Home Ceramah Islam Terbaru Etos ‘Ulama Ahlus sunnah Terhadap Peringatan dan Perayaan مولد النبي‎ ( Maulid...

Etos ‘Ulama Ahlus sunnah Terhadap Peringatan dan Perayaan مولد النبي‎ ( Maulid Nabi) Muhammad SAW

154
0
Maulid Nabi Muhammad SAW _ Perayaan maulid Nabi SAW, Yaitu suatu acara yang telah dilaksanakan oleh umat Islam semenjak Dulu dan diakui oleh para ulama-ulama besar dari Dulu hingga sekarang. Namun orang-orang yang anti maulid sangat kelewatan sehingga menuduh perayaan maulid Bagaikan suatu bid`ah dan mengikuti kaum Nasrany. Seharusnya kalaupun mereka tak mengakui bahwa perayaan maulid Bagaikan satu amalan yang bagus, seharusnya mereka bersikaf inshaf dan menghargai Disparitas pendapat, di karenakan para ulama dari golongan selain mereka membolehkannya dan menganggapnya Bagaikan satu kebaikan. Padahal kemungkaran hanya boleh diingkari dan dicegah apabila maksiat Itu termasuk kemaksiatan yang disepakati.

Berikut ini beberapa komentar para ulama dari masa Dulu hingga masa sekarang mengenai parayaan maulid.

Diantara komentar para ulama Itu kami kutip dari kitab para ulama sesudah mereka yang menghikayah kalam mereka, dan sebagian yang lain kami kutip langsung dari kitab karangan mereka.

 
Maulid Nabi Muhammad SAW

1. Imam Hasan Al-Bashri (21 H/642 M – 110 H/728 M) rahimahullah :

وددت لو كان لي مثل جبل أحد ذهبا لأنفقته على قراءة مولد الرسول

“Seandainya aku mempunyai emas seumpama Gunung Uhud, niscaya aku akan menafkahkannya kepada orang yang membacakan maulidir-Rasul”. [1]

2. Imam Al-Junaid Al-Baghdadi rahimahulllah :

من حضر مولد الرسول وعظم قدره فقد فاز بالإيمان

“Siapa aja yang menghadiri maulidir-Rasul dan mengagungkan Rasul saw, maka ia Yaitu orang yang memperoleh kemenangan dengan iman”. [2]

3. Imam Syamsuddin Muhammad bin ‘Abdullah Al-Jaziri rahimahullah :

قد رؤي أبو لهب بعد موته في النوم فقيل له ما حالك ؟ فقال : في النار إلا أنه يخفف عني كل ليلة اثنين وأمص من بين أصبعي ماء بقدر هذا وأشار لرأس أصبعه وإن ذلك باعتاقي لثويبة عند ما بشرتني بولادة النبي صلى الله عليه وسلّم وبإرضاعها له ، فإذا كان أبو لهب الكافر الذي نزل القرآن بذمة جوزي في النار بفرحه ليلة مولد النبي صلى الله عليه وسلّم به فما حال المسلم الموحد من أمة النبي صلى الله عليه وسلّم يسر بمولده ويبذل ما تصل إليه قدرته في محبته صلى الله عليه وسلّم ؟ لعمري إنما يكون جزاؤه من الله الكريم أن يدخله بفضله جنات النعيم

“Sungguh telah diperlihatkan di di tidur (mimpi) bahwa sesungguhnya Abu Lahab Seusai kematiannya, ditanyakan kepadanya :”Bagaimana keadaanmu?”. Maka Abu Lahab menjawab :”(Aku berada) di di neraka, hanya aja siksaan yang diringankan dariku Yaitu di hari Senin dan aku Bisa menghisap air sekedarnya dari sela-sela jari -lalu Abu Lahab member isyarah dengan ujung jarinya- dan sungguh semua itu di karenakan aku telah memerdekakan Tsuwaibah saat ia menyampaikan kabar gembira dengan lahirnya Nabi saw serta dikarenakan ia juga menyusui Nabi saw”. Maka bila Abu Lahab yang kafir yang telah diturunkan ayat Alqur-an untuk mencelanya diberi ganjaran kebaikan di di neraka di karenakan bergembira di malam maulid Nabi Muhammad saw, lalu bagaimanakah dengan seorang Muslim yang mengesakan Allah SWT yang termasuk ummat Nabi Muhammad saw, menampakkan kesenangan dengan kelahiran Beliau dan mengeluarkan apa aja yang dia mampu demi kecintaannya kepada nabi saw?”. Demi umurku, sesunggguhnya yang pantas untuk mereka dari Allah Yang Maha Pemurah Yaitu memasukkan mereka dengan keutamaannya ke di surga yang penuh kenikmatan”. [3]

4. Imam Abu Syamah (w. 665 H) Rahimahulllah :

Abu Qasim Syihab ad-Din Abdur Rahman bin Ismail bin Ibrahim ad-Maqdisy ad-Dimsyiqy yang lebih dikenal dengan panggilan Abu Syamah (w. 665 H) yang merupakan guru Imam Nawawi memuji Aplikasi maulid di kitab beliau Al-Bahits `ala Inkar al-Bida`i wa al-Hawadits, kitab yang beliau karang untuk menerangkan masalah bid`ah, akan tetapi beliau memasukkan merayakan maulid di bid`ah hasanah yang terpuji. Beliau Menyebut di kitab Itu:

ومن أحسن ما ابتدع في زماننا ما يفعل كل عام في اليوم الموافق ليوم مولده صلى الله عليه وسلم من الصدقات والمعروف وإظهار الزينة والسرور فإن ذلك مع ما فيه من الإحسان للفقراء مشعر بمحبة النبي صلى الله عليه وسلم وتعظيمه في قلب فاعل ذلك وشكر الله تعالى على ما من به من إيجاد رسول الله صلى الله عليه وسلم الذي أرسله رحمة للعالمين

“Termasuk hal yang paling bagus Yaitu apa yang disebut bid’ah di Masa kita Yaitu apa yang dikerjakan setiap tahun di hari kelahiran Nabi Muhammad saw terdiri dari bershadaqah, mengerjakan yang ma’ruf dan menampakkan rasa gembira. Maka sesungguhnya yang demikian itu yang di dalamnya terdapat kebaikan hingga para faqir Yaitu membaca sya’ir dengan rasa cinta kepada Nabi Muhammad saw, mengagungkan beliau di hati dan bersyukur kepada Allah SWT atas perkara dimana dengan kelahiran Nabi Muhammad saw Itu Jadi penyebab adanya kerasulan dirinya yang diutus Bagaikan rahmat untuk semesta alam”. [4]

