Home Ceramah Islam Terbaru WAKTU MENGQADHA DAN MENGULANG SHOLAT, KAJIAN FIKIH MAZHAB SYAFII

WAKTU MENGQADHA DAN MENGULANG SHOLAT, KAJIAN FIKIH MAZHAB SYAFII

152
0
KAJIAN FIKIH MAZHAB SYAFII
FIKIH SYAFII

WAKTU SHALAT

D. Waktu Mengqadha dan Mengulang Shalat
Ibadah yang mempunyai waktu bila dilaksanakan sesuai waktu yang ditentukan maka disebut ada`. Tapi bila dilakukan Seusai waktunya Demisioner (dilakukan di luar waktu) maka disebut qadha. Adapun mengulang Aplikasi ibadah di batas waktunya maka disebut i’adah.

qadha shalat

 
1. Mengqadha shalat (al-qadhâ`)
Shalat qadha artinya shalat yang dilaksanakan Seusai waktunya Demisioner. Atau Bisa juga merupakan shalat yang hanya Anemia dari satu rakaat dilaksanakan di waktunya sementara sisanya terlaksana di luar waktu. Misalnya, saat seorang melaksanakan sujud di rakaat pertama lalu terdengar azan waktu shalat berikutnya. Tapi bila mendapatkan satu rakaat sempurna maka tetap dihukumi ada` (tepat waktu) meskipun sisanya terjadi di luar waktu.

Para ulama berbagai mazhab telah sepakat bahwa seorang yang meninggalkan shalat wajib mengganti dan mengqadha shalatnya, bagus shalat itu ditinggalkan dengan cara sengaja (tanpa uzur) atau tak. Sementara mazhab Zhahiriyah berpendapat mengqadha shalat yang ditinggalkan dengan cara sengaja Yaitu tak Absah (bukan tak wajib). (Baca: hukum mengqadha shalat wajib dan kesalahan di memahami implikasinya

Seorang yang meninggalkan shalat dengan cara tak sengaja (ada uzur) –seperti di karenakan tidur dan lupa– maka ia tak berdosa akan tetapi wajib mengqadha bila telah ingat. Nabi SAW bersabda:

مَنْ نَامَ عَنْ صَلاَةٍ أَوْ نَسِيَهَا فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا، لاَ كَفَّارَةَ لَهَا إِلاَّ ذَلِكَ

“Barang siapa yang tertidur atau terlupa dari shalatnya maka hendaklah ia melaksanakannya bila telah ingat. tak ada kafarat (penghapus dosa) baginya kecuali itu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Bahkan, Nabi SAW sendiri Sempat tertidur dan terlupa dari shalat maka beliau langsung mengerjakannya saat telah ingat kembali.
Adapun seorang yang meninggalkan shalat dengan cara sengaja  (tanpa uzur) –seperti di karenakan lalai atau malas—maka ia berdosa besar di karenakan kelalaiannya dan wajib Genjah bertaubat dan Genjah mengqadha shalat yang ia tinggalkan Itu. Kesegeraan disini –sebagaimana difatwakan oleh sejumlah ulama mazhab Syafii seperti Imam Abdullah al-Haddad—Yaitu hendaklah jangan bermalas-malasan di mengqadhanya meskipun tak wajib sesegera mungkin dengan meninggalkan aktifitas lainnya.
Aplikasi shalat qadha tak dibatasi waktu Eksklusif. Ia boleh kapan aja meskipun tak sesuai dengan waktu shalat yang dilakukan.
Dianjurkan melaksanakan shalat qadha dengan cara berurutan bila ditinggalkan di karenakan uzur, tapi wajib berurutan bila ditinggalkan tanpa uzur.
Dan qadha shalat yang ditinggalkan tanpa uzur wajib lebih didahulukan dari qadha shalat yang ditinggalkan dengan uzur. Begitu pula lebih didahulukan dari shalat sekarang kecuali bila khawatir keluar waktunya.

Loading...

2. Mengulang shalat (al-I’âdah)
Mengulang shalat Yaitu melaksanakan shalat kembali di waktu shalat Itu Seusai sebelumnya melaksanakannya akan tetapi merasa ada kekurangan atau kesalahan di perbuatan sunah shalat.
Hukum pengulangan ini Yaitu dianjurkan. Misalnya, seseorang melaksanakan shalat dengan cara sendiri lalu mendapati beberapa orang melaksanakan shalat Itu dengan cara berjamaah maka dianjurkan untuk mengikuti jamaah itu. Shalat yang pertama dihukumi wajib dan shalat kedua dihukumi sunah.

Diriwayatkan bahwa suatu hari Rasulullah SAW melaksanakan shalat Shubuh. Seusai selesai, beliau melihat dua orang lelaki tak Empati melaksanakan shalat bersama beliau. Lalu beliau bertanya: “Apa yang menghalangi kalian untuk shalat bersama kami?” Mereka menjawab: “Ya Rasulullah, kami telah melaksanakan shalat di tempat kami.” Beliau lalu bersabda:

فَلاَ تَفْعَلاَ، إِذَا صَلَّيْتُمَا فِي رِحَالِكُمَا ثُمَّ أَتَيْتُمَا مَسْجِدَ جَمَاعَةٍ فَصَلِّيَا مَعَهُمْ، فَإِنَّهَا لَكُمَا نَافِلَةٌ

“Jangan kalian lakukan. bila kalian sudah melaksanakan shalat di tempat kalian, lalu kalian datang ke masjid yang dilakukan shalat jamaah di dalamnya, maka shalatlah bersama mereka. di karenakan sesungguhnya itu Jadi ibadah sunah untuk kalian.” (HR. Tirmidzi, Abu Daud, dan Nasa`i).

bila shalat pertama tak ada kekurangan dan shalat kedua tak lebih sempurna dari yang pertama maka tak dianjurkan untuk mengulang.

Adapun bila shalat pertama tak tercapai rukun atau syaratnya maka shalat itu dianggap tak Absah sehingga orang Itu wajib mengulangi shalatnya sesuai dengan rukun dan syarat yang ditetapkan syariat.
wallahu a’lam

Sumber : http://ahmadghozali.com

abdkadiralhamid@2016

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Share on LinkedIn

Subscribe to receive free email updates:

WAKTU MENGQADHA DAN MENGULANG SHOLAT, KAJIAN FIKIH MAZHAB SYAFII

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here