Home Hakikat Makrifat SUNAN BONANG WALI SONGO WALI MASYHUR : SUNAN BONANG DAN PEMIKIRAN...

SUNAN BONANG WALI SONGO WALI MASYHUR : SUNAN BONANG DAN PEMIKIRAN SUFISTIKNYA (BAH 2)

27
0
WALI SEMBILAN NO 1

Tak seperti Sunan Giri yang lugas di fikih, ajaran Sunan Bonang memadukan ajaran ahlussunnah bergaya tasawuf dan garis salaf ortodoks. Ia menguasai ilmu fikih, usuludin, tasawuf, seni, sastra dan arsitektur. Masyarakat juga mengenal Sunan Bonang Bagaikan seorang yang piawai Menelusuri sumber air di tempat-tempat gersang.
Ajaran Sunan Bonang berintikan di filsafat ‘cinta’(‘isyq). Sangat mirip dengan kecenderungan Jalalludin Rumi. Menurut Bonang, cinta Serupa dengan iman, pengetahuan intuitif (makrifat) dan kepatuhan kepada Allah SWT atau haq al yaqqin. Ajaran Itu disampaikannya dengan cara populer melalui media kesenian yang disukai masyarakat. di hal ini, Sunan Bonang bahu-membahu dengan murid utamanya, Sunan Kalijaga.
Sunan Bonang banyak melahirkan karya sastra berupa suluk, atau tembang tamsil. Disorientasi satunya Yaitu “Suluk Wijil” yang tampak dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa’id Al Khayr (wafat di 899). Suluknya banyak memakai tamsil cermin, bangau atau burung Bahari. suatu pendekatan yang juga digunakan oleh Ibnu Arabi, Fariduddin Attar, Rumi serta Hamzah Fansuri.
Sunan Bonang juga menggubah gamelan Jawa yang di itu kental dengan estetika Hindu, dengan memberi nuansa baru.
Dialah yang Jadi kreator gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrumen bonang. Gubahannya saat itu mempunyai nuansa dzikir yang mendorong kecintaan di kehidupan transedental (alam malakut). Tembang “Tombo Ati” Yaitu Disorientasi satu karya Sunan Bonang.
di pentas pewayangan, Sunan Bonang Yaitu dalang yang piawai membius penontonnya. Kegemarannya Yaitu menggubah lakon dan memasukkan tafsir-tafsir khas Islam. Kisah perseteruan Pandawa-Kurawa ditafsirkan Sunan Bonang Bagaikan peperangan antara nafi (peniadaan) dan ‘isbah (peneguhan).
DI kalangan ulama Eksklusif mungkin peranan Sunan Bonang dianggap tak begitu menonjol dibanding wali-wali Jawa yang lain. akan tetapi apabila kita mencermati manuskrip-manuskrip Jawa lama peninggalan Masa Islam yang terdapat di Museum Leiden dan Museum Batavia (sekarang dipindah ke Perpustakaan Nasional), justru Sunan Bonang yang meninggalkan warisan karya tulis paling banyak, berisi pemikiran keagamaan dan budaya bercorak sufistik. Putra Raden Rahma alias Sunan Ampel, dan cucu Maulana Malik Ibrahim, yang nenek moyangnya berasal dari Samarkand ini, masih bersaudara dengan Sunan Giri, wali yang paling berpengaruh di Jawa Timur. Kedua bersaudara ini diperkirakan lahir di pertengahan abad ke-15 M, di di Kerajaan Majapahit sedang di ambang keruntuhan. Sunan Bonang (nama sebenarnya Makhdum Ibrahim bergelar Khalifah Asmara) wafat sekitar tahun 1530 M di Tuban, tempat kegiatannya terakhir dan paling lama, di masa jayanya Kerajaan Demak Darussalam.
Kedua wali itu dikenal Bagaikan pendakwah Islam yang gigih. Keduanya Serupa-Serupa Berguru di Malaka dan Pasai, baru setelah itu menunaikan ibadah haji di Mekah. Bedanya, bila Sunan Giri lebih condong di ilmu fiqih, syariah, teologi, dan politik; Sunan Bonang –tanpa mengabaikan ilmu-ilmu Islam yang lain– lebih condong di tasawuf dan kesusastraan. Sumber-sumber sejarah Jawa, termasuk suluk-suluknya sendiri menyatakan bahwa ia sangat aktif di kegiatan sastra, mistik, seni lakon, dan seni kriya. Dakwah melalui seni dan aktivitas budaya merupakan senjatanya yang ampuh untuk menarik penduduk Jawa memeluk agama Islam.
