Home Hakikat Makrifat Syeikh Junaid al-Baghdadi

Syeikh Junaid al-Baghdadi

37
0

Syeikh Junaid al-Bagdadi (830-910 M) Yaitu Disorientasi satu tokoh besar untuk Persia, beliau Yaitu mistikus Muslim, atau ulama sufi beragama Islam dan merupakan pusat tokoh di rantai emas banyak sufi. Al-Junaid Yaitu Disorientasi seorang sufi terkemuka di samping seorang ahli fiqih. di fiqih beliau bermadzhab kepada Imam Abu Tsaur. Di kalangan sufi Al-Junaid dikenal Bagaikan pemuka dan pimpinan mereka dengan gelar Sayyid ath-Thaifah ash-Shûfiyyah.
Awal pendidikan Al-Junaid dimulai dengan Berguru ilmu pengetahuan agama di pamannya sendiri, Sari Al-Saqati, yang juga dikenal Bagaikan seorang sufi yang sangat luas ilmu pengetahuannya, lalu kepada al-Harits al-Muhasibi, Muhammad ibn al-Qashshab al-Baghdadi, dan sufi terkemuka lainnya. saat usianya 20 tahun, Al-Junaid Berawal Dari Berguru hadits dan fiqh di Abu Thawr, sorang faqih kondang di Baghdad. Seusai mempelajari hadits dan fiqh, Al-Junaid beralih menekuni tasawuf, sekalipun sebenarnya dia sudah Berawal Dari mengenal ajaran tasawuf sejak berumur 7 tahun di bawah bimbingan Sari Al-Saqati. Selain itu Junaid kecil juga Berguru sufisme dari siapa aja sehingga pengetahuan sufismenya semakin hari bertambah luas. saat dewasa Bisa dibilang ilmu Al-Junaid di sufisme telah cukup matang.
Al-Junaid Yaitu seorang sufi yang cerdas, mempunyai pikiran cemerlang dan selalu Genjah tanggap di menghadapi segala situasi dan kondisi. Analisisnya terhadap berbagai masalah yang diajukan kepadanya sangatlah tajam, sehingga sering membuat para pendengarnya terkagum-kagum. Padahal sifat dan kemampuannya ini sudah tampak sejak masa kanak-kanak. Kedudukannya di antara para sufi sangatlah terhormat, bahkan Sari Al-Saqati sendiri Sempat mengakuinya. di riwayat dinyatakan, saat seseorang bertanya di Sari Al-Saqati, “Apakah seorang murid Bisa mencapai tingkat yang lebih tinggi dari gurunya di tasawuf?” Sari Al-Saqati menjawab, “Tentu aja Bisa, lantaran ada banyak bukti yang menunjukkan hal Itu. Ketahuilah bahwa tingkat tasawuf Al-Junaid itu sesungguhnya lebih tinggi dari tingkat yang Sempat kucapai.”
Pengalaman Syekh Junaid
Syekh Junaid al-Baghdadi pergi untuk jalan-jalan keluar Baghdad. Murid-murid mengikutinya.
Syekh bertanya bagaimana kabar bahlul yang gila ?
Mereka menjawab, “Dia Yaitu orang gila, apa yang kita perlukan dari dia?”
“bawalah aku ke dia, di karenakan aku ada wajib dengan nya.”
Para murid Menelusuri Bahlul dan menemukannya di padang pasir. Mereke membawa Syekh Junaid kepadanya, saat Syekh Junaid pergi mendekati Bahlul, Beliau melihat Bahlul di keadaan gelisah dengan batu bata ada dibawah kepalanya (Letak kepala dibawah)
Syekh mengucapkan salam
Bahlul menjawab dan bertanya, “Siapakah kita? ”
” Saya Junaid Baghdadi.”
Bahlul bertanya, “Apakah kita Abul Qosim?”
“Ya, betul !” jawab Syekh
Bahlul bertanya lagi ” Apakah kita Syekh Baghdadi yang membagikan orang-orang Petunjuk spiritual? ”
“Ya!” setelah itu Bahlul bertanya ” Tahukah kita bagaimana tips makan?”
“Ya!” Saya mengucapkan Bismillah (Dengan mengucap nama Allah SWT). Saya makan yang paling dekat dengan saya, Saya mengambil gigitan kecil, meletakkannya di Hepotenusa kanan dari mulut saya, dan mengunyah pelan-pelan. Saya tak nampak ke gigitan yang lain. Saya mengingat Allah SWT di makan. Untuk sebutir apapun yang saya makan, Saya mengucap Alhamdulillah (Segala puji untuk Allah SWT). Saya mencuci tangan sebelum dan sesudah makan.”
Bahlul berdiri, menggerakkan pakaiannya di Syekh, dan berkata, ” kita ingin Jadi pemimpin spiritual Global tapi kita tak pun mengetahui bagaimana tips makan.” Seusai mengucapkannya, dia langsung pergi.
Para Murid Syekh berkata, “O Syekh! Dia orang yang gila. ”
Syekh menjawab, Dia Yaitu orang gila yang sangat pandai di berucap. dengarkan pernyataan yang benar dari nya.
Seusai mengucapkan Beliau pergi dibelakang Bahlul, dan berkata, ” Saya ada wajib dengan Bahlul.”
saat Bahlul mencapai bangunan yang berdebu, dia duduk. Junaid mendekatinya.
Bahlul bertanya, “Siapakah kita?”
” Syekh Baghdadi yang tak mengetahui bagaimana tips makan.”
” kita tak mengetahui bagaimana makan, tapi apakah kita tahu bagaimana berbicara?”
“Ya”
” Bagaimana kita berbicara ?”
” Saya berbicara dengan cara Generik dan langsung di inti masalah. Saya tak berbicara terlalu tinggi atau terlalu banyak. Saya berbicara sehingga para pendengar Bisa mengerti. Saya memanggil semua orang di Global untuk kembali ke Allah dan RasulNya. Saya tak berbicara terlalu banyak sehingga semua orang akan bosan. Saya memperhatikan kedalaman pengetahuan spiritual dan yang Generik.
setelah itu dia menggambarkan apapun yang Herbi dengan Adab dan etika
Bahlul berkata, “Lupakan soal makan, kita pun tak mengetahui bagaimana berbicara.”
Bahlul berdiri, menggerakkan pakaiannya di Syekh dan pergi
Para murid berkata, “O Syekh! kita lihatkan, dia orang yang gila. Apa yang kita harapkan dari orang yang gila!”
Syekh berkata, ” Saya ada wajib dengan dia. Kalian tak tahu.”
Sekali lagi Beliau pergi Seusai Bahlul hingga Beliau menjumpainya.
Bahlul bertanya, “Apa yang kita inginkan dari saya? kita yang tak mengetahui Adab makan dan bicara, apakah kita mengetahui bagaimana tips untuk tidur?”
” Ya, saya tahu.”
” Bagaimana tips tidur?” Bahlul bertanya
” saat saya selesai sholat Isya’ dan membacakan permohonan, saya pakai baju tidur saya.”
setelah itu beliau menggambarkan adab-adab tidur yang sudah diterima oleh beliau dari Orang-orang yang telah Berguru agama.
Bahlul setelah itu berkata : ” Saya mengerti bahwa kita pun tak mengetahui juga bagaimana untuk tidur.”
Dia ingin berdiri, tapi Junaid menangkap memegang pakaian nya dan berkata, O Bahlul! Saya tak mengetahuinya; Demi kecintaan kepada Allah SWT ajari saya.
Bahlul berkata ” kita mengklaim pengetahuan dan berkata bahwa kita tahu sehingga Saya mencegah kita. sekarang kita mengakui ketiadaan pengetahuan kita, Saya akan mengajari kita.”
“Tahu apapun yang kita utarakan itu Yaitu tak penting.”
” Kebenaran dibalik memakan Boga yang kita makan menurut hukum Yaitu sepotong demi sepotong. bila kita makan Boga yang dilarang juga, dengan seratus adab, hal itu tak akan menguntungkan kita, tapi Bisa Jadi alasan untuk menghitamkan hati.”
” Semoga Allah memberkati kita pahala yang sangat besar.” ucap Syekh.
Bahlul melanjutkan, Hati haruslah Higienis, dan mempunyai niat yang bagus sebelum kita Berawal Dari bicara. dan pembicaraan kita haruslah menyenangkan Allah SWT. bila itu untuk segala urusan Global atau pekerjaan yang sia-sia, maka apapun yang kita ekspresikan, akan Jadi Bala untuk kita. Itulah sebabnya diam dan tenang Yaitu yang terbaik.”
“Apapun yang kita ucapkan mengenai tidur juga tak penting. Kebenarannya Yaitu bahwa hati kita seharusnya bebas dari permusuhan, cemburu, dan kebencian. Hati kita seharusnya tak rakus untuk Global ini atau kekayaannya, dan ingatlah Allah SWT saat akan tidur.
