tutorial Menjamak Shalat: Untuk kita yang Sedang Bepergian Jauh

Bagaikan seorang muslim, kita wajib mengetahui bagaimana tutorial menjamak shalat. di karenakan, hal Itu bermanfaat saat sedang bepergian atau di keadaan Eksklusif. Sebenarnya caranya hampir Serupa dengan shalat biasanya, hanya aja terdapat beberapa Disparitas di beberapa poin.

Apa Itu Shalat Jamak?

Menjamak berarti bahwasanya mengumpulkan sesuatu Jadi satu. dengan cara konteks, shalat jamak Ambiguitas bahwa dua ibadah shalat yang seharusnya dilakukan di di berpisah setelah itu dikumpulkan atau dilaksanakan di satu waktu tanpa mengurangi bilangan rokaatnya.

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْمَعُ بَيْنَ صَلاَةِ الظُّهْرِ وَالعَصْرِ، إِذَا كَانَ عَلَى ظَهْرِ سَيْرٍ وَيَجْمَعُ بَيْنَ المَغْرِبِ وَالعِشَاءِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjamak Shalat Zuhur dan Ashar saat safar, saat beliau berada di tengah perjalanan dan juga menjamak antara Shalat Magrib dan Isya.” (HR. Bukhari no. 1107)

Misalkan aja, kita Bisa mengerjakan shalat Maghrib dan Isya’ di satu waktu, Yaitu saat Maghrib aja atau sebaliknya. Hal ini merupakan suatu bentuk rukhsoh atau keringanan yang diberikan oleh Allah kepada hamba-hambanya, terlebih di sedang Jadi musafir atau di keadaan darurat.

wajib diketahui, bahwasanya shalat yang boleh dijamak Yaitu Dhuhur, Ashar, Maghrib dan isya’ aja. Sehingga, pelaksaan shalat subuh tak Bisa dikumpulkan di satu waktu dengan lainnya.

Hukum Shalat Jamak

Syarat diperbolehkanya menjamak shalat Yaitu berdasarkan Qur’an dan hadits Bagaikan berikut:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan atas kalian, dan tak menghendaki kesulitan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 185)

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

“Dan dia sekali-kali tak menjadikan untuk kita suatu kesempitan di beragama.” (QS. Al-Hajj [22]: 78)

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ

“Sesungguhnya agama ini mudah.” (HR. Bukhari no. 39)

Selanjutnya, seperti hadits yang diriwayatkan oleh HR. Bukhari, mengenai Rasullullah yang juga Sempat menjamak shalat, beliau berkata:

يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا

“Mudahkanlah, jangan dipersulit.” (HR. Bukhari no. 69 dan Muslim no. 1734)

Dari firman Allah dan juga sabda Rasulullah Itu, Bisa disimpulkan bahwasannya Islam merupakan agama yang mudah dan fleksibel. Terlebih untuk memberi keringanan di makhluk-Nya di mengerjakan ibadah asalkan mempunyai alasan jelas serta sesuai syariat.

Berdasarkan keterangan di Al-Quran dan Hadis Itu, mayoritas jumhur ulama’ syafi’iyah, malikiyah, hambaliyah memperbolehkan untuk menjalankan jamak di shalat bila ada udzur atau halangan Eksklusif.

Padahal, jumhur ulama’ hanafiyah melarang untuk menjamak shalat, di karenakan mereka berpendapat bahwasanya ibadah itu wajib dikerjakan sesuai dengan waktunya. Namun, bila wajib dijamak, maka haanya diperbolehkan di di haji aja.

Menurut ulama’ hanafiyah, di di haji terdapat dua keadaan yang diperbolehkan untuk menjamak shalat yakni saat wukuf di Arafah saat para jamaah menjamak shalat Dhuhur dan Ashar dan di jamaah haji bermalam di Muzdalifah, yang mengharuskan untuk menjamak shalat Maghrib dan isya.

Macam-macam Shalat Jamak

Shalat Jamak Bisa diklasifikasikan ke di dua macam berdasarkan waktu pelaksanaanya Yaitu:

  1. Jamak Taqdim

Jamak Taqdim berarti mengumpulkan 2 Aplikasi shalat fardhu ke di satu waktu, aturannya wajib dikerjakan di waktu shalat yang lebih awal. Seperti shalat Dhuhur dijamak dengan Shalat Ashar dan dikerjakan di waktu Dhuhur. Untuk shalat Maghrib dijamak dengan Shalat Isya’ dan dikerjakan di waktu Maghrib.

