Home Doa Islam Hukum Menonton Film Porno di Islam

Hukum Menonton Film Porno di Islam

255
0

Website Eksklusif Doa – Dewasa ini, medis dari Barat sering kali menganjurkan, atau paling tak membolehkan kepada pasangan suami istri untuk melihat film-film biru. Alasannya beragam. Berawal Dari dari mengentaskan perasaan bosan di pasangan yang sudah puluhan tahun mengarungi bahtera rumah tangga. hingga di sekadar variasi atau rekreasi, dengan dibumbui menambah ilmu pengetahuan. Padahal dengan cara fitrah, manusia normal dianugerahi akal yang akan Bisa mengetahui dan mempelajari urusan-urusan biologisnya.

Beberapa tahun yang lalu, suatu penelitian dari Barat menyatakan bahwa 100% lelaki dewasa Sempat menyaksikan film porno. Atau paling tak File porno, bagus itu di HP ataupun di internet.

Bagaimana Islam mengatur soal menonton video porno?

Islam Bagaikan agama yang telah sempurna dan lengkap tentu aja mengatur hal ini pula sedemikian rupa. dengan cara jelas Islam telah mewajibkan kepada kaum mukmin laki-laki dan kaum mukmin perempuan untuk menjaga pandangannya dari hal-hal yang diharamkan oleh Syara’. Allah swt Berfirman, yang artinya: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; … Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padany,” (TQS. Al-Nur [24]: 30-31).

Imam Ibn Katsir di kitab tafsirnya jelaskan: “Ini Yaitu perintah dari Allah swt kepada hamba-hamba-Nya yang beriman supaya menundukkan Etos mereka dari apa-apa yang diharamkan atas mereka.” tak ada Disparitas di hal ini bahwa yang diharamkan untuk dipandang Yaitu aurat. Berdasarkan riwayat dari Bahz bin Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya berkata: “Wahai Rasulullah saw, terhadap aurat-aurat kami, apa yang boleh kami lakukan dan apa yang wajib kami hindari? Beliau saw berkata:’Jagalah auratmu kecuali atas istri dan budak perempuanmu.’” (THR. Ahmad bin Hanbal)

di riwayat lain juga dikatakan: Dari ‘Aisyah ra, Rasulullah saw bersabda: “… sesungguhnya wanita itu, bila sudah mencapai masa haidh, tak boleh tampak darinya kecuali ini dan ini.” Beliau menunjuk muka dan dua telapak tangan. (THR. Abu Dawud dan Al-Baihaqi).

Dengan demikian melihat aurat orang lain dengan cara langsung Yaitu haram, kecuali di kondisi-kondisi Eksklusif, misalkan di pengobatan, pembuktian, dan lain-lain, dengan catatan sebatas yang diperlukan aja. Bagaimana bila yang dilihat dengan cara tak langsung seperti gambar aurat di rekaman video, maka untuk Bisa menghukuminya terlebih Dulu wajib memahami hukum asal benda dan fakta benda yang akan dihukumi, serta kaitannya dengan melihat aurat yang sudah diketahui hukumnya atau hal-hal terkait lainnya.

Allah swt berfirman: “Apakah kita tiada melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi,” (TQS. Al-Hajj [22]: 65). Berdasarkan ayat di atas (dan ayat-ayat lain yang serupa dengannya) muncullah suatu kaidah di ilmu Ushul Fiqh: al-ashl[u] fî al-asyyâ[i] al-ibâhat[u] hattâ yadulla ad-dalîl[u] ‘alâ tahrîmih[i] (hukum asal benda Yaitu mubah, hingga ada dalil yang mengharamkannya). Layar monitor dan yang sejenisnya Yaitu mubah, di karenakan dia termasuk benda dan tak ada dalil yang mengharamkannya. maka Bisa melihatnya, menyentuhnya, memilikinya, memperjual-belikannya dan lain sebagainya. Pertanyaannya: Apakah dengan demikian berarti melihat aurat itu boleh dengan tips melalui perantaraan media layar monitor atau sejenisnya dengan alasan bahwa layar monitor Yaitu benda yang mubah untuk dilihat, sebagaimana meja, sepatu, tas dll.?