Syekh Junaid setelah itu mencium tangan Bahlul dan berdoa untuk nya.
Para murid yang menyaksikan kejadian ini, dan yang telah berfikir bahwa Bahlul gila, melupakan tindakannya dan memulai Hayati baru.
Imam Abul Qosim Al-Junaid r.a. bercerita :
Sekali peristiwa saat aku pergi naik haji ke Baitullah Al-Haram, dan juga untuk menziarahi maqam Nabi Saw, sedang aku di perjalanan Futuristis kesana, tiba tiba terdengar oleh telinga ku suatu suara rintihan yang sangat menyayat hati, yang di Asumsi ku tentulah suara itu datangnya dari hati seorang yang remuk redam.
Aku pun Menelusuri cari dari mana datangnya sumber suara itu, dan ternyata bahwa rintihan itu keluar dari mulut seorang pemuda yang sangat kurus, lemah, namun wajahnya bercahaya terang seperti bulan. Saya mendekatinya, ia Mengakses matanya dan langsung mengucapkan ..Assalamu’alaikum, ya Abul Qosim!!..
Wa’alaikumussalam! Jawab ku penuh keheranan….Nak, siapakah yang memberitahukan nama ku di mu, Padahal kita belum Sempat mengenal satu Serupa lain ? Aku bertanya kepadanya..
Wahai Abul Qosim ! Saya telah mengenali bapak sejak dialam Roh. Dan Allah lah yang membagikan nama bapak kepada ku. Demi Allah, wahai Abul Qosim, Seandainya aku sudah mati, maka mandikan dan bungkuslah aku dengan baju yang aku pakai ini, dan naiklah ke bukit itu, lalu panggillah orang orang untuk menyalati ku, lalu tanamlah aku ditempat ini pula ! Hanya Allah lah yang akan membalas segala kebaikan bapak.
Berkata Abul Qosim Al-Junaid lagi menyambung ceritanya :
setelah itu aku lihat anak muda tadi penuh berkeringat dahinya sehingga membasahi seluruh wajahnya, suaranya semakin menekan, barang kali, kerana kesakitan….di di itu ia Sempat berpesan lagi, katanya:
Wahai Abul Qosim! Seusai kita selesai menunaikan haji mu, dan sudah mau kembali ke negeri mu, hendaklah kita Futuristis Dulu ke Bagdad, dan tanyakan lah orang orang disana mengenai kampung Darb Za’faran. Seusai tiba dikampung itu, tanyakan pula mengenai ibu ku dan putra ku serta sampaikanlah salam kepada mereka!…. Baiklah, jawab ku.
Anak muda itu setelah itu merintih makin lama makin lemah, dan tak lama sesudah itu pulanglah ia ke rahmatullah dengan tenangnya, Padahal wajahnya tampak semakin bercahaya. Saya pun memandikannya, setelah itu mengafankannya dengan bajunya. Sesudah itu saya naik keatas bukit dan berseru dengan suara keras sekali: wahai orang orang sekalian ! marilah kita bersama Serupa menyalati mayat asing ini!.
Tiba tiba datanglah beribu ribu orang dari segenap penjuru, seperti ulat layaknya, sedang wajah wajah mereka bagaikan terangnya cahaya bulan purnama. Kami pun turut bersama menyalati mayat itu, setelah itu menguburkannya. Seusai selesai penguburan mayat itu, maka dengan serta merta pula, hilanglah ribuan orang orang tadi dengan cara mendadak dan tanpa ada bekasnya. Saya benar benar keheranan atas kejadian itu, juga atas kemuliaan mayat yang tak saya kenal sebelumnya.
Seusai selesai ibadat haji, saya Genjah pergi ke Bagdad, dan terus Futuristis ke kampung Darb Za’faran. Seusai menemukannya tampak dilorong lorong kecil kampung itu ada anak anak sedang bermain main. Tiba tiba seorang dari antara mereka memandang tajam kepadaku, seraya mendekati ku dan berkata:
Assalamu’alaikum, ya Abul Qosim! Mungkin kedatangan tuan untuk untuk memberitahu mengenai kematian ayah ku, agaknya ?
Hati ku terkejut mendengar pertanyaan anak kecil itu. Ah, alangkah tepatnya apa yang dikatakan, Padahal ia masih demikian kecil. Ia setelah itu menuntun ku ke suatu rumah, lalu mengetuk pintunya. Seorang wanita tua Mengakses pintu, dan alangkah terangnya wajah wanita tua itu, dan alangkah salihah ia tampaknya. Saya mengucapkan salam kepadanya . Ia pun Genjah membalasnya, lalu menangis terisak isak. setelah itu ia bertanya: Wahai Abul Qosim !
Dimanakah tempat kematian anak ku, dan cahaya mataku. Moga moga ia mati di Arafah? Jawabku, tak!…..apakah di Mina?…… jawabku, tak!…. di Muzdalifah? …. jawabku tak…..
Demisioner dimana? Tanya ibu itu, Di padang pasir, dibawah pohon ghailan? jawab : Ya,
Mendengar berita itu ia menjerit keras seraya berkata: oh anak ku! Oh anak ku! Suaranya bercampur tangisan yang sungguh menyayat hati semua orang yang disitu. Oh! Anak ku ! Oh anak ku! Mengapa tak disampaikannya ke rumah Nya (Baitullah), atau dibiarkanNya aja ia dengan kami? Ibu itu terus sesak dadanya, dan saat itulah ia menghembuskan nyawanya meninggalkan Global yang fana ini, kembali ke rahmatullah, moga moga Allah mencucuri rahmat atas rohnya.
Berkata Al-Junaid seterusnya :
Melihat neneknya telah meninggal Global, anak kecil itu pun mendekati mayatnya sambil menangis terisak isak. setelah itu menengadah kearah langit seraya berdoa:
Ya Allah, ya Tuhan ku Mengapa Engkau tak ambil aku bersama Serupa nenek ku ! Ya Allah, lebih bagus Engkau ambil aku untuk pergi bersama Serupa mereka berdua!… Dengan tiba tiba aja sesaklah dada anak kecil itu, dan ia pun menghembuskan nafasnya yang terakhir, moga moga Allah merahmati mereka sekalian.
Saya benar benar tercengang menyaksikan segala peristiwa yang baru berlaku tadi itu, dan saya kira alangkah bahagianya keluarga itu. Saya merawati jenazah itu bersama dengan tetangga mayat itu dangan sempurna dan bagus.
Seusai kami menguburkan jenazah jenazah itu, maka dangan hati yang penuh sedih dan iba, saya meninggalkan kubur kubur mereka!
Syekh Junaid al-Baghdadi Yaitu peletak dasar untuk mistisisme sadar di kontras dengan yang mabuk-Sufi Allah seperti al-Hallaj, Abu yazid Bustami dan Abu sa’id Abu al-khair. di proses persidangan al-Hallaj, mantan murid, Khalifah waktu itu yang diminta fatwa dan ia mengeluarkan ini fatwa : “Dari penampilan luar dia mati dan kita menilai sesuai dengan penampilan luar dan Tuhan yang tahu” lebih bagus. Dia disebut oleh para Sufi Bagaikan Taifa ut-Sayyid Yaitu pemimpin kelompok.
Imam Junaid juga seorang ahli perniagaan yang berjaya. Beliau mempunyai suatu gedung perniagaan di kota Baghdad yang ramai pelanggannya. Bagaikan seorang guru sufi, beliau tidaklah disibukkan dengan menguruskan perniagaannya sebagaimana setengah peniaga lain yang kaya raya di Baghdad.
Waktu perniagaannya sering disingkatkan seketika kerana lebih mengutamakan pengajian anak-anak muridnya yang dahaga ilmu pengetahuan. Apa yang mengkagumkan ialah Imam Junaid akan menutup kedainya Seusai selesai mengajar murid-muridnya. setelah itu beliau balik ke rumah untuk beribadat seperti solat, membaca Al-Qur’an dan berzikir.
Setiap malam beliau berada di masjid besar Baghdad untuk menyampaikan kuliahnya. Ramai penduduk Baghdad datang ke masjid untuk mendengar kuliahnya sehingga penuh sesak.
Imam Junaid Hayati di keadaan zuhud. Beliau ridha dan bersyukur kepada Allah SWT dengan segala nikmat yang dikaruniakan kepadanya. Beliau tak Sempat berangan-angan untuk Menelusuri Harta duniawi dari sumber pekerjaannya Bagaikan peniaga.
Beliau akan membagi-bagikan sebagian dari keuntungan perniagaannya kepada golongan fakir miskin, peminta dan orang-orang tua yang lemah.
Bertasawuf Empati Sunnah Rasulullah saw
Imam Junaid seorang yang berpegang kuat kepada Al-Qur’an dan as-Sunnah. Beliau senantiasa merujuk kepada Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Saw di setiap pengajiannya.
