Home Ceramah Islam Terbaru H A D A S

H A D A S

84
0
BAB THAHARAH (BERSUCI)

B. H A D A S
Hadas Yaitu suatu keadaan di diri seseorang yang menghalangi keabsahan shalat atau ibadah sejenisnya.
Hadas Dikotomi Jadi dua, Yaitu hadas kecil dan hadas besar.

a. Hadas kecil
Hadas kecil Yaitu hadas yang mewajibkan wudhu karenanya. Ada empat hal yang menyebabkan hadas kecil, Yaitu:

  1. Keluar sesuatu dari Disorientasi satu lubang kemaluan (kecuali air mani). bagus sesuatu itu bersifat normal, seperti kotoran dan angin, ataupun tak normal, seperti darah dan binatang.
    Penghalang Shalat
    Penghalang Shalat

Allah SWT berfirman:

أَوْ جَاءَ أَحَدُكُمْ مِنَ الْغَائِطِ

“Atau kembali dari tempat buang air.” (Al-Maaidah: 6).

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda:

لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

“Allah tak menerima shalat seorang diantara kalian bila berhadas hingga ia berwudhu.” Seorang lelaki dari Hadramaut bertanya kepada Abu Hurairah: “Apa itu hadas?” Abu Hurairah menjawab: “Buang angin bersuara dan tak bersuara.” (HR. Bukhari dan Muslim).

  1. Hilang akal atau kesadaran, seperti gila, mabuk, pingsan, koma dan tidur, kecuali tidur di Letak duduk yang kokoh di tempat duduknya.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kita shalat, sedang kita di keadaan mabuk.” (An-Nisaa`: 43).

Nabi SAW bersabda:

وِكَاءُ السَّهِ الْعَيْنَانِ فَمَنْ نَامَ فَلْيَتَوَضَّأْ

“Epilog lupa itu Yaitu kedua mata maka barang siapa yang tertidur maka hendaklah ia berwudhu.” (HR. Abu Daud).

Adapun tak batalnya wudhu di karenakan tidur di Letak duduk yang kokoh Yaitu didasarkan di hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, ia berkata: “Dulu, di Masa Nabi SAW, para sahabat menunggu Aplikasi shalat Isya hingga kepala mereka tertunduk (tidur) lalu mereka melaksanakan shalat tanpa berwudhu.” (HR. Abu Daud).

  1. Bersentuhan kulit dengan cara langsung antara lelaki dan perempuan dewasa yang bukan muhrim.
  • Bersentuhan kulit. bila bukan kulit maka tak batal, misalnya kuku, rambut (bulu), tulang, gigi, gusi, lidah, dan bola mata.
  • dengan cara langsung. bila tak dengan cara langsung maka tak batal, seperti bila terdapat pembatas meskipun sangat tipis ataupun transparan.
  • Antara lelaki dan perempuan. bila antara lelaki dan lelaki, atau perempuan dan perempuan maka tak batal. akan tetapi bila menyentuh hemaprodit (seseorang dengan kelamin ganda) yang belum jelas jenis kelaminnya maka dihukumi batal.
  • Maksudnya Yaitu seseorang yang sudah menarik perhatian lawan jenis meskipun belum balig.
  • Bukan muhrim. Muhrim Yaitu semua perempuan yang tak boleh dinikahi selama-lamanya. Jumlah muhrim ada 18 orang, diantaranya Yaitu ibu, anak kandung, saudara (bagus kandung, seayah ataupun seibu), isteri bapak, saudara susuan, dan lain sebagainya.

Dalilnya Yaitu firman Allah SWT yang jelaskan hal-hal yang membatalkan wudhu:

أَوْ لاَمَسْتُمُ النِّسَاءَ

“Atau kalian menyentuh perempuan.” (Al-Maaidah: 6).

  1. Menyentuh kemaluan manusia (kubul dan dubur) dengan telapak tangan bagian di, bagus kemaluan lelaki ataupun perempuan, bagus dewasa ataupun anak-anak, bagus masih Hayati atau sudah meninggal.

Nabi SAW bersabda:

مَنْ مَسَّ ذَكَرَهُ فَلاَ يُصَلِّي حَتَّى يَتَوَضَّأَ

“Barang siapa yang menyentuh kemaluannya maka janganlah ia shalat hingga berwudhu.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Nasa`i, Ibnu Majah dan Ahmad).