Video porno Serupa dengan keadaan sesungguhnya

Memang benar, di kasus melihat video porno seseorang tak menyaksikan aurat dengan cara langsung melainkan melihat benda yang mubah. Namun tak boleh dilupakan bahwa setiap benda mempunyai apa yang dinamakan dengan khâshiyyat (sifat-sifat Eksklusif). Layar monitor mempunyai kemampuan di menampilkan atau memperlihatkan gambar sesuai dengan aslinya. Rekaman suatu objek pemandangan misalnya, Bisa ditampilkan di layar monitor atau sejenisnya di gambar yang Serupa dengan objek yang direkam. Sinar matahari, burung yang terbang, awan yang berjalan dll, Serupa persis dengan suasana di rekaman Itu diambil. Maka melihat layar monitor dan sejenisnya yang menampilkan rekaman video Eksklusif serasa melihat keadaan sebenarnya di rekaman Itu diambil. Sebagaimana pula kaca cermin, dengan khâshiyyat-nya Yaitu kemampuan memantulkan bayangan, bila diarahkan ke suatu objek Eksklusif, maka melihat benda berupa cermin Itu serasa melihat objek sebenarnya yang dipantulkannya. Hanya aja, di cermin pantulan terlihat terbalik Hepotenusa kanan dan kirinya dari objek aslinya.

Rasa seperti melihat keadaan sebenarnya juga Bisa dibaca dari ekspresi orang yang melihat video di layar monitor, misalkan perasaan marah dan sedih di melihat rekaman video mengenai pembantaian saudaranya di Palestina, perasaan takjub dan kagum di melihat rekaman video mengenai kecermatan Allah swt di menciptakan alam semesta, atau perasaan bergairah seksual di melihat rekaman video adegan porno. bila memang video dengan gambar di layar monitor tak ber-khâshiyyat sebagaimana disebutkan di atas, kenapa hal itu Bisa menimbulkan pengaruh yang Bhineka di orang yang melihatnya?

Dari fakta khâshiyyat benda di atas, maka melihat adegan porno yang direkam dan dimunculkan di layar monitor mempunyai keserupaan dengan melihatnya dengan cara langsung, sebagaimana pula melihat adegan porno dengan perantaraan kaca cermin. Dengan Perkataan lain, benda-benda Itu Bisa Jadi wasilah di menyampaikan pesan berupa gambar aurat yang serupa dengan aslinya.

Loading...

Aurat Yaitu aib, dan mengetahui aib orang lain dengan sengaja Yaitu haram, di suatu riwayat dinyatakan: Dari Mu’awiyah ra. berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya bila engkau mengikuti aib-aib orang lain, maka aib-aib Itu akan merusak mereka, atau engkau yang akan merusak mereka,” (THR. Ibn Hibban).

Karenanya maka benda-benda Itu Jadi wasilah untuk tersampaikannya aib orang lain, alias Jadi wasilah untuk terjadinya keharaman. Berlakulah atasnya kaidah: al-wasîlah ilâ al-harâm muharramah (hal yang mengantarkan kepada keharaman Yaitu haram).

Keharaman di atas tak bersifat muabbad (selamanya), melainkan bersifat muaqqat (sementara). Maksudnya, layar monitor hanya haram dilihat saat menampilkan adegan porno, bila menampilkan selain yang diharamkan maka hukumnya sebagaimana awal Yaitu mubah. Semata-mata di karenakan dia Bisa Jadi wasilah untuk keharaman, Yaitu menyampaikan aib orang lain. Ini berlaku untuk seluruh mukallaf, bagus laki-laki ataupun perempuan, bagus yang masih bujang ataupun yang sudah berkeluarga.

