Home Hakikat Makrifat SUNAN BONANG WALI SONGO WALI MASYHUR : SEJARAH Hayati SUNAN...

SUNAN BONANG WALI SONGO WALI MASYHUR : SEJARAH Hayati SUNAN BONANG (BAH 1)

20
0
(WALI SEMBILAN NO 1)

Dari berbagai sumber disebutkan bahwa Sunan Bonang itu nama aslinya Yaitu Syekh Maulana Makhdum Ibrahim. Putra Sunan Ampel dan Dewi Condrowati yang sering disebut Nyai Ageng Manila. Ada yang Menyebut Dewi Condrowati itu Yaitu putri Prabu Kertabumi ada pula yang berkata bahwa Dewi Condrowati Yaitu putri angkat Adipati Tuban yang sudah beragama Islam Yaitu Ario Tejo.

Ia anak Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya Yaitu Raden Makdum Ibrahim. Lahir diperkirakan 1465 M dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di Tuban.
Sunan Bonang Berguru agama dari pesantren ayahnya di Ampel Denta. Seusai cukup dewasa, ia berkelana untuk berdakwah di berbagai pelosok Pulau Jawa. Mula-mula ia berdakwah di Kediri, yang mayoritas masyarakatnya beragama Hindu. Di sana ia mendirikan Masjid Sangkal Daha.
Ia setelah itu menetap di Bonang -desa kecil di Lasem, jawa tengah -sekitar 15 kilometer timur kota Rembang. Di desa itu ia membangun tempat pesujudan/zawiyah sekaligus pesantren yang di ini dikenal dengan nama Watu Layar. Ia setelah itu dikenal pula Bagaikan imam resmi pertama Kesultanan Demak, dan bahkan Sempat Jadi panglima tertinggi. Meskipun demikian, Sunan Bonang tak Sempat menghentikan kebiasaannya untuk berkelana ke daerah-daerah yang sangat sulit.
Ia acap berkunjung ke daerah-daerah terpencil di Tuban, Pati, Madura ataupun Pulau Bawean. Di Pulau inilah, di 1525 M ia meninggal. Jenazahnya dimakamkan di Tuban, di sebelah barat Masjid Agung, Seusai Sempat diperebutkan oleh masyarakat Bawean dan Tuban.

Bagaikan seorang Wali yang disegani dan dianggap Mufti atau pemimpin agama se tanah Jawa ,tentu aja Sunan Ampel mempunyai ilmu yang sangat tinggi.

Sejak kecil, Raden Makdum Ibrahim sudah diberi pelajaran agama Islam dengan cara tekun dan disiplin . Sudah bukan rahasia lagi bahwa latihan atau riadha para Wali itu lebih berat dari di orang awam. Raden Makdum Ibrahim Yaitu calon Wali yang besar , maka Sunan Ampel sejak dini juga mempersiapkan sebaik mungkin . Disebutkan dari berbagai literature bahwa Raden Makdum Ibrahim dan Raden Paku sewaktu masih remaja meneruskan pelajaran agama Islam hingga ke Tanah seberang ,Yaitu Negeri Pasai . Keduanya menambah pengetahuan kepada Syekh Awwalul Islam atau ayah kandung dari Sunan Giri, juga Berguru kepada para ulama besar yang banyak menetap di Negeri Pasai .Seperti ulama ahli tasawuf yang berasal dari Bagdad, Mesir , Arab dan Persi atau Iran. Sesudah Berguru di Negeri Pasai, Raden Makdum Ibrahim dan Raden Paku pulang keJawa. Raden Paku kembali ke Gresik, mendirikan pesantren di Giri sehingga terkenal Bagaikan Sunan Giri .

Sedang Raden Makdum Ibrahim diperintahkan Sunan Ampel untuk berdakwah diTuban. di berdakwa Raden Makdum Ibrahim ini sering mempergunakan kesenian rakyat untuk menarik simpati mereka, Yaitu berupa seperangkat gamelan yang disebut Bonang.