Hal-hal yang dilarang di keadaan hadas kecil
Terdapat beberapa perbuatan yang terlarang saat hadas kecil, Yaitu:

  1. Shalat, dan ibadah lain yang dihukumi seperti shalat, Yaitu sujud tilawah, sujud syukur, shalat jenazah dan khutbah jum’at.

Nabi SAW bersabda:

لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

“Allah tak menerima shalat seorang diantara kalian bila berhadas hingga ia berwudhu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

  1. menjalankan thawaf.

Nabi SAW bersabda:

الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ صَلاةٌ فَأَقِلُّوا مِنْ الْكَلامِ

“Thawaf di Baitullah Yaitu shalat maka kurangilah pembicaraan.” (HR. Nasa`i).

  1. Menyentuh dan membawa mushaf alquran.

Allah berfirman:

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

“tak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.” (Al-Wâqi’ah: 79).

Rasulullah SAW juga bersabda:

لاَ تَمَسَّ الْقُرْآنَ إِلاَّ وَأَنْتَ طَاهِرٌ

“Janganlah engkau menyentuh Alquran kecuali bila engkau suci.” (HR. Hakim).


b. Hadas besar
Hadas besar Yaitu hadas yang mewajibkan mandi. Ada enam perbuatan yang menyebabkan hadas besar, Yaitu:

  1. Herbi badan, Yaitu masuknya kepala zakar ke di vagina meskipun tak mengeluarkan air mani.

Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا الْأَرْبَعِ ثُمَّ جَهَدَهَا فَقَدْ وَجَبَ عَلَيْهِ الْغُسْلُ، وفي رواية لمسلم: وَإِنْ لَمْ يَنْزِلْ

“bila seseorang sudah duduk diantara empat sisinya lalu ia menggaulinya maka telah wajib mandi baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Sementara di redaksi riwayat Muslim: “Meskipun tak keluar air mani.”

  1. Mengeluarkan sperma (air mani), bagus sengaja, seperti melalui Interaksi badan dan onani (masturbasi), ataupun tak sengaja, seperti mimpi basah.

Aisyah meriwayatkan bahwa suatu saat Nabi SAW ditanya mengenai seseorang yang menemukan basah di pakaiannya akan tetapi ia tak ingat terjadi mimpi basah. Maka beliau menjawab: “Ia wajib mandi.” Beliau juga ditanya mengenai seseorang yang bermimpi basah akan tetapi tak menemukan basah di pakaiannya, maka beliau menjawab: “tak ada mandi atasnya.” (HR. Abu Daud).

  1. Suci dari haid. Allah SWT berfirman:
فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ

“Maka hendaklah kita menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kita mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu.” (Al-Baqarah: 222).

Loading...

Dan Rasulullah SAW berkata kepada Fathimah binti Abi Hubaisy:

فَإِذَا أَقْبَلَتِ الْحَيْضَةُ فَدَعِيْ الصَّلاَةَ، وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْتَسِلِيْ وَصَلِّيْ

“bila datang haid maka tinggalkanlah shalat, dan bila telah pergi maka mandilah dan shalatlah.” (HR. Bukhari).

  1. Suci dari nifas. di karenakan darah nifas Yaitu akumulasi (kumpulan) dari darah haid.
  2. di karenakan anak yang keluar berasal dari air mani dan umumnya janin keluar bersama darah.
  3. Meninggal Global. Diriwayatkan dari Ummu Athiyah RA, ia berkata: “Rasulullah SAW mendatangi kami saat Disorientasi seorang anak perempuannya meninggal Global lalu bersabda:
اغْسِلْنَهَا ثَلاَثاً

“Mandikanlah dirinya sebanyak tiga kali.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hal-hal yang dilarang di keadaan hadas besar
Terdapat beberapa hal yang terlarang saat hadas besar, Yaitu:

  1. Seluruh perbuatan yang dilarang di hadas kecil.
  2. Berdiam diri di masjid. bila sekedar lewat aja maka dibolehkan selama yakin tak mengotori masjid.

Nabi SAW bersabda:

لاَ أُحِلُّ الْمَسْجِدَ لِحَائِضٍ وَلاَ جُنُبٍ

“Aku tak menghalalkan (berdiam di) masjid untuk perempuan haid dan orang junub.” (HR. Abu Daud).

