Home Ceramah Islam Terbaru Cinta Palsu Kaum Munafiq Tehadap Habaib

Cinta Palsu Kaum Munafiq Tehadap Habaib

38
0
Benarlah apa yang dikatakan oleh Saikhina AlUstadz AlHabib Abdurrahaman bin Ahmad bin Abdulgadir Assegaf
” Nanti ada zamannya orang mencintai Habaib seperti orang mencium buah yang wangi, tapi dikala merasakan itu buah masam di hina aja itu buah, walhal dia lupa masih banyak buah serupa yang manis rasanya, dan mungkin dia juga tak faham itu buah berasal dari pohon yang berbeda dengan pohon di umumnya.
Di Akhir Masa nanti orang akan meributkan perihal Nasab dan cium tangan, walhal sesungguhnya perkara yang ada hanya sekedar Hasud dan sifat iri dengki belaka karna Kotornya Hati
Seandainya mau selamat hindari akan hal yang demikian “

Cinta Butuh Pembuktian

Cinta tak sekedar pengakuan di lisan, tapi cinta butuh pembuktian. Disorientasi satu bukti cinta pecinta kepada seseorang yang dicintainya saat dirinya berusaha memuliakan, menghormati, meneladani dan mengikuti yang dicintainya di segala aspek kehidupan, bagus di akhlaq (Ungkap dan perbuatan), ibadah, muamalah dan lain sebagainya.

Setiap orang yang mengaku dirinya muslim, pasti mencintai Ahlul Bait (keluarga) Nabi. Seorang yang mengaku mencintai Keturunan Nabi, maka konsekuensinya wajib mampu membuktikan pengakuannya di kehidupannya, Yaitu berusaha memuliakan, menghormati, meneladani dan mengikuti mereka di berbagai aspek di atas. di karenakan apabila cinta hanya sebatas Ungkap di lisan tanpa adanya pembuktian, maka yang ada hanyalah cinta palsu.

Dan yang lebih penting lagi, bahwa kecintaan itu tak berlandaskan di hawa nafsu, tapi wajib berlandaskan di karenakan Allah ta’ala, di karenakan dari sinilah Bisa dibedakan antara seorang yang jujur dengan pendusta. Antara orang yang beriman dengan orang munafik.

Diriwayatkan dari Anas radhiyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ …وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ

Loading...
“Tiga perkara yang apabila ada di diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman: (diantaranya) dan bila ia mencintai seseorang, dia tak mencintainya kecuali di karenakan Allah. (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Pondasi cinta dan penghormatan Ahlussunnah kepada Ahlulbait Yaitu hadits Zaid bin Arqam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, juga hadits-hadits lain. Zaid bin Arqam ra mengabarkan bahwa di perjalanan dari Mekah sepulang dari haji Wada’ Futuristis ke Madinah, Nabi saw singgah di suatu tempat yang bernama Khum. Di daerah itu terdapat ghadir (daerah bermata air dan banyak ditumbuhi pepohonan). Beliau dan para sahabat bermukim di situ selama sehari atau beberapa hari. Di sana Rasulullah saw berkhutbah dan berwasiat. Beliau Menyebut mengenai sudah dekatnya ajal beliau. setelah itu beliau berpesan supaya kaum muslimin berpegang teguh kepada Kitab Allah dan menjaga Copyright-Copyright Ahlulbait, menghormati mereka, dan mengikuti nasihat-nasihat mereka. 

Kepada ‘Abdullah bin Hasan bin Husein—cucu Husein bin Ali—‘Umar bin ‘Abdul’aziz berkata, 
“bila engkau ada kebutuhan, maka tulislah surat kepadaku. Sungguh, aku malu kepada Allah apabila Dia melihatmu berdiri di depan pintu rumahku. tak ada di muka bumi ini keluarga yang lebih aku cintai daripada kalian. Sungguh, kalian lebih aku cintai daripada keluargaku sendiri.”

Muhammad bin al-Husein bin ‘Abdullah al-Baghdadiy al-Ajurriy (419 H) berkata, 
“Diwajibkan atas setiap mukmin laki-laki dan orang mukmin perempuan mencintai Ahlulbait Rasulullah saw; Yaitu Bani Hasyim, Ali bin Abu Thalib beserta anak-cucunya, Fathimah beserta anak-cucunya, Hasan dan Husein beserta anak-cucu keduanya, Ja’far ath-Thayyar beserta anak-cucunya, Hamzah beserta anak-cucunya, dan ‘Abbas beserta anak-cucunya. Diwajibkan atas orang-orang muslim mencintai dan memuliakan mereka.”

Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah berkata, 
“Di antara inti-inti aqidah Ahlussunnah bahwa sesungguhnya mereka mencintai Ahlulbait Rasulullah saw dan berwala` kepada mereka serta menjaga benar wasiat Rasulullah saw saat ia bersabda di hari Ghadir Khum, ‘Aku ingatkan kalian di Allah mengenai Copyright-Copyright Ahlulbaitku.’.”

Abu Ja’far ath-Thahawiy menyatakan, “maka ia telah terbebas dari kemunafikan.”
Para pensyarah matan akidah beliau jelaskan bahwa siapa yang di hatinya ada kecintaan kepada para sahabat, ummahatul mukminin, dan Ahlulbait, maka ia telah terbebas dari kemunafikan.

abdkadiralhamid@2016

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Share on LinkedIn

Subscribe to receive free email updates:

Cinta Palsu Kaum Munafiq Tehadap Habaib

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here