Home Ceramah Islam Terbaru Sikap Tegas Para Habaib di Sejarah

Sikap Tegas Para Habaib di Sejarah

30
0
Di Jakarta ini Seandainya ada yang ingin macam macam di agama akan berfikir beribu kali, sejak Zamannya Sayid Ustman bin Yahya Mufti Betawi membentengi Umat Islam Jakarta dan sekitarnya sebut aja semisal urusan potong Fauna Babi di Masa Dulu di pinggir kali, yang mana hal Itu di protes oleh masyarakat Betawi di waktu itu dan Habib Ustman pun mendatangi kantor Gubernur Batavia untuk memprotes hal Itu dengan alasan air kali di Gunakan oleh Masyarakat bukan aja untuk Mandi dan minum aja tapi di gunakan untuk ber Wudhu,dengan Protes keras dari sang Mufti Betawi di waktu itu di akhirnya pemerintah Belanda membuat peraturan akan pemotongan Fauna Babi di tanah Betawi 
Di  Masa Habib Ali AlHabsyi Kwitang apabila ada yang mempersulit Tablig / Pengajian Habib Ali akan memprotes hal Itu,hingga pemerintah Belanda di waktu itu mengizinkan acara Tablig di Batavia
Lain lagi dengan Tuan Guru Marzuqi dari Kampung Muara di kala pemerintah Belanda mendatangkan Syeh Ahmad Surkati untuk di perbantukan mengajar di Jamiatul Khair dengan lantangnya Guru Marzuqi berkata ” Kalo Surkati berani masuk Mester nanti ana timpe lak lakannye …… “ karna hal Itu Guru Marzuqi wajib berurusan dengan Belanda

 
Guru Marzuqi menjalankan hal demikian untuk membentengi Aqidah masyarakat Betawi, mengingat Syeh Ahmad Syurkati yang memang berbeda Aqidah dengan Masyarakat Betawi di Umumnya
Begitu pula di di penjajahan Jepang Habib Ali menolak untuk masyarakat Betawi menyembah ke Matahari hingga di awal masuknya penjajah Jepang ke Jakarta ini,Habib Ali di Jebloskan ke Penjara di Glodok dengan alasan antek antek Hindia Belanda dengan dalih mendapat bintang Oranje Nassau Orde dari Belanda wal hal Habib Ali menentang penghormatan terhadap Dewa Matahari yang di haruskan oleh Penjajah Jepang di waktu itu dan juga penjajah Jepang menutup Madrasah Unwanul Falah milik Habib Ali di Kwitang dan merencanakan hukuman mati terhadap sang Ulama besar Itu

 
Mengetahui akan Itu terjadi Protes besar besaran dari Umat Islam Jakarta yang di akhirnya Habib Ali pun di bebaskan
Di di Proklamasi 17 Agustus 1945 Ulama yang menganjurkan untuk mengibarkan bendera warna merah dan putih di kampungnya masing masing Yaitu Habib Ali Kwitang, hal Itu di ikuti oleh murid murid beliau diantaranya Habib Ali bin Husein AlAthas, Habib Salim bin Jindan,Guru Mansur Jembatan Lima dan Umumnya Masyarakat Jakarta di waktu itu,kejadian Itu membuat Jepang tak suka karna sudah menyalahi Anggaran yang sudah di tetapkan
Di di NU mengeluarkan Fatwa di tahun 50an hasil muktamar belum Sempat Fatwa Itu masuk Jakarta,Habib Salim bin Jindan dan KH Hasbialloh membuat pernyataan penolakan atas nama Persatuan Ulama Jakarta karna di khawatirkan membuat resah Umat Islam
di waktu Bung Karno mengeluarkan ide NASAKOMnya yang pertama kali menolak Yaitu Habib Ali Kwitang dan meminta kepada Habib Salim bin Jindan apabila menyampaikan Tasewirnya ( Ceramahnya ) dimana mana untuk menentang hal Itu,kejadian Itu Sempat membuat Bung Karno marah
Di Tahun 1969 di di Presiden Soeharto meminta kepada Mentri agama di waktu itu, supaya Umat Islam membayarkan Zakatnya kepada Pemerintah aja, dengan lantangnya Habib Salim bin Jindan menolaknya dengan keras dan berbicara di setiap ceramahnya

” Bilang Serupa Pemerintah kagak usah urusin Zakat Umat Islam ……. dan Seandainya ada yang dekat dengan Alamsyah bilang Serupa dia jangan suka bujuk bujuk Ulama untuk terima akan hal Itu “

Loading...
Karna penentangannya terhadap pemerintah yang keras di waktu itu Sempat muncul Embargo mengundang kepada Habib Salim untuk berceramah di manapun, untuk yang melanggarnya sangsinya akan di tahan oleh Pemerintah dengan alasan mengacaukan keamanan Negara
di di Gubernur Ali sadikin membangun tempat perjudian dan lain lain, gelombang penolakan dari para Ulama berdatangan terutama dari Kwitang yang di akhirnya Habib Ali bin Husein AlAthas meminta kepada Habib Muhammad untuk mengingatkan Gubernur, di akhirnya Gubernur Ali Sadikin menyatakan dihadapan Ribuan Umat Islam di Majlis Kwitang di hari Minggu 18 Oktober 1970, bahwa dirinya membuat hal Itu bukan untuk Umat Islam dan beliau menyatakan Seandainya ada Umat Islam yang Empati didalamnya itu Yaitu yang Anemia kuat Imannya

 
Walaupun demikian banyak para Ulama yang tetap tak setuju akan apa yang dilakukan Gubernur di di itu terlebih di di ada pembongkaran Makam dan rencananya Jasad jadad mereka akan di Kremasi,mengetahui akan hal Itu karuan aja para Ulama dengan lantang menolaknya,Bagaikan mana dilakukan oleh KH Abdulloh Syafii di Asyafiiyah yang mengharuskan  Radionya wajib berhenti Syiaran untuk beberapa waktu

 
Terlebih di kala Gubernur akan membongkar ratusan Makam Ulama di Tanabang satu diantaranya Yaitu Makam Mufti Betawi AlHabib Ustman bin Yahya,dengan sekuat tenaga para Ulama menolak akan hal Itu,namun pemerintah tetap bersi keras menjalankan hal Itu dengan alasan pembangunan
Demikian sekilas yang kami utarakan,inginnya semua kami tuliskan tapi khawatir Jadi kepanjangan
Semoga Jadi Maklum adanya ………
Sumber : Anto Djibril
abdkadiralhamid@2016
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Share on LinkedIn

Subscribe to receive free email updates:

Sikap Tegas Para Habaib di Sejarah

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here