Alasan tak dibenarkannya menonton video porno

Ada yang beranggapan bahwa melihat video porno dibolehkan untuk seseorang yang sudah berkeluarga/beristri, di karenakan ada tempat pelampiasan yang halal Yaitu pasangannya. Asumsi ini tak dibenarkan berdasarkan beberapa alasan:

  1. Berfantasi dengan melihat gambar aurat orang lain hukumnya haram. Terlebih membayangkan aurat orang lain di menggauli istri. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda: “… maka zinanya kedua mata Yaitu melihat, zinanya kedua telinga Yaitu mendengarkan, zinanya lisan Yaitu membicarakan, zinanya tangan Yaitu menyentuh, zinanya kaki Yaitu melangkah, sementara hati bernafsu dan berkhayal, dan kemaluan yang membenarkan atau mendustakan.” (THR. Muslim).

    Pengistilahan Rasulullah saw dengan zina untuk perbuatan-perbuatan yang bukan zina sebenarnya menandakan keharaman sekalipun dosanya tak sebesar dosa zina sebenarnya. Termasuk di dalamnya Yaitu khayalan/fantasi porno yang dihasilkan dari melihat, mendengar, membicarakan, dan menyentuh hal-hal yang berbau porno atau wasilah lain yang mengantarkan kepadanya. Juga menurut para ulama, berfantasi dengan aurat orang lain di menggauli istri Yaitu haram.

    Adapun riwayat oleh Imam Muslim dari Jabir bin Abdillah ra: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda:“Apabila Disorientasi seorang di antara kalian terpesona oleh seorang wanita, dan merasuk di hatinya, maka hendaknya ia mendatangi istrinya dan menggaulinya, di karenakan yang demikian itu Bisa menghilangkan apa yang terbesit di hatinya (tadi)”, tak dimaksudkan supaya si laki-laki menggauli sang istri sambil membayangkan wanita yang dijumpainya, di karenakan di akhir hadits Itu dikatakan“di karenakan yang demikian itu Bisa menghilangkan apa yang terbesit di hatinya”, atau diriwayat At-Tirmidzi dikatakan “di karenakan yang ada di dirinya (istrinya) seperti apa yang ada di dirinya (wanita yang dijumpainya).” menandakan persetubuhan dengan istri berfungsi untuk mengalihkan perhatian/pikiran si laki-laki dari wanita yang dijumpainya supaya tak larut di fantasi yang diharamkan, tentu itu tak dilakukan dengan membayangkan wanita Itu di Herbi badan dengan sang istri.

  2. Haramnya menceritakan adegan ranjang suami-istri kepada orang lain (bagus berupa cerita, tulisan, rekaman suara, atau rekaman video). Dari Abu Sa’id Al-Khudri, Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya manusia yang paling jelek kedudukannya di Hepotenusa Allah di hari kiamat ialah seseorang yang menyetubuhi istrinya dan istri bersetubuh dengan suaminya, setelah itu suami menyebarkan rahasia istrinya,” (THR. Muslim).

    Maka haram pula Menelusuri tahu tentangnya. Dengan sengaja melihat video porno, berarti sengaja Menelusuri tahu adegan ranjang orang lain dengan pasangannya. Terlebih bila yang dilihat Yaitu adegan porno berupa perzinahan (pemerannya bukan suami-istri), maka mengambil manfaat darinya tergolong menyetujui atau ridha terhadap perilaku Itu.

#Kesimpulan

Kesimpulannya, melihat video porno Yaitu haram di karenakan diduga kuat akan mengantarkan kepada keharaman, Yaitu berupa mengetahui aib orang lain, khayalan mesum, mengetahui persetubuhan orang lain, dimana pasangan halal suami-istri aja tak boleh menceritakannya. Atau untuk para pemuda, hal itu Bisa menjerumuskannya di keinginan berzina. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya wanita itu Yaitu diantara anak panah Iblis, maka barang siapa melihat seorang perempuan yang elok mempesona setelah itu dia menundukkan pandangannya berharap ridha Allah swt, niscaya Allah swt membalasnya dengan kenikmatan di beribadah,” (THR. Ibn An-Najjar). Wallohu alam bi shawwab.

Hukum Menonton Film Porno di Islam

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here