Tuntunan shalat lengkap serta dalil – dalilnya

Tuntunan shalat lengkap – Artikel dibawah ini Yaitu ulasan mengenai tata tutorial shalat berikut serta dalil – dalil setiap gerakan dan bacaanya lengkap , barangkali Bisa membawa faedah untuk kita semua.

Tata tutorial shalat

BERDIRI
Tuntunan shalat lengkap serta dalil - dalilnya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan sholat fardhu ataupun sunnah berdiri hal ini di karenakan menyanggupi perintah Allah di QS. Al Baqarah : 238. Apabila bepergian, beliau menjalankan sholat sunnah di atas kendaraannya. Beliau mengajarkan kepada umatnya supaya menjalankan sholat khauf melalui berjalan kaki ataupun berkendaraan.

    “Peliharalah seluruh sholat dan sholat wustha dan berdirilah dengan tenang di karenakan Allah. Apabila kita di ketakutan, sholatlah dengan berjalan kaki atau berkendaraan. bila kita di keadaa aman, ingatlah di Allah melalui tutorial yang sudah diajarkan kepada kita yang mana sebelumnya kita tak mengetahui (tutorial Itu).” (QS. Al Baqarah : 238).

MENGHADAP KA’BAH

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila berdiri untuk sholat fardhu ataupun sholat sunnah, beliau menghadap Ka’bah. Beliau memerintahkan berbuat demikian seperti sabdanya untuk orang yang sholatnya Disorientasi:

    “Apabila engkau berdiri untuk sholat, sempurnakanlah wudhu’mu, maka menghadaplah ke kiblat, lalu bertakbirlah.”
    (HR. Bukhari, Muslim dan Siraj).

Mengenai perihal Itu sudah turun pula firman Allah di Surah Al Baqarah : 115:

    “Kemana pun kita menghadapkan muka, disana ada wajah Allah.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Sempat sholat menghadap Baitul Maqdis, perihal Itu berlaku sebelum turunnya firman Allah:

    “Kami telah melihat kita menengadahkan kepalamu ke langit. Kami palingkan kita ke kiblat yang kita inginkan. Oleh di karenakan itu, hadapkanlah wajahmu ke sebagian arah Masjidil Haram.” (QS. Al Baqarah : 144)
.

Sesudah ayat ini turun beliau sholat menghadap Ka’bah.

di sewaktu sholat subuh kaum muslim yang tinggal di Quba’ kedatangan seorang utusan Rasulullah buat menyampaikan kabar,utusan itu berkata:

    “Sesungguhnya semalam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sudah mendapatkan wahyu, beliau disuruh menghadap Ka’bah. Oleh sebab itu, (hendaklah) kalian menghadap ke sana.” di saat itu mereka sedang menghadap ke Syam (Baitul Maqdis). Mereka setelah itu berputar (imam mereka memutar haluan sehingga ia mengimami mereka menghadap kiblat). (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Siraj, Thabrani, dan Ibnu Sa’ad. Baca Kitab Al Irwa’, hadits No. 290).

MENGHADAP SUTRAH

Sutrah (pembatas yang berposisi di hadapan orang sholat) di di sholat Jadi keharusan imam dan orang yang sholat sendirian, sekalipun di masjid luas, demikian pendapat Ibnu Hani’ di di Kitab Masa’il, dari Imam Ahmad.Beliau Menyebut, “di suatu hari saya sholat tak memasang sutrah di hadapan saya, Padahal saya menjalankan sholat di di masjid kami, Imam Ahmad mengetahui kejadian Itu, setelah itu berkata di saya, ‘Pasanglah sesuatu selaku sutrahmu!’ Lalu aku memasang orang supaya Jadi sutrah.”Syaikh Al Albani Menyebut, “Kejadian Itu ialah isyarat dari Imam Ahmad yakni orang yang sholat di masjid luas ataupun masjid kecil masih berkewajiban meletakkan sutrah di depannya.”Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    “Janganlah kita sholat tanpa menghadap sutrah dan janganlah engkau membiarkan seseorang lewat di hadapan kita (tanpa engkau cegah). apabila dia tetap memaksa lewat di depanmu, bunuhlah dia lantaran dia ditemani oleh setan.”
    (HR. Ibnu Khuzaimah dengan sanad yang jayyid (bagus)).

Beliau pula bersabda:

    “Apabila seseorang di antara kita sholat menghadap sutrah, hendaklah dia mendekati sutrahnya sehingga setan tak sanggup memutus sholatnya.”
    (HR. Abu Dawud, Al Bazzar dan Hakim. Dibenarkan oleh Hakim, disetujui oleh Dzahabi dan Nawawi).

Dan hendaklah sutrah Itu diletakkan tak terlampau jauh dari lokasi kita berdiri sholat seperti yang sudah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

    “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri shalat dekat sutrah (pembatas) yang jarak antara beliau dengan pembatas di depannya 3 hasta.”
    (HR. Bukhari dan Ahmad).

Adapun yang boleh dibuat sutrah antara lain: tiang masjid, tombak yang ditancapkan ke tanah, Fauna tunggangan, pelana, tiang setinggi pelana, pohon, tempat tidur, dinding serta lain-lain yang semisalnya, seperti yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

NIAT

Niat berarti menyengaja untuk sholat, menghambakan diri kepada Allah Ta’ala semata, beserta menguatkannya di di hati.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    “Seluruh amal tergantung di niatnya dan tiap orang maka akan mendapatkan (balasan) sesuai dengan niatnya.”
    (HR. Bukhari, Muslim dan lain-lain. Baca Al Irwa’, hadits no. 22).

TAKBIRATUL IHRAM

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu memulai sholatnya melalui takbiratul ihrom Yaitu mengucapkan Allahu Akbar (allahuakbar.gif) di permulaan sholat dan beliau juga Sempat memerintahkan semacam itu di orang yang sholatnya Disorientasi. Beliau bersabda di orang Itu:

    “Sesungguhnya sholat seseorang tak sempurna sebelum dia berwudhu’ dan menjalankan wudhu’ sesuai ketentuannya, lalu ia mengucapkan Allahu Akbar.”
    (Hadits diriwayatkan oleh Al Imam Thabrani dengan sanad shahih).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    “Apabila engkau akan mengerjakan sholat, maka sempurnakanlah wudhu’mu lebih Dulu setelah itu menghadaplah ke arah kiblat, lalu ucapkanlah takbiratul ihrom.”
    (Muttafaqun ‘alaihi).

Takbirotul ihrom diucapkan dengan lisan

Takbirotul ihrom itu mesti diucapkan melalui lisan (tak diucapkan di di hati).

Muhammad Ibnu Rusyd berkata, “Adapun seseorang yang membaca di di hati, tanpa menggerakkan lidahnya, maka perihal itu tak dianggap dengan membaca. Dikarenakan yang dianggap dengan membaca ialah dengan melafadzkannya di mulut.”