Bonang Yaitu Sesuai kuningan yang ditonjolkan dibagian tengahnya . apabila benjolan itu dipukul dengan Ebonit lunak maka timbullah suaranya yang merdu ditelinga penduduk setempat . Lebih –lebih apabila Raden Makdum Ibrahim sendiri yang membunyikan alat musik itu, beliau Yaitu seorang Wali yang mempunyai cita rasa seni yang tinggi, sehingga beliau bunyikan pengaruhnya sangat hebat untuk para pendengarnya . Setiap Raden Makdum Ibrahim membunyikan Bonang, pasti banyak penduduk yang datang ingin mendengarkannya . Dan tak sedikit dari mereka yang ingin Berguru membunyikan Bonang sekaligus melagukan tembang – tembang ciptaan Raden Makdum Ibrahim.

Begitulah siasat Raden Makdum Ibrahim yang dijalankan penuh kesabaran.Seusai rakyat sukses direbut simpatinya tinggal mengisikan aja ajaran Islam kepada mereka.

Tembang-tembang yang diajarkan Raden Makdum Ibrahim Yaitu tembang yang berisikan ajaran agama Islam.Sehingga tanpa terasa penduduk sudah mempelajari agama Islam dengan suka hati, bukan dengan paksaan.

 

Diantara tembang yang terkenal ialah :

Tamba ati iku lima sak warnane
Maca Qur’an angen-angen sak maknane
Kaping pindo, sholat wengi lakonana
Kaping telu, wong kang soleh kencanana
Kaping papat kudu wetheng ingkang luwe
Kaping lima dzikir wengi ingkang suwe

MENURUT tembang ini, ada lima macam ”penawar hati”, atau pengobat Heroisme yang ”sakit”. Yakni membaca Al-Quran, mengerjakan salat tahajud, bersahabat dengan orang saleh, berzikir, dan Hayati prihatin. Inilah pula yang sering dilantunkan Emha Ainun Nadjib bersama Kelompok Kyai Kanjeng, di sejumlah pergelarannya.

Di luar acara Emha, Tamba Ati hingga di ini masih kerap dinyanyikan sejumlah santri di pesantren dan masjid di sejumlah desa. Tapi Cak Nun –demikian Emha biasa disapa– bukan pencipta ”lagu” itu. Tembang ini Yaitu peninggalan Raden Maulana Makdum Ibrahim, yang lebih dikenal Bagaikan Sunan Bonang.

di masa hidupnya, Sunan Bonang menyanyikan Tamba Ati untuk menarik warga masyarakat supaya memeluk Islam. di di berdendang, pria yang diduga berusia 60 tahun itu menabuh gamelan dari kuningan, yang dibuat oleh sejumlah warga Desa Bonang, jawa timur. Nama desa inilah yang setelah itu Inheren di gelar sang Sunan.

Meski terampil, Sunan Bonang bukan putra penabuh gamelan. Ia justru putra Sunan Ampel, yang menikah dengan Condrowati, alias Nyai Ageng Manila. Nyai Ageng merupakan anak angkat Ario Tedjo, Bupati Tuban. tak ada catatan mengenai tanggal kelahiran Raden Makdum. Diduga, ia lahir di daerah Bonang, Tuban, di 1465.

Sunan Ampel semula memberi ia nama Maulana Makdum. Nama ini diambil dari bahasa Hindi, yang Ambiguitas cendekiawan Islam yang dihormati di karenakan kedudukannya di agama. Semasa kecil, Sunan Bonang sudah mendapat pelajaran dari ayahnya, Sunan Ampel, dengan disiplin yang ketat. Tak heran bila dia pun, setelah itu, terhisab ke di Wali nan Sembilan.

Loading...

Sunan Ampel setelah itu mengirim Sunan Bonang ke Negeri Pasai, aceh masa di ini. Di sana Sunan Bonang menuntut ilmu di Syekh Awwalul Islam, ayah kandung Raden Paku alias Sunan Giri. Bersama Raden Paku, ia juga Berguru di sejumlah ulama besar yang banyak menetap dan mengajar di Pasai, seperti ulama ahli tasawuf dari Baghdad, Mesir, dan Iran.