Bagaikan musikus dan komponis terkemuka, konon Sunan Bonang menciptakan beberapa komposisi (gending), di antaranya Gending Dharma. Gending ini dicipta berdasarkan wawasan estetik sufi, yang memandang alunan bunyi musik Eksklusif Bisa dijadikan sarana kenaikan Futuristis alam kerohanian. Gending Darma, konon, apabila didengar orang Bisa menghanyutkan Heroisme dan membawanya ke alam meditasi (tafakkur).
Penabuhan gending ini Sempat menggagalkan rencana perampokan gerombolan bandit di Surabaya. Manakala gending ini ditabuh oleh Sunan Bonang, para perampok itu terhanyut ke alam meditasi dan lupa akan rencananya menjalankan perampokan. Keesokannya pemimpin bandit dan anak buahnya menghadap Sunan Bonang, dan menyatakan diri memeluk Islam.
Sunan Bonang bersama Sunan Kalijaga dan lain-lain, jelas bertanggung jawab untuk perubahan arah estetika Gamelan. Musik yang semula bercorak Hindu dan ditabuh berdasarkan wawasan estetik Sufi. tak mengherankan gamelan Jawa Jadi sangat kontemplatif dan meditatif, berbeda dengan gamelan bali yang merupakan warisan musik Hindu. Warna sufistik gamelan Jawa ini lalu berpengaruh di gamelan Sunda dan madura
Sunan Bonang juga menambahkan instrumen baru di gamelan. Yaitu bonang (diambil dari gelarnya Bagaikan wali yang Mengakses pesantren pertama di Desa Bonang). Bonang Yaitu alat musik dari Campa, yang dibawa dari Campa Bagaikan hadiah perkawinan Prabu Brawijaya dengan Putri Campa, yang juga saudara sepupu Sunan Bonang. Instrumen lain yang ditambahkan di gamelan ialah rebab, alat musik Arab yang memberi suasana syahdu dan wajib apabila dibunyikan. Rebab, yang tak ada di gamelan Bali, sangat dominan di gamelan Jawa, bahkan didudukkan Bagaikan raja instrumen.
Bagaikan Imam pertama Masjid Demak, Sunan Bonang bersama wali lain, terutama murid dan sahabat karibnya Sunan Kalijaga, sibuk memberi warna lokal di upacara-upacara keagamaan Islam seperti Idul Fitri, perayaan Maulid Nabi, peringatan Tahun Baru Islam (1 Muharram atau 1 Asyura) dan lain-lain. Dengan memberi warna lokal maka upacara-upacara itu tak asing dan akrab untuk masyarakat Jawa.
Syair Islam pun akan mulus dan ajaran Islam mudah diresapi.Toh, menurut Sunan Bonang, kebudayaan Islam tak mesti kearab-araban. Menutupi aurat tak mesti memakai baju Arab, akan tetapi cukup dengan memakai kebaya dan kerudung.
Di antara upacara keagamaan yang diberi bungkus budaya Jawa, yang hingga di ini masih diselenggarakan ialah upacara Sekaten dan Grebeg Maulid. Beberapa lakon carangan pewayangan yang bernapas Islam juga digubah oleh Sunan Bonang bersama-Serupa Sunan Kalijaga.
Di antaranya Petruk Jadi Raja dan Layang Kalimasada.
Seusai berselisih paham dengan Sultan Demak I, Yaitu Raden Patah, Sunan Bonang mengundurkan diri Bagaikan Imam Masjid Kerajaan. Ia Berpindah ke desa Bonang, dekat Lasem, suatu desa yang kering kerontang dan miskin. Di sini ia mendirikan pesantren kecil, mendidik murid-muridnya di berbagai keterampilan di samping pengetahuan agama. Di sini pula Sunan Bonang banyak mendidik para mualaf Jadi pemeluk Islam yang teguh. Suluk-suluknya seperti Suluk Wujil, menyebutkan bahwa ia bukan aja mengajarkan ilmu fikih dan syariat serta teologi, melainkan juga kesenian, sastra, seni kriya, dan ilmu tasawuf. Tasawuf diajarkan kepada siswa-siswanya yang pandai, Jadi tak diajarkan kepada sembarangan murid.
Keahliannya di bidang geologi dipraktekkan dengan menggali banyak sumber air dan sumur untuk perbekalan air penduduk dan untuk irigasi pertanian Tanah kering. Sunan Bonang juga mengajarkan tips membuat terasi, di karenakan di Bonang banyak terdapat Ebi kecil untuk pembuatan terasi. hingga di ini terasi Bonang sangat terkenal, dan merupakan sumber penghasilan penduduk desa yang cukup penting.