Beliau Sempat berkata:
“Setiap jalan tertutup, kecuali untuk mereka yang senantiasa mengikuti perjalanan Rasulullah saw. Siapa yang tak menghafal al-Quran, tak menulis hadis-hadis, tak boleh dijadikan ikutan di bidang tasawuf ini.”
Imam Junaid mempunyai beberapa kelebihan dan karamah, Antaranya ialah berpengaruh kuat setiap kali menyampaikan kuliahnya. Kehadiran murid-muridnya di masjid, bukan aja terdiri daripada orang-orang biasa malah semua golongan meminatinya.
Masjid-masjid sering dipenuhi oleh ahli-ahli falsafah, ahli kalam, ahli fiqih, ahli tasawuf, ahli politik dan sebagainya. Namun begitu, beliau tak Sempat angkuh dan bangga diri dengan kelebihan Itu.
Diuji Dengan Seorang Wanita Cantik
Setiap insan yang ingin mencapai keridhaan Allah selalunya menerima ujian dan cobaan. Imam Junaid menerima ujian daripada beberapa orang musuhnya Seusai pengaruhnya meluas. Mereka telah membuat fitnah untuk menjatuhkan popularitas Imam Junaid.
Musuh-musuhnya telah bekerja keras menghasut khalifah di masa itu supaya membenci Imam Junaid. Namun usaha mereka untuk menjatuhkan kemasyhuran Imam Junaid tak sukses.
Musuh-musuhnya berusaha berbuat sesuatu yang boleh memalukan Imam Junaid. di suatu hari, mereka menyuruh seorang wanita cantik untuk memikat Imam Junaid. Wanita itu pun mendekati Imam Junaid yang sedang tekun beribadat. Ia mengajak Imam Junaid supaya menjalankan perbuatan terkutuk.
Namun wanita cantik itu hanya dikecewakan oleh Imam Junaid yang sedikitpun tak mengangkat kepalanya. Imam Junaid meminta pertolongan dari Allah supaya terhindar daripada godaan wanita itu. Beliau tak suka ibadahnya diganggu oleh sesiapa. Beliau melepaskan satu hembusan nafasnya ke wajah wanita itu sambil membaca kalimah Lailahailallah. Dengan takdir Tuhan, wanita cantik itu rebah ke bumi dan mati.
Khalifah yang mendapat tahu kematian wanita itu telah memarahi Imam Junaid kerana menganggapnya Bagaikan suatu perbuatan jenayah.
Lalu khalifah memanggil Imam Junaid untuk membagikan Elaborasi di atas perbuatannya. “Mengapa engkau telah membunuh wanita ini?” tanya khalifah.
“Saya bukan pembunuhnya. Bagaimana pula dengan keadaan tuan yang diamanahkan Bagaikan pemimpin untuk melindungi kami, akan tetapi tuan berusaha untuk meruntuhkan amalan yang telah kami lakukan selama 40 tahun,” jawab Imam Junaid.

Asy-Syibli, anggota istana yang angkuh, pergi ke Al-Junaid, Menelusuri pengetahuan sejati. Katanya, “Aku dengar bahwa engkau mempunyai karunia pengetahuan. Berikan, atau juallah padaku.”
Al-Junaid berkata, “Aku tak Bisa menjualnya padamu, di karenakan engkau tak mempunyai harganya. Aku tak membagikan padamu, di karenakan yang akan kau miliki terlalu murah. Engkau wajib membenamkan diri ke di air, seperti aku, supaya memperoleh mutiara.”
“Apa yang wajib kulakukan?” tanya asy-Syibli.
“Pergilah dan jadilah penjual belerang.”
Setahun berlalu, al-Junaid berkata padanya, “Engkau maju Bagaikan pedagang. Sekarang Jadi darwis, jangan Jadi apa pun selain mengemis.”
Asy-Syibli menghabiskan satu tahun mengemis di jalanan Baghdad, tanpa keberhasilan. Ia kembali ke Al-Junaid, dan sang Guru berkata kepadanya:
“untuk umat manusia, kau sekarang ini bukan apa-apa. Biarkan mereka bukan apa-apa bagimu. Dulu engkau Yaitu gubernur. Kembalilah sekarang ke propinsi itu dan cari setiap orang yang Dulu kau tindas. Mintalah maaf di mereka.” Ia pergi, menemukan mereka semua kecuali seorang, dan mendapatkan Grasi merdka.
Sekembalinya asy-Syibli, Al-Junaid berkata bahwa ia masih merasa dirinya penting. Ia menjalani tahun berikutnya dengan mengemis. Uang yang diperoleh, setiap senja dibawa ke Guru, dan diberikan kepada orang miskin. Asy-Syibli sendiri tak mendapat Boga hingga pagi berikutnya.
Ia diterima Bagaikan murid. Setahun sudah berlalu, menjalani Bagaikan pelayan untuk murid lain, ia merasa Jadi orang paling rendah dari seluruh makhluk.
Ia memakai ilustrasi Disparitas antara kaum Sufi dan orang yang tak Bisa diperbaiki lagi, dengan Menyebut hal-hal yang tak Bisa dipahami masyarakat luas.
Suatu hari, di karenakan bicaranya tak jelas, ia telah diolok-olok Bagaikan orang gila di masyarakat, oleh para pengumpat.
Dia berkata:
untuk pikiranmu, aku gila. untuk pikiranku, engkau semua bijak. Maka aku berdoa untuk melonjakkan kegilaanku
Dan melonjakkan kebijakanmu ‘Kegilaanku’ dari kekuatan Cinta;
Kebijakanmu dari kekuatan ketidaksadaran.
Syekh Junaid mempunyai anak didik yang amat ia senangi. Santri-santri Junaid yang lain Jadi iri hati. Mereka tak Bisa mengerti mengapa Syeikh memberi perhatian Eksklusif kepada anak itu.
Suatu di, Junaid menyuruh semua santrinya untuk membeli ayam di pasar untuk setelah itu menyembelihnya. Namun Junaid memberi syarat bahwa mereka wajib menyembelih ayam itu di tempat di mana tak ada yang Bisa melihat mereka. Sebelum matahari terbenam, mereka wajib Bisa menyelesaikan tugas itu.
Satu demi satu santri kembali ke hadapan Junaid, semua membawa ayam yang telah tersembelih. Akhirnya saat matahari tenggelam, murid muda itu baru datang, dengan ayam yang masih Hayati. Santri-santri yang lain menertawakannya dan Menyebut bahwa santri itu tak Bisa melaksanakan perintah Syeikh yang begitu mudah.
Junaid lalu meminta setiap santri untuk menceritakan bagaimana mereka melaksanakan tugasnya. Santri pertama berkata bahwa ia telah pergi membeli ayam, membawanya ke rumah, lalu mengunci pintu, menutup semua jendela, dan membunuh ayam itu. Santri kedua bercerita bahwa ia membawa pulang seekor ayam, mengunci rumah, menutup jendela, membawa ayam itu ke kamar mandi yang gelap, dan menyembelihnya di sana. Santri ketiga berkata bahwa ia pun membawa ayam itu ke kamar gelap tapi ia juga menutup matanya sendiri. Dengan itu, ia fikir, tak ada yang Bisa melihat penyembelihan ayam itu. Santri yang lain pergi ke hutan yang lebat dan terpencil, lalu memotong ayamnya. Santri yang lain lagi Menelusuri gua yang amat gelap dan membunuh ayam di sana.
Tibalah giliran santri muda yang tak sukses memotong ayam. Ia menundukkan kepalanya, malu di karenakan tak Bisa menjalankan perintah guru, “Aku membawa ayam ke rumahku. Tapi di rumahku tak ada tempat di mana Dia (Allah) tak melihatku. Aku pergi ke hutan lebat, tapi Dia (Allah) masih bersamaku. Bahkan di tengah gua yang teramat gelap, Dia (Allah) masih menemaniku. Aku tak Bisa pergi ke tempat di mana tak ada yang melihatku, aku merasa dimanapun dan kapanpun aku berada disitu selalu ada Dia (Allah). Demikian jawaban dari santri muda Itu.
Tasawuf Syekh Junaid al-Baghdadi
Al-Junaid barkata, “Tasawuf Yaitu bersama dengan Tuhan tanpa pertalian dengan apapun.” Melalui definisi ini, sebenarnya Al-Junaid ingin menyatakan bahwa sufisme merupakan tips atau sarana Futuristis Tuhan dan bersatu dengan kehendak-Nya. Padahal pengertian yang demikian ini, dihasilkan dari kesadaran akan adanya suatu jurang yang sangat lebar memisahkan manusia dari Tuhan. Sehingga sufisme, dimaksudkannya untuk menjembatani jurang Itu.
Dengan perantaraan sufisme, manusia Bisa mendekati-Nya, bahkan Bisa bersatu di di-Nya. supaya Bisa mencapai persatuan Itu, manusia wajib mampu memisahkan ruhnya dari semua sifat kemakhlukan yang Inheren di dirinya. bila hal ini Bisa dilaksanakan, niscaya tujuan untuk mendekati Tuhan dan bersatu di di-Nya akan tercapai.