Adapun dalil kebolehan lewat sebentar di di masjid bila tak mengotorinya Yaitu firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kita shalat, sedang kita di keadaan mabuk, sehingga kita mengerti apa yang kita ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kita di keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu aja, hingga kita mandi.” (An-Nisaa`: 43).

Juga diriwayatkan bahwa Nabi SAW Sempat berkata kepada Aisyah: “Ambilkan aku alas shalat untuk di masjid.” Lalu Aisyah berkata: “Aku sedang haid.” Maka beliau menjawab:

إِنَّ حَيْضَتِكِ لَيْسَتْ بِيَدِكِ

“Sesungguhnya darah haidmu bukan di tanganmu.” (HR. Muslim).
di riwayat an-Nasa`i: “Lalu Disorientasi seorang diantara kami bangkit dan membawa alas shalat ke masjid lalu ia bentangkan sementara ia sedang haid.”

  1. Membaca alquran dengan maksud membacanya Bagaikan ayat alquran. Seandainya membacanya dengan maksud doa, zikir, atau mendapatkan keberkahan maka tak apa-apa.
لاَ يَقْرَأُ الْجُنُبُ وَالْحَائِضُ شَيْئاً مِنَ الْقُرْآنِ

“Orang junub dan haid tak boleh membaca sesuatu dari Alquran.” (HR. Ibnu Majah).

  1. Beberapa hal lain yang tak boleh dilakukan oleh dan terhadap perempuan haid dan nifas.
  • Berpuasa

Nabi SAW ditanya mengenai kekurangan seorang perempuan di Hepotenusa agama (ibadah), maka beliau menjawab:

أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ

“Bukankah bila datang haid maka ia tak shalat dan tak berpuasa?”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Namun demikian, perempuan haid wajib mengganti (mengqadha) puasa yang ditinggalkannya selama masa haid. Hal ini berdasarkan Ungkap Aisyah RA: “Kami mendapatkan haid di masa Rasulullah SAW. Maka kami diperintahkan untuk mengqadha puasa akan tetapi tak diperintahkan untuk mengqadha shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

  • Menceraikannya. Menceraikan perempuan haid Yaitu perbuatan dosa akan tetapi talak yang dinyatakan dianggap jatuh.

Diceritakan bahwa Abdullah bin Umar RA menceraikan isterinya saat sedang haid. Umar bin Khattab RA lalu menanyakan hal itu kepada Rasulullah SAW maka beliau menjawab:

مُرْهُ فَلْيُرَاجِعْهَا، ثُمَّ لِيُمْسِكْهَا حَتَّى تَطْهُرَ، ثُمَّ تَحِيضَ ثُمَّ تَطْهُرَ، ثُمَّ إِنْ شَاءَ أَمْسَكَ بَعْدُ، وَإِنْ شَاءَ طَلَّقَ قَبْلَ أَنْ يَمَسَّ، فَتِلْكَ العِدَّةُ الَّتِي أَمَرَ اللَّهُ أَنْ تُطَلَّقَ لَهَا النِّسَاءُ

“Perintahkan ia supaya merujuknya kembali. Lalu hendaklah ia memegangnya (tak menceraikannya) hingga isterinya suci, lalu haid, lalu suci. setelah itu bila ia ingin maka ia boleh tetap memegangnya, dan bila ia ingin maka boleh menceraikannya (dengan syarat) sebelum dicampurinya. Itulah masa iddah yang diperintahkan Allah untuk menceraikan isteri di dalamnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

  • Menggaulinya. Allah SWT berfirman:
فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ

“Maka hendaklah kita menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kita mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu.” (Al-Baqarah: 222).

Rasulullah SAW Sempat ditanya mengenai apa yang dibolehkan untuk suami terhadap isterinya yang sedang haid. Maka beliau menjawab:

لَكَ مَا فَوْقَ اْلإِزَارِ

“Engkau boleh menikmati apa yang di atas kain sarung.” (HR. Abu Daud).
Maksudnya, kain sarung yang dipakai untuk menutup antara bagian pusar hingga lutut.

wallahu a’lam.

Sumber : http://ahmadghozali.com

abdkadiralhamid@2016

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Share on LinkedIn

Subscribe to receive free email updates:

H A D A S

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here