Imam Nawawi berkata, “…adapun selain imam, maka disunnahkan baginya untuk tak mengeraskan suara sewaktu membaca lafadz tabir, apakah dia tengah Jadi makmum ataupun sewaktu sholat sendiri. tak mengeraskan suara di sini. apabila dia tak menjumpai rintangan, semacam suara yang amat gaduh. Batasan minimum suara yang pelan Yaitu Bisa didengar oleh dirinya sendiri apabila pendengarannya normal. Ini berlaku dengan cara Generik bagus waktu membaca ayat-ayat al Qur-an, takbir, membaca tasbih waktu ruku’, tasyahud, salam dan doa-doa di di sholat bagus yang hukumnya wajib ataupun sunnah…” beliau melanjutkan, “Demikianlah nash yang dikemukakan Syafi’i dan disepakati oleh para pengikutnya. Asy Syafi’i berkata di di al Umm, ‘Hendaklah suaranya Bisa didengar sendiri dan orang yang berposisi disampingnya. tak wajib dia menambahkan volume suara lebih dari ukuran itu.’.” (al Majmuu’ III/295).

MENGANGKAT KEDUA TANGAN
Tuntunan shalat lengkap serta dalil - dalilnya
Disunnahkan mengangkat kedua tangannya setentang bahu sewaktu bertakbir dengan merapatkan jari-jemari tangannya,

berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar radiyallahu anhuma, ia berkata:

    “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam biasa mengangkat kedua tangannya setentang bahu apabila akan memulai sholat, tiap kali bertakbir untuk ruku’ dan tiap kali bangkit dari ruku’nya.”
    (Muttafaqun ‘alaihi).

Atau mengangkat kedua tangannya setentang telinga,berdasarkan hadits riwayat Malik bin Al-Huwairits radhiyyallahu anhu, ia berkata:

    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa mengangkat kedua tangannya setentang telinga tiap kali bertakbir (didalam sholat).”
    (HR. Muslim).

di Disorientasi satu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah, Tamam serta Hakim dijelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya dengan Mengakses jari-jarinya lurus ke atas (tak merenggangkannya dan tak pula menggengamnya). (Shifat Sholat Nabi).

BERSEDEKAP
Tuntunan shalat lengkap serta dalil - dalilnya
setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkan tangan kanan di atas tangan kirinya (bersedekap). Beliau bersabda:

    “Kami, para nabi diperintahkan untuk lekas berbuka dan mengakhirkan sahur serta meletakkan tangan kanan di tangan kiri (bersedekap) waktu melaksakan sholat.”
    (Hadits diriwayatkan oleh Al Imam Ibnu Hibban dan Adh Dhiya’ dengan sanad shahih).

Di di suatu riwayat Sempat beliau melewati seorang yang tengah sholat, namun orang Itu meletakkan tangan kirinya di tangan kanannya, setelah itu beliau melepaskannya, lalu orang Itu meletakkan tangan kanannya di tangan kirinya. (Hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud dengan sanad yang shahih).

Meletakkan atau menggenggam

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkan lengan kanan di punggung telapak kirinya, pergelangan dan lengan kirinya

berdasar hadits dari Wail bin Hujur:

    “Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertakbir setelah itu meletakkan tangan kanannya di atas telapak tangan kiri, pergelangan tangan kiri atau lengan kirinya.”
    (Hadits diriwayatkan oleh Al Imam Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Khuzaimah, dengan sanad yang shahih dan dishahihkan pula oleh Ibnu Hibban, hadits no. 485).

Beliau terkadang-terkadang pula menggenggam pergelangan tangan kirinya dengan tangan kanannya,

berdasarkan hadits Nasa’i dan Daraquthni:

    “Tapi beliau terkadang-terkadang menggenggamkan jari-jari tangan kanannya di lengan kirinya.”
    (sanad shahih).

Bersedekap di dada

Menyedekapkan tangan di dada merupakan perbuatan yang betul berlandaskan sunnah berdasarkan hadits:

    “Beliau meletakkan kedua tangannya di atas dadanya.”
    (Hadits diriwayatkan oleh Al Imam Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah, Ahmad dari Wail bin Hujur).

tutorial-tutorial yang sesuai sunnah ini diterapkan oleh Imam Ishaq bin Rahawaih. Imam Mawarzi di di Kitab Masa’il, page 222 berkata: “Imam Ishaq meriwayatkan hadits dengan cara mutawatir di kami…. Beliau mengangkat kedua tangannya waktu berdo’a qunut dan melaksakan qunut sebelum ruku’. Beliau menyedekapkan tangannya berdekatan dengan teteknya.” Pendapat yang seperti ini pula dikemukakan oleh Qadhi ‘Iyadh al Maliki di bab Mustahabatu ash Sholat di Kitab Al I’lam, beliau berkata: “Dia meletakkan tangan kanan di punggung tangan kiri di dada.”

MEMANDANG TEMPAT SUJUD

di saat mengerjakan sholat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menundukkan kepalanya dan mengarahkan pandangannya ke daerah sujud. Perihal ini didasarkan di hadits yang diriwayatkan oleh Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tak mengalihkan pandangannya dari tempat sujud (di di sholat).”
    (HR. Baihaqi )

Pantangan menengadah ke langit

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang keras menengadah ke langit (sewaktu sholat). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    “Hendaklah sekelompok orang betul-betul menghentikan Etos matanya yang terangkat ke langit sewaktu berdoa di di sholat ataupun hendaklah mereka betul-betul menjaga Etos mata mereka.”
    (HR. Muslim, Nasa’i dan Ahmad).

Rasulullah pula melarang seseorang menoleh ke kanan ataupun ke kiri sewaktu sholat, beliau bersabda:

    “apabila kalian sholat, janganlah menoleh ke kanan ataupun ke kiri lantaran Allah akan senantiasa menghadapkan wajah-Nya kepada hamba yang tengah sholat selama ia tak menoleh ke kanan ataupun ke kiri.”
    (HR. Tirmidzi dan Hakim).

Di di Zaadul Ma’aad ( I/248 ) dijelaskan yakni makruh hukumnya orang yang tengah sholat menolehkan kepalanya tanpa datang keperluan. Ibnu Abdil Bar berkata, “Jumhur ulama Menyebut bawa menoleh yang ringan tak mengakibatkan shalat Jadi rusak.”

Pula dimakruhkan shalat dihadapan sesuatu yang Bisa merusak konsentrasi ataupun di lokasi yang ada gambar-gambarnya, diatas sajadah yang ada lukisan / ukiran, dihadapan dinding yang bergambar dan sebagainya.

MEMBACA DO’A IFTITAH


iftitah-1.gif

Doa iftitah yang dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beraneka ragam. di doa istiftah itu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan pujian, sanjungan dan kalimat keagungan untuk Allah.Beliau Sempat memerintahkan perihal ini di orang yang Disorientasi melaksanakan sholatnya dengan sabdanya:

    “tak sempurna sholat seseorang sebelum ia bertakbir, mengucapkan pujian, mengucapkan kalimat keagungan (doa istiftah), dan membaca ayat-ayat al Qur-an yang dihafalnya…” (HR. Abu Dawud dan Hakim, disahkan oleh Hakim, disetujui oleh Dzahabi).