5. Ibnu al-Hajj (w. 737 H)

Imam Abu Abdullah Muhamad bin Muhammad bin Muhammad al-`Abdary al-Fasy al-Maliky yang lebih dikenal dengan Ibnu al-Hajj (w. 737 H) di suatu kitab beliau al-Madkhal, suatu kitab yang mengupas masalah bid`ah di agama. di kitab Itu di fashal Maulid Nabi, beliau menerangkan bahwa umat islam mesti memerbanyak amal kebaikan di bulan kelahiran Nabi SAW Bagaikan ungkapan syukur kepada Allah atas rahmatNya yang besar Yaitu kelahiran Nabi Musthafa SAW. Beliau hanya mengecam beberapa kemaksiatan yang terjadi di acara maulid. Beliau berkata:

فكان يجب أن يزاد فيه من العبادات والخير شكرا للمولى سبحانه وتعالى على ما أولانا من هذه النعم العظيمة وإن كان النبي – صلى الله عليه وسلم – لم يزد فيه على غيره من الشهور شيئا من العبادات وما ذاك إلا لرحمته – صلى الله عليه وسلم – بأمته ورفقه بهم لأنه – عليه الصلاة والسلام – كان يترك العمل خشية أن يفرض على أمته رحمة منه بهم كما وصفه المولى سبحانه وتعالى في كتابه حيث قال {بالمؤمنين رءوف رحيم} [التوبة: 128] . لكن أشار – عليه الصلاة والسلام -إلى فضيلة هذا الشهر العظيم «بقوله – عليه الصلاة والسلام – للسائل الذي سأله عن صوم يوم الاثنين فقال له – عليه الصلاة والسلام – ذلك يوم ولدت فيه» فتشريف هذا اليوم متضمن لتشريف هذا الشهر الذي ولد فيه. فينبغي أن نحترمه حق الاحترام ونفضله بما فضل الله به الأشهر الفاضلة

Maka semestinya dilebihkan di prosesi maulid dari ‘ibadat dan kebaikan akan syukur untuk Allah SWT di atas apa aja yang telah diberikan Allah SWT kepada kita daripada segala nikmat sekalipun Nabi Muhammad saw tak melebihkan sesuatu ‘ibadat apapun di hari kelahirannya di atas bulan-bulan lainnya. Hal demikianlah hanyalah di karenakan rahmatnya Nabi saw kepada ummatnya dan Afeksi sayangnya kepada ummat di karenakan Nabi saw meninggalkan ‘amalan Itu di karenakan takut mewajibkan kepada ummatnya sekaligus Bagaikan rahmat kepada ummatnya sebagaimana Allah SWT telah mendeskripsikannya di Alqur-an di ayat (dengan sekalian orang-orang beriman, (Muhammad) bijaksana dan penyayang). Akan akan tetapi Nabi saw telah mengisyarahkan kelebihan bulan kelahirannya yang agung dengan sabdanya untuk orang yang menanyakannya perihal puasa hari Senin. Maka Nabi saw menjawab “Demikian itu (puasa hari senin) Yaitu hari dimana aku dilahirkan. Maka memuliakan hari kelahirannya itu dikandung untuk memuliakan bulan kelahirannya. Maka sepatutlah kita hormati hari dan bulan kelahirannya dengan Copyright-Copyright kehormatannya dan kita lebihi dengan apa aja yang telah dilebihkan oleh Allah SWT terhadap bulan yang mempunyai kelebihan.[5]

6. Imam Isma’il bin ‘Umar bin Katsir rahimahullah (774 H)

Imam Ibnu Katsir memuji Raja al-Mudhaffar yang menyelenggarakan maulid dengan cara besar-besaran. Beliau Menyebut :

الملك المظفر أبو سعيد كوكبري ابن زين الدين علي بن تبكتكين أحد الاجواد والسادات الكبراء والملوك الامجاد له آثار حسنة

“Raja Al-Muzhaffar Abu Sa’id Al-Kaukabari ibn Zainuddin `Ali bin Tabaktakin Yaitu seorang dermawan, pemimpin yang besar, serta raja yang mulia yang mempunyai peninggalan yang bagus.”

setelah itu Imam Ibnu Katsir melanjutkan:

وكان يعمل المولد الشريف في ربيع الاول ويحتفل به احتفالا هائلا وكان مع ذلك شهما شجاعا فاتكا بطلا عاقلا عالما عادلا رحمه الله وأكرم مثواه

Dan dia menyelenggarakan maulid yang mulia di bulan Rabi’ul-Awwal dengan cara besar-besaran. Ia juga seorang raja yang berotak cemerlang, pemberani, ksatria, pandai dan ‘adil –semoga Allah SWT mengasihinya dan menempatkannya di tempat yang paling bagus”.

setelah itu Imam Ibnu Katsir rahimahullah melanjutkan komentar beliau:

وكان يصرف على المولد في كل سنة ثلاثمائة ألف دينار

“Ia (Raja Al-Muzhaffar) membelanjakan hartanya sebesar 3000 dinar emas untuk perayaan maulid Nabi saw setiap tahunnya”. [6]

Seandainya memang menyelenggarakan maulid merupakan satu perbuatan bid`ah yang tercela, tentu aja Imam Ibnu Katsir tak akan memuji beliau, dengan seorang yang alim, adil, akan tetapi tentu aja Imam Ibnu Katsir akan Menyebut bahwa beliau Yaitu Disorientasi satu ahli bid`ah.

Sedikit catatan : Pengingkar Maulid Nabi saw juga tak segan‐segan memutarbalikkan fakta (berbohong) atas nama Imam Ibnu Katsir rahimahullah. Kalangan ini Menyebut bahwa Imam Ibnu Katsir rahimahullah menuliskan di Kitabnya Itu (Bidayah Wa An-Nihayah) bahwa yang pertama merayakan Maulid Nabi saw Yaitu Daulah Fathimiyah yang dibangun oleh seorang budak yang bernasab kepada kaum Yahudi.

