Home Ceramah Islam Terbaru Al Imam Abdurrahman bin Muhammad al-Jufri Maula ‘Arsyeh

Al Imam Abdurrahman bin Muhammad al-Jufri Maula ‘Arsyeh

230
0
Singa yang Doanya Mustajab


Dengan menjaga perintah Allah SWT dan menjalankan sunah Rasulullah SAW, doa-doanya selalu mustajab. 
Tarim, Hadramaut, Yaman, terkenal Bagaikan “gudang” para ulama besar dan waliullah. Disorientasi seorang di antaranya ialah Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Jufri, dari taris suatu desa di hadhramaut juga tempat para ajdaduna qobilah al jufri/jufrati/abujaffar, waliullah yang termasyhur mempunyai beberapa karamah luar biasa. 

Suatu hari ia berkunjung ke suatu lembah yang dihuni penduduk yang kekurangan air. Penduduk minta ia berdoa supaya sumur-sumur mereka terisi air. Maka Habib Abdurrahman pun berdoa dengan khusyuk. Dan seketika itu juga keluarlah air dari semua sumur. Tak lama setelah itu kawasan Itu Jadi Fertile.

Ulama ini lebih dikenal dengan nama Habib Abdurrahman Maulana Arsyeh. Sejak kecil ia Berguru langsung dari ayahandanya, dan sejak remaja telah menghafal Al-Quran. Seperti para ulama yang lain, ia juga banyak menimba ilmu dari para ulama besar di Hadramaut, setelah itu melanjutkan pengembaraan ke beberapa kota, hingga akhirnya mengaji di Mekah dan Medinah.saat berada di Inat, Hadramaut, ia Jadi murid kesayangan seorang ulama dan Awliya besar, Habib Syaikh Abubakar bin Salim. 

Bahkan di suatu kesempatan Habib Abubakar menyatakan, 
”Abdurrahman Yaitu anakku. Aku telah memperhatikannya sejak ia masih di kandungan ibunya. Kelak, apabila ia telah lahir, aku akan berikan setengah dari maqam-ku, sementara ucapannya Yaitu rohku, roh Abdurrahman al-Jufri.”

Keluarga Syekh Abu Bakar bin Salim juga menghormati dan menyayanginya. Mereka bahkan mengibaratkan Habib Abdurrahman Bagaikan “singa yang gagah, giginya kuat, doanya mustajab dan karamahnya banyak”. 

Disorientasi satu karamah Habib Abdurahman ialah cintanya yang begitu besar kepada para gurunya. Ibaratnya, ia akan merasa sakit apabila gurunya sakit. saat sedang terbaring sakit, Syekh Abu Bakar bin Salim bertanya kepada beberapa muridnya yang duduk di sekitar pembaringan, 
“Di mana Habib Abdurahman berada?” 
di itu, Habib Abdurahman masuk ke di kamarnya, dan Habib Syaih Abu Bakar bin Salim meneteskan air mata. Ia lalu menyerahkan suatu mushaf Al-Quran, baju gamis, dan tongkat kesayangannya, sambil mengusap-usap kepala dan dada Habib Abdurrahman al-Jufri, Sangat Prihatin, setelah itu ia berdoa supaya Habib Abdurrahman mendapat berkah dari Allah SWT, 
“Semoga Allah SWT mengakhirimu dan keturunanmu dengan sa’adah, kebahagiaan. Wahai Abdurrahman, aku tak akan melupakanmu, dan telah bagikan kepadamu rahasia ilmu; juga kepada keturunanmu, dengan sepenuh barakah kepada keluarga dan keturunanmu.” 

Demikian terungkap di kitab Masyarur Rawi fi Manakib Al-Ba’alawi.

Habib Abdurrahman juga dikenal Bagaikan mubalig yang berani. Selain itu, dia juga gemar beramal saleh kepada semua golongan. Para tamu yang datang ke rumanya, siapa pun dia, selalu dijamu dengan hidangan yang enak. Barangkali itu sebabnya banyak tamu yang datang dari berbagai penjuru. Terutama di karenakan, saat mereka minta didoakan, doanya selalu makbul.

Disorientasi satu peninggalannya yang hingga sekarang selalu diziarahi ialah suatu masjid yang terletak di samping kubah makamnya di Tarim. Suasana masjid itu sangat memesona dan berwibawa, mampu menggetarkan hati para jemaah yang salat di dalamnya. Di masjid yang di ini Berawal Dari dibangun kembali itu, banyak ulama biasa beriktikaf. 

Usai menunaikan ibadah haji, ia lalu mengaji di Medinah selama tujuh tahun bersama Habib Ahmad bin Muhammad Al-Habsyi. saat Berguru, mereka Hayati sangat prihatin. Setiap hari mereka mengumpulkan Ebonit bakar dan menjualnya. 