Adapun bacaan doa istiftah yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diantaranya Yaitu:

Tuntunan shalat lengkap serta dalil - dalilnya

    “ALLAHUUMMA BA’ID BAINII WA BAINA KHATHAAYAAYA KAMAA BAA’ADTA BAINAL MASYRIQI WAL MAGHRIBI, ALLAAHUMMA NAQQINII MIN KHATHAAYAAYA KAMAA YUNAQQATS TSAUBUL ABYADHU MINAD DANAS. ALLAAHUMMAGHSILNII MIN KHATHAAYAAYA BIL MAA’I WATS TSALJI WAL BARADI”

artinya:

    “Ya, Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku seperti Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya, Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku seperti baju putih dibersihkan dari kotoran. Ya, Allah cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air salju dan embun.” (HR. Bukhari, Muslim dan Ibnu Abi Syaibah).

Ataupun terkadang-terkadang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pula membaca di di sholat fardhu:

Tuntunan shalat lengkap serta dalil - dalilnya

    “WAJJAHTU WAJHIYA LILLADZII FATARAS SAMAAWAATI WAL ARDHA HANIIFAN [MUSLIMAN] WA MAA ANA MINAL MUSYRIKIIN. INNA SHOLATII WANUSUKII WAMAHYAAYA WAMAMAATII LILLAHI RABBIL ‘ALAMIIN. LAA SYARIIKALAHU WABIDZALIKA UMIRTU WA ANA AWWALUL MUSLIMIIN. ALLAHUMMA ANTAL MALIKU, LAA ILAAHA ILLA ANTA [SUBHAANAKA WA BIHAMDIKA] ANTA RABBII WA ANA ‘ABDUKA, DHALAMTU NAFSII, WA’TARAFTU BIDZAMBI, FAGHFIRLII DZAMBI JAMII’AN, INNAHU LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLA ANTA. WAHDINII LI AHSANIL AKHLAAQI LAA YAHDII LI AHSANIHAA ILLA ANTA, WASHRIF ‘ANNII SAYYI-AHAA LAA YASHRIFU ‘ANNII SAYYI-AHAA ILLA ANTA LABBAIKA WA SA’DAIKA, WAL KHAIRU KULLUHU FII YADAIKA. WASY SYARRULAISA ILAIKA. [WAL MAHDIYYU MAN HADAITA]. ANA BIKA WA ILAIKA [LAA MANJAA WALAA MALJA-A MINKA ILLA ILAIKA. TABAARAKTA WA TA’AALAITA ASTAGHFIRUKA WAATUUBU ILAIKA”

artinya:

    “Aku hadapkan wajahku di Pencipta segala langit dan bumi dengan penuh kepasrahan dan aku tidaklah termasuk orang-orang musyrik. Sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku semata-mata untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sesuatu pun yang menyekutui-Nya. Demikianlah aku diperintah dan aku termasuk orang yang pertama-tama Jadi muslim. Ya Allah, Engkaulah Penguasa, tiada Ilah selain Engkau semata-mata. [Engkau Mahasuci dan Mahaterpuji], Engkaulah Rabbku dan aku hamba-Mu, aku telah menganiaya diriku dan aku mengakui dosa-dosaku, maka ampunilah segala dosaku. Sesungguhnya hanya Engkaulah yang berkuasa mengampuni segala dosa. Berilah aku petunjuk kepada akhlaq yang paling bagus, dikarenakan hanya Engkaulah yang Bisa membagikan petunjuk kepada akhlaq yang terbaik dan jauhkanlah diriku dari akhlaq buruk. Aku jawab seruan-Mu, sedang segala keburukan tak hadir dari-Mu. [Orang yang terpimpin ialah orang yang Engkau beri petunjuk]. Aku ada di di kekuasaan-Mu dan akan kembali kepada-Mu, [tiada tempat memohon keselamatan dan perlindungan dari siksa-Mu kecuali hanya Engkau semata]. Engkau Mahamulia dan Mahatinggi, aku mohon ampun kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
    (Hadits diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari, Muslim dan Ibnu Abi Syaibah)

MEMBACA TA’AWWUDZ

Membaca doa ta’awwudz ialah disunnahkan di tiap raka’at, sebagaimana firman Allah ta’ala:

 

    “apabila kita membaca al Qur-an hendaklah kita meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” (An Nahl : 98).

Dan pendapat ini merupakan yang sangat shahih di di madzhab Syafi’i dan diperkuat oleh Ibnu Hazm (Lihat al Majmuu’ III/323 dan Tamaam al Minnah 172-177).

Nabi biasa membaca ta’awwudz yang berbunyi:


Tuntunan shalat lengkap serta dalil - dalilnya

    “A’UUDZUBILLAHI MINASY SYAITHAANIR RAJIIM MIN HAMAZIHI WA NAFKHIHI WANAFTSIHI

maksudnya:

    “Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk, dari semburannya (yang menyebabkn gila), dari kesombongannya, dan dari hembusannya (yang mengakibatkan kerusakan akhlaq).”
    (Hadits diriwayatkan oleh Al Imam Abu Dawud, Ibnu Majah, Daraquthni, Hakim dan dishahkan olehnya serta oleh Ibnu Hibban dan Dzahabi).

Ataupun mengucapkan:
 

Tuntunan shalat lengkap serta dalil - dalilnya

    “A’UUZUBILLAHIS SAMII’IL ALIIM MINASY SYAITHAANIR RAJIIM…”

maksudnya:

    “Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari setan yang terkutuk…”
    (Hadits diriwayatkan oleh Al Imam Abu Dawud dan Tirmidzi dengan sanad hasan).

MEMBACA AL FATIHAH

Hukum Membaca Al-Fatihah

Membaca Al-Fatihah termasuk Disorientasi satu dari demikian banyak rukun sholat, oleh di karenakan itu bila di di sholat tak membaca Al-Fatihah maka tak Absah sholatnya berlandaskan Ungkap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya):

    “tak dianggap sholat (tak Absah sholatnya) kepada orang yang tak membaca Al-Fatihah”
    (Hadits Shahih dikeluarkan oleh Al-Jama’ah: Yaitu Al-Imam Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa-i dan Ibnu Majah).

    “Barangsiapa yang sholat tak membaca Al-Fatihah maka sholatnya buntung, sholatnya buntung, sholatnya buntung…tak sempurna”
    (Hadits Shahih dikeluarkan oleh Al-Imam Muslim dan Abu ‘Awwanah).

Kapan Kita Wajib Membaca Surat Al-Fatihah

Jelas buat kita bila tengah sholat sendirian (munfarid) maka wajib untuk membaca Al-Fatihah, begitu juga di sholat jama’ah waktu imam membacanya melalui sirr (tak diperdengarkan) Yaitu di sholat Dhuhur, ‘Ashr, 1 roka’at terakhir sholat Mahgrib dan 2 roka’at terakhir sholat ‘Isyak, oleh sebab itu para makmum wajib membaca surat Al-Fatihah itu dengan cara masing-masing melalui sirr (tak dikeraskan).

MEMBACA AMIN

Hukum Untuk Imam:

Membaca amin disunnahkan untuk imam sholat.