Pulang dari menuntut ilmu, Sunan Bonang diminta Sunan Ampel berdakwah di Tuban, Pati, Pulau Madura, dan Pulau Bawean di utara Pulau Jawa. Seperti halnya Raden Paku alias Sunan Giri, yang mendirikan pesantren di Gresik, Sunan Bonang juga mendirikan pesantren di Tuban.

di berdakwah, Sunan Bonang kerap memakai kesenian rakyat untuk menarik simpati masyarakat, antara lain dengan seperangkat gamelan Bonang. apabila dipukul dengan Ebonit lunak, bonang itu melantunkan bunyi yang merdu. apabila Sunan Bonang sendiri yang menabuhnya, gaung sang bonang sangat menyentuh hati para pendengarnya.

Masyarakat yang mendengarnya berbondong-bondong datang ke masjid. Sunan Bonang lalu menerjemahkan makna tembangnya. di karenakan kekuatan suaranya itu pula, Sunan Bonang juga mendapat julukan lain: Sang Mahamuni. Tembang itu berisi ajaran Islam, sehingga tanpa sengaja mereka telah diberi penghayatan baru.

di masa itu, daerah Bonang masih berada di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit, yang mayoritas –dan ”resmi”– beragama Hindu. Kebetulan, para penganut Hindu saat itu sangat akrab dengan musik gamelan. Pengaruh gendingnya cukup melegenda. Bahkan gamelan itu telah Jadi bagian dari cerita kesaktian Sunan Bonang.

Misalnya dikisahkan, ia Sempat menaklukkan Kebondanu, seorang pemimpin perampok, dan anak buahnya, hanya memakai tembang dan gending Dharma dan Mocopat. Begitu gending ditabuh, Kebondanu dan anak buahnya tak mampu menggerakkan tubuhnya. ”Ampun… hentikan bunyi gamelan itu. Kami tak kuat,” begitu konon Perkataan Kebondanu.

Seusai diminta bertobat, Kebondanu dan gerombolannya pun Jadi pengikut Sunan Bonang. Tapi, kesaktian Sunan Bonang tak hanya terletak di gamelan dan gaungnya. Cerita lain mengisahkan seorang brahmana, yang berlayar dari India ke Tuban. Tujuannya: ingin mengadu kesaktian dengan Sunan Bonang.

Namun, sebelum mendarat di Tuban, kapalnya dihajar ombak. Akibatnya, kitab-kitab kesaktiannya hanyut terbawa air. Beruntung, sang brahmana sukses mencapai pantai. Di tepian Bahari itu ia berjumpa dengan seorang pria berjubah putih. Kepada pria itu ia menyatakan ingin berjumpa dengan Sunan Bonang untuk uji kesaktian.

Tapi, demikian katanya, ia tak lagi mampu melakukannya, di karenakan semua kitabnya sudah raib di telan ombak. Pria berjubah itu mencabut tongkatnya yang tertancap di pasir pantai. Air muncrat dari lobang bekas tongkat itu… bersama semua kitab sang brahmana. Seusai pria tadi Menyebut namanya, yang tiada lain daripada Sunan Bonang, Brahmana itu berlutut.

di masa hidupnya, Sunan Bonang termasuk penyokong kerajaan Islam Demak, dan Empati membantu mendirikan Masjid Agung Demak. Oleh masyarakat Demak saat itu, ia dikenal Bagaikan pemimpin bala tentara Demak. Dialah yang memutuskan pengangkatan Sunan Ngudung Bagaikan panglima tentara Islam Demak.

saat Sunan Ngudung gugur, Sunan Bonang pula yang mengangkat Sunan Kudus Bagaikan panglima perang. Nasihat yang berharga diberikan pula di Sunan Kudus mengenai strategi perang menghadapi Majapahit. Selain itu, Sunan Bonang dipandang adil di membuat keputusan yang memuaskan banyak orang, melalui sidang-sidang ”pengadilan” yang dipimpinnya.