  1. Jamak Ta’khir

Kebalikan dari jamak taqdim, jamak ta’khir Yaitu mengumpulkan Aplikasi 2 shalat fardhu untuk dikerjakan di satu waktu shalat yang akhir. Contoh, shalat Dhuhur dijamak dengan Shalat Ashar dan dikerjakan di waktu Ashar dan shalat Maghrib dijamak dengan Shalat Isya’ dan dikerjakan waktu isya.

Sebab Diperbolehkanya Menjamak Shalat

Sesungguhnya, ada sebab-sebab Eksklusif supaya kita diperbolehkan untuk menjamak shalat. Tentunya, hal Itu wajib berlandaskan syariat yang benar seperti berikut ini:

  1. Menjamak Shalat karena Bepergian

Sebab pertama diperbolehkanya menjamak shalat Yaitu saat kita sedang Jadi musafir atau bepergian jauh dengan jarak minimal yang telah memenuhi syarat. Terkait jarak minimal Itu, terdapat Disparitas pendapat antara satu ulama dengan yang lainya yakni meliputi:

  • Menurut Imam Abu Hanifah, seorang musafir boleh menjamak shalat bila dia telah menempuh perjalanan selama 3 hari.
  • Menurut Imam Taqiyyudin, shalat boleh dijamak bila jarak bepergian telah mencapai 16 fasakh.
  • Menurut Abu Zhahir, seorang musafir boleh menjamak shalat bagus itu di rangka bepergian jarak dekat ataupun jauh.
  • Menurut Sayyid Bakri, musafir boleh menjamak shalat bila perjalanan yang akan dilakukanya Yaitu mencapai 48 mil.

Dari pendapat-pendapat Itu, seseorang boleh menjamak shalat bila mereka sedang bepergian dengan menempuh jarak perjalanan sejauh 81 km. Nah, hal Itu jugalah yang dijadikan patokan oleh jumhur ulama di Indonesia.

  1. Menjamak Shalat dalam Keadaan Hujan

di keadaah hujan, sesorang diperbolehkan untuk menjamak shalat fardhu, apabila telah terjadi badai lebat yang diperkirakan belum berhenti saat datangnya waktu shalat yang kedua.

Loading...

Diperbolehkanya hal Itu berdasarkan apa yang telah dilakukan oleh nabi Muhammad di karenakan beliau Sempat menjamak shalat Maghrib dan Isya di satu waktu. Di kalangan ulama, terjadi Disparitas pendapat mengenai hal Itu Yaitu:

  • Ulama’ syafi’iyah membolehkan seseorang yang mukim untuk menjamak shalat dengan taqdim aja dengan syarat hujan lebat masih berlangsung saat memulai shalat kedua.
  • Ulama’ malikiyah membolehkan menjamak taqdim shalat dengan syarat pelakunya berada di masjid di karenakan hujan sedang atau akan turun. Hal ini hanya diberlakukan di shalat Maghrib dan Isya aja.
  • Ulama Hambaliah membolehkan untuk menjamak shalat Maghrib dan Isya aja dengan tutorial jamak taqdim saat terjadi hujan lebat.
  • Ulama Hanafiah berpendapat bahwasanya menjamak shalat di waktu hujan tidaklah diperbolehkan.
  1. Menjamak Shalat karena Sakit

Orang yang sedang sakit diperbolehkan untuk menjamak shalat dengan syarat apabila penyakit Itu benar-benar darurat dan Bisa membahayakan. Jadi, di konteks Itu, tak semua orang sakit diberikan rukhsoh atau keringanan untuk menjamak shalat fardhu.

Niat Shalat Jamak

Niat shalat jamak di dasarnya hampir Serupa dengan Aplikasi di waktu aslinya. Hanya aja, terdapat sedikit penambahan yang menunjukkan apakah itu jamak taqdim atau ta’khir.

  1. Niat Shalat Dhuhur dan Ashar Jamak Taqdim

أُصَلِّى فَرْضَ الظُّهْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مَجْمُوْعًا بِالْعَصْرِ جَمْعَ تَقْدِيْمٍ لِلهِ تَعَالَى

 “Saya niat shalat fardlu Dhuhur empat rakaat dijama’ bersama Ashar dengan jama’ taqdim di karenakan AllahTa’ala”.