    Dari Abu hurairah, dia berkata: “Dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila sudah membaca surat Ummul Kitab (Al-Fatihah) mengeraskan suaranya serta membaca amin.”
    (Hadits dikeluarkan oleh Imam Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ad-Daraquthni dan Ibnu Majah)
    “bila Nabi sudah membaca Al-Fatihah (di di sholat), beliau mengucapkan amiin melalui suara keras serta panjang.”
    (Hadits shahih dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Abu Dawud)

Hadits itu mensyari’atkan para imam supaya mengeraskan bacaan amin, demikian yang Jadi pendapat Al-Imam Al-Bukhari, As-Syafi’i, Ahmad, Ishaq dan para imam fikih yang lain. Di di shahihnya Al-Bukhari menyusun suatu bab dengan judul ‘baab jahr al-imaan bi al-ta-miin’ (maksudnya: bab mengenai imam mengeraskan suara sewaktu membaca amin). Didalamnya dinukil Ungkap (atsar) yakni Ibnu Al-Zubair membaca amin bersama-Serupa para makmum hingga seakan-akan muncul gaung di di masjidnya.

Hukum untuk Makmum:
 
di hal ini ada beberapa petunjuk dari Nabi (Hadits),diantaranya:
1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “apabila imam membaca amiin maka hendaklah kalian juga membaca amiin.”


2. “apabila imam selesai membaca ghoiril maghdhuubi ‘alaihim waladhdhooolliin, ucapkanlah amiin [di karenakan malaikat juga mengucapkan amiin dan imam pun mengucapkan amiin]. di riwayat lain: “(apabila imam mengucapkan amiin, hendaklah kalian mengucapkan amiin) barangsiapa ucapan aminnya bersamaan dengan malaikat, (di riwayat lain disebutkan: “apabila seseorang diantara kita mengucapkan amin di sholat bersamaan dengan malaikat dilangit mengucapkannya), dosa-dosanya masa lalu diampuni.”
(Hadits dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa-i dan Ad-Darimi)


BACAAN SURAT SESUDAH AL FATIHAH

Membaca surat Al Qur-an sesudah membaca Al Fatihah dalan sholat hukumnya sunnah dikarenakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membolehkan tak membacanya. Membaca surat Al-Qur-an itu dilaksanakan di 2 roka’at pertama. Banyak hadits yang menceritakan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai hal Itu.

Panjang pendeknya surat yang dibaca

di sholat munfarid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat-surat yang panjang kecuali di di keadaan sakit ataupun sibuk, Padahal bila selaku imam disesuaikan dengan keadaan makmumnya (seperti ada bayi yang menangis maka bacaan diperpendek).Rasulullah berkata:

    “Aku melaksanakan sholat dan aku hendak memperpanjang bacaannya akan akan tetapi, tiba-tiba aku mendengar suara tangis bayi hingga aku memperpendek sholatku dikarenakan aku mengetahui betapa gelisah ibunya lantaran tangis bayi itu.”
    (Hadits dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim)

Di di membaca surat Al-Qur-an Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakannya melalui tartil, tak lambat juga tak Genjah -sebagaimana diperintahkan oleh Allah- dan beliau membaca satu per satu kalimat, sehingga 1 surat memerlukan masa yang lebih panjang dibanding bila dibaca biasa (tak dilagukan). Rasulullah berkata yakni orang yang membaca Al-Qur-an kelak akan diseru:

    “Bacalah, telitilah serta tartilkan sebagaimana kita Dulu mentartilkan di di Global, lantaran kedudukanmu ada di penghujung ayat yang engkau baca.”
    (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dishahihkan oleh At-Tirmidzi)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat Al-Qur-an dengan suara yang bagus, oleh sebab itu beliau pula memerintahkan yang demikian itu:

    “Perindahlah/hiasilah Al-Qur-an dengan suara kalian [di karenakan suara yang bagus menambahkan Estetika Al-Qur-an].”
    (Hadits dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari , Abu Dawud, Ad-Darimi, Al-Hakim dan Tamam Ar-Razi)

    “Tidaklah dari golongan kami orang yang tak melagukan Al-Qur-an.”
    (Hadits dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Al-Hakim, dishahihkan oleh Al-Hakim dan disetujui oleh Adz-Dzahabi)

RUKU’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sesudah selesai membaca surat dari Al-Qur-an lalu berhenti sejenak, terus mengangkat kedua tangannya sambil bertakbir semacam waktu takbiratul ihrom (setentang bahu atau daun telinga) setelah itu rukuk (merundukkan badan kedepan dipatahkan di pinggang, dengan punggung serta kepala lurus sejajar lantai). Berlandaskan di beberapa hadits, Disorientasi satunya Yaitu:

 

    Dari Abdullah bin Umar, ia berkata: “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bila berdiri di di sholat mengangkat kedua tangannya hingga setentang kedua bahunya, perihal Itu dilakukan waktu bertakbir hendak rukuk dan waktu mengangkat kepalanya (bangkit) dari ruku’ ….”
    (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Al-Bukhari, Muslim dan Malik)

Tata tutorial Ruku’

> Apabila Rasulullah ruku’ maka beliau meletakkan telapak tangannya kepada lututnya, demikian beliau pula memerintahkan kepada para shahabatnya.

    “Bahwasanya shallallahu ‘alaihi wa sallam (waktu ruku’) meletakkan kedua tangannya kepada kedua lututnya.”
    (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Al-Bukhari dan Abu Dawud)

> Menekankan tangannya di lututnya.

    “Apabila kita ruku’ maka letakkan kedua tanganmu di kedua lututmu dan bentangkanlah (luruskan) punggungmu serta tekankan tangan untuk ruku’.”
    (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Ahmad dan Abu Dawud)

> Merenggangkan jari-jemarinya.
 
Tuntunan shalat lengkap serta dalil - dalilnya

    “Beliau merenggangkan jari-jarinya.”
    (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Al-Hakim dan dia menshahihkannya, Adz-Dzahabi dan At-Thayalisi menyetujuinya)

> Merenggangkan kedua sikunya dari lambungnya.

    “Beliau apabila ruku’, meluruskan dan membentangkan punggungnya sehingga bila air dituangkan di atas punggung beliau, air Itu tak akan Dinamis.”
    (Hadits di keluarkan oleh Al Imam Thabrani, ‘Abdullah bin Ahmad dan ibnu Majah)

> Antara kepala dan punggung lurus, kepala tak mendongak tak pula menunduk akan akan tetapi tengah-tengah antara kedua kondisi Itu.

Tuntunan shalat lengkap serta dalil - dalilnya

    “Beliau tak mendongakkan kepalanya dan tak pula menundukkannya.”
    (Hadits ini diriwayatkan oleh Al Imam Abu Dawud dan Bukhari)

    “Sholat seseorang sempurna sebelum dia melaksanakan ruku’ dan sujud dengan meluruskan punggungnya.”
    (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Abu ‘Awwanah, Abu Dawud dan Sahmi dishahihkan oleh Ad-Daraquthni)

> Thuma-ninah/Bersikap Tenang

    Beliau Sempat mencermati orang yang ruku’ dengan tak sempurna dan sujud layaknya burung mematuk, setelah itu berkata: “Apabila orang ini mati di di keadaan semacam itu, ia mati diluar agama Muhammad [sholatnya seperti gagak mematuk Boga] sebagaimana orang ruku’ tak sempurna dan sujudnya Genjah seperti burung lapar yang memakan satu, dua biji kurma yang tak mengenyangkan.”
    (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Abu Ya’la, Al-Ajiri, Al-Baihaqi, Adh-Dhiya’ dan Ibnu Asakir dengan sanad shahih, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah)

> Memperlama Ruku’

    “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan ruku’, berdiri sesudah ruku’ dan sujudnya juga duduk antara dua sujud hampir persis lamanya.”
    (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Al-Bukhari dan Muslim)

Yang Dibaca Waktu Ruku’

Do’a yang dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada beberapa ragam, keseluruhannya Sempat dibaca oleh beliau maka terkadang membaca yang ini terkadang yang lain.