Misalnya di kisah pengadilan atas diri Syekh Siti Jenar, alias Syekh Lemah Abang. Lokasi ”pengadilan” itu sendiri punya dua versi. Satu versi Menyebut, sidang itu dilakukan di Masjid Agung Kasepuhan, Cirebon. Tapi, versi lain menyebutkan, sidang itu diselenggarakan di Masjid Agung Demak. Sunan Bonang juga berperan di pengangkatan Raden Patah.

di menyiarkan ajaran Islam, Sunan Bonang mengandalkan sejumlah kitab, antara lain Ihya Ulumuddin dari al-Ghazali, dan Al-Anthaki dari Dawud al-Anthaki. Juga tulisan Abu Yzid Al-Busthami dan Syekh Abdul Qadir Jaelani. Ajaran Sunang Bonang, menurut disertasi JGH Gunning dan disertasi BJO Schrieke, memuat tiga tiang agama: tasawuf, ussuludin, dan fikih.

Ajaran tasawuf, misalnya, menurut versi Sunan Bonang Jadi penting di karenakan menunjukkan bagaimana orang Islam menjalani kehidupan dengan kesungguhan dan kecintaannya kepada Allah. Para penganut Islam wajib menjalankan, misalnya, salat, berpuasa, dan membayar zakat. Selain itu, manusia wajib menjauhi tiga musuh utama: Global, hawa nafsu, dan setan.

Untuk menghindari ketiga ”musuh” itu, manusia dianjurkan jangan banyak bicara, bersikap rendah hati, tak mudah Frustasi asa, dan bersyukur atas nikmat Allah. Sebaliknya, orang wajib menjauhi sikap dengki, Arogan, serakah, serta gila pangkat dan kehormatan. Menurut Gunning dan Schrieke, naskah ajaran Sunan Bonang merupakan naskah Wali Songo yang relatif lebih lengkap.

Ajaran wali yang lain tak ditemukan naskahnya, dan kalaupun ada, tak begitu lengkap. Di situ disebutkan pula bahwa ajaran Sunan Bonang berasal dari ajaran Syekh Jumadil Kubro, ayahanda Maulana Malik Ibrahim, yang menurunkan ajaran kepada Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, dan Sunan Muria.

Sunan Bonang wafat di Pulau Bawean, di 1525. di akan dimakamkan, ada perebutan antara warga Bawean dan warga Bonang, Tuban. Warga Bawean ingin Sunan Bonang dimakamkan di pulau mereka, di karenakan sang Sunan Sempat berdakwah di pulau utara Jawa itu. akan tetapi, warga Tuban tak mau terima. di malam Seusai kematiannya, sejumlah murid dari Bonang mengendap ke Bawean, ”mencuri” jenazah sang Sunan.

Esoknya, dilakukanlah pemakaman. Anehnya, jenazah Sunan Bonang tetap ada, bagus di Bonang ataupun di Bawean! di karenakan itu, hingga sekarang, makam Sunan Bonang ada di dua tempat. Satu di Pulau Bawean, dan satunya lagi di sebelah barat Masjid Agung Tuban, Desa Kutareja, Tuban. di ini kuburan itu dikitari tembok dengan tiga lapis halaman. Setiap halaman dibatasi tembok berpintu gerbang.

Adalagi legenda aneh mengenai Sunan Bonang .

Sewaktu beliau wafat, jenasahnya hendak dibawa ke Surabaya untuk dimakamkan disamping Sunan Ampel Yaitu ayahandanya .akan tetapi kapalyang digunakan mengangkut jenazahnya tak Bisa Dinamis sehingga terpaksa jenazahnya Sunan Bonang dimakamkan di Tuban Yaitu disebelah barat Masjid Jami ’Tuban.

SUNAN BONANG WALI SONGO WALI MASYHUR : SEJARAH Hayati SUNAN BONANG (BAH 1)

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here