Namun demikian, Al-Junaid juga menyatakan bahwa, “Sufisme Yaitu suatu keadaan yang di dalamnya terdapat kehidupan manusia.” Dan saat ditanya apakah sifat itu sifat manusia atau sifat Tuhan? Al-Junaid menjawab, “Esensinya memang merupakan sifat Tuhan, namun Citra lahiriahnya Yaitu sifat manusia.” Melalui definisi ini, Al-Junaid ingin menggambarkan bahwa sesungguhnya di diri manusia telah dihiasi dengan sifat Tuhan, sehingga kondisi tertinggi dari pengalaman sufistik yang dicapai seorang sufi berupa persatuannya dengan Tuhan, juga Bisa dilukiskan. di tingkat ini, seorang sufi akan Dehidrasi kesadarannya, tak lagi merasa mempunyai Interaksi dengan lingkungannya. Bahkan semua yang ada di sekitarnya tak lagi Jadi obyek pemikirannya, lantaran seluruh perhatiannya hanya tertuju kepada Tuhan. Sementara dengan hilangnya semua perhatian dan kesadarannya itu, maka dia otomatis sedang berada di tangan Tuhan.
Lebih jauh Al-Junaid menegaskan, bagaimanapun tingginya tingkatan yang telah dicapai, seorang sufi wajib tetap meyakini Keesaan Tuhan dan menjalankan perintah-Nya serta menjauhi Embargo-Nya sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunah Rasul.
di ajaran Sufi, delapan sifat wajib dilatih. Kaum Sufi mempunyai:
1. Kemurahan hati seperti Ibrahim a.s.;
2. Penerimaan yang tak bersisa sedikit pun dari Ismail a.s.;
3. Kesabaran, sebagaimana dimiliki Ya’kub a.s.;
4. Kemampuan berkomunikasi dengan simbolisme, seperti halnya Zakaria a.s.;
5. Pemisahan dari para pendukungnya sendiri, sebagaimana halnya Yahya a.s.;
6. Jubah wool seperti mantel gembala Musa a.s.;
7. Pengembaraan, seperti perjalanan Isa a.s.;
8. Kerendahan-hati, seperti Heroisme dari kerendahan hati Muhammad saw.
1. Ajaran Zuhud
Zuhud merupakan dasar dari segala ajaran yang terkandung di ajaran sufisme yang diyakini oleh para sufi. Yang merupakan langkah awal dari mereka yang menekuni tasawuf di usahanya untuk berada sedekat mungkin dengan Tuhan. Sehingga siapa aja yang tak sukses melalui tahap ini, maka niscaya tak akan Sempat sukses mencapai hal dan maqam sesudahnya.
Menurut Al-Junaid, “Zuhud Yaitu kosongnya tangan dari kepemilikan dan hati dari hal yang mengikutinya (ketamakan).” Dengan Perkataan lain, zuhud untuk Al-Junaid lebih merupakan sikap seorang sufi yang tak begitu terikat dengan duniawi. Namun bukan berarti zuhud itu menjauhi Global. Bahkan lebih jauh, pengertian zuhud ini melahirkan sikap kedermawanan dan suka bersedekah di orang yang membutuhkan.
Al-Junaid juga bertutur, “Seorang sufi tak seharusnya berdiam diri di masjid dan berdzikir aja tanpa bekerja untuk nafkahnya. Sehingga untuk menunjang kehidupannya, orang Itu menggantungkan dirinya hanya di pemberian orang lain.” untuk Al-Junaid, sifat dan sikap seperti itu sengatlah tercela, lantaran sekalipun sufi, orang Itu wajib tetap bekerja keras untuk menopang kehidupannya sehari-hari. bila sudah mendapat nafkah diharapkan mau menggunakannya di jalan Allah, Yaitu dengan mendermakan sebagian hartanya kepada siapa aja yang membutuhkan.
2. Ajaran Tawakal
Menurut Al-Junaid, “Hakikat tawakal Yaitu Jadi milik Tuhan seperti sebelum terjadi.” Pengertian ini berarti bahwa seorang yang bertawakal Jadi seperti saat belum diciptakan, Yaitu Bagaikan milik Tuhan. Dan lantaran dia kepunyaan-Nya, maka apapun yang akan diperbuat Tuhan terhadapnya, dia akan menerimanya. Junaid juga bertutur, “Bahwasannya kita wajib puas dengan Tuhan di segala keadaan, dan kita tak mengharapkan sesuatu yang lain kecuali Tuhan.”
3. Ajaran Mahabbah
Junaid bertutur mengenai mahabbah, “Mahabbah Yaitu masuknya sifat-sifat yang Dicintai ke di diri yang mencintai, Bagaikan ganti dari sifat-sifat yang mencintai.” Maksudnya Yaitu bila seorang sufi telah benar-benar jatuh cinta kepada Tuhan, maka perhatiannya hanya akan tertuju di-Nya. Tiada lagi perasaan yang tertuju kepada hal-hal lain yang masih tertinggal di dirinya. di di yang Serupa, dia akan menjadikan tempat di segala sudut di hatinya, hanya untuk Tuhan.
Namun demikian, semua ini hanya akan terjadi apabila diawali dengan menghilangkan sifat-sifat yang ada di dirinya Bagaikan makhluk, dengan meyakini esensi Tuhan yang kekal. Lantaran saat sifat-sifat kemanusiaannya hilang, di di itulah dia akan terhiasi oleh sifat-sifat Tuhan yang dicintai-Nya. bila sufi Itu masih merasakan sifat-sifat kemakhlukan di dirinya, niscaya dia tak akan Bisa menghayati Estetika Tuhan yang dicintainya. akan tetapi bila dia tahu bahwa Estetika Tuhan hanya Bisa dicapai dengan usaha yang tekun dan pertolongan-Nya, maka ia pasti akan berusaha untuk meraihnya, sekalipun untuk itu, dia wajib menghilangkan sifat-sifat dirinya. Sehingga dengan demikian, mahabbah yang sejati di Tuhan akan terwujud.
4. Ajaran Mushahadah
Mushahadah berarti menyaksikan atau lebih jelasnya, “Melihat Tuhan dengan mata hati, tanpa keraguan sedikitpun, bagaikan melihat-Nya dengan mata kepala.” Hal ini berarti bahwa di ajaran sufisme, seorang sufi di keadaan Eksklusif akan Bisa melihat Tuhan dengan mata hatinya. Sehingga boleh Jadi, hanya untuk mereka, Tuhan itu Bisa dilihat. Menurut Al-Junaid, Tuhan hanya Bisa dilihat melalui mata hati, bukan dengan mata kepala. Sehingga seandainya Tuhan Bisa dilihat dengan mata kepala di akhirat nanti, maka Al-Junaid pun tak ingin melakukannya.
Al-Junaid bertutur, “Apabila Tuhan berkata kepadaku: Lihatlah Aku, aku akan menjawab: Aku tak Bisa melihat Engkau ya Allah. Lantaran di cinta, mata Yaitu sesuatu yang lain selain Tuhan dan makhluk. Kecemburuan di yang lain akan menjagaku dari melihat-Nya. Selain itu, saat di Global aku telah biasa melihat-Nya tanpa perantaraan mata kepala, maka bagaimana aku wajib memakai perantaraan seperti itu di akhirat nanti.”
5. Ajaran Mithaq
Menurut Al-Junaid, yang dimaksud dengan mithaq Yaitu perjanjian yang terjadi antara Tuhan dengan ruh, sebelum dia masuk ke di tubuh manusia. Dimana akad ini terjadi saat ruh Itu diciptakan-Nya di masa azali.
6. Ajaran mengenai Fana dan Baqa
Kontribusi Junaid terhadap tasawuf banyak, ide dasar berurusan dengan kemajuan yang menyebabkan orang untuk “memurnahkan” diri (fana) sehingga berada di serikat lebih dekat dengan Ilahi. Orang wajib “melepaskan keinginan alam, untuk menghapus atribut manusia, untuk membuang motif egois, untuk menumbuhkan kualitas spiritual, untuk mengabdikan diri kepada pengetahuan yang benar, untuk menjalankan apa yang terbaik di konteks keabadian, keinginan bagus untuk seluruh masyarakat, wajib benar-benar beriman kepada Allah, dan mengikuti Nabi di hal syariat “. Ini dimulai dengan praktek penolakan (zuhud) dan berlanjut dengan penarikan dari masyarakat, konsentrasi intensif di Darma (Ibadat) & mengingati (zikir) Allah, ketulusan (Ikhlas), dan kontemplasi (muraqaba) masing-masing; kontemplasi menghasilkan fana. Jenis “perjuangan semantik” recreates pengalaman persidangan (bala) yang penting di tulisan-tulisan Junaid. Hal ini memungkinkan orang untuk masuk ke di keadaan fana. Junaid membagi atas keadaan fana Jadi tiga bagian: “
1) yang meninggal dari atribut seseorang melalui upaya terus-menerus menentang ego-diri sendiri (nafs);
2) berlalu dari perasaan seseorang mengenai prestasi, Yaitu berlalu dari “kita membagi Disorientasi satu padang pasir manis dan kenikmatan ketaatan‘; dan
3) lewat jauh dari visi mengenai Empiris” dari ekstansi kita Bagaikan Asterik nyata mengalahkan kita’ “.