1. SUBHAANA RABBIYAL ‘ADHZIM 3 kali / lebih (Berdasar hadits yang dikeluarkan oleh Al Imam Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan lain-lain).


Tuntunan shalat lengkap serta dalil - dalilnya

Yang artinya:

    “Maha Suci Rabbku, lagi Maha Agung.”

2. SUBHAANA RABBIYAL ‘ADHZIMI WA BIHAMDIH 3 kali (Berdasar hadits yang dikeluarkan oleh Al Imam Ahmad, Abu Dawud, Ad-Daroquthni dan Al-Baihaqi).


Tuntunan shalat lengkap serta dalil - dalilnya

Yang artinya:

    “Maha Suci Rabbku lagi Maha Agung dan segenap pujian untuk-Nya.”

3. SUBBUUHUN QUDDUUSUN RABBUL MALA-IKATI WAR RUUH (Berdasar hadits yang dikeluarkan oleh Al Imam Muslim dan Abu ‘Awwanah).


Tuntunan shalat lengkap serta dalil - dalilnya

Yang artinya:

    “Maha Suci, Maha Suci Rabb para malaikat dan ruh.”

4. SUBHAANAKALLAHUMMA WA BIHAMDIKA ALLAHUMMAGHFIRLII


Tuntunan shalat lengkap serta dalil - dalilnya

Yang artinya:

    “Maha Suci Engkau ya, Allah, dan dengan memuji-Mu Ya, Allah ampunilah aku.”

Berlandaskan hadits dari ‘A-isyah, bahwasanya beliau berkata:

    “Ialah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperbanyak membaca Subhanakallahumma Wa Bihamdika Allahummaghfirlii di ruku’nya dan sujudnya, beliau mentakwilkan Al-Qur-an.”
    (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Al-Bukhari dan Muslim).

Do’a Itu yang sangat sering dibaca. Disebutkan bahwa terdapat riwayat dari ‘A-isyah yang menunjukkan bahwa Rasulullah sejak turunnya surat An-Nashr -yang artinya: “Hendaklah engkau mengucapkan tasbih dengan memuji Rabbmu dan memohon ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat.” (TQS. An-Nashr 110:3)-, waktu ruku’ dan sujud beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kerap membaca do’a ini hingga hingga wafatnya.

5. Dan lain-lain yang sesuai dengan hadits-hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Yang Dilarang saat Ruku’

Embargo disini merupakan Embargo dari Rasulullah yakni sewaktu ruku’ kita gak Bisa membaca Al-Qur-an. Berlandaskan hadits:

    “Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang membaca Al-Qur-an di ruku’ dan sujud.”
    (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Muslim dan Abu ‘Awwanah)
    “Ketahuilah bahwa aku dilarang membaca Al-Qur-an sewaktu ruku’ dan sujud…”
    (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Muslim dan Abu ‘Awwanah).

I’TIDAL DARI RUKU’

tutorial i’tidal dari ruku’

Seusai ruku’ dengan sempurna dan sesudah membaca do’a, maka setelah itu bangkit dari ruku’ (i’tidal). saat bangkit Itu membaca  Tuntunan shalat lengkap serta dalil - dalilnya   (SAMI’ALLAAHU LIMAN HAMIDAH) diikutsertakan dengan mengangkat kedua tangan sebagaimana waktu takbiratul ihram. Perihal Itu berlandaskan keterangan di beberapa hadits, diantaranya:

    Dari Abdullah bin Umar, ia berkata: “Aku mencermati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bila berdiri di di sholat mengangkat kedua tangannya hingga setentag kedua pundaknya, perihal itu diperbuat sewaktu bertakbir hendak rukuk dan sewaktu mengangkat kepalanya (bangkit ) dari ruku’ sambil mengucapkan SAMI’ALLAAHU LIMAN HAMIDAH…”
    (Hadits dikeluarkan oleh Al-Bukhari, Muslim dan Malik).

bacaan sewaktu I’tidal dari Ruku’

Seperti petunjuk hadits di atas sewaktu bangkit (mengangkat kepala) dari ruku’ itu membaca: Tuntunan shalat lengkap serta dalil - dalilnya (SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH)

Lalu sewaktu telah tegak serta selesai bacaan Itu disahut dengan bacaan:



Tuntunan shalat lengkap serta dalil - dalilnya

    RABBANAA LAKAL HAMD (Rabbku, segala puji kepada-Mu)

atau


Tuntunan shalat lengkap serta dalil - dalilnya

    RABBANAA WA LAKAL HAMD (Rabbku dan segala puji kepada-Mu)

atau


Tuntunan shalat lengkap serta dalil - dalilnya

    ALLAAHUMMA RABBANAA LAKAL HAMD (Ya, Allah, Rabbku, segala puji kepada-Mu)

atau


    
Tuntunan shalat lengkap serta dalil - dalilnya

ALLAAHUMMA RABBANAA WA LAKAL HAMD (Ya, Allah, Rabbku dan segala puji kepada-Mu)

Dalilnya Yaitu hadits dari Abu Hurairah:

    “apabila imam mengucapkan SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH, maka ucapkanlah oleh kalian ALLAHUMMA RABBANA WA LAKALHAMD, barangsiapa yang ucapannya tadi bertepatan dengan ucapan para malaikat diampunkan dosa-dosanya yang sudah lalu.”
    (Hadits dikeluarkan oleh Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Ztirmidzi, An-Nasa-i, Ibnu Majah dan Malik)

terkadang ditambah dengan bacaan:


    
Tuntunan shalat lengkap serta dalil - dalilnya

MIL-ASSAMAAWAATI, WA MIL-ALARDHL, WA MIL-A MAA SYI-TA MIN SYAI-IN BA’D
    (Mencakup semua langit dan seluruh bumi dan segenap yang Engkau kehendaki selain dari itu)
    berdasar hadits yang dikeluarkan oleh Ibnu Majah.

Dan Do’a lain-lain

Thuma-ninah dan Memperlama di I’tidal

    “setelah itu angkatlah kepalamu hingga engkau berdiri dengan tegak [sehingga tiap-tiap ruas tulang belakangmu kembali di tempatnya].” (di riwayat yang lain dijelaskan: “Apabila kita berdiri i’tidal, luruskanlah punggungmu dan tegakkanlah kepalamu hingga ruas tulang punggungmu mapan ke tempatnya).”
    (Hadits dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim, dan riwayat lain oleh Ad-Darimi, Al-Hakim, As-Syafi’i dan Ahmad)

SUJUD

Sujud dilaksanakan sesudah i’tidal thuma-ninah dan jawab tasmi’ (Rabbana Lakal Hamd…hingga seterusnya).

Caranya

Dengan tanpa ataupun terkadang-terkadang dengan mengangkat kedua tangan (setentang pundak atau daun telinga) seraya bertakbir, badan turun condong kedepan Futuristis ke tempat sujud, dengan meletakkan kedua lutut lebih Dulu.