  1. Niat Shalat Dhuhur dan Ashar Jamak Ta’khir

أُصَلِّى فَرْضَ الظُّهْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مَجْمُوْعًا بِالْعَصْرِ جَمْعَ تأخِيْرٍلِلهِ تَعَالَى

“Saya niat shalat fardlu Dhuhur empat rakaat dijama’ bersama Ashar dengan jama, ta’khir di karenakan Allah Ta’ala”. 
3. Niat Shalat  Maghrib dan Isya Jamak Taqdim

أُصَلِّى فَرْضَ المَغْرِبِ ثَلَاثَ رَكَعَاتٍ مَجْمُوْعًا بِالعِشَاءِ جَمْعَ تَقْدِيْمٍ لِلهِ تَعَالَى

“Saya niat shalat fardlu Maghrib tiga rakaat dijama’ bersama Isya’ dengan jama’ taqdim di karenakan Allah Ta’ala”.

  1. Niat Shalat Maghrib dan Isya Jamak Ta’khir

أُصَلِّى فَرْضَ المَغْرِبِ ثَلَاثَ رَكَعَاتٍ مَجْمُوْعًا بِالعِشَاءِ جَمْعَ تأخِيْرٍلِلهِ تَعَالَى

“Saya niat shalat fardlu Maghrib tiga rakaat dijama’ bersama Isya’ dengan jama’ ta’khir di karenakan Allah Ta’ala”.

Syarat-syarat Jamak Taqdim

Adapun, Shalat diperbolehkan dilakukan dengan jamak taqdim atau dilakukan di waktu yang lebih Dulu bila memenuhi syarat Bagaikan berikut:

Shalat wajib Dilakukan dengan Tertib. saat menjalankan jamak taqdim, maka kita wajib melakukanya di waktu yang terlebih Dulu. Misalkan bila menjamak antara Dhuhur dan ashar, maka dilakukan di waktu ashar.

Niat Jamak di Shalat yang Pertama. Maksudnya di sini Yaitu mendahulukan shalat yang dikerjakan pertama kali.

Muawalat atau Berurutan. Syarat jamak taqdim selanjutnya yakni shalat wajib dilakukan dengan cara berurutan, atau tanpa jeda waktu yang lama bahkan hingga hingga berbeda tempat. Hal itu tak boleh dilakukan di karenakan Bisa menyebabkan ketidak Absah-an.



Shalat Kedua yang Dijamak wajib Masih Tetap dalam Perjalanan. Misalkan kita menjamak shalat Dhuhur dan ashar dengan jamak taqdim. Nah, hal Itu Bisa dilakukan bila diperkirakan bahwa nanti waktu memasuki ashar masih di jarak perjalanan untuk diperbolehkan menjamaknya.

Syarat Jamak Ta’khir. Adapun, persyaratan di shalat jamak ta’khir Yaitu yang pertama niatnya wajib dilakukan di waktu shalat yang pertama. Untuk syarat-syarat yang selanjutnya Yaitu Serupa halnya dengan persyaratan di jamak taqdim.

Tata tutorial menjalankan Shalat Jamak

Untuk tata tutorial menjamak shalat Yaitu Bagaikan berikut:

  • menjalankan niat untuk shalat yang pertama
  • Takbiratul ihram
  • menjalankan semua tahapan dan rukun shalat seperti di shalat fardhu seperti biasa berdasarkan rokaat aslinya
  • Mengakhiri shalat yang pertama dengan salam
  • Niat kembali untuk shalat yang kedua
  • Takbiratul ihram
  • menjalankan semua tahapan dan rukun shalat berdasarkan rokaat aslinya
  • Di akhiri dengam salam kembali

Itulah sekilas pembahasan mengenai bagaimana tata tutorial menjamak shalat dan juga keterangan lainya. Semoga paparan di penulisan kali ini Bisa benar-benar menambah wawasan serta informasi untuk kita sobat muslim sekalian.

Sumber:

tutorial Menjamak Shalat: Untuk kita yang Sedang Bepergian Jauh

Facebook Comments
Loading...

Leave a Reply