Semua tahapan ini membantu seseorang untuk mencapai fana. Ini Yaitu melalui tahap baqa yang satu Bisa menemukan Tuhan – atau lebih tepatnya, mempunyai Allah menemukan dirinya. Menjangkau baqa bukanlah hal yang mudah dilakukan meskipun; mendapatkan melalui tiga tahap membutuhkan disiplin yang ketat dan kesabaran. Bahkan ada perdebatan antara ulama, apakah tahap ketiga dimungkinkan untuk dicapai. Junaid membantu mendirikan “sadar” sekolah pemikiran sufi, yang berarti bahwa dia sangat logis dan ilmiah mengenai definisi mengenai berbagai kebajikan, Tauhid, dll. Tasawuf dicirikan oleh orang-orang yang Pengalaman fana dan tak Hayati di keadaan penyerapan tanpa pamrih di Tuhan akan tetapi menemukan diri mereka kembali ke indera mereka oleh Allah. Kembali Itu dari pengalaman demikian dilarutkan mementingkan diri Bagaikan diri baru. Bagaikan contoh, Junaid Menyebut, “Air mengambil warna dari cawan itu.” Meskipun ini mungkin tampak agak membingungkan di awalnya, ‘Abd al-Hakeem Carney jelaskan lebih bagus: kita dituntun Futuristis konsep penting dari ‘kapasitas,’ dimana penampakan Ilahi diterima oleh hati setiap orang menurut orang itu Eksklusif menerima kapasitas dan akan ‘berwarna’ oleh alam seseorang “. Seperti yang Bisa dilihat, seperti ungkapan yang sederhana mempunyai arti yang mendalam seperti; ia membawa pembaca kembali ke pemahaman yang lebih di Tuhan melalui metafora yang lebih bijaksana.
Fana dan baqa ini merupakan sesuatu yang kembar dan datang bersamaan, sehingga bila seseorang menemui fana (kesadaran diri hilang dan lenyap), maka bersamaan dengan itu muncul baqa (munculnya kesadaran akan kehadirannya di Hepotenusa Tuhan). Diri pribadi dengan segala sifatnya yang menyukai kesenangan dan keinginan duniawi, merupakan tabir penghalang untuk seorang sufi untuk mencapai persatuan dengan Tuhan. Sehingga semua penghambat Itu, wajib terlebih Dulu dihapuskan supaya Bisa mencapai puncak tertinggi dari sufisme. Atau dengan Perkataan lain, untuk mencapai persatuan di Tuhan, maka semua sifat kemakhlukan yang ada di diri manusia dan semua perasaan terhadap selain Tuhan, wajib dihilangkan terlebih Dulu. Sehingga saat hati benar-benar telah Higienis dan siap ditempati Tuhan, maka inilah yang dimaksud dengan fana, yakni hilangnya kesadaran atas diri pribadi.
7. Ajaran Tauhid
Menurut Al-Junaid, tauhid Yaitu, “Pengesaan yang qidam (kekal) dari yang hadath (baru atau diciptakan).” Dengan pengertian ini, Al-Junaid ingin menegaskan bahwa tauhid merupakan pengesaan Tuhan yang kekal (qidam) dari makhluk ciptaan-Nya yang baru (hadith). Pengesaan ini berarti pemisahan Tuhan dari segala makhluk-Nya, termasuk di dalamnya pemisahan dari manusia.
8. Ajaran Makrifat
Menurut Al-Junaid, marifat Yaitu kesadaran akan adanya ketidaktahuan (kebodohan) saat pengetahuan mengenai Tuhan datang. Melalui definisi ini, dia ingin menyatakan bahwa di hakikatnya manusia itu berada di ketidaktahuan mengenai hakikat Tuhan. Dimana keadaan yang demikian ini, baru disadarinya saat datang makrifat kepadanya. di di itu, dia akan mendapatkan pengetahuan mengenai hal-hal yang berkenaan dengan Tuhan yang sebelumnya tak Sempat diketahuinya.
Makrifat atau pengetahuan mengenai Tuhan, akan Bisa dicapai oleh seorang sufi, di keadaan fana tertinggi. Dimana di di itu, segala sifat Manusia yang ada di dirinya hilang seketika. Semua keinginannya di benda-benda duniawi terhapus. Kesadaran akan dirinya lenyap, digantikan oleh kesadaran akan kedekatannya di Tuhan. Padahal yang masih tinggal di dirinya hanyalah perasaan akan bersatunya ruh dirinya di Tuhan. Dan di titik itulah sesungguhnya makrifat ini muncul menguasai dirinya. Di mana Tuhan dengan segala rahmat-Nya telah berkenan menganugerahkan makrifat itu kepadanya.
Makrifat menurut Al-Junaid merupakan milik Tuhan, yang hanya didapatkan melalui Dia dan akan ada bersama dengan-Nya sendiri.
9. Sahw (Kembali di Kesadaran)
di sufisme, istilah sahw Yaitu kembalinya seorang arif (sufi) di kesadarannya, Seusai sebelumnya menemui ghaybah (fana) dan Dehidrasi kesadarannya. Al-Junaid jelaskan masalah sahw ini Bagaikan berikut, “Tuhan mengembalikan sufi kepada keadaannya semula, Yaitu supaya dia Bisa jelaskan bukti-bukti dari rahmat Tuhan kepadanya. Sehingga cahaya anugerah-Nya akan tampak gemerlap melalui pengembalian di sifat-sifatnya Bagaikan manusia. Dengan demikian hal ini menjadikan masyarakat menghargai dan tertarik kepadanya.”
Sahw ini merupakan tahap terakhir Seusai seorang sufi menemui fana dan baqa. di kondisi inilah ujian sebenarnya bahwa seorang sufi wajib mampu kembali kepada kesadarannya dengan hati yang telah disucikan oleh Allah. Para sufi ini wajib mampu menyucikan hatinya dengan cara terus-menerus di kesadaran manusia sehingga dia benar-benar Jadi yang mencintai dan dicintai Allah.
Junaid percaya bahwa Sufisme Yaitu jalan untuk elit untuk mencapai Allah, bukan orang biasa. “Tasawuf,” katanya, “Yaitu untuk membersihkan jantung dari setiap keinginan mengikuti jalan orang-orang Generik”.
Abu Ali ar-Raudzabari berkata: “Saya mendengar Al-Junaid berkata kepada orang yang Menyebut bahwa ahli ma’rifat Bisa hingga kepada suatu keadaan yang tak lagi baginya untuk berbuat apapun, –Artinya menurutnya orang Itu boleh meninggalkan pekerjaan-pekerjaan yang telah diwajibkan, Al-Junaid berkata kepadanya: “Ini Yaitu Ungkap kaum yang berpendapat segala perbuatan-perbuatan akan gugur. Dan ini bagiku Yaitu sesuatu yang sangat berbahaya. Seorang pelaku zina dan seorang yang mencuri jauh lebih bagus dari di orang mempunyai pendapat seperti itu. Sesungguhnya, orang-orang yang ‘Ârif Billâh Yaitu mereka yang mengerjakan seluruh pekerjaan sesuai perintah Allah, di karenakan hanya kepada-Nya pekerjaan-pekerjaan itu kembali. Andaikan aku Hayati dengan umur 1000 tahun, dan aku tak meninggalkan kebaikan sedikitpun selama umur Itu, maka kebaikan itu tak akan dianggap oleh Allah kecuali apabila sesuai dengan apa yang telah diperintahkannya. Inilah keyakinan yang terus memperkuat ma’rifat-ku dan memperkokoh keadaanku”.
Sejak kecil, Al-Junaid terkenal Bagaikan seorang anak yang cerdas, sehingga sangat mudah dan Genjah Berguru ilmu-ilmu agama dari pamannya. di karenakan kecerdasannya itu, saat berumur tujuh tahun, Al-Junaid telah diuji oleh gurunya dengan suatu pertanyaan mengenai makna syukur. Kehidupan Al-Junaid al-Baghdâdî, di samping Bagaikan seorang sufi yang senantiasa mengajarkan ilmunya kepada murid-muridnya, ia juga Bagaikan pedagang barang-barang pecah belah di pasar tradisional. Selesai berdagang, beliau pulang ke rumah dan mampu mengerjakan salat di waktu sehari semalam sebanyak empat ratus rakaat.