Tuntunan shalat lengkap serta dalil - dalilnya

baru setelah itu meletakkan kedua tangan.

Tuntunan shalat lengkap serta dalil - dalilnya

setelah itu meletakkan kepala dengan menyentuhkan/menekankan hidung serta jidat/kening/dahi ke lantai (tangan sejajar dengan pundak ataupun daun telinga).

    Dari Wail bin Hujr, berkat, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sewaktu akan sujud meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya dan bila bangkit mengangkat 2 tangan sebelum kedua lututnya.”
    (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Abu Dawud, Tirmidzi An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ad-Daarimy)

    “terkadang-terkadang beliau mengangkat kedua tangannya sewaktu akan sujud.”
    (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam An-Nasa’i dan Daraquthni)

    “terkadang-terkadang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangannya [dan membentangkan] serta merapatkan jari-jarinya dan menghadapkannya ke arah kiblat.”
    (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Abu Dawud, Al-Hakim, Al-Baihaqi)

    “Beliau meletakkan tangannya sejajar dengan bahunya”
    (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Tirmidzi)

    “terkadang-terkadang beliau meletakkan tangannya sejajar dengan daun telinganya.”
    (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam An-Nasa’i)

Panduan Sujud
> Bersujud di 7 anggota badan,

Tuntunan shalat lengkap serta dalil - dalilnya

yakni jidat/kening/dahi dan hidung , 2 telapak tangan , 2 lutut dan 2 ujung kaki (7). Perihal Itu berdasar hadits:

    Dari Ibnu ‘Abbas berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Aku diperintah untuk bersujud (di riwayat lain; Kami diperintah untuk bersujud) dengan tujuh (7) anggota badan; Yaitu kening sekalian hidung, 2 tangan (di lafadhz yang lain; 2 telapak tangan), 2 lutut, jari-jari kedua kaki dan kami tak boleh menyibak lengan baju dan rambut kepala.”
    (Hadits dikeluarkan oleh Al-Jama’ah)

> Diperbuat dengan menekan

    “bila kita sujud, sujudlah dengan menekan.”
    (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Ahmad)

    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menekankan kedua lututnya dan bagian depan telapak kaki ke tanah.”
    (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Al-Baihaqi)

> Kedua lengan/siku tak ditempelkan di lantai, akan akan tetapi diangkat serta dijauhkan dari Hepotenusa rusuk/lambung.

    Dari Abu Humaid As-Sa’diy, bahwasanya Nabi shalallau ‘alaihi wasallam apabila sujud lalu menekankan hidung dan dahinya di tanah dan menjauhkan kedua tangannya dari 2 Hepotenusa perutnya, tangannya ditaruh setentang dua bahu beliau.”
    (Diriwayatkan oleh Al Imam At-Tirmidzi)

    Dari Anas bin Malik, dari Nabi shalallau ‘alaihi wasallam bersabda:
    “Luruskanlah kalian di di sujud dan jangan kita menghamparkan kedua lengannya semacam anjing menghamparkan kakinya.”
    (Diriwayatkan oleh Al-Jama’ah kecuali Al Imam An-Nasa-i, lafadhz ini untuk Al Imam Al-Bukhari)

    “Beliau mengangkat kedua lengannya dari lantai dan menjauhkannya dari lambungnya hingga warna putih ketiaknya terlihat dari belakang”
    (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Al-Bukhari dan Muslim)

> Menjauhkan perut/lambung dari kedua paha

    Dari Abi Humaid mengenai sifat sholat Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “apabila beliau sujud, beliau merenggangkan antara 2 pahanya (dengan) tak menopang perutnya.”
    (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Abu Dawud)

> Merapatkan jari-jemari

    Dari Wa-il, bahwasanya Nabi shalallau ‘alaihi wasallam apabila sujud maka merapatkan jari-jemarinya.
    (Diriwayatkan oleh Al Imam Al-Hakim)

> Menegakkan telapak kaki dan saling merapatkan/menempelkan antara 2 tumit

    Berkata ‘A-isyah isteri Nabi shalallau ‘alaihi wasallam: “Aku Dehidrasi Rasulullah shalallau ‘alaihi wasallam Padahal beliau tadi tidur bersamaku, lalu aku dapati beliau sedang sujud dengan merapatkan kedua tumitnya (dan) menghadapkan ujung-ujung jarinya ke kiblat, aku dengar…”
    (Diriwayatkan oleh Al Imam Al-Hakim dan Ibnu Huzaimah)

> Thuma-ninah dan sujud dengan lama

Seperti rukun sholat yang lain wajib dikerjakan dengan thuma-ninah. Juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila bersujud baiasanya lama.

    “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan ruku’, berdiri sesudah ruku’ dan sujudnya pula duduk antara 2 sujud hampir persis lamanya.”
    (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Al-Bukhari dan Muslim)

Sujud Langsung Di Tanah ataupun Bisa Di Atas Alas

    “Para shahabat sholat berjama’ah bersama-Serupa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di cuaca yang Geothermal. bila ada yang tak sanggup menekankan dahinya di atas tanah maka membentangkan kainnya lalu sujud di atasnya”
    (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Muslim)

Bacaan Sujud

Rasulullah membaca


Tuntunan shalat lengkap serta dalil - dalilnya
     
SUBHAANA RABBIYAL A’LAA 3 kali
    (berdasar hadits yang dikeluarkan oleh Al Imam Ahmad dll)

ataupun terkadang-terkadang membaca

Tuntunan shalat lengkap serta dalil - dalilnya


     SUBHAANA RABBIYAL A’LAA WA BIHAMDIH, 3 kali
    (berdasar hadits yang dikeluarkan oleh Al Imam Abu Dawud dll)

ataupun


Tuntunan shalat lengkap serta dalil - dalilnya

    SUBHAANAKALLAAHUMMA RABBANAA WA BIHAMDIKA ALLAAHUMMAGHFIRLII
    (berdasar hadits yang dikeluarkan oleh Al Imam Al-Bukhari dan Muslim)

Bacaan Yang Dilarang Semasa Sujud

    “Ketahuilah bahwa aku dilarang membaca Al-Qur-an sewaktu ruku’ dan sujud…”
    (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Muslim dan Abu ‘Awwanah).
 ————————————————————————————————————
BANGUN DARI SUJUD PERTAMA

Sesudah sujud pertama -dimana di tiap roka’at ada 2 sujud- maka setelah itu bangun untuk menjalankan duduk diantara 2 sujud. di bangun dari sujud ini diikutsertakan dengan takbir dan terkadang mengangkat tangan (Berdasar hadits dari Ahmad dan Al-Hakim).