Mufti Negri Arab Saudi, Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazz di kitab Fatwanya, Hal Nahtafil, ia Menyebut bahwa :

وذكر الحافظ ابن كثير فى البداية والنهاية (11/172) ان الدولة الفاطمية – العبيدية المنتسبة الى عبيد الله بن ميمون القداح اليهودي- والتى حكمت مصر من (357هـ – 567 هـ) احدثوا احتفالات بايام كثيرة ومنها الاحتفال مولد النبي صلى الله عليه وسلم

“Imam Ibnu Katsir di kitab al-Bidayah wa Nihayah (11/172) bahwa Daulah Fathimiyah-al-`Ubaidiyyah, nisbah kepada `Ubaid bin Maimun al-Qaddah al-Yahudi- yang berkuasa di Mesir dari tahun 357-567 H, mereka menciptakan beberapa perayaan, diantaranya perayaan Maulid Nabi SAW” [7]

Ini Yaitu tuduhan dan tipuan atas nama Imam Ibnu Katsir. apabila kita Mengakses kitab al-Bidayah Ibn Katsir Itu tak kita temukan seperti yang mereka tuduhkan, malah Ibnu Ibnu Katsir memuji Raja al-Muzaffar yang selalu mengadakan perayaan maulid Nabi. [8

Kitab Imam Ibnu Katsir Itu, Al-Bidayah wan Nihayah Bisa didonwload di website resmi Maktabah Syamilah, klik aja  shamela ws kitab Itu di format box, format kitab di maktabah syamilah, sehingga dengan mudah Bisa dilakukan pencarian Perkataan. Silahkan tuliskan Perkataan-Perkataan yang dituduhkan kepada Imam Ibnu Katsir dan tekan opsi pencarian.

7. Imam Syamsuddin bin Nashiruddin Ad-Damasyqi rahimahullah

Beliau melantunkan sya’ir mengenai Abu Lahab yang diringankan siksaan neraka di hari Senin dikarenakan telah memerdekakan Tsuwaibah dan bergembira dengan kelahiran Nabi saw :

إذا كان هذا كافرا جاء ذمه وتبت يداه في الجحيم مخلدا أتى أنه في يوم الإثنين دائما يخفف عنه للسرور بأحمد فما الظن بالعبد الذي كان عمره بأحمد مسرورا ومات موحدا

“bila orang kafir yang telah datang (tertera) celaan baginya -“dan celakalah kedua tangannya di di neraka Jahannam kekal di dalamnya”-, telah tiba di (setiap) hari Senin untuk selamanya, diringankan (siksa) darinya di karenakan bergembira dengan kelahiran Ahmad, maka bagaimanakah dugaan kita terhadap seorang hamba yang sepanjang usia, (di karenakan) kelahiran Ahmad, lantas ia selalu bergembira dan tauhid menyertai kematiannya?!”. [9]

8. Imam Ahmad bin ‘Ali bin Hajar Al-‘Asqalani (w. 852 H) rahimahullah

أصل عمل المولد بدعة لم تنقل عن أحد من السلف الصالح من القرون الثلاثة، ولكنها مع ذلك قد اشتملت على محاسن وضدها، فمن تحرى في عملها المحاسن وتجنب ضدها كان بدعة حسنة، وإلافلا وقد ظهر لي تخريجها على أصل ثابت، وهو ما ثبت في الصحيحين من أن النبي صلى لله عليه وسلم قدم المدينة فوجد اليهود يصومون يوم عاشوراء فسألهم؟ فقالوا: و يوم أغرق لله فيه فرعون ونجى موسى فنحن نصومه شكرا لله تعالى، فيستفاد منه فعل الشكر لله على ما مَنَّ به في يوم معين من إسداء نعمة أو دفع نقمة، ويعاد ذلك في نظير ذلك اليوم من كل سنة، والشكرلله يحصل بأنواع العبادة كالسجود والصيام والصدقة والتلاوة، وأي نعمة أعظم من النعمة ببروزهذا النبي نبي الرحمة في ذلك اليوم

“Dasar ‘amal maulid Yaitu bid’ah yang tak dinukilkan dari seorang pun ‘Ulama Salafush-Shalih dari kurun ke tiga. Akan akan tetapi, sungguh ‘amal maulid itu memuat kebajikan dan sebaliknya. Oleh di karenakan itu siapa aja yang memperhatikan kebajikan dan menjauhi keburukan di Aplikasi maulid, maka ‘amal maulidnya Yaitu bid’ah hasanah. bila tak demikian, maka sebaliknya. Dan sungguh telah jelas bagiku bahwa apa yang dikeluarkan atas dasar penetapan (hukum maulid), Yaitu riwayat yang Itu di di Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad saw datang ke Madinah, maka beliau menemukan orang Yahudi berpuasa di hari ‘Asyura. Rasulullah saw bertanya kepada mereka (mengenai puasa Itu)? Maka mereka menjawab :”di hari Itu Yaitu hari dimana Allah telah menenggelamkan Fir’aun dan menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa kepada Allah Yang Maha Tinggi (atas semua itu)”. Maka faedah yang Bisa diambil dari hal Itu Yaitu bersyukur kepada Allah SWT atas sesuatu yang terjadi, bagus di karenakan menerima suatu kenikmatan yang besar atau terhindar dari bahaya dan mengulang-ngulang syukuran Itu di hari yang Serupa setiap tahun. Adapun syukur kepada Allah SWT Bisa dilakukan dengan berbagai macam ‘ibadah, seperti sujud syukur, puasa, shadaqah dan membaca Alqur-an. Dan adakah nikmat yang paling besar dari berbagai nikmat selain kelahiran Nabi Muhammad saw, dimana beliau Yaitu seorang Nabi yang penyayang, di hari Itu?!”.

وأما ما يعمل فيه فينبغي أن يقتصر فيه على ما يفهم الشكر لله تعالى من نحو ما تقدم ذكره من التلاوة والإطعام والصدقة وإنشاد شيء من المدائح النبوية والزهدية المحركة للقلوب إلى فعل الخير والعمل للآخرة ، وأما ما يتبع ذلك من السماع واللهو وغير ذلك فينبغي أن يقال ما كان من ذلك مباحاً بحيث يقتضي السرور بذلك اليوم لا بأس بإلحاقه به ، وما كان حراماً أو مكروهاً فيمنع ، وكذا ما كان خلاف الأولى

“Dan format acara yang diselenggarakan di maulid Nabi saw hendaknya dicukupkan dengan menyiratkan ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT seperti yang telah disebutkan, Yaitu membaca Alqur-an, menghidangkan jamuan, shadaqah, mendendangkan pujian pujian kenabian dan kezuhudan yang Bisa menggerakkan hati untuk menjalankan kebajikan dan ber’amal demi akhirat. Padahal yang selainnya, seperti mendendangkan lagu (selain pujian tadi), gurauan dan semisalnya, maka hendaknya yang mubah, yakni yang membuat bahagia di hari itu, maka tak menngapa dimasukkan di acara maulid Nabi saw. Dan yang haram atau makruh maka dicegah, begitu pula yang khilaf aula” [10]

9. Imam Jalaluddin ‘Abdirrahman bin Abi Bakar As-Suyuthi rahimahullah (w. 911 H)

Imam Jalaluddin Abdir Rahman bin Abi Bakar as-Sayuthy (w. 911 H) mendukung Aplikasi maulid, bahkan beliau mengarang satu kitab yang membahas dalil-dalil perayaan maulid, Yaitu kitab Husnul Maqashid, yang juga dicetak didalam kitab Hawi lil Fatawi.