Al-Junaid al-Baghdâdî Yaitu seorang sufi yang mempunyai prinsip tak kenal Frustasi asa. Terbukti, misalnya di ibadah, bagus di kala sehat ataupun sakit, ia senantiasa konsisten melaksanakannya; bahkan, di keadaan sakit, ia merasa semakin dekat dengan Allah. selain itu, Al-Junaid mempunyai sifat tegas di pendirian. Ini terlihat saat ia menandatangani surat kuasa untuk menghukum mati muridnya sendiri, Husain ibn Mansur Al-Hallaj (w. 309/ 922 M), sufi pencetus al-hulûl. di surat kuasa itu, ia menulis dengan tegas, “Berdasarkan syari’at, ia (al-Hallaj) bersalah, akan tetapi menururt hakikat, Allah Yang Maha Mengetahui”.
di masa-masa hidupnya, Al-Junaid menghadapi kendala di mengajarkan tasawufnya, terutama dari kaum ortodok. di karenakan perlawanan mereka terhadap para sufi yang terjadi saat itu, maka Al-Junaid menjalankan praktik-praktik spiritual dan mengajari murid-muridnya di balik pintu terkunci. Dari surat-suratnya atau risalah-risalah singkatnya dan keterangan dari para sufi serta penulis biografi sufi sesudahnya, Bisa dipandang bahwa jalan Hayati Al-Junaid merupakan perjuangan yang permanen untuk kembali ke “Sumber” segala sesuatu, yakni Tuhan.
untuk Al-Junaid, cinta spiritual (mahabbah) berarti bahwa, “Sifat-sifat Yang Dicintai menggantikan sifat-sifat si pencinta”. Al-Junaid memusatkan semua yang ada di pikirannya, semua kecenderungannya, kekagumannya, dan semua Asa dan ketakutannya, hanya kepada Allah SWT. Untuk itulah, dengan paham-paham ketasawufannya, ia sering dipandang Bagaikan seorang syekh sufi yang kharismatik di kota Bahgdad. Banyak tarekat sufi yang silsilahnya melalui Al-Junaid. Paham dan amalan tasawuf Al-Junaid ini banyak digali dari pengalaman-pengalaman ketasawufannya; namun demikian, konsep-konsep pemikiran tasawufnya masih belum tersusun dengan cara sistematis, akan tetapi lebih banyak dijelaskan lewat ungkapan-ungkapan verbalnya.
Dari ungkapan-ungkapan itulah Bisa dipahami konsep tasawufnya. Misalnya, saat ia jelaskan mengenai tasawuf yang dijalaninya, ternyata ia peroleh dari pengalaman kezuhudan dan kesederhanaannya terhadap Global. di hal ini, Sai’id Hawwa Sempat mengutip pernyataan Al-Junaid, yang mengungkapkan, “Kami tak mengambil tasawuf dari pembicaraan atau Perkataan-Perkataan, melainkan dari lapar dan keterlepasan dari Global ini, dan dengan meninggalkan hal-hal yang sudah biasa dan kami senangi”. Sikap Hayati fakir dan keterlepasan dari kemewahan Global Jadi penting di kehidupan sufistik menurut Etos Al-Junaid .
Al-Junaid memandang tasawuf Bagaikan jalan kearifan manusia di menjalankan hidupnya. di hal ini ia Sempat ditanya mengenai orang yang disebut ârif (sufi) Bagaikan berikut, “Siapakah orang ârif (sufi) itu?” Ia menjawab, orang ârif Yaitu orang yang tak terikat oleh waktu.” Kehidupan tasawuf yang dilakukan seseorang merupakan jalan penyucian hati dan jalan kekhusyukan untuk mengingat Dia. Ungkap Al-Junaid yang Herbi dengan hal ini Yaitu: “Tuhan menyucikan “hati” seseorang menurut kadar khusyuknya di mengingat dia. Al-Junaid Menyebut :”Sabar itu meneguk kepahitan tanpa cemberut muka.” Selain itu, Al-Junaid al-Baghdâdî juga mempunyai pemikiran mengenai bast (rasa lapang) dan qabd (rasa kecut). Bast yang dimaksud Yaitu istilah tasawuf yang berarti suasana kelapangan Heroisme melalui Asa atau kegembiraan rohani akan datangnya rahmat Allah. Di kalangan para sufi, bast dan qabd merupakan kelanjutan dari raja’ (harap) dan khauf (takut), yang keduanya merupakan tips untuk meminta perlindungan dari Tuhan. Untuk melihat bagaimana bast dan qabd Bagaikan kelanjutan dari raja’ dan khauf ini, Bisa disimak ungkapan yang dikemukakan Al-Junaid Bagaikan berikut: “Takut (khauf) kepada Allah membuatku Jadi qabd, dan harap (raja’) kepada-Nya membuatku manjadi bast. Dengan al-haqiqah (hakikat) Dia mempersatukanku dengan eksistensi kemanusiaanku. bila Dia membuatku qabd dan khauf, Dia menghancurkan eksistensi kemanusiaanku. Apabila Dia membuatku bast dan raja’, Dia mengembalikan eksistensi kemanusiaanku. bila Dia mengumpulkanku dengan al-haqiqah, Dia menghadirkanku. bila Dia memisahkanku dengan Al-Haqq (Tuhan), Dia menyaksikanku di eksistensi yang lain. Maka saat itu aku di kedaan gelap gulita, dan Jadi tak sadarkan diri. saat itu Dialah yang Yang Maha Tinggi yang menggerakkanku tanpa mendiamkanku dan Dia yang membuatku takut dan cemas tanpa membuatku merasakan adanya belaian Afeksi. saat eksistensi kemanusiaanku hadir, aku merasakan keberadaanku. Dan saat eksistensi kemanusiaanku lepas, aku merasa hancur tak sadarkan diri.” Al-Junaid al-Baghdâdî yang terkenal dengan julukan sayyid at-ta’ifah (sesepuh kaum sufi), jelaskan bahwa cinta murni itu tercapai Seusai adanya proses transformasi sifat-sifat yang dicintai di diri pencinta dengan cara total.

Loading...

Dari kutipan-kutipan di atas, maka jelas sekali tasawuf Al-Junaid berlandaskan Al-Qur’an dan hadits. Ia menjauhi praktek yang bertentangan dengan syariat Islam. Adapun dasar-dasar pemikiran Al-Junaid mengenai tasawuf Yaitu Bagaikan berikut:
1. Seorang sufi wajib meninggalkan kelakuan dan sifat-sifat yang buruk dan menjalankan budi pekerti yang bagus, sesuai dengan ajaran-ajaran tasawuf yang selalu mengajarkan sifat-sifat bagus dan meninggalkan bidi pekerti yang jelek.
2. Ajaran tasawuf Yaitu ajaran-ajaran yang Bisa memurnikan hati manusia dan mengajarkan sifat-sifat bagus dan meninggalkan sifat-sifat alamiah yang Bisa merusak kesucian Heroisme, menahan manusia dari godaan jasmani, mangambil sifat-sifat ruhani, mengingatkan diri di ilmu hakikat, mengingat Allah SWT. dan rasul-Nya, Muhammad SAW.
3. Memalingkan perhatian dari urusan duniawi kepada urusan ukhrawi. untuk orang beriman, meninggalkan pergaulan dengan sesama (manusia) masih mudah dan berpaling kepada Allah sulit. Ternyata berpaling dari nafsu lebih sulit lagi. Untuk itu, melawan nafsu Yaitu sangat penting untuk mendekatkan diri kepada Allah. di hal ini, al-Hujwiri mengutip bahwa Al-Junaid Sempat ditanya, “apakah persatuan dengan Tuhan?” dia menjawab, “meniadakan hawa nafsu,” di karenakan di antara semua tindakan ibadah yang diridhai Tuhan, tiada yang lebih besar nilainya dari di menundukkan hawa nafsu. Menghancurkan gunung lebih mudah untuk seorang manusia dari di menundukkan hawa nafsunya.”
4. Manusia wajib berpegang teguh kepada tauhid, termasuk di bertasawuf. Arti tauhid, menurut Al-Junaid, Yaitu mengesakan Allah SWT. dengan sesempurna-Nya. Bahwa sesungguhnya Allah itu esa, tak beranak dan tak pula diperanakkan, tak berjumlah dan tak pula tersusun, dan tak satupun yang menyerupai-Nya, Dia Maha Mendengar, Dia Maha Melihat dan Maha Tunggal, dan seterusnya.
5. orang sufi wajib Bisa menjalankan tiga syarat amalan, Yaitu:
(a) melazimkan dzikr dengan cara kontinu yang disertai himmah dan dengan kesadaran yang penuh;
(b) mempertahankan tingkat kegairahan atau semangat yang tinggi;
(c) senantiasa melaksanakan syari’at yang ketat dan tepat di kehidupan sehari-hari.