    “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dari sujudnya seraya bertakbir”
    (Hadits dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)


DUDUK ANTARA 2 SUJUD

Duduk ini dilaksanakan antara sujud yang pertama dan sujud yang kedua, di roka’at pertama hingga terakhir. Ada 2 bentuk tipe duduk antara 2 sujud, duduk iftirasy (duduk dengan meletakkan pantat di telapak kaki kiri dan kaki kanan ditegakkan)

Tuntunan shalat lengkap serta dalil - dalilnya

dan duduk iq’ak (duduk dengan menegakkan kedua telapak kaki dan duduk diatas tumit). Hal ini berdasar hadits:

    Dari ‘A-isyah berkata: “Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghamparkan kaki beliau yang kiri dan menegakkan kaki yang kanan, baliau melarang dari duduknya syaithan.”
    (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Muslim)
   
    Dari Rifa’ah bin Rafi’ -di haditsnya- dan berkata Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam : “apabila engkau sujud maka tekankanlah di sujudmu setelah itu apabila bangun duduklah di atas pahamu yang kiri.”
    (Hadits dikeluarkan oleh Ahmad dan Abu Dawud dengan lafadhz Abu Dawud)

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang-terkadang duduk iq’ak, Yaitu [duduk dengan menegakkan telapak dan tumit kedua kakinya].
    (Hadits dikeluarkan oleh Muslim)

saat duduk antara 2 sujud Itu telapak kaki kanan ditegakkan dan jarinya diarahkan ke kiblat:

    Beliau menegakkan kaki kanannya (Al-Bukhari)

    Menghadapkan jari-jemarinya ke kiblat (An-Nasa-i)

Bacaan di duduk antara 2 sujud
      
Tuntunan shalat lengkap serta dalil - dalilnya

RABBIGHFIRLII, RABBIGHFIRLII

    Dari Hudzaifah, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan di di sujudnya : Rabighfirlii, Rabbighfirlii.
    (Hadits dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dengan lafadhz Ibnu Majah)


Tuntunan shalat lengkap serta dalil - dalilnya

    ALLAAHUMMAGHFIRLII WARHAMNII WA ‘AAFINII WAHDINII WARZUQNII
    (Abu Dawud)


Tuntunan shalat lengkap serta dalil - dalilnya

    ALLAAHUMMAGHFIRLII WARHAMNII WAJBURNII WARZUQNII WARFA’NII
    (Ibnu Majah)

     
Tuntunan shalat lengkap serta dalil - dalilnya

  ALLAAHUMMAGHFIRLII WARHAMNII WAJBURNII WAHDINII WARZUQNII
    (At-Tirmidzi)

Thuma-ninah 

Lihat tata tutorial ruku’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di di sholat.


RAKA’AT BERIKUTNYA

di masalah ini ada dua tempat/kondisi, Yaitu bangkit Futuristis roka’at berikut dari Letak sujud kedua -di akhir roka’at pertama dan ketiga- dan bangkit dari Letak duduk tasyahhud awal -di roka’at kedua.> Bangkit/bangun dari sujud untuk berdiri (dari akhir roka’at pertama dan ketiga) didahului dengan duduk istirahat atau tanpa duduk istirahat, bangkit berdiri seraya bertakbir tanpa mengangkat kedua tangan. saat bangkit Bisa dengan tangan bertumpu di lantai atau Bisa juga bertumpu di pahanya.

Tangan bertumpu di satu pahanya

    Dari Wail bin Hujr dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ,berkata (Wa-il); “Maka tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersujud dia meletakkan kedua lututnya ke lantai sebelum meletakkan kedua tangannya; Berkata (Wa-il): apabila sujud maka …..dan apabila bangkit dia bangkit atas kedua lututnya dengan bertumpu di satu paha.”
    (Hadits dikeluarkan oleh Abu Dawud)

Tangan bertumpu di lantai (tempat sujud)

    setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertumpu di lantai saat bangkit ke roka’at kedua.
    (Hadits dikeluarkan oleh Al-Bukhari)

> Bangkit dari duduk tasyahhud awwal (dari raka’at kedua) dengan mengangkat kedua tangan seraya bertakbir seperti di takbiratul ihram.

Mengangkat tangan saat takbir

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat bangkit dari duduknya mengucapkan takbir, setelah itu berdiri
    (Hadits dikeluarkan oleh Abu Ya’la)


DUDUK TASYAHHUD AWWAL DAN TASYAHHUD AKHIR

Tasyahhud awwal dan duduknya merupakan kewajiban di sholat

 

Tempat melakukannya

Duduk tasyahhud awwal terdapat hanya di sholat yang jumlah roka’atnya lebih dari dua (2), di sholat wajib dilakukan di roka’at yang ke-2. Sedang duduk tasyahhud akhir dilakukan di roka’at yang terakhir. Masing-masing dilakukan Seusai sujud yang kedua.

tutorial duduk tasyahhud awwal dan tasyahhud akhir
Waktu tasyahhud awwal duduknya iftirasy (duduk diatas telapak kaki kiri)

Tuntunan shalat lengkap serta dalil - dalilnya

sedang di tasyahhud akhir duduknya tawaruk (duduk dengan kaki kiri dihamparkan kesamping kanan dan duduk diatas lantai),

Tuntunan shalat lengkap serta dalil - dalilnyaTuntunan shalat lengkap serta dalil - dalilnya


di masing-masing Letak kaki kanan ditegakkan.

    Dari Abi Humaid As-Sa’idiy mengenai sifat sholat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia berkat, “Maka apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di dua roka’at (-tasyahhud awwal) beliau duduk diatas kaki kirinya dan apabila duduk di roka’at yang akhir (-tasyahhud akhir) beliau majukan kaki kirinya dan duduk di tempat kedudukannya (lantai dll).”
    (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Abu Dawud)

Letak tangan saat duduk

Untuk kedua tutorial duduk Itu tangan kanan ditaruh di paha kanan sambil berisyarat dan/atau menggerak-gerakkan jari telunjuk dan penglihatan ditujukan kepadanya, sedang tangan kirinya ditaruh/terhampar di paha kiri.

Tuntunan shalat lengkap serta dalil - dalilnya

    Dari Ibnu ‘Umar berkata Rasulullahi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila duduk didalam shalat meletakkan dua tangannya di dua lututnya dan mengangkat telunjuk yang kanan lalu berdoa dengannya sedang tangannya yang kiri diatas lututnya yang kiri, beliau hamparkan padanya.”
    (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Muslim dan Nasa-i).

Berisyarat dengan telunjuk, Bisa digerakkan Bisa tak
Selama menjalankan duduk tasyahhud awwal ataupun tasyahhud akhir, berisyarat dengan telunjuk kanan, disunnahkan menggerak-gerakkannya. terkadang di suatu sholat digerakkan di sholat lain boleh juga tak digerak-gerakkan.

    “setelah itu beliau duduk, maka beliau hamparkan kakinya yang kiri dan menaruh tangannya yang kiri atas pahanya dan lututnya yang kiri dan ujung sikunya diatas paha kanannya, setelah itu beliau menggenggam jari-jarinya dan membuat satu lingkaran setelah itu mengangkat jari beliau maka aku lihat beliau menggerak-gerakkannya berdo’a dengannya.”
    (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasa-i).

    “Dari Abdullah Bin Zubair bahwasanya ia menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berisyarat dengan jarinya saat berdoa dan tak menggerakannya.”
    (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Abu Dawud).