Atas ketekunan dan ketabahan mereka, konon Nabi Khidlir datang menemui mereka. di penampakan itu, Nabi Khidlir berkata, 
“Kalian jangan tinggal lagi di Medinah, di karenakan sudah tampak di kalian cahaya pemimpin Mekah. Ia mempunyai anak perempuan yang tak Bisa berdiri atau berjalan, kecuali duduk di tempat tidurnya. Mereka akan berobat kepada kalian.”
Seusai Nabi Khidlir berlalu, datanglah seorang pemimpin Mekah bersama anak perempuannya kepada Habib Abdurrahman, yang setelah itu memberinya pakaian sambil berkata, ”Pakailah pakaian ini, mudah-mudahan Allah SWT memberi kesembuhan kepada anak perempuanmu.” Seusai memakai baju Itu, tak lama setelah itu anak perempuan itu sembuh dan Bisa berdiri, Bisa berjalan seperti layaknya orang sehat.

Mengenai karamah-karamahnya, ia menyatakan, karamah yang paling besar ialah istiqamah di beribadah kepada Allah SWT. “Jangan heran di orang yang Bisa berjalan sangat Genjah di bumi, atau Bisa terbang di udara, atau berjalan di atas air. di karenakan, sesungguhnya setan juga Bisa melakukannya,” katanya.

Setiap kali Habib Abdurrahman mendoakan seorang pasien, atas izin Allah SWT sang pasien Genjah tak merasakan sakit. Bahkan gurunya, Syekh Abu Bakar bin Salim, memerlukan datang kepadanya untuk berobat. Karamah yang luar biasa itu juga tampak dari ketekunan Habib Abdurrahman saat mempelajari tiga buah kitab karangan gurunya, Syekh Abu Bakar bin Salim. Suatu malam, datanglah beberapa ekor tikus menggondol kitab-kitab Itu. Ia langsung berdoa, dan seketika itu juga berjatuhanlah tikus-tikus itu, mati. Seusai itu tak ada lagi seekor tikus pun di rumahnya.

Demikian juga saat muncul Endemi belalang yang menyerang Flora di suatu desa. Untuk membantu para petani, ia berdoa mengusir belalang Itu. Dan sejak itu tak ada lagi belalang yang mengganggu para petani.

Kisah lainnya Yaitu mengenai seorang musafir menderita suatu penyakit yng membuat para dokter berputus asa mengobatinya. Seorang lelaki saleh beserta kepadanya “Penyakitmu ini tak akan sembuh, kecuali dengan Boga yang benar – benar halal.”

Loading...
Ia lalu bertanya kepada orang saleh tadi di mana Boga yang benar – benar halal Itu Bisa ia temukan. “Di Hadhramaut” Jawabnya

Lelaki itu setelah itu pergi ke Hadramaut. Ia Berawal Dari bertanya – tanya siapa orang saleh yang terkenal di itu. Akhirnya ia memperoleh jawaban , bahwa orang itu Yaitu Syeikh Abu Bakar bin Salim yang tinggal di kota Inat. Ia lalu pergi ke Inat menemui Syeikh Abu Bakar bin Salim. Namun, Syeikh Abu Bakar bin Salim menyuruhnya untuk menemui murid beiau yang bernama Habib Abdurrahman bin Muhammad al-Jufri di kota Taris. 

Ia Genjah pergi ke Taris. Sesampainya disana, ia bertemu dengan seorang petani yang lagi bekerja di ladang. Lelaki itu mengira bahwa yang dilihatnya Yaitu pembantu Habib Abdurrahman. Ia lalu duduk didekatnya. saat masuk waktu shalat, lelaki itu bangun untuk shalat, Padahal si petani tetap menggarap kebunnya hingga waktu shalat hampir Demisioner. Lelaki itu mengamati gerak – gerik si petani. Mengetahui dirinya diperhatikan si-petani berkata, “Apa yang kau inginkan dari Abdurrahman al – Jufri.” 
 

Lelaki itu lalu menceritakan maksud kedatangannya, dan juga jelaskan bahwa kedatangannya ini atas anjuran Syeikh Abu Bakar bin Salim. Petani itu lalu berkata, “ Aku Yaitu Abdurrahman al – Jufri. Perintah syeikhku kuterima . Ambillah daun qadhb ini ( Sebagian orang menamakan daun ini barsim ) makanlah hingga kenyang. Insya Allah daun – daun itu Bisa menyembuhkanmu”.

Ia setelah itu memakan daun itu hingga kenyang. Habib Abdurrahman lalu menyuruhnya berjalan – jalan. Seusai lelaki itu melaksanakan perintah Habib Abdurrahman perutnya terasa mules, lalu buang air, keluarlah semua penyakitnya. 