عندي أن أصل عمل المولد الذي هو اجتماع الناس وقراءة ما تيسر من القرآن ورواية الأخبار الواردة في مبدأ أمر النبي صلى الله عليه وسلم وما وقع في مولده من الآيات ثم يمد لهم سماط يأكلونه وينصرفون من غير زيادة على ذلك من البدع الحسنة التي عليها صاحبها لما فيه من تعظيم قدر النبي صلى الله عليه وسلم وإظهار الفرح والاستبشار بمولده الشريف

“Menurutku bahwa sesungguhnya ‘amal maulid yang berkumpulnya manusia, membaca beberapa ayat Alqur-an, meriwayatkan hadits‐hadits mengenai permulaan sejarah Nabi dan mengenai Asterik‐Asterik (kejadian‐kejadian) yang mengiringi kelahirannya Yaitu bid’ah hasanah yang diberi pahala kepada yang mengerjakannya di karenakan termasuk sebagian daripada membesarkan kedudukan Nabi Muhammad saw dan menampakkan kesenangan dan kegembiraan dengan sebab kelahiran Nabi Muhammad saw yang mulia”.

وقد ظهر لي تخريجه على أصل آخر، وهو ما أخرجه البيهقي عن أنس أن النبي صلى لله عليه وسلم عق عن نفسه بعد النبوة، مع أنه قد ورد أن جده عبد المطلب عق عنه في سابع ولادته

“Dan sungguh sangat jelas bagiku yang dikeluarkan (diriwayatkan) atas dasar yang lain (dari pendapat Imam Ibnu HajarAl-‘Asqalani) Yaitu apa yang diriwayatkan oleh Imam Al‐Baihaqi dari Anas ra bahwa sesungguhnya Nabi saw mengaqiqahkan dirinya sendiri sesudah (masa) kenabian, (Padahal) sesungguhnya telah dijelaskan bahwa kakek beliau ‘Abdul Muththalib telah mengaqiqahkan (untuk Nabi) di hari ke tujuh kelahirannya.

والعقيقة لا تعاد مرة ثانية فيحمل ذلك على أن الذي فعله النبي صلى لله عليه وسلم إظهار للشكرعلى إيجاد لله إياه رحمة للعالمين، وتشريع لأمته كما كان يصلي على نفسه، لذلك فيستحب لنا أيضا إظها ر الشكر بمولده بالاجتماع وإطعام الطعام ونحو ذلك من وجوه القربات وإظهار المسرات

“Adapun aqiqah tak ada perulangan dua kali, maka dari itu sungguh apa yang dilakukan oleh Nabi saw menerangkan mengenai (rasa) syukur beliau di karenakan Allah telah mewujudkan (menjadikan) beliau Bagaikan rahmat untuk semesta alam, dan Bagaikan landasan untuk umatnya. Oleh di karenakan itu, maka juga disunnahkan untuk kita untuk menanamkan (menerangkan) rasa syukur kita dengan kelahirannya (Rasulullah) dengan mengumpulkan (kaum Muslimin), menyajikan Boga dan semacamnya dari (Bagaikan) perwujudan untuk mendekatkan diri (kepada Allah) dan menunjukkan kegembiraan (di karenakan kelahiran beliau)”.

إن ولادته صلى لله عليه وسلم أعظم النعم علينا، ووفاته أعظم المصائب لنا، والشريعة حثت على إظهار شكر النعم، والصبر والسلوان والكتم عند المصائب، وقد أمر الشرع بالعقيقة عند الولادة، وهي إظهار شكر وفرح بالمولود، ولم يأمر عند الموت بذبح ولا غيره، بل نهى عن النياحة وإظهار الجزع، فدلت قواعد الشريعة على أنه يحسن في هذا الشهر إظهار الفرح بولادته صلى لله عليه وسلم دون إظهار الحزن فيه بوفاته

“Sesungguhnya kelahiran Nabi saw Yaitu paling agungnya kenikmatan untuk kita semua, dan wafatnya Beliau Yaitu musibah yang paling besar untuk kita semua. Adapun syari’at menganjurkan untuk mengungkapkan rasa syukur dan kenikmatan dan bersabar serta tenang saat tertimpa mushibah. Dan sungguh syari’at memerintahkan untuk ber’aqiqah saat (seorang anak) lahir, dan supaya menampakkan rasa syukur dan bergembira dengan kelahirannya dan tak memerintahkan untuk menyembelih sesuatu atau menjalankan hal yang lain saat kematiannya bahkan syari’at melarang meratap (an‐niyahah) dan menampakkan keluh kesah (kesedihan). Maka jelaslah bahwa qa’idah‐qa’idah syari’at yang menunjukkan yang paling bagus di bulan ini (bulan Maulid) Yaitu menampakkan rasa gembira atas kelahirannya Nabi Muhammad dan bukan (malah) menampakkan kesedihan-kesedihan atas wafatnya Beliau”. [11]

ما من بيت أو مسجد أو محلة قرىء فيه مولد النبي صلى الله عليه وسلم هلا حفت الملائكة بأهل ذلك المكان وعمهم الله بالرحمة والمطوقون بالنور يعني جبريل وميكائل وإسرافيل وقربائيل وعينائيل والصافون والحافون والكروبيون فإنهم يصلون على ما كان سببا لقراءة مولد النبي صلى الله عليه وسلم

“Tiada suatu rumah atau mesjid atau tempat pun yang Di Lantunkan didalamnya Maulid Nabi melainkan dipenuhi Malaikat yang meramaikan penghuni tempat itu dan Allah SWT akan membagikan rahmat dan yang membagikan cahaya itu yakni ‐Jibril, Mikail, Israfil, Qarbail, ‘Inail, As-Shafun, Al-Hafun dan Al-Karubiyun-, maka sesungguhnya mereka (malaikat) itulah yang menshalawatkan (mendo’akan)nya di karenakan membaca Maulid Nabi”.