Karya dan Ajaran

Karya Sunan Bonang, puisi dan prosa, cukup banyak. Di antaranya sebagaimana disebut B Schrieke (1913), Purbatjaraka (1938), Pigeaud (1967), Drewes (1954, 1968 dan 1978) ialah Suluk Wujil, Suluk Khalifah, Suluk Regok, Suluk Bentur, Suluk Wasiyat, Suluk Ing Aewuh, Suluk Pipiringan, Suluk Jebeng dan lain-lain. Satu-satunya karangan prosanya yang dijumpai ialah Wejangan Seh Bari. Risalah tasawufnya yang ditulis di bentuk dialog antara guru tasawuf dan muridnya ini telah ditranskripsi, mula-mula oleh Schrieke di buku Het Boek van Bonang (1913) disertai pembahasan dan terjemahan di bahasa Belanda, setelah itu disunting lagi oleh Drewes dan disertai terjemahan di bahasa Inggris yakni The Admonition of Seh Bari(1969).
Padahal Suluk Wujil ditranskripsi Purbatjaraka dengan pembahasan ringkas di tulisannya “Soeloek Woedjil: De Geheime leer van Soenan Bonang” (majalah Djawa no. 3-5, 1938). Melalui karya-karyanya itu kita Bisa memetik beberapa ajarannya yang penting dan relevan. Seluruh ajaran Tasawuf Sunan Bonang, Bagaikan ajaran Sufi yang lain, berkenaan dengan metode intuitif atau jalan cinta (isyq) pemahaman terhadap ajaran Tauhid; arti mengenal diri yang berkenaan dengan ikhtiar pengendalian diri, Jadi bertalian dengan masalah kecerdasan emosi; masalah kemauan murni dan lain-lain.
Cinta menurut Etos Sunan Bonang ialah kecenderungan yang kuat kepada Yang Satu, Yaitu Yang Mahaindah. di pengertian ini seseorang yang mencintai tak memberi tempat di yang selain Dia. Ini terkandung di kalimah syahadah La ilaha illa Llah. Laba dari cinta seperti itu ialah pengenalan yang mendalam (makrifat) mengenai Yang Satu dan perasaan haqqul yaqin (pasti) mengenai kebenaran dan keberadaan-nya. Apabila sudah demikian, maka kita dengan segala gerak-gerik hati dan perbuatan kita, akan senantiasa merasa diawasi dan diperhatikan oleh-Nya. Kita Jadi ingat (eling) dan waspada.
Cinta merupakan, bagus keadaan rohani (hal) ataupun peringkat rohani (maqam). Bagaikan keadaan rohani ia diperoleh tanpa upaya, di karenakan Yang Satu sendiri yang menariknya ke hadirat-Nya dengan membagikan antusiasme ketuhanan ke di hati si penerima keadaan rohani itu. Padahal Bagaikan maqam atau peringkat rohani, cinta dicapai melalui ikhtiar terus-menerus, antara lain dengan memperbanyak ibadah dan menjalankan mujahadah, Yaitu perjuangan batin melawan kecenderungan buruk di diri dikarenakan ulah hawa nafsu. Ibadah yang sungguh-sungguh dan latihan kerohanian Bisa membawa seseorang mengenal kehadiran rahasia Yang Satu di setiap aspek kehidupan.
Kemauan murni, Yaitu kemauan yang tak dicemari sikap egosentris atau mengutamakan kepentingan hawa nafsu, timbul dari tindakan ibadah. Kita wajib menjadikan diri kita masjid Yaitu, tempat bersujud dan menghadap kiblat-Nya, dan segala perbuatan kita pun wajib dilakukan Bagaikan ibadah. Kemauan mempengaruhi amal perbuatan dan perilaku kita. Kemauan bagus datang dari ingatan (zikir) dan pikiran (pikir) yang bagus dan jernih mengenai-Nya.
di Suluk Wujil, yang memuat ajaran Sunan Bonang kepada Wujil pelawak cebol terpelajar dari Majapahit yang berkat asuhan Sunan Bonang memeluk agama Islam sang — wali bertutur:
Jangan terlalu jauh Menelusuri Estetika
Estetika ada di diri
Malah jagat raya terbentang di diri
Jadikan dirimu Cinta
Supaya Bisa kau melihat Global (dengan jernih)
Pusatkan pikiran, heningkan cipta
Siang malam, waspadalah!
Segala yang terjadi di sekitarmu
Yaitu karena perbuatanmu juga
Kerusakan Global ini timbul, Wujil!
di karenakan perbuatanmu
Kau wajib mengenal yang tak Bisa binasa
Melalui pengetahuan mengenai Yang Sempurna
Yang langgeng tak lapuk
Pengetahuan ini akan membawamu Futuristis keluasan
Sehingga di akhirnya mencapai TuhanSebab itu, Wujil! Kenali dirimu
Hawa nafsumu akan terlena
Apabila kau menyangkalnya
Mereka yang mengenal diri
Nafsunya terkendali