Ia setelah itu menemui Habib Abdurrahman, berterima Afeksi kepadanya dan bersyukur kepada Allah atas kesembuhannya. Habib Abdurrahman lalu mempersilahkannya masuk kedalam rumah. Beliau menjamu dan memuliakan tamunya. Sewaktu hendak berpamitan, lelaki itu memberi Habib Abdurrahman beberapa dinar Bagaikan hadiah.
“ Kau lebih memerlukannya.” Perkataan Habib Abdurrahman menolak pemberian itu. Namun si lelaki tetap memaksa beliau untuk menerimanya. Habib Abdurrahman lalu mengusap kedua mata lelaki itu dengan tangannya, tiba – tiba gunung yang berada di hadapan lelaki itu berubah Jadi emas merah.
“ Apa yang kau lihat?” tanya Habib Abdurrahman.
Lelaki itu Menyebut apa yang dilihatnya. 
        “ Alhamdulillah”, aku Hayati berkecukupan. Aku berkebun tak lain untuk menutupi keadaanku dan Menelusuri yang halal.”
“Aku bertanya – tanya di hatiku, mengapa saat shalat hampir berlalu kau tetap Berkebun.” Tanya lelaki itu.

Habib Abdurrahman tersenyum lalu mengajaknya masuk ke 9 tempat khalwat beliau. Di setiap tempat khalwat , lelaki itu melihat Habib Abdurrahman sedang Shalat, membaca Qur’an, Dzikir, Shalawat dsb. Lelaki itu lalu minta maaf dan berterimakasih atas kebaikan beliau kepadanya. Ia setelah itu pulang ke negaranya di keadaan sehat 
 
Kisah lainnya Yaitu beberapa pemimpin (sultan/raja) di Masa itu menginginkan fatwa dari ulama, dimana fatwa Itu tak ada di syariat yang mu’tamad (kuat) akan tetapi ada di di fatwa yang minoritas (sedikit).Para Ulama yang bersifat wara’ menolak untuk memfatwakan untuk pemimpin Itu.

setelah itu para ulama Itu menyarankan untuk memintakan fatwa kepada Pemimpin para ulama di Masa itu Yaitu Al Imam Abdurrahman bin Muhammad Al Jufri, Seandainya beliau izinkan kami para ulama Empati beliau.
Dan datanglah ‘pemimpin’ itu kepada Al Imam Abdurrahman Al Jufri yang kebetulan juga masih ada Interaksi kekerabatan keluarga dengan pemimpin itu (Putri pemimpin itu istri beliau).
saat itu Al Imam Abdurrahman Al Jufri sedang berada di majelisnya disitu ada kaum wanita dibalik satir (penghalang) dan di depan banyak kaum laki-laki yang banyak hadir majelisnya beliau.
Lalu pemimpin itu mengadukan suatu permasalahan dan permohonan fatwa.
Maka Al Imam Abdurrahman Al Jufri menjawab dengan tegas bahwa beliau tak akan mengeluarkan fatwa kecuali dengan pendapat fatwa yang terkuat (mu’tamad) di di madzhab ini, tak Bisa beliau membagikan fatwa yang lain.
setelah itu pemimpin itu mengancam, “Seandainya kita tak memfatwakan hal ini untuk saya, maka putriku yang merupakan istrimu akan saya ambil”.
Maka Al Imam Abdurrahman Al Jufri berkata, “Silahkan kita lakukan apa aja terserah kita, di karenakan agama tak Bisa dikorbankan untuk hal-hal semacam ini”.
Pemimpin itu melanjutkan, “Seandainya begitu aku ambil anakku dari engkau.”
Al Imam Abdurrahman Al Jufri berkata lagi, “Seandainya kita mau ambil anakmu silahkan, tapi ketahuilah bahwa anakmu (istri beliau) itu sedang hamil, namun saya juga punya istri yang lain, Dengan izin Allah hamilnya anakmu itu akan berpindah ke istriku yang lain”.
Maka istri pertama dari beliau itu mendengar Ungkap itu, istri pertama merasakan ada janin yang tumbuh di perutnya.Dan hamilnya anak dari pemimpin seketika itu juga hilang dan berpindah ke istri pertama Al Imam Abdurrahman Al Jufri.
Bersama ketegasan Al Imam Abdurrahman Al Jufri di menegakkan agama ini, tak seharipun beliau berdiri mencaci-maki pemimpin itu. ataupun mengumpulkan massa untuk menentang kepada pemimpin itu.

Mengapa Bisa seperti itu ?
Sebab mereka para ulama merupakan pengampu amanat, yang membawa agama yang agung, mereka tak mengikuti hawa nafsu, dan mereka tak menjalankan hal-hal yang Bisa membahayakan umat, dan mereka tak menjalankan hal-hal yang menimbulkan kerusakan diatas kerusakan, di karenakan mereka Yaitu kaum yang telah mendapat Hidayah dari Allah, mendapatkan anugerah dari Allah Jadi orang yang beruntung, mereka tak punya tujuan lain selain dari Allah Subhanahuwata’ala, dan mereka senantiasa berjalan seiring dengan Al Qur’an.

abdkadiralhamid@2017

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Share on LinkedIn

Subscribe to receive free email updates:

Al Imam Abdurrahman bin Muhammad al-Jufri Maula ‘Arsyeh

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here