وما من مسلم قرىء في بيته مولد النبي صلى الله عليه وسلم إلا رفع الله تعالى القحط والوباء والحرق والآفات والبليات والنكبات والبغض والحسد وعين السوء واللصوص عن أهل ذلك البيت فإذا مات هون الله تعالى عليه جواب منكر ونكير وكان في مقعد صدق عند مليك مقتدر

“Dan tak ada seorang Muslim pun yang membaca Maulid Nabi di di rumahnya melainkan Allah SWT akan mengangkat Endemi kemarau, kebakaran, karam, kebinasaan, kecelakaan, kebencian, hasad dan penglihatan yang Dursila, serta pencurian dari ahli‐ahli rumah Itu. Maka bila seorang Muslim Itu meningggal Global, Allah SWT akan memudahkan baginya di menjawab (pertanyaan) Malaikat Munkar dan Nakir. Dan mereka akan ditempatkan di di tempat yang benar di Hepotenusa‐Hepotenusa raja yang berkuasa (Allah SWT)”. [12]

Sangat jelas bagaimana Etos Imam Sayuthy yang kemilmuan beliau diakui semua kalangan, dan mempunyai karangan lebih dari 0 kitab yang terdiri dari berbagaimacam jenis ilmu, namun beliau tak menganggap perayaan maulid Bagaikan bid`ah yang sesat.

Bahkan Imam Asy-Sayuthy di kitab Itu menolak Etos Abi Hafash Tajuddin al-Fakihany (w. 734 H) yang Menyebut bahwa perayaan maulid Yaitu bid`ah yang sesat.

10. Imam Muhammad bin ‘Abdurrahman As-Sakhawi rahimahullah :

لَمْ يُنْقَل عَن أَحَدٍ مِنَ السَّلَفِ الصَّالِحِ فِيْ الْقُرُوْنِ الثَّلاَثَةِ الْفَاضِلَةِ، وَإِنَّمَا حَدَثَ بَعْدُ، ثُمَّ مَا زَال أهْل الإِسْلاَمِ فِيْ سَائِرِ الأَقْطَارِ وَالْمُدُنِ الْعِظَامِ يَحْتَفِلُوْنَ فِيْ شَهْرِ مَوْلِدِهِ ‐ صَلَّى لله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّفَ وَكَرَّمَ ‐ يَعْمَلُوْنَ الْوَلاَئِمَ الْبَدِيْعَةَ الْمُشْتَمِلَةَ عَلَى الأُمُوْرِ البَهِجَةِ الرَّفِيْعَةِ، وَيَتَصَدَّقُوْنَ فِيْ لَيَالِيْهِ بِأَنْوَاعِ الصَّدَقَاتِ، وَيُظْهِرُوْنَ السُّرُوْرَ، وَيَزِيْدُوْنَ فِيْ الْمَ بَرَّاتِ، بَل يَعْتَنُوْنَ بِقِرَاءَةِ مَوْلِدِهِ الْكَرِيْمِ، وَتَظْهَرُعَلَيْهِمْ مِنْ بَرَكَاتِهِ كُل فَضْلٍ عَمِيْمٍ بِحَيْثُ كَانَ مِمَّا جُرِّبَ

Loading...

“tak Sempat diperbincangkan dari Disorientasi seorang ulama Salafush-Shaleh di kurun ke tiga yang mulia dan sungguh itu baru ada setelahnya. setelah itu umat Islam diseluruh penjuru daerah dan kota‐kota besar senantiasa memperingati Maulid Nabi dibulan kelahiran Beliau. Mereka mengadakan jamuan yang luar biasa dan diisi dengan perkara‐perkara yang menggembirakan serta mulia, dan bershaqadah di malam harinya dengan berbagai macam shadaqah, menampakkan kegembiraan, bertambahnya kebaikan bahkan diramaikan dengan pembacaan Kitab-Kitab Maulid Nabi yang mulia, dan Jadi jelaslah keberkahan dan keutamaan (Maulid Nabi) dengan cara merata dan semua itu telah teruji”.

كَانَ مَوْلِدُه الشَّرِيْفُ عَلَى الأَصَحِّ لَيْلَةَ الإِثْنَيْنِ الثَّانِيَ عَشَرَ مِنْ شَهْرِ رَبِيْع الأَوَّلِ، وَقِيْل :لِلَيْلَتَيْنِ خَلَتَا مِنْهُ، وَقِيْل : لِثَمَانٍ، وَقِيْل : لِعَشْرٍ وَقِيْل غَيْرُ ذَلِكَ، وَحِيْنَئِذٍ فَلا بَأْسَ بِفِعْلِ الْخَيْرِ فِيْ هذِهِ الأَيَّامِ وَاللَّيَالِيْ عَلَى حَسَبِ الاسْتِطَاعَةِ بَل يَحْسُنُ فِيْ أَيَّامِ الشَّْهرِ كُلِّهَا وَلَيَالِيْهِ

“Yaitu kelahiran Nabi yang mulia yang paling shahih Yaitu di malam Senin, 12 Rabi’ul-Awwal. Ada juga yang berpendapat di malam tanggal 2. Dikatakan juga di tanggal 8, 10 dan lain sebagainya. Maka dari itu, tak mengapa mengerjakan kebaikan di setiap hari‐hari ini dan malam-malamnya dengan kemampuan yang ada bahkan bagus dilakukan di hari‐hari dan malam- malam bulan (Rabi’ul-Awwal)”.

وَأَمَّا قِرَاءَةُ الْمَوْلِدِ فَيَنْبَغِيْ أَنْ يُقْتَصَرَ مِنْهُ عَلَى مَا أَوْرَدَهُ أَئِمَّةُ الْحَدِيْثِ فِيْ تَصَانِيْف هِمْ- وَقَدْ حَدَّثْتُ بِهِ فِيْ الْمَحَلِّ الْمُشَارِ إِلَيْهِ بِمَ كة –الْمُخْتَصَّةِ بِهِ كَالْمَوْرِدِ الْهَنِيِّ لِلْعِرَاقِيِّ وَغَيْرِ الْمُخْتَصَّةِ بِهِ بَلْ ذُكِرَ ضِمْنًا كَدَلاَئِلِ النُّبُوَّةِ لِلْبَيْهَقِيِّ، وَقَدْ خُتِمَ عَلَيَّ بِالرَّوْضَ ةِ النَّبَوِيَّةِ، لأَنَّ أَكْثَرَ مَا بِأَيْدِيْ الْوُعَّاظِ مِنْهُ كَذِبٌ وَاخْتِلاَقٌ، بَلْ لَمْ يَزَالُوْا يُوَلِّدُوْنَ فِيْهِ مَا هُوَ أَقْبَحُ وَأَسْمَجُ مِمَّا لاَ تَحِلُّ رِوَايَتُهُ وَلاَ سَمَاعُهُ، بَلْ يَجِبُ عَلَى مَنْ عَلِمَ بُطْلاَنُهُ إِنْكَارُهُ وَالأَمْرُ بِتَرْكِ قِرَائِتِهِ، عَلَى أَنَّهُ لاَ ضَرُوْرَةَ إِلَى سِيَاقِ ذِكْرِ الْمَوْلِدِ، بَلْ يُكْتَفَى بِالت لاَوَةِ وَالإِطْعَامِ وَالصَّدَقَةِ، وَإِنْشَادِ شَىْءٍ مِنَ الْمَدَائِحِ النَّبَوِيَّةِ وَالزُّهْدِيَّةِ الْمُحَرِّكَةِ لِلْقُلُوْبِ إِلَى فِعْلِ الْخَيْرِ وَالْعَمَلِ لِلآخِرَةِ وَللهُ يَهْدِيْ مَنْ يَشَاءُ