Kelemahan dirinya akan tampak
Dan Bisa memperbaikinya

Dengan menyatakan `jagat terbentang di diri` Sunan Bonang ingin menyatakan betapa pentingnya manusia memperhatikan potensi kerohaniannya. Yaitu yang spiritual yang menentukan yang material, bukan sebaliknya. akan tetapi di karenakan pikiran manusia kacau, ia menyangka yang material semata-mata yang menentukan hidupnya. di karenakan potensi kerohaiannya inilah manusia diangkat Jadi khalifah Tuhan di bumi.


di Suluk Kaderesan, Sunan Bonang menulis:
Jangan meninggikan diri
Berlindunglah kepada-Nya
Ketahuilah tempat sebenarnya jasad ialah roh
Jangan bertanya
Jangan memuja para nabi dan wali-wali
Jangan kau mengaku Tuhan
.
di Suluk Ing Aewuh ia menyatakan:
Perkuat dirimu dengan ikhtiar dan amal

Teguhlah di sikap tak mementingkan Global
Namun jangan jadikan pengetahuan rohani Bagaikan tujuan
Renungi di-di dirimu supaya niatmu terkabul
Kau Yaitu pancaran kebenaran ilahi
Jalan terbaik ialah tak mamandang selain Dia
.

Loading...

