Home Ceramah Islam Terbaru ADAB BUANG AIR

ADAB BUANG AIR

146
0
BAB THAHARAH (BERSUCI)


F. ADAB BUANG AIR


a. Istinjak
Istinjak berasal dari Perkataan an-najaa` yang artinya menghilangkan dari kotoran. dengan cara istilah Yaitu menghilangkan atau mengurangi kotoran najis yang keluar dari kemaluan dengan air atau batu.
Hukum istinjak Yaitu wajib. Rasulullah SAW bersabda:

اسْتَنْزِهُوا مِنَ الْبَوْلِ، فَإِنَّ عَامَّةَ عَذَابِ الْقَبْرِ مِنْهُ

“Bersucilah dari buang air kecil di karenakan sesungguhnya azab kubur umumnya dikarenakan di karenakan itu.” (HR. Daruquthni).

Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, ia berkata: “Rasulullah SAW menjalankan buang hajat maka aku dan seorang anak lain membawakan seember air dan suatu tombak kecil. Lalu beliau beristinjak dengan air.” (HR. Bukhari dan Muslim). Tombak itu dibawa beliau di karenakan diperlukan saat shalat Bagaikan sutrah (pembatas di shalat).
Bukhari juga meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa ia berkata: “Nabi SAW akan menjalankan buang hajat maka beliau memerintahkanku untuk membawakan tiga buah batu.”

Kamar Mandi
Kamar Mandi

Istinjak Bisa dilakukan dengan tiga tutorial, Yaitu:1. memakai batu lalu dilanjutkan dengan air. Ini Yaitu tutorial terbaik.
2. memakai air tanpa batu. Ini lebih bagus dari tutorial ketiga.
3. memakai batu aja meskipun ada air.

bila seseorang ingin memakai batu atau benda lain Bagaikan pembersih Seusai buang kotoran maka wajib memperhatikan beberapa syarat, Yaitu :

1. Bukan benda najis atau ternajisi, seperti kotoran Fauna dan batu yang terkena najis. Diceritakan oleh Ibnu Mas’ud RA, bahwa Nabi SAW akan membuang hajat maka beliau memerintahkanku untuk membawa tiga buah batu. Aku menemukan dua buah batu lalu Menelusuri yang ketiga tapi tak mendapatkannya. Lalu aku mengambil kotoran Fauna dan membagikan kepada beliau. Beliau mengambil dua batu dan membuang kotoran. Beliau bersabda: “Ini Yaitu najis.” (HR. Bukhari).
2. Berbentuk padat. Seperti batu, daun, kertas, kain dan Ebonit. tak boleh memakai benda cair untuk istinjak, seperti air teh, cairan kimia, madu dan lain sebagainya.
3. Benda kasar yang mampu mengangkat kotoran. Maka tak boleh memakai kaca, porselen dan sejenisnya.
4. Bukan benda yang dihormati. Seperti Boga, tulang Fauna (Boga jin), kertas yang terdapat kalimat terhormat seperti ilmu, dan lain-lain. Nabi SAW bersabda:

لاَ تَسْتَنْجُوْا بِالرَّوْثِ وَلاَ بِالْعِظَامِ فَإِنَّهُ زَادُ إِخْوَانِكُمْ مِنَ الْجِنِّ

“Janganlah kalian beristinjak dengan kotoran Fauna atau dengan tulangnya di karenakan itu Yaitu Boga saudara kalian dari jin.” (HR. Tirmidzi).

Selain itu, seseorang yang akan beristinjak dengan batu atau sejenisnya wajib memperhatikan syarat memakai batu, Yaitu:
1. wajib tiga kali usapan atau lebih. Yaitu dengan tiga buah batu atau suatu batu yang mempunyai tiga Hepotenusa yang Bisa digunakan untuk mengusap. Nabi SAW bersabda:

لا يَسْتَنْجِي أَحَدُكُمْ بِدُونِ ثَلاثَةِ أَحْجَارٍ

“Janganlah seorang diantara kalian beristinjak Anemia dari tiga buah batu.” (HR. Muslim).