“Dan adapun pembacaan (kisah) kelahiran Nabi maka seyogyanya yang dibaca hanya yang disebutkan oleh para ulama Ahli Hadits di karangan‐karangan mereka yang Eksklusif berbicara mengenai kisah kelahiran Nabi, seperti Al‐Maurid Al‐Haniy karya Al‐‘Iraqi (Saya juga telah mengajarkan dan membacakannya di Mekkah), atau tak Eksklusif dengan karya‐karya mengenai Maulid aja akan tetapi juga dengan menyebutkan riwayat‐riwayat yang mengandung mengenai kelahiran Nabi, seperti kitab Dalail An‐Nubuwwah karya Al‐Baihaqi. Kitab ini juga telah Di Lantunkan kepadaku hingga selesai di Raudlah Nabi. di karenakan kebanyakan kisah maulid yang ada di tangan para penceramah Yaitu riwayat‐riwayat bohong dan palsu, bahkan hingga di ini mereka masih terus memunculkan riwayat riwayat dan kisah‐kisah yang lebih buruk dan tak layak didengar, yang tak boleh diriwayatkan dan didengarkan, justru sebaliknya orang yang mengetahui kebathilannya wajib mengingkari dan melarang untuk dibaca. Atas semua itu sesungguhnya tak masalah ada pembacaan kisah – kisah maulid di peringatan Maulid Nabi, bahkan (juga) cukup membaca beberapa ayat Alqur-an, memberi makan dan sedekah, didendangkan bait‐bait Al-Madaih Nabawiyyah (pujian‐pujian terhadap Nabi) dan (sya’ir) kezuhudan (zuhudiyah), yang Bisa menggerakkan hati untuk berbuat bagus dan ber’amal untuk akhirat. Dan Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki”. [13]

11. Imam Al-Yafi’i Al-Yamani rahimahullah :

من جمع لمولد النبي صلى الله عليه وسلم إخوانا وهيأ طعاما وأخلى مكانا وعمل إحسانا وصارسببالقراءة مولد الرسول بعثه الله يوم القيامة مع الصديقين والشهداء والصالحين ويكون في جنات النعيم

“Barangsiapa yang mengumpulkan saudara‐saudaranya untuk (merayakan) Maulid Nabi, menyajikan Boga, ber’amal yang bagus dan menjadikannya untuk pembacaan Maulidir‐Rasul, maka Allah SWT akan membangkitkan di hari qiamat bersama para Shadiqin, Syuhada dan Shalihin dan menempatkannya di tempat yang tinggi”. [14]

12. Imam Ma’ruf Al-Kurkhi rahimahullah :

من هيأ لأجل قراءة مولد الرسول طعاما وجمع إخوانا وأوقد سراجا ولبس جديدا وتعطر وتجمل تعظيما لمولده حشره الله تعالى يوم القيامة مع الفرقة الأولى من النبيين وكان في أعلى عليين ومن قرأ مولد الرسول صلى الله عليه وسلم على دراهم مسكوكة فضة كانت أو ذهبا وخلط تلك الدراهم مع دراهم أخر وقعت فيها البركة ولا يفتقر صاحبها ولا تفرغ يده ببركة مولد الرسول صلى الله عليه وسلم

“Barangsiapa menyajikan Boga untuk pembacaan Maulidir‐Rasul, mengumpulkan saudara‐saudaranya, menghidupkan pelita dan memakai pakaian yang baru dan wangi‐wangian dan menjadikannya untuk mengagungkan kelahiran Nabi saw, maka Allah akan membangkitkan di hari qiyamat beserta golongan yang utama dari Nabi‐Nabi , dan ditempatkan di tempat (derajat) yang tinggi”. [15]

13. Imam Ahmad Zaini Dahlan rahimahullah :

جرت العادة أن الناس إذا سمعوا ذكر وضعه صلى الله عليه وسلم يقومون تعظيما له صلى الله عليه وسلم وهذا القيام مستحسن لما فيه من تعظيم النبي صلى الله عليه وسلم وقد فعل ذلك كثير من علماء الأمة الذين يقتدى بهم

“Telah berlakulah ‘adat bahwa sungguh manusia apabila mereka mendengar penyebutan wadha’ nya Nabi saw, maka mereka berdiri di karenakan penghormatan untuk Nabi saw. Dan Aplikasi berdiri ini Yaitu hal yang bagus di karenakan termasuk mengagungkan Nabi saw dan telah dilakukan oleh kebanyakan ‘Ulama ummat dimana ummat ini mengikuti mereka (para ‘Ulama).” [16]

14. Imam As-Sari As-Saraqaththi rahimahullah :

من قصد موضعا يقرأ فيه مولد النبي صلى الله عليه وسلم فقد قصد روضة من رياض الجنة لأنه ما قصد ذلك الموضع إلا لمحبة الرسول وقد قال عليه السلام من أحبني كان معي في الجنة

“Barangsiapa yang menyediakan tempat untuk Di Lantunkan Maulid Nabi saw maka sungguh dia menghendaki suatu taman dari taman‐taman surga, di karenakan sesungguhnya tiada dia menghendaki tempat itu melainkan di karenakan cintanya kepada Rasul saw. Dan sungguh Rasul saw bersabda : “Barangsiapa mencintaiku, maka dia akan bersamaku di di surga”. [17]

15. Imam Sayyid Muhammad bin ‘Alwi Al-Maliki Al-Hasani rahimahullah :

إننا نرى أن الاحتفال بالمولد النبوي الشريف ليست له كيفية مخصوصة لابد من الالتزام أو إلزام الناس بها ، بل إن كل ما يدعو إلى الخير ويجمع الناس على الهدى و يرشدهم إلى ما فيه منفعتهم في دينهم ودنياهم يحصل به تحقيق المقصود من المولد النبوي

“Kami memandang sesungguhnya memperingati Maulid Nabi saw yang mulia itu tak mempunyai bentuk‐bentuk yang Eksklusif yang mana semua orang wajib dan diharuskan untuk melaksanakannya. Akan akan tetapi segala sesuatu yang dilakukan, yang Bisa menyeru dan mengajak manusia kepada kebaikan dan mengumpulkan manusia atas petunjuk (agama) serta menunjuki mereka kepada hal‐hal yang membawa manfaat untuk mereka, untuk Global dan akhirat maka hal itu Bisa digunakan untuk memperingati Maulid Nabi”.