Pengaruhnya

Jelas sekali bahwa Sunan Bonang mengajarkan tasawuf positif dengan menekankan pentingnya ikhtiar dan kemauan (kehendak) di mencapai cita-cita.
Pengaruh ajaran ini juga terasa pula di Etos Hayati dan budaya masyarakat muslim pesisir, khususnya di Jawa Timur dan Madura. Penduduk muslim Jawa Timur dan Madura sejak lama ialah pengikut madzab Syafii yang patuh dengan kecenderungan tasawuf yang kuat. Namun mereka juga mempunyai etos kerja keras dan akrab dengan budaya dagang.
Tasawuf yang diresapi dan dipahami ternyata bukan tasawuf yang eskapis dan pasif. Sebaliknya yang dihayati ialah tasawuf yang aktif dan militan; aktif dan militan di kehidupan sosial, ekonomi dan politik, dan juga di kehidupan agama dan kebudayaan.
Pengaruh penting lain ajaran Sunan Bonang ialah di pemikiran kebudayaan termasuk di seni atau wawasan estetik. Sunan Bonang berpendapat bahwa agama apa pun, termasuk Islam, Bisa tersebar Genjah dan mudah diresapi oleh masyarakat, apabila unsur-unsur penting budaya masyarakat setempat Bisa diserap dan diintegrasikan ke di sistem nilai dan Etos Hayati agama bersangkutan.
PERJALANAN Hayati
Raden Maulana Makdum Ibrahim, atau yang setelah itu dikenal dengan sebutan Sunan Bonang, Yaitu seorang putera dari Sunan Ampel.
Berbicara mengenai Sunan Bonang yang namanya didepannya tercantum Perkataan-Perkataan Maulana Makdum, mengingatkan kita kembali kepada cerita di di sejarah Melayu. Konon kabarnya di sejarah Melayu pun Dulu ada pula Itu mengenai cendekiawan islam yang memakai gelar Makdum, Yaitu gelar yang lazim dipakai di India. Perkataan atau gelar Makdum ini merupakan sinonim Perkataan Maula atau Malauy gelar kepada orang besar agama berasal dari Perkataan Khodama Yakhdamu dan infinitifnya (masdarnya) khidmat. dan maf’ulnya dikatakan makhdum artinya orang yang wajib dikhidmati atau dihormati di karenakan kedudukannya di agama atau pemerintahan Islam di waktu itu.
Salam seorang besar yang mengepalai suatu departemen saat terjadi pembentukan adat yang berdasarkan Islam, tatkala agama Islam memasuki lingkungan Minangkabau, berpangkat Makdum pula.Rupanya Makhdum atau Mubaligh Islam yang berpangkat atau bergelar Makhdum itu data ke Malaka di abad ke XV, saat Malaka mencapai puncak kejayaannya. kembali mengenai diri Sunan Bonang disamping beliau Yaitu putera Sunan Ampel juga Jadi muridnya pula. adapun daerah operasinya semasa hidupnya Yaitu terutama Jawa Timur. Disanalah beliau Berawal Dari berjuang menyebarkan agama Islam.
Beliau Yaitu putera dari Sunan Ampel di perkawinannya dengan Nyai Ageng Manila, seorang putera dari Arya Teja, salam seorang Tumenggung dari kerajaan Majapahit yang berkuasa di Tuban. menurut dugaan Sunan Bonang dilahirkan di tahun 1465 M, serta wafat di tahun 1525 M.
Maulana Makhdum Ibrahim, semasa hidupnya dengan gigih giat sekali menyebarkan agama Islam di daerah Jawa Timur, terutama di daerah Tuban dan sekitarnya. sebagaimana halnya ayahnya, maka Sunan Bonang pun mendirikan pondok pesantran di daerah Tuban untuk mendidik serta menggembleng kader-kader Islam yang akan Empati menyiarkan agama Islam ke seluruh tanah Jawa. konon beliaulah yang menciptakan gending Dharma serta berusaha mengganti nama-nama hari nahas/sial menurut kepercayaan Hindu, dan nama-nama dewa Hindu diganti dengan nama-nama malaikat serta nabi-nabi. Hal mana dimaksudkan untuk lebih mendekati hari rakyat guna diajak masuk agama Islam.
Di masa hidupnya, beliau juga termasuk penyokong dari kerajaan Islam Demak. serta Empati pula membantu mendirikan Masjid Agung di kota Bintoro Demak.
Adapun mengenai filsafat Ketuhanannya, Yaitu :
“Adapun pendirian saya Yaitu, bahwa imam tauhid dan makrifat itu terdiri dari pengetahuan yang sempurna, sekiranya orang hanya mengenal makrifat aja, maka belumlah cukup, sebab ia masih insaf akan itu. Maksud saya Yaitu bahwa kesempurnaan barulah akan tercapai hanya dengan terus menerus mengabdi kepada Tuhan. Seseorang itu tiada mempunyai gerakan sendiri, begitu pula tak mempunyai kemauan sendiri. dan seseorang itu Yaitu seumpama buta, tuli dan bisu. Segala gerakannya itu datang dari Allah.”
Ada kitab yang disebut Suluk Sunan Bonang yang berbahasa prosa Jawa Tengah-an, akan tetapi isinya mengenai hal-hal agama islam. di mana kalimatnya agak terpengaruh oleh bahasa Arab. Besar kemungkinan kita ini Yaitu berisi kumpulan atau himpunan catatan dari pelajaran-pelajaran yang Sempat diberikan oleh Sunan Bonang semasa hidupnya kepada murid-muridnya. Di di dongeng-dongeng diceritakan,.bahwa di suatu saat Sempat ada seorang pendita hindu yang datang untuk mengajak berdebat dengan sunan bonang, bahkan setelah itu pendeta hindu itupun akhirnya bertaubat serta menyatakan dirinya masuk ke di agama Islam.
di masa hidupnya dikatakan bahwa Sunan Bonang itu Sempat Berguru ke Pasai. Sekembalinya dari Pasai, Sunan Bonang memasukkan pengaruh Islam ke di kalangan bangsawan dari keraton Majapahit, serta mempergunakan Demak Bagaikan tempat berkumpul untuk para murid-muridnya.
Sunan Bonang perjuangannya diarahkan kepada menanamkan pengaruh ke di. Siasat dari Sunan Bonang Yaitu membagikan didikan Islam kepada Raden Patah putera dari Brawijaya V, dari kerajaan Majapahit, dan menyediakan Demak Bagaikan tempat untuk mendirikan negara Islam. Yaitu tampak bersifat politis dan Sunan Bonang rupanya sukses cita-citanya mendirikan kerajaan Islam di Demak. Hanya sayang sekali Asa beliau supaya supaya Demak Bisa Jadi pusat agama Islam untuk selama-selamanya kiranya tak sukses.

SUNAN BONANG WALI SONGO WALI MASYHUR : SUNAN BONANG DAN PEMIKIRAN SUFISTIKNYA (BAH 2)

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here