2. Mampu membersihkan tempat yang terdapat kotoran.
3. Najis yang keluar belum mengering.
4. Najis tak mengenai selain tempat keluarnya.
5. Najis tak tercampur dengan benda lain, seperti air, debu atau najis lain.
6. tak melebihi permukaan bokong dan zakar.
7. Membersihkan tempat najis dengan cara menyeluruh.
8. Batu pembersih wajib suci.

b. Sunah istinjak
Adapun hal-hal yang disunahkan di istinjak diantaranya Yaitu:
1. Menyiapkan air dan batu sebelum beristinjak.
2. Beristinjak dengan jumlah ganjil. Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

مَنِ اسْتَجْمَرَ فَلْيُوْتِرْ

“Barang siapa yang beristijmak (istinjak dengan batu) maka hendaklah ia mengganjilkan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

3. Beristinjak dengan tangan kiri. Aisyah RA berkata: “Dan tangan kiri beliau digunakan untuk buang air dan memegang yang kotor.” (HR. Abu Daud).
4. memakai jari tengah saat beristinjak dari buang air besar.
5. Menahan zakarnya diantara jari telunjuk dan tengah.
6. Mendahulukan membersihkan zakar supaya tangannya tak ternajisi saat membersihkan pantat.
7. Mendahulukan istinjak dari wudhu.
8. Menggosokkan tangannya ke tanah dan mencucinya Seusai itu.
9. Menyipratkan air ke kemaluan dan pakaiannya.
10. Berdoa dengan doa:

اَللّهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِيْ مِنَ النِّفَاقِ وَحَصِّنْ فَرْجِيْ مِنَ الْفَوَاحِشِ

“Ya Allah, sucikan hatiku dari kemunafikan dan jagalah kemaluanku dari perbuatan nista.”

c. Adab buang air di kamar mandi atau tempat tertutup
1. Memakai sandal.
2. Menutup kepala. Diriwayatkan dari Aisyah bahwa: “Nabi SAW bila buang hajat akan menutup kepalanya.” (HR. Baihaqi).
3. saat masuk membaca doa:

بِسْمِ اللهِ، اَللّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ وَمِنِ الرِّجْسِ النَّجِسِ

“Dengan nama Allah. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari masalah setan laki-laki dan setan perempuan serta dari najis.”
Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik RA.

Loading...

4. Mendahulukan kaki kiri saat masuk dan mendahulukan kaki kanan saat keluar. Diriwayatkan dari Aisyah RA: “Tangan Rasulullah SAW yang sebelah kanan digunakan untuk bersuci dan makan. Dan tangan kiri digunakan untuk buang air dan yang kotor.” (HR. Abu Daud).
5. tak membawa sesuatu yang berisi nama Allah atau sesuatu yang diagungkan. Diriwayatkan dari Anas RA bahwa: “Rasulullah SAW meletakkan cincinnya bila buang air.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Nasa`i dan Ibnu Majah). di karenakan di cincin itu tertulis “Muhammad Rasulullah”.
6. Buang air dengan duduk (jongkok). Diriwayatkan dari Aisyah RA: “Tidaklah beliau buang air kecuali sambil duduk.” (HR. Tirmidzi).
7. Buang air di tempat yang tertutup. Diriwayatkan dari Aisyah RA bahwa Nabi SAW bersabda:

مَنْ أَتَى الْغَائِطَ فَلْيَسْتَتِرْ

“Barang siapa yang membuang hajat maka hendaklah ia bersembunyi.” (HR. Abu Daud).

8. tak berbicara. Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا تَغَوَّطَ الرَّجُلَانِ فَلْيَتَوَارَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَنْ صَاحِبِهِ، وَلَا يَتَحَدَّثَا فَإِنَّ اللَّهَ يَمْقُتُ عَلَى ذَلِكَ

“bila dua orang lelaki buang hajat maka hendaknya masing-masing bersembunyi dari yang lain. Dan janganlah berbicara. di karenakan sesungguhnya Allah murka terhadap hal itu.” (HR. Ahmad dari Jabir).