Sebab itu, di soal berpegang teguh di syari’at, maka Al-Junaid seperti dikutip Sa’id Hawwa, Sempat menuduh orang yang menjadikan wusul (mencapai) Allah Bagaikan tindakan untuk melepaskan diri dari hukum-hukum syari’ah. di persoala ini dengan tegas ia menyatakan, “Betul mereka hingga, akan tetapi ke neraka Saqar.” Imam Malik bin Anas, pendiri madzhab fiqih Sempat berkata, “Barang siapa mendalami fiqih tanpa bertasawuf ia fasik, barang siapa yang mendalami tasawuf tanpa mendalami fiqih ia zindiq, dan barang siapa yang menjalankan keduanya ia ber-tahaqquq (meraih kebenaran).”
Jadi, tasawuf merupakan hal yang mesti, Bisa dijadikan Bagaikan penyempurna fiqih. Begitu juga fiqih, Bisa Jadi koridor tasawuf dan kaidah pengendali amal di mengarah kepada-Nya. bila Disorientasi satu dari dua disiplin ilmu Itu hilang, itu berarti separuh telah tiada.
Dikatakan bahwa para sufi di masanya, al-junaid Yaitu seorang sufi yang mempunyai wawasan luas terhadap ajaran tasawuf, mampu membahas dengan cara mendalam, Eksklusif mengenai paham tauhid dan fana`. di karenakan itulah dia digelari Imam Kuam Sufi (Syaikh al-Ta`ifah); sementara al-Qusayiri di di kitabnya al-Risaalah al-Qusyairiyyah menyebutnya Tokoh dan Imam kaum Sufi.
Al-Junaid juga menandaskan bahwa tasawuf berarti “Allah akan menyebabkan mati dari dirimu sendiri dan Hayati di di-Nya.” Peniadaan diri ini oleh Junaid disebut fana`, suatu istilah yang mengingatkan kepada ungkapan Qur`ani “segala sesuatu akan binasa kecuali wajah-Nya (QA. 55:26-27); dan Hayati di sebutannya baqa`. Al-Junaid menganggap bahwa tasawuf merupakan penyucian dan perjuangan kejiwaan yang tak ada Demisioner-habisnya. Disamping al-Junaid menguraikan paham tauhid dengan karakteristik para sufi, dia juga mengemukakan ajaran-ajaran tasawuf lainnya.
Junaid Al-Baghdadi: Simbol Keharmonisan Tasawuf dan Syariat
Rubrik Hujjatul Tak hanya tasawuf, ia juga menguasai sejumlah bidang ilmu pengetahuan.Ajaran Islam tak hanya berbicara masalah fikih, ibadah, dan akhlak. Di dalamnya, juga dibahas mengenai masalah tasawuf, yakni pendekatan diri kepada Allah melalui pemahaman yang lebih mendalam dengan hati. Istilah tasawuf ini sebenarnya sudah berkembang sejak masa Rasulullah SAW di Madinah. Dulu di Masjid Nabawi terdapat sekelompok orang yang disebut dengan ahlus suffah . di karenakan itu, ada yang menyebutkan bahwa tasawuf mempunyai akar Perkataan dari  suffah . Namun menurut lainnya, tasawuf berasal dari Perkataan  shafa atau  shufi yang berarti suci atau Higienis. di perkembangannya, praktik-praktik tasawuf baru meledak di abad ketiga Hijriyah. Menurut Dr Abu Al Wafa At Taftazani di bukunya  Madkhal Ila At Tasawwuf al Islami, abad ketiga Hijriyah merupakan titik tolak dan sejarah penting untuk perkembangan tasawuf Islam. Al-Qusyairi dan Ibnu Khaldun jelaskan, Perkataan tasawuf sudah Sempat digunakan sebelum abad kedua Hijriyah, akan tetapi di abad ketigalah istilah tasawuf Berawal Dari dipergunakan dengan cara luas. Pendapat Abu Al Wafa cukup berasalan. Sebab di itulah tasawuf yang semula sebatas dipahami Bagaikan implementasi terhadap makna zuhud, Berawal Dari bergeser Jadi suatu paradigma, gerakan, dan olah rasa di kalangan para pegiatnya. Meski masih ditafsirkan dengan cara sederhana, di periode ketiga Hijriyah muncul teori-teori sufi, seperti hulul, fana, dan tauhid. Selain itu, sejumlah tarekat sufi juga Berawal Dari menjamur. Ada Tarekat Al-Qashariyah, At-Thaifuriyyah, Al-Kharraziyah, An-Nuriiyah, dan Al-Hallajiyyah. Disorientasi satu tokoh yang mempunyai andil besar di proses transformasi tasawuf di abad ketiga Yaitu Imam Junaid.
Benturan Etos para pengikut tasawwuf dan ahli fikih di abad ketiga ini merisaukan Al Junaid. Mengapa wajib dipertentangkan. Bukankah ajaran tasawwuf itu bersumber dari ajaran nabi. Begitu pula dengan fikih. Maka hendaknya kedua tips pandang yang cenderung hakikat-centris dan yang cenderung legalit-centris, dikompromikan. di hal ini, Al Junaid Menyebut,

علمنا هذا مقيد بالكتاب والسنة من لم يقرأ القرآن ويكتب الحديث لا يقتدى به في علمنا هذا

“Ilmu (tasawwuf) kami ini dilandasi oleh Al Quran dan As Sunnah, barang siapa tak membaca Al Quran dan menulis As Sunnah, maka ucapannya tak Bisa diikuti di ilmu kami ini”
Frase Ilmuna merujuk di pengalaman dan pengetahuan yang didapatkan melalui perjalanan spiritual. Pengetahuan yang terkadang sulit dijelaskan oleh nalar manusiawi. Sehingga kadangkala dampak dari ilmu Itu terbilang aneh untuk orang biasa. Semua merujuk di tingkat ekstasie Eksklusif di diri sufi yang tak Bisa dijelaskan dengan cara nalar. Namun hal itu memang benar mereka rasakan. Mereka seperti masuk di ruang tanpa batas. Pengetahuan mengenai yang supra-gaib. Sehingga muncul sikap radikal dan liberal di pemikiran tasawwuf. Radikalisme dan liberalisme tasawwuf Bisa kita amati di fenomena ittihad dan hulul. Keduanya mempunyai kesamaan di menafikan Empiris konkret manusia.
Keliaran pemikiran semacam ini di Etos Al Junaid, tidaklah benar. Baginya, Global tasawwuf wajib tetap berpijak di Empiris konkret manusia. Pencapaian tertinggi di Global tasawwuf hanyalah hingga level mahabbah dan ma’rifah. Dengan demikian eksistensi konkret hamba (ubudiah) tetap terpisah dari eksistensi tuhan (uluhiah).
Menurut Al Junaid, syariat tetaplah penting di Futuristis mahabbah dan ma’rifah. Dari sini, gagasan Al Junaid setelah itu sangat kompatibel dengan pemikiran ahli fikih dan hadis. Dan inilah makna ucapan “dilandasi Al Kitab dan As Sunnah”.
Imam Junaid atau yang mempunyai julukan Abul Qosim ini Yaitu orang pertama yang menyusun dan membahasakan tasawuf, hingga tak jarang kitab-kitab tasawuf yang merujuk kepada ijtihad Imam Junaid. Dan beliau pulalah yang merangkum pertama kali Perkataan-Perkataan bijak Imam Abu Yazid al-Busthomi yang tak lain Yaitu guru beliau sendiri.
Al-Junaid di kenal di sejarah tasawuf Bagaikan seorang sufi yang banyak membahas mengenai tauhid. Pendapat-pendapatnya di masalah ini banyak diriwayatkan di kitab-kitab biografi para sufi, antara lain sebagaimana diriwayatkan oleh al-Qusyairi: Suatu saat al-Junaid ditanya mengenai pengertian tauhid. Dia menjawab: “Orang-orang yang mengesakan Allah (al-muwahhid) ialah mereka yang merealisasikan keesaan-Nya di arti sempurna, meyakini bahwa Dia Yaitu Yang Maha Esa, Dia tak beranak dan tak diperanakan, menafikan segala bentuk politeistik. Dia tak Bisa diserupakan, diuraikan, digambarkan dan dibuat contoh-Nya. Dia tanpa padanan dan Dia Yaitu zat yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.”
Pengertian tauhid yang diberikan al-Junaid di atas tak keluar dari pengertian yang diberikan oleh para teolog, sekalipun dia menguraikannya dari sudut pandang para sufi. Menurutnya, akal-budi tak mampu memahami itu. Sebab, “seandainya pemikiran para pemikir dicurahkan sedalam-dalamnya di masalah tauhid, pikiran itu akan berakhir dengan kebingungan.” Dan katanya pula: “Ungkapan terbaik mengenai tauhid Yaitu ucapan Abu Bakr al-Siddiq: Maha Suci Zat yang tak menjadikan jalan untuk makhluk-Nya untuk mengenal-Nya, melainkan ketidakmampuan mengenal-Nya.”