Membaca do’a At-Tahiyyat dan Shalawat

Do’a tahiyyat ini ada beberapa versi, untuk hendaklah dipilih yang kuat dan lafadhznya belum ditambah-tambah. Disorientasi satu contoh riwayat yang bagus Yaitu Bagaikan berikut:

    Berkata Abdullah : “Kami apabila shalat di belakang nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keselamatan atas jibril dan mikail keselamatan atas si fulan dan si fulan maka rasulullah berpaling kepada kami. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : sesungguhnya Allah itu As-salam maka apabila shalat hendaklah kalian itu mengucapkan:

     
Tuntunan shalat lengkap serta dalil - dalilnya

 “AT-TAHIYYAATU LILLAHI WAS SHOLAWATU WAT THAYYIBAAT, AS-SALAMU’ALAIKA AYYUHAN NABIY WA RAHMATULLAHI WA BARAKATUHU, AS-SALAAMU ‘ALAINA WA ‘ALAA ‘IBAADILLAHIS SHALIHIN. ASYHADU ALLAA ILAHA ILLALLAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA RASULUHU”

    artinya: segala kehormaatan, shalawat dann kebaikan kepunyaan Allah, semoga keselamatan terlimpah atasmu wahai Nabi dan juga rahmat Allah dan barakah-Nya. Kiranya keselamatan tetap atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang shalih; -di karenakan sesungguhnya apabila kalian mengucapkan sudah mengenai semua hamba Allah yang shalih di langit dan di bumi- Aku bersaksi bersaksi bahwa tak ada ilah yang haq selain Allah dan aku bersaksi bahwasanya Muhammmad itu hamba daan utusan-Nya.
    (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Al Bukhari).

    Dari Ka’ab bin Ujrah berkata : “Maukah aku hadiahkan kepadamu sesuatu ? Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada kami, maka kami berkata : ‘Ya Rasulullah kami sudah tahu bagaimana tutorial mengucapkan salam kepadamu, lantas bagaimana kami wajib bershalawat kepadamu? Beliau berkata : ucapkanlah:

Tuntunan shalat lengkap serta dalil - dalilnya

    “ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI MUHAMMAD KAMAA SHALLAITA ‘ALAA AALI IBRAHIIM, INNAKA HAMIIDUM MAJIID. ALLAAHUMMA BAARIK ‘ALAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI MUHAMMAD KAMAA BARAKTA ‘ALAA AALI IBRAHIIM, INNAKA HAMIIDUM MAJIID.”

    artinya: “Ya Allah berikanlah Shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah membagikan shalawat kepada keluarga Ibarahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung. Ya Allah berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkati keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung.”

Berdo’a berlindung dari empat (4) hal.

Hal ini dilakukan di duduk tasyahhud akhir aja.

    …..Apabila kita telah selesai bertasyahhud akhir maka…
    (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Ahmad, Muslim, Abu Dawud dan Ibnu Majah)

supaya tak menyalahi riwayat -hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam- ini maka di tasyahhud awwal bacaannya berhenti hingga membaca sholawat di Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedang ta’awudz (berlindung dari 4 hal) ini dibaca hanya saat tasyahhud akhir.

    Dari Abu Hurairah berkata; berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Apabila kita telah selesai bertasyahhud maka hendaklah berlindung kepada Allah dari empat (4) hal, dia berkata:

Tuntunan shalat lengkap serta dalil - dalilnya

    “ALLAAHUMMA INNII A’UUDZUBIKA MIN ‘ADZAABI JAHANNAMA WA MIN ‘ADZAABIL QABRI WA MIN FITNATIL MAHYAA WAL MAMAAT WA MIN FITNATIL MASIIHID DAJJAAL.”

    artinya: “Ya Allah! Aku berlindung kepada-Mu dari siksa jahannam, siksa kubur, fitnahnya Hayati dan mati serta fitnahnya Al-Masiihid Dajjaal.”
    (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Al-Bukhari dan Muslim dengan lafadhz Muslim)

Berdo’a dengan do’a/permohonan lainnya

    …setelah itu (supaya) dia memilih do’a yang dia kagumi/senangi…
    (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Ahmad dan Al-Bukhari)


SALAM

Salam selaku Asterik berakhirnya gerakan sholat, dikerjakan di Letak duduk tasyahhud akhir sehabis membaca do’a minta perlindungan dari 4 fitnah atau tambahan do’a lainnya.

 

    “Kunci sholat merupakan bersuci, pembukanya takbir dan penutupnya  Yaitu mengucapkan salam.”
    (Hadits dikeluarkan dan disahkan oleh Al Imam Al-Hakim dan Adz-Dzahabi)

Caranya

Dengan menolehkan wajah ke kanan seraya mengucapkan do’a salam lalu ke kiri.

    Dari ‘Amir bin Sa’ad, dari bapaknya berkata: Saya melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi salam ke sebelah kanan dan sebelah kirinya hingga terlihat putih pipinya.
    (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Ahmad, Muslim dan An-Nasa-i serta ibnu Majah)

    Dari ‘Alqomah bin Wa-il, dari bapaknya, ia berkata: Aku sholat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka beliau membaca salam ke sebelah kanan (menoleh ke kanan): “As Salamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.” Dan kesebelah kiri: “As Salamu’alaikum Wa Rahmatullahi.”
    (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Abu Dawud)

Macam-macam Bacaan Salam

terkadang-terkadang beliau membaca:


Tuntunan shalat lengkap serta dalil - dalilnya
     
 As Salamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh- As Salamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh

atau

Tuntunan shalat lengkap serta dalil - dalilnya

    As Salamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh- As Salamu’alaikum Wa Rahmatullahi
    (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah)

atau

Tuntunan shalat lengkap serta dalil - dalilnya
     
As Salamu’alaikum Wa Rahmatullahi- As Salamu’alaikum Wa Rahmatullahi (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Muslim)

atau

Tuntunan shalat lengkap serta dalil - dalilnya
      
As Salamu’alaikum Wa Rahmatullahi- As Salamu’alaikum
    (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Ahmad dan An-Nasa-i)

atau

Tuntunan shalat lengkap serta dalil - dalilnya

    As Salamu’alaikum dengan sedikit menoleh ke kanan tanpa menoleh ke kiri
    (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Al-Baihaqi dan Ath-Thabrani)

Gerakan yang dilarang

Sering terlihat orang yang mengucapkan salam sewaktu menoleh ke-kanan dibarengai dengan gerakan telapak tangan dibuka setelah itu sewaktu menoleh ke kiri tangan kirinya di buka. Gerakan tangan Itu dilarang oleh shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    “Kenapa kita menggerakkan tangan kita semacam gerakan ekor kuda yang lari terbirit-birit dikejar binatang buas? Apabila seseorang diantara kita mengucapkan salam, hendaklah ia berpaling kepada temannya serta tak wajib menggerakkan tangannya.” [saat mereka sholat lagi bersama-Serupa Rasullullah, mereka tak mengerjakannya lagi]. (di riwayat yang lain diterangkan: “Seseorang diantara kita cukup meletakkan tangannya di atas pahanya, lalu ia mengucapkan salam dengan berpaling kepada saudaranya yang di sebelah kanan dan saudaranya di sebelah kiri).
    (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Muslim, Abu ‘Awanah, Ibnu Khuzaimah dan At-Thabrani).

Wallahu ta`ala a`lam 
Lihat juga Nama – Nama Indah Bayi lelaki Islami

Tuntunan shalat lengkap serta dalil – dalilnya

Facebook Comments

Leave a Reply