9. tak melihat ke arah atas, kemaluannya atau kotoran yang keluar.
10. Bersandar di kaki kiri sementara kaki kanannya dijinjitkan. Suraqah bin Malik RA berkata: “Rasulullah SAW mengajari kami bila buang air supaya duduk di atas kaki kiri dan menjijitkan kaki kanan.” (HR. Baihaqi).
11. tak meludah.
12. tak bermain-main dengan tangannya.
13. Memastikan keluarnya sisa air kencing di kemaluannya, seperti berdehem, mengusap bagian bawah batang kemaluannya, menggerakkan tiga kali, dan lain sebagainya. Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا بَالَ أَحَدُكُمْ فَلْيَنْثُرْ ذَكَرَهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

“bila Disorientasi seorang dari kalian buang air kecil maka hendaklah ia menggerakkan kemaluannya tiga kali.” (HR. Ibnu Majah).

14. Memerciki celananya dengan air guna menghilangkan waswas keluarnya sisa air kencing.
15. Membaca doa saat keluar:

غُفْرَانَكَ 3×، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَذْهَبَ عَنِّي اْلأَذَى وَعَافَانِيْ

“Mohon Grasi-Mu 3x. Segala puji untuk Allah yang telah menjauhkan keburukan dariku dan memaafkanku.”

d. Adab buang air di tempat terbuka
Selain adab-adab yang telah disebutkan mengenai buang air di kamar mandi maka ditambahkan pula beberapa adab berikut untuk yang menjalankan buang air di tempat terbuka.
1. wajib Menelusuri tempat yang tertutup bila menghadap kiblat. Namun bila tak menghadapnya maka Epilog diri Yaitu sunah. Diriwayatkan dari Abu Ayyub RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا آتَيْتُمُ الْغَائِطَ فَلاَ تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ وَلاَ تَسْتَدْبِرُوْهَا بِغَائِطٍ وَلَا بَوْلٍ, وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا

“bila kalian buang air maka janganlah menghadap kiblat atau membelakanginya saat buang air besar atau kecil. Tapi menghadaplah timur atau barat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

2. Menelusuri tempat yang jauh dari keramaian sehingga tak terdengar suara yang keluar darinya dan tak tercium bau darinya.
3. tak buang air di air sedikit yang tergenang. Air sedikit Yaitu air yang bila digerakkan Disorientasi satu sisinya maka Hepotenusa yang lain tak Empati Dinamis.
4. tak buang air di air sedikit yang mengalir.
5. tak buang air di jalan yang dilalui manusia.
6. tak buang air di tempat berhembusnya angin supaya percikannya tak mengenai dirinya.
7. tak buang air di lubang.
8. tak buang air di tempat orang-orang berkumpul.
9. tak buang air di bawah pohon yang berbuah.
10. Dianjurkan tak menghadap matahari atau bulan, tapi bila membelakanginya maka tak apa-apa.
11. tak buang air kecil di permukaan yang keras sehingga percikannya tak kembali kepadanya.
12. tak beristinjak dengan air di tempat ia buang air.
13. Diharamkan menghadap kiblat atau membelakanginya bila tak membuat Epilog diri.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

اتَّقُوا اللَّاعِنِينَ: الَّذِي يَتَخَلَّى فِي طَرِيقِ النَّاسِ, أَوْ فِي ظِلِّهِمْ

“Berhati-hatilah dari hal-hal yang mendatangkan laknat, Yaitu orang yang buang air di jalan Generik atau di tempat berteduh.” (HR. Muslim).

di riwayat lain: “Tempat sumber air.” (HR. Abu Daud). Riwayat Ahmad: “Genangan air.”
Dan diriwayatkan oleh Thabrani Embargo buang air di bawah pohon berbuah dan pinggir sungai yang mengalir.”
di riwayat Abu Daud: “Nabi SAW melarang buang air di celah batu.”

wallahu a’lam

Sumber : http://ahmadghozali.com

abdkadiralhamid@2016

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Share on LinkedIn

Subscribe to receive free email updates:

ADAB BUANG AIR

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here