ولذلك فلو اجتمعنا على شئ من المدائح التي فيها ذكر الحبيب صلى الله عليه وسلّم وفضله وجهاده وخصائصه ولم نقرأ القصة التي تعارف الناس على قراءتها واصطلحوا عليها حتى ظن البعض أن المولد النبوي لا يتم إلا بها ، ثم استمعنا إلى ما يلقيه المتحدثون من مواعظ وإرشادات وإلى ما يتلوه القارئ من آيات أقول : لو فعلنا ذلك فإن ذلك داخل تحت المولد النبوي الشريف ويتحقق به معنى الاحتفال بالمولد النبوي الشريف ، وأظن أن هذا المعنى لا يختلف عليه اثنان ولا ينتطح فيه عنزان

“Oleh di karenakan itu andaikata kita berkumpul di suatu majelis yang disitu Di Lantunkan puji‐pujian yang menyanjung Al‐Habib (Sang Kekasih yakni Nabi Muhammad saw), keutamaan beliau, jihad (perjuangan) beliau, dan kekhususan-kekhususan yang berada di beliau -lalu kita tak membaca kisah Maulid Nabi saw yang telah dikenal oleh berbagai kalangan masyarakat dan mereka menyebutnya dengan istilah “Maulid” (seperti Maulid Diba’, Barzanji, Syaraful-Anam, Al‐Habsyi, dan lain sebagainya)-, yang mana sebagian orang menyangka bahwa peringatan Maulid Nabi itu tak lengkap tanpa pembacaan kisah‐kisah Maulid Itu setelah itu kita mendengarkan mau’izhah‐mau’izhah, pengarahan‐pengarahan, nasehat‐nasehat yang disampaikan oleh para ‘Ulama dan ayat‐ayat Alaur-an yang Di Lantunkan oleh seorang Qari, Saya Menyebut : “Andaikan kita menjalankan itu semua maka itu Serupa halnya dengan kita membaca kisah Maulid Nabi saw yang mulia Itu dan itu termasuk di makna memperingati Maulid Nabi saw yang mulia. Dan saya yakin bahwa peringatan yang saya maksudkan ini tak menimbulkan Disparitas serta adu domba antara dua kelompok”. [18]

يخطئ كثير من الناس في فهمهم لحقيقة المولد النبوي الذي ندعو إليه ونشجع عليه فيتصورون تصورات فاسدة يبنون عليها مسائل طويلة ومناقشات عريضة يضيعون بها أوقاتهم وأوقات القراء وهي كلها هباء لأنها مبنية على تصورات كما قلنا فاسدة

“Banyak orang Galat di memahami subtansi maulid Nabi saw yang kami serukan dan kami anjurkan untuk menyelenggarakannya. Mereka mendefinisikannya dengan cara Galat yang setelah itu di atasnya dibangun banyak persoalan‐persoalan panjang dan perdebatan‐perdebatan yang luas yang membuat mereka menyia‐nyiakan waktu mereka dan para pembaca. Persoalan dan perdebatan ini tak bernilai Serupa sekali laksana debu yang beterbangan. di karenakan dibangun di atas asumsi‐asumsi yang Galat”.

وإن هذه الاجتماعات، هي وسيلة كبرى للدعوة إلى الله وهي فرصة ذهبية ينبغي أن لا تفوت، بل يجب على الدعاة والعلماء أن يذكروا الأمة بالنبي – صلى الله عليه وسلم – بأخلاقه وآدابه وأحواله وسيرته ومعاملته وعباداته، وأن ينصحوهم ويرشدوهم إلى الخير والفلاح ويحذروهم من البلاء والبدع والشر والفتن.

“Pertemuan‐pertemuan di rangka merayakan maulid ini Yaitu wahana besar untuk mengajak mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ia Yaitu kesempatan emas yang layak untuk tak dilewatkan begitu aja. Bahkan wajib untuk para da`i dan ‘Ulama untuk mengingatkan ummat akan budi pekerti, etika, aktivitas, perjalanan Hayati, mu’amalah dan ibadah beliau dan menasehati serta membimbing mereka Futuristis kebaikan dan kesuksesan dan memperingatkan mereka akan Bala, bid`ah, keburukan dan fitnah”. [19]

16. Syaikh ‘Ali Jum’ah :

Ulama besar Masa ini, Syeikh `Ali Jum`ah, mufti negri Mesir Menyebut:


والاحتفال بذكر مولده صلى الله عليه وسلم من افضل الاعمال واعظم القربات لانه تعبير عن الفرح والحب
له صلى الله عليه وسلم ومحبة النبي صلى اللع عليه وسلم اصل من اصول الايمان

“Menyelenggarakan maulid Nabi saw termasuk sebaik-bagus ‘amalan dan sebesar-besar qurbah (‘ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT) di karenakan hal ini Yaitu penggambaran dari rasa suka dan cinta kepada Nabi saw. Dan mencintai Nabi Muhammad saw Yaitu dasar daripada dasar-dasar iman”. [20]

17. Prof. DR. Sa`id Ramadhan Buthy

Ulama besar Syeikh Prof. Dr. Said Ramadhan al-Buthy, seorang ulama besar di ini menanggapi masalah perayaan maulid, beliau Menyebut:

ومن أمثلة هذه السنة الحسنة تلك الاحتفالات التي يقوم بها المسلمون عند مناسبات معينة كبدء العام الهجري ومولد المصطفى صلى الله عليه وسلم، وعند ذكرى الإسراء والمعراج وذكرى فتح مكة وغزوة بدر ونحوها مما يتوخى من تحقيق خير يعود إلى مصلحة الدين

