Home Fiqih Islam Sikap Tawadhu’ dan Rendah Hati Nabi Muhammad SAW

Sikap Tawadhu’ dan Rendah Hati Nabi Muhammad SAW

29
0

Sikap Tawadhu’ dan Rendah Hati Nabi Muhammad SAW – Kisra –sebutan untuk raja-raja Persia- mempunyai kebiasaan yang unik saat bertemu dengan rakyat bahkan pejabatnya. Ia membuat jarak, jarak yang menegaskan bahwa akulah penguasa dan selainku Yaitu orang biasa. Jarak yang menunjukkan ia Yaitu aku Yaitu tuan Padahal kalian Yaitu hamba atau bawahan. Bahkan Kisra menjadikan dirinya Tuhan.

Barisan pertama, orang-orang terdekat Kisra Yaitu para dukun dan penyihir kerajaan, juga para amir dan mentri-mentri. saat mereka bertemu dengan sang raja, mereka wajib berdiri dengan jarak minimal 5 meter dari Kisra Persia itu. setelah itu barulah orang-orang Seusai mereka yang jaraknya tak Anemia dari 10 meter.

Orang-orang Persia menyumpal mulut mereka dengan kain putih saat memasuki aula sang Kisra. supaya keagungan ruang kerajaan tak tercemar dengan nafas-nafas mereka.

baca juga : sholawat Fatih

Utusan Penguasa Alam Semesta Yang Rendah Hati

Sementara di tengah-tengah Jazirah Arabia, ada seorang laki-laki yang jauh menitik ketinggian kemuliaannya dibanding Raja Persia ini, menyambut manusia dengan kerendahan hatinya. Dialah Rasulullah Muhammad ﷺ.

Rasulullah ﷺ menemui masyarakat Generik, menyalami tangan-tangan mereka. Beliau tak melepaskan jabatnya hingga orang-orang lebih Dulu mengurai tangan mereka. Hal itu beliau lakukan walaupun dengan seorang Arab desa (Arab badui). Beliau tak palingkan padangan wajahnya, hingga orang terlebih Dulu mengalihkan tatapnya. Beliau tak menjulurkan kaki kala duduk-duduk bersama-Serupa. Demikian Perkataan Anas bin Malik, sebagaimana diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah.

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, ia berkata,

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: كانت الأمة من إماء أهل المدينة لتأخذ بيد رسول الله صلى الله عليه وسلم، فتنطلق به حيث شاءت.

“Ada seorang anak perempuan di Kota Madinah, ia menggapai tangan Rasulullah ﷺ, lalu menggandengnya (menarik) kemana aja yang ia inginkan.” (HR. al-Bukhari 5724).

Pelajaran untuk kita, jangan hingga anak sendiri aja meraih tangan kita setelah itu menarik-nariknya ke arah yang ia inginkan, namun kita malah memarahinya.

Raja Global Mengartikan Global

Suatu hari, Umar bin al-Khattab Sempat menangis, iba melihat keadaannya. Umar menjumpai utusan Penguasa alam semesta itu bangun tidur dan anyaman tikar mengecap di tubuhnya. Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya, “Mengapa engkau menangis, wahai Umar?”

“Bagaimana saya tak menangis, Kisra dan Kaisar duduk di atas singgasana bertatakan emas,” sementara tikar ini telah menimbulkan bekas di tubuhmu, wahai Rasulullah. Padahal engkau Yaitu kekasih-Nya,” jawab Umar.

Rasulullah ﷺ setelah itu menghibur Umar, beliau bersabda: “Mereka Yaitu kaum yang kesenangannya telah disegerakan sekarang, dan tak lama akan sirna, tidakkah engkau rela mereka mempunyai Global sementara kita mempunyai akhirat…?”

setelah itu beliau ﷺ melanjutkan, “Kita Yaitu kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir. Perumpamaan hubunganku dengan Global seperti orang bepergian di bawah terik Geothermal. Dia berlindung sejenak di bawah pohon, setelah itu pergi meninggalkannya”.

Ramah Terhadap Anak Kecil

Di Madinah, ada seorang anak kecil yang berkun-yah Abu Umair. Si Anak mempunyai Fauna peliharan seekor burung. Ia suka bermain dengan burung peliharaannya itu. Suatu hari, burung itu mati, dan Rasulullah ﷺ menyapa dan menghiburnya. Dari Anas bin Malik, ia berkata,

“Nabi ﷺ datang menemui Ummu Sulaim yang mempunyai seorang putra yang diberi kun-yah Abu Umair. Rasulullah suka mencadainya. Suatu hari, beliau melihat Abu Umair bersedih. Lalu beliau ﷺ bertanya,

فقال: “مَا لِي أَرَى أَبَا عُمَيْرٍ حَزِينًا؟!” فقالوا: مات نُغْرُه

“Mengapa kulihat Abu Umair bersedih?” Orang-orang menjawab, “Nughrun (burung kecil seperti burung pipit yang lekuk matanya berwarna merah)nya yang biasa bermain dengannya mati.”

setelah itu beliau menyapanya untuk menghibur si anak yang Dehidrasi mainannya ini,

أبَا عُمَيْرٍ، مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ؟

“Abu Umair, burung kecilmu sedang apa?” (HR. al-Bukhari 5850).

