Home Berita Islam Terbaru Berjuang dan Melawan! Pilihan Terakhir Pria Rohingya

Berjuang dan Melawan! Pilihan Terakhir Pria Rohingya

73
0
Berjuang dan Melawan! Pilihan Terakhir Pria Rohingya
Berita Islam 24H – Orang-orang Rohingya, terutama para pria, telah Berawal Dari mengangkat senjata dengan bergabung dengan kelompok pejuang untuk melawan militer Myanmar yang kejam.
Situasi ini telah Jadi perubahan dramatis sejak Oktober lalu saat umat Islam yang sebelumnya Jadi korban penyiksaan terpaksa melarikan diri ke perbatasan Bangladesh.
di hari Jumat, para gerilyawan dari Arakan Rohingya Security Force/ARSA atau dikenal dengan Harakah al-Yaqin , menyerang sekitar 30 pos polisi untuk mengorbankan setidaknya 12 petugas keamanan dengan hanya berbekal pisau dan bom rakitan.
Seorang pengungsi perempuan Rohingya yang sukses memasuki Bangladesh, mengakui bahwa suaminya telah bergabung di gerakan Itu untuk melawan tentara Myanmar.
Ayesha Begum (25 tahun) Menyebut dia tak menyesal bila suaminya tak Bisa melihat kelahiran anak keenamnya di mereka berjuang bersama ARSA di Rakhine, Myanmar.
“Suami saya membawa kami ke sungai dan menyeberangkan kami,” tutur Begum di Kamp Kutupalong, menggambarkan perjuangannya menyeberangi Sungai Naf bersama anak-anaknya yang masih kecil.
Begum, bersama ribuan warga muslim Rohingya lainnya, kebanyakan perempuan dan anak-anak, mengungsi ke Bangladesh sejak militer Myanmar menggelar operasi besar-besaran di Jumat (25/08/2017).
“Dia mengucap selamat tinggal. Katanya, bila kita tak Bisa bertemu lagi di Arakan (Negara Bagian Rakhine), kita akan bertemu di surga,” sambungnya.
“Katanya, bila kita tak Bisa bertemu lagi di Arakan (Negara Bagian Rakhine), kita akan bertemu di Surga,” Perkataan Ayesha Begum mengutip suaminya [AFP]
Begum tanpa didampingi suaminya, di ini sedang menanti kelahiran anak keenam mereka di kamp Evakuasi di Bangladesh.
Seusai bertahun-tahun Jadi korban pembantaian militer Myanmar, muslim Rohingya di ini menjawab panggilan untuk melawan.
Ajakan ARSA untuk menjalankan perlawanan disambut pria-pria Rohingya yang berada di Evakuasi atau perbatasan Bangladesh.
Seorang tetua adat Rohingya, Shah Alam, yang ditemui di perbatasan Myanmar-Bangladesh, mengakui bahwa 30 pria dari tiga desa di distriknya telah bergabung dengan ARSA.
“Apakah mereka punya pilihan lain? Mereka lebih memilih berjuang atau mati daripada dibantai seperti domba,” tuturnya.
Baca: Erdogan Kecam Kekerasan terhadap Muslim Rohingya Meski hanya bersenjata seadanya dan tak yakin Bisa mengalahkan militer Myanmar yang bersenjata lengkap, kondisi itu tak menyurutkan tekad mereka menjalankan perlawanan.
“Ada ratusan saudara kami bersembunyi di bukit-bukit. Kami telah bersumpah akan menyelamatkan Arakan meski hanya dengan tongkat dan pisau,” tegas seorang remaja Rohingya yang bergabung dengan kelompok militan Itu.
Banyak dari orang-orang Rohingya yang mengungsi karena kekerasan Itu Menyebut bahwa mereka nyaris tak Bisa melarikan diri dengan kehidupan mereka.
Mereka menggambarkan massa Budha dan pasukan keamanan yang menembak warga sipil yang tak bersenjata dan membakar rumah-rumah, suatu pelecehan yang berulang kali didokumentasikan di Rakhine sejak kemajuan konflik.
Pernyataan remaja itu seperti menampar pernyataan mantan tokoh Myanmar Aung San Suu Kyi. Dia menuding ARSA yang sebelumnya dicap “teroris” dan memakai anak-anak Bagaikan tentara.
untuk banyak remaja Rohingya, perlawanan sudah Jadi pilihan terakhir.
“Remaja-remaja kami sudah muak. Mereka tumbuh menyaksikan penistaan dan penyiksaan. di ini mereka mempunyai konsensus bila tak melawan, mereka tak akan membagikan Copyright kami,” ujar seorang aktivis Rohingya di Bangladesh yang tak mau disebut namanya.
Di luar suatu kamp di Cox’s Bazar, dua orang pemuda Rohingya sangat ingin bergabung dengan para “pejuang kebebasan” di Rakhine walau di ini berada di Bangladesh.
“Kami tak mempunyai pilihan, Kawan kami ada di Rakhine, bahkan para remaja di desa kami telah bergabung di pertarungan Itu,” Disorientasi satu pria Itu Menyebut kepada AFP dan bersumpah “untuk menyeberangi perbatasan saat ada kesempatan”.
Baca: HRW Miliki Data Pembakaran Pemukiman Muslim Rohingya oleh Militer Myanmar Sementara itu, Hafeza Khatun yang ketiga anaknya telah berjuang menuturkan bahwa dirinya siap untuk mengorbankan putra-putranya untuk Arakan.
“Siapa yang akan membunuh kita lagi tanpa perlawanan? Saya mengirim anak-anak saya untuk memperjuangkan kemerdekaan, saya mengorbankan mereka untuk Arakan,” pungkasnya.
Sementara itu, warga Rohingya yang melarikan diri ke Bangladesh menghadapi risiko penyakit dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah meminta pemerintah negara Itu untuk tak mengantarkan mereka kembali ke Myanmar.
Bangladesh, yang sekarang menampung lebih dari 400.000 orang Rohingya yang melarikan diri dari Rakhine sejak tahun 1990, telah mengumumkan bahwa negara ini tak akan lagi menerima masuknya penduduk Mynmar.
Menurut penjaga perbatasan Bangladesh, mereka mengusir 550 pengungsi Rohingya melalui Sungai Naf yang memisahkan kedua negara.
Sedikitnya 5.000 orang Rohingya telah Bisa memasuki Bangladesh di beberapa hari terakhir, terutama di malam hari melalui jalan darat di Kampung Gumdhum sementara 6.000 pengungsi masih terjebak di perbatasan.
Pekerja dukungan Itu Menyebut bahwa sebagian besar pengungsi yang sakit telah sukses menyusup ke perbatasan di karenakan perempuan dan anak-anak menolak berobat karena takut ditangkap dan dideportasi.
Sementara itu, pejabat tinggi menteri luar negeri Bangladesh di suatu pertemuan dengan wakil diplomat Myanmar di Dhaka menjalankan pertemuan guna menggelar operasi militer bersama melawan ARSA.* [beritaislam24h.info / htl]
Loading...

Berjuang dan Melawan! Pilihan Terakhir Pria Rohingya

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here