta Ereksi, seks, pornografi dan ikhtilath.

    4. karena yang Ditimbulkan.
    Meskipun sesuatu itu mubah, akan akan tetapi bila diduga kuat mengakibatkan perkara yang diharamkan misalnya melalaikan shalat, munculnya ulah penonton yang tak Islami sebagi respon langsung dan sejenisnya, oleh sebab itu sesuatu Itu Jadi terlarang pula. Sesuai dengan kaidah Saddu Adz dzaroi` (menutup pintu kemaksiatan).

    5. Aspek Tasyabuh ataupun Keserupaan Dengan Orang Kafir.
    Perangkat Eksklusif, panduan penyajian dan design khas yang sudah Jadi ciri kelompok pemusik Eksklusif yang jelas-jelas menyimpang dari garis Islam, mesti dihindari supaya tak terperangkap di di tasyabbuh dengan suatu kaum yang tak dibenarkan. Rasulullah saw. bersabda:  “Siapa aja yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk mereka` (HR Ahmad dan Abu Dawud)

    Kesimpulan
    Kesimpulannya di di problem ini, kami cendrung di pendapat yang mengharamkan nyanyian yang berupa ungkapan cinta, mengumbar hawa nafsu dll seperti Yang banyak merajalela jaman ini. Adapun nasyid dan syair yang berisi kebaikan ialah mubah malah berpahala apabila hal ini dimanfaatkan Bagaikan sarana dakwah. Yang amat bagus dari keduanya ialah yang tak memakai alat musik.  Padahal nyanyian yang berisi Ungkap yang mubah hukumnya boleh selama tak melalaikan dari kewajiban agama.
    Wallahu a”lam bishshawab. Lihat juga Nama – Nama Indah Bayi lelaki Islami
    Loading...

    Hukum nyanyian dan musik di islam

    Facebook Comments
    Loading...

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here