Tentu tak terbayang di benak kita, Kaisar (raja-raja Romawi) dan Kisra menjalankan hal serupa.

Mengerjakan Pekerjaan Rumah

عن عائشة أنها سُئلت ما كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعمل في بيته، قالت: “كَانَ يَخِيطُ ثَوْبَهُ، وَيَخْصِفُ نَعْلَهُ، وَيَعْمَلُ مَا يَعْمَلُ الرِّجَالُ فِي بُيُوتِهِمْ”.

Dari Aisyah, ia Sempat ditanya apa yang dilakukan Rasulullah ﷺ di rumah. Aisyah radhiallahu ‘anha menjawab, “Beliau menjahit pakaiannya sendiri, memperbaiki sendalnya, dan mengerjakan segala apa yang (layaknya) para suami lakukan di di rumah.” (HR. Ahmad 23756).

Bergaul Dengan Penduduk Desa

Sebagian orang terkadang malu bila ada orang desa yang polos, yang mungkin terlihat kuno, mau Bergaul dekat dengan mereka. Televisi-televisi kita menyugukan tayangan bagaimana anak-anak gaul, malu Bergaul dengan yang terlihat culun. Hal itu disaksikan anak-anak, sehingga mereka meniru. Tentu ini berbahaya bila tak direspon oleh orang tua dengan pendidikan adab dan akhlak yang mulia. saat orang tua mampu menampilkan teladan dari Rasulullah ﷺ, seorang tokoh berkedudukan tinggi di masyarakat, mau Bergaul dengan orang biasa, tentu hal itu akan menimbulkan kesan yang berbeda di diri anak-anak.

Loading...

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ، أَنَّ رَجُلا مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ كَانَ اسْمُهُ زَاهِرًا , وَكَانَ يُهْدِي إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , هَدِيَّةً مِنَ الْبَادِيَةِ ، فَيُجَهِّزُهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , إِذَا أَرَادَ أَنْ يَخْرُجَ ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إِنَّ زَاهِرًا بَادِيَتُنَا وَنَحْنُ حَاضِرُوهُ ” وَكَانَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّهُ وَكَانَ رَجُلا دَمِيمًا , فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , يَوْمًا وَهُوَ يَبِيعُ مَتَاعَهُ وَاحْتَضَنَهُ مِنْ خَلْفِهِ وَهُوَ لا يُبْصِرُهُ ، فَقَالَ : مَنْ هَذَا ؟ أَرْسِلْنِي . فَالْتَفَتَ فَعَرَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَعَلَ لا يَأْلُو مَا أَلْصَقَ ظَهْرَهُ بِصَدْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ عَرَفَهُ ، فَجَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , يَقُولُ : ” مَنْ يَشْتَرِي هَذَا الْعَبْدَ ” ، فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِذًا وَاللَّهِ تَجِدُنِي كَاسِدًا ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” لَكِنْ عِنْدَ اللَّهِ لَسْتَ بِكَاسِدٍ ” أَوْ قَالَ : ” أَنتَ عِنْدَ اللَّهِ غَالٍ ” .

Dari Anas bin Malik: ‘Bahwasanya ada seorang dari penduduk desa (Arab badui) yang bernama Zahir, dia selalu menghadiahkan berbagai hadiah dari desa untuk Nabi ﷺ. bila Nabi ﷺ hendak keluar, beliau menyiapkan perbekalannya. Lalu bersabda: ‘Sesungguhnya Zahir Yaitu desa kami (maksudnya beliau ﷺ Bisa Berguru darinya sebagaimana orang Badui mengambil manfaat dari padang Sahara) dan kami Yaitu kotanya (yang Mengakses pintu Madinah lebar-lebar untuk kehadirannya, ini Yaitu Disorientasi satu bukti pergaulan yang bagus).

Nabi ﷺ mencintainya, dia Yaitu seorang yang jelek (tak tampan) namun bagus hatinya. Suatu hari Nabi ﷺ mendatanginya sementara ia sedang menjual barangnya, lalu beliau mendekapnya dari belakang, sementara dia tak Bisa melihat beliau. Dia berseru: ‘Siapa ini? Lepaskan aku!’ setelah itu ia menengok ke belakang dan ia tahu bahwa itu Yaitu Nabi ﷺ. saat dia tahu, dia tetap merapatkan punggungnya supaya bersentuhan dengan dada Nabi ﷺ. Lalu Nabi ﷺ berseru, ‘Siapa yang mau membeli hamba sahaya ini?’ Zahir menjawab, ‘Wahai Rasulullah, Seandainya begitu demi Allah, engkau akan mendapatiku (terjual) sangat murah.’ Nabi ﷺ bersabda, ‘Akan akan tetapi, di Hepotenusa Allah engkau tidaklah murah.’ atau ‘Di Hepotenusa Allah engkