Home Berita Islam Terbaru Disparitas Pendapat Mengenai Hukum Onani di Islam

Disparitas Pendapat Mengenai Hukum Onani di Islam

104
0
Hukum Onani di Islam – Onani merupakan Disorientasi satu kegiatan tercela yang sering dilakukan oleh kaum pria untuk melampiaskan hasrat seksual yang dimilikinya. Menurut Etos Global kesehatan, selama dilakukan dengan tak Lebih, onani Absah – Absah aja untuk dilakukan. Bahkan, di keadaan Eksklusif seperti untuk para manula yang sudah tak lagi menjalankan Interaksi intim, onani merupakan aktivitas yang sangat dianjurkan untuk menghindari berbagai macam penyakit yang mengintai.

bila onani di Global kesehatan dianggap hal yang wajar, lantas bagaimanakah Etos Agama Islam atas aktivitas yang agak sedikit tabu dan tercela ini?

Hukum Onani di Islam

Loading...
Berbeda dengan beberapa aktivitas lainnya seperti berzinah atau pun mencuri, hukum onani tak dijelaskan dengan cara gamblang di di Al-Qur’an atau pun Hadits. Oleh di karenakan itu, hukum onani pun ditentukan dari penafsiran para pemuka Agama Islam. Dan beberapa ulamah besar Islam mempunyai Etos yang berbeda terhadap aktivitas yang satu ini Yaitu:

1. Ulama Madzhab Maliki, Syafi’i, dan Zaidiyah
Tiga ulamah besar Islam ini mempercayai sepenuhnya bila onani merupakan aktivitas tercela yang haram untuk dikerjakan. Menurut mereka, aktivitas onani merupakan suatu tindakan yang Lebih dan juga melampaui batas. Hal ini sesuai dengan Disorientasi satu Ayat Al-Qur’an Surat Al Mukminun ayat 5 – 7 yang isinya jelaskan mengenai kewajiban yang wajib dilakukan oleh seorang pria untuk menjaga kemaluannya terhadap apa – apa yang selain istri dan juga budak – budak yang dimilikinya.

2. Ulama Madzhab Hanafi
Berbeda dengan tiga ulamah besar yang pertama, Ulamah Madzhab Hanafi mempercayai bila hukum onani hanya diharamkan di beberapa kondisi aja dan wajib dilakukan di beberapa kondisi yang lainnya. saat aktivitas onani dilakukan hanya untuk sekedar bersenang – suka atau pun dengan sengaja untuk membangkitkan syahwat, maka onani haram untuk dilakukan. Akan akan tetapi, bila onani dilakukan demi menghindarkan diri pelakunya dari perbuatan zina (untuk orang – orang yang belum sanggup beristri), maka onani wajib untuk dilakukan.

3. Ulama Madzhab  Hambali
Hampir Serupa seperti halnya pendapat Ulamah Madzhab Hanafi, Ulamah Madzhab Hambali berpendapat bila onani haram untuk dilaksanakan kecuali oleh orang – orang yang belum beristri dan telah dikuasai oleh nafsu syahwat sehingga terpaksa menjalankan onani untuk Bisa terhindar dai perbuatan zina. Selain itu, Ulamah mazhab ini juga berpendapat bila onani boleh dilakukan oleh orang – orang yang mempunyai penyakit Eksklusif yang dianjurkan oleh dokter untuk beronani Bagaikan Disorientasi satu tindakan pengobatan atau pun pencegahan timbulnya penyakit Itu.

4. Ulama Ibnu Hazm
Selain tiga ulamah di atas, hukum onani juga dijelaskan oleh ulamah Ibnu Hazm. Menurut ulamah Ibnu Hazm, onani di dasarnya bersifat makruh dan boleh dilakukan di karenakan tak diharamkan dengan cara langsung oleh Allah SWT di di Al-Qur’an. Pendapat ini diambil dengan berpedoman kepada Al-Qur’an surat Al An’an ayat 119 yang artinya : “Paahal Sesungguhnya Allah SWT telah jelaskan kepada kita apa yang diharamkan-Nya atasmu.”, dan hukum onani tak dijelaskan dengan cara gamblang di Al-Qur’an sehingga dianggap boleh untuk dilakukan.

Baca juga: Beda antara Mazi,mani dan wadi

Itulah sedikit Citra mengenai hukum onani di Islam yang wajib diketahui oleh kaum pria. wajib diketahui, meskipun beberapa madzhab menghalakan aktivitas onani, akan akan tetapi onani sebaiknya tak dilakukan. Hal ini dikarenakan onani biasanya akan memancing kepada berbagai macam tindakan – tindakan yang diharamkan oleh Allah SWT seperti melihat gambar – gambar porno hingga menjurus kepada aktivitas perzinahan.

Disparitas Pendapat Mengenai Hukum Onani di Islam

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here