“sebagian dari contoh sunnah hasanah Yaitu perayaan-perayaan yang dilaksanakan oleh kaum muslimin saat bertepatan dengan kejadian Eksklusif seperti awal tahun baru hijriyah, maulid Nabi Musthafa saw, isra` mi`raj, peringatan Futuh Makkah, perang Badar dan seumpanya hal-hal yang dikehendaki untuk mewujudkan kebaikan yang kembali kepada maslahah agama.” [21]

18. Syeikh Abdullah al-Harary (w. 1429 H)

Syeikh Abu Abdur Rahman Abdullah bin Muhammad al-Harary (w. 1429 H) seorang ulama Libanon, asal Somalia Menyebut:

من البدع الحسنة الاحتفال بمولد رسول الله صلى الله عليه وسلم فهذا العمل لم يكن فى عهد النبي صلى الله عليه وسلم ولا فيما يليه انما احدث فى أوائل القرن السابع للهجرة واول من احدثه ملك إربل وكان عالما تقيا شجاعا يقال له المظفر جمع لهذا كثيرا من العلماء فيهم من أهل الحديث والصوفية الصادقين فاستحسن ذالك العمل العلماء فى مشارق الارض ومغاربها منهم الحافظ أحمد بن حجر العسقلانى وتلميذه الحافظ السخاوى وكذالك الحافظ السيوطى وغيرهم

Sebagian dari bid`ah hasanah Yaitu perayaan maulid Rasulullah SAW. Ini Yaitu amal yang tak ada di masa Nabi SAW dan tak ada di masa sesudah Nabi. Perayaan Itu diadakan di awal kurun ke tujuh Hijriyah. Yang pertama sekali mengadakannya Yaitu Raja Negri Irbil. Beliau Yaitu seorang raja yang alim, bertaqwa dan pemberani yang bernama al-Muzaffar. di perayaan maulid beliau menghimpun para ulama dari kalangan ahli hadist dan shufi shadiqin. Perayaan Itu dianggap bagus oleh para ulama bagus ulama di belahan timur ataupun barat. Diantara mereka Yaitu al-Hafidh Ibnu Hajar al-Asqalani dan murid beliau al-Hafidh as-Sakhawy dan juga al-Hafidh as-Sayuthy. [22]

19. Dr. Abdullah Umar Kamil


Syeikh Dr. Abdullah Umar Kamil Menyebut :

ان مجلس الاحتفال بالمولد النبي الشريف قربة من القربات لما يحتويه من صلاة على النبي صلى الله عليه وسلم وذكر الله وغير ذالك من القربات

Majlis perayaan maulid Nabi yang mulia Yaitu satu qurbah dari beberapa qurbah di karenakan perayaan Itu mengandung shalawat kepada Nabi, zikir kepada Allah, dan qurbah yang lain. [23]

20. dll

Referensi:

  1. Imam Sayyid Abibakar Al-Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, Hasyiyah I’anah Ath-Thalibin, Juz. III, Hal. 364, Cet. Toha Putra.
  2. Ibid.
  3. Imam As-Suyuthi, Al-Hawi Li Al-Fatawi, Bab Husn Al-Maqshud Fi ‘Amal Maulid, Hal. 230, Juz. I, Cet. Dar Al-Fikri, 2004.
  4. Al-Bahits `ala Inkar al-Bida`i wa al-Hawadits hal 23. Cet. Dar Hadi, Cairo
  5. Al-Madkhal, Ibn al-Hajj jilid 2 hal 2 Cet. Dar Turats
  6. Imam Ibnu Katsir, Al-Bidayah Wa An-Nihayah, Juz. XIII, Hal. 136, Cet. Maktabah Al-Ma’arif.
  7. Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazz, Hal Nahtafil, yang dicetak satu bersama di kitab Sayyid Muhammad alwy al-Maliky, Al-I`lam bi Fatawa aimmah a`lam haula maulid shallahu `alaihi wa sallam hal 109. Cet Dar Kutub Ilmiyah thn 2006
  8. Sayyid Muhammad alwy al-Maliky, Al-I`lam bi Fatawa aimmah a`lam haula maulid shallahu `alaihi wa sallam hal 34. Cet Dar Kutub Ilmiyah thn 2006
  9. Imam Sayyid Abibakar Al-Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, Hasyiyah I’anah Ath-Thalibin, Juz. III, Hal. 364, Cet. Toha Putra.
  10. Imam As-Suyuthi, Al-Hawi Li Al-Fatawi, Bab Husn Al-Maqshud Fi ‘Amal Maulid, Hal. 229, Juz. I, Cet. Dar Al-Fikri, 2004.
  11. Ibid, Hal. 221-231.
  12. Imam Sayyid Abibakar Al-Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, Hasyiyah I’anah Ath-Thalibin, Juz. III, Hal. 365, Cet. Toha Putra.
  13. Imam Muhammad bin ‘Abdurrahman As-Sakhawi, Al-Ajwibah Al-Mardhiyah, Juz. III, Hal. 1116-1120, Cet. Dar Ar-Rayah, 1418 H.
  14. Imam Sayyid Abibakar Al-Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, Hasyiyah I’anah Ath-Thalibin, Juz. III, Hal. 364, Cet. Toha Putra.
  15. Ibid, Hal. 364.
  16. Ibid, Hal. 363.
  17. Ibid, Hal. 365.
  18. Imam Sayyid Muhammad bin ‘Alwi Al-Maliki Al-Hasani, Haul Al-Ihtifal Bi Al-Maulid an-Nabawi Asy-Syarif. Hal. 22-23.
  19. Imam Sayyid Muhammad bin ‘Alwi Al-Maliki Al-Hasani, Mafahim Yajibu An-Tushahhah.
  20. Dr. ‘Ali Jum’ah, Al-Bayan Li Ma Yasyghal Al-Adzhan, Hal. 164, Cet. Al-Muqatam, 2005.
  21. Dr. Sa`id Ramadhan al-Buthy, Ihtifal bi Maulid Nabi.http://www.sufia.org
  22. Syeikh Abdullah al-Harary, Ar-Rawa-ih az-Zakiyah fi Maulid Khair al-Bariyyah hal 28 Cet. Syirkah Dar al-Masyari` thn 2009
  23. Dr. Abdullah Kamil, al-Inshaf hal 379 Cet. Wabil Shaib

Sumber: dayahmudimesra.com

Etos ‘Ulama Ahlus sunnah Terhadap Peringatan dan Perayaan مولد النبي‎ ( Maulid Nabi) Muhammad SAW Rating: 4.5 Posted by: Nina Hasrina

Etos ‘Ulama Ahlus sunnah Terhadap Peringatan dan Perayaan مولد النبي‎ ( Maulid Nabi) Muhammad SAW

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here