Pengertian tauhid, sebagaimana diberikan al-Junaid, bahwa ia mengandung unsur utama “pemisahan yang baqa’ dan fana’. Dengan menjadikan perjanjian azali Bagaikan titik tolak, seraya merujuk kepada al-Qur’an (QS. Al-‘An’am:164-168) menurut tafsiran sufi, ia memandang seluruh rangkaian sejarah ini Bagaikan upaya manusia di memenuhi perjanjian itu dan kembali ke ihwal asalnya. di suatu tafsir mengenai percakapan yang konon berlangsung antara manusia dan Tuhan Dulu kala, al-Junaid menulis: “di ayat ini Allah menerangkan kepadamu bahwa Dia berbicara kepada mereka di Masa tatkala mereka (anak-cucu Adam) belum maujud, tapi sudah maujud di diri-Nya. Kemaujudan ini bukanlah kemaujudan yang lazim dari ciptaan-ciptaan-Nya. Namun kemaujudan ini merupakan suatu kemaujudan yang hanya diketahui oleh Allah.
Tauhid yang hakiki menurut al-Junaid Yaitu buah dari fana’ terhadap semua yang selain Allah. di hal ini dia Menyebut: “Tauhid yang dengan cara Eksklusif dianut para sufi Yaitu pemisahan yang qidam dari yang hudus. saat jelaskan suatu hadis: “Manakala Aku mencintainya, maka aku menjadikannya mampu mencapai hal ini. Dialah yang menuntunnya dan mengaruniakan kepadanya hakikat dan kebenaran. Dengan demikian, ia Yaitu perbuatan Allah lewat dirinya.
Tauhid yang begini, menurut al-Junaid, Yaitu tauhid untuk kelompok Eksklusif. Misalnya al-Tusi di kitabnya Al-Luma’, menuturkan: “Suatu saat al-Junaid ditanya mengenai tauhid untuk kelompok Eksklusif (kaum khawas), jawabnya: Hendaklah seseorang Jadi pribadi yang berada di tangan Allah di mana segala kehendak-Nya berlaku untuk dirinya. Dan ini tak Bisa tercapai kecuali dengan membuat dirinya fana’ terhadap dirinya dan makhluk sekitarnya. Dengan sirnanya perasaan dan kesadarannya maka seluruhnya berlaku kehendak Allah SWT.
Al-Junaid memahami sepenuhnya bahwa pengalaman sufistik tak Bisa diuraikan dengan akal dan berbahaya untuk dibicarakan dengan cara terbuka mengenai rahasia terdalam dari iman dihadapan orang-orang awam (terutama sekali terhadap orang-orang yang memandang kegiatan para sufi dengan kecurigaan). Berdasarkan alasan inilah ia menolak al-Hallaj yang telah Jadi contoh mereka yang telah menjalani hukuman di karenakan telah berbicara dengan cara terbuka mengenai rahasia cinta dan penyatuan. Oleh karenanya, al-Junaid memperhalus seni bicara melalui isyarat suatu kecenderungan yang mula-mula diprakarsai oleh al-Kharraz. Surat-surat dan risalah-risalahnya ditulis dengan gaya samar-samar; bahasanya begitu padat sehingga sangat sulit dipahami oleh mereka yang tak terbiasa dengan tips khas pengungkapan sufistik. Bahasa yang indah itu lebih menutupi daripada membukakan makna sebenarnya.

Tasawuf di Etos Al Junaid

Dasar-dasar Tasawuf
“Kitab ini Yaitu Al-Qur’an Yaitu kitab paling mulia dan paling lengkap. Syariah
kita Yaitu Anggaran Hayati yang paling jelas dan paling rinci.
Tareqat kita, yakni jalan ahli tasawuf, dikuatkan dengan kitab dan sunnah.
Maka barang siapa belum mendalami al-Qur’an, memelihara Sunnah dan
memahami makna-maknanya tak boleh di ikuti.”
Ia juga berkata kepada sahabat-sabahatnya :
“Seandainya kita melihat seseorang terbang di udara maka janganlah kita
meyakininya hingga melihat perbuatannya berkaitan dengan perintah dan
Embargo Allah.
bila kita melihat ia menjalankan perintah-perintah Allah dan meninggalkan
Embargo-Embargo-Nya, maka kita boleh mempercayai dan mengikutinya.
akan tetapi bila kita melihat ia melanggar perintah dan Embargo itu maka jauhilah
dia.”
Lingkungan Agung Para Sufi
“Manakala Allah menghendaki kebaikan untuk seorang murid, Dia akan
membawanya ke lingkungan para Sufi dan menjauhkannya dari kaum ulama
pembaca buku.” Dikatakan kepada Abdullah bin Sa’id bin Kilab, “kita berbicara
Etos masing-masing ulama. Lalu di sana ada seorang tokoh yang
dipanggil dengan nama al-Junaid. Lihatlah, apakah kita kontra atau tak?”
Abdullah lalu menghadiri majlis al-Junaid.
Ia bertanya kepada al-Junaid mengenai tauhid, lalu Junaid menjawabnya. Namun
Abdullah kebingungan. Lantas kembali bertanya kepada al-Junaid, “Tolong kita ulang ucapan tadi bagiku!” Al-Junaid mengulangi, namun dengan ungkapan yang lain. Abdullah lalu berkata, “Wah, ini lain lagi, aku tak mampu menghafalnya. Tolonglah kita ulangi sekali lagi!” Lantas al-Junaid pun
mengulanginya, akan tetapi dengan ungkapan yang lain lagi. Abdullah berkata, “tak
mungkin bagiku memahami apa yang kita ucapkan. Tolonglah kita uraikan
untuk kami!” Al-Junaid menjawab, “Seandainya kita memperkenankannya, aku akan
menguraikannya.”
Lalu Abdullah berdiri, dan berkata akan keutamaan al-Junaid serta keunggulan
moralnya.
“Apabila prinsip-prinsip kaum Sufi merupakan prinsip paling sahih, dan para
syekhnya merupakan tokoh besar manusia, ulamanya Yaitu yang paling alim
di antara manusia.
untuk para murid yang tunduk kepadanya, apabila sang murid itu termasuk ahli
penempuh dan penahap tujuan mereka, maka para syekh inilah yang menjaga
apa yang teristimewa, berupa terbukanya kegaiban.
Karenanya, tak dibutuhkan lagi bergaul (terkait) dengan orang yang ada di luar
golongan ini.
apabila ingin mengikuti jalan Sunnah, sementara dirinya tak bersaing untuk
mahir di hujjah, lalu ingin mencapai peringkat bertaklid supaya Bisa hingga
di kebenaran, hendaknya ia bertaklid kepada ulama salafnya. Dan hendaknya
bersama jalan generasi Sufi ini, sebab, mereka lebih utama dari yang lain.”
Tasawuf, Ilmu Paling Mulia
Al-Junaid berkata, “bila kita mengetahui bahwa Allah swt. mempunyai ilmu di
bawah atap langit ini yang lebih mulia daripada ilmu tasawuf, dimana kita
berbicara di dalamnya dengan sahabat-sahabat dan teman kita, tentu aku akan
berjalan dan Futuristis ilmu tadi.”
Makna Hakikat Terdalam
“Tasawuf artinya Allah Menghentikan dirimu dari dirimu, dan menghidupkan dirimu
dengan-Nya.” Tasawuf Yaitu engkau berada semata-mata bersama Allah swt.
tanpa keterikatan apa pun.”
“Tasawuf Yaitu perang tanpa kompromi.” Dia berkata pula, “Para Sufi Yaitu
anggota dari satu keluarga yang tak Bisa dimasuki oleh orang-orang selain
mereka.” Selanjutnya dia juga jelaskan lagi, “Tasawuf Yaitu dzikir bersama, penyampain yang disertai bimbingan, dan tindakan yang didasari Sunnah.”
Metafora Kaum Sufi
“Kaum Sufi Yaitu seperti bumi, selalu semua kotoran dicampakkan kepadanya,
namun tak menumbuhkan kecuali segala tumbuhan yang bagus.” Dia juga
Menyebut, “Seorang Sufi Yaitu bagaikan bumi, yang di injak orang saleh
ataupun munafiq; juga seperti mendung, memayungi segala yang ada; seperti
air hujan, mengairi segala sesuatu.”
Dia melanjutkan, “bila engkau melihat seorang Sufi menaruh kepedulian kepada
penampilan lahiriahnya, maka ketahuilah wujud batinnya rusak.”
Meninggal Global
Akhirnya kekasih Allah itu telah menyahut panggilan Ilahi di 297 Hijrah. Imam Junaid telah wafat di Hepotenusa Abu Bakar As-Syibli, seorang daripada muridnya.
saat sahabat-sahabatnya hendak mengajar kalimat tauhid, tiba-tiba Imam Junaid Mengakses matanya dan berkata, “Demi Allah, aku tak Sempat melupakan kalimat itu sejak lidahku pandai berkata-Perkataan.”

Sumber Artikel ini dihimpun
dari berbagai sumber yang tak Bisa saya sebut satu persatunya. Salam Penulis: Irfanulloh Ba’sa

Syeikh Junaid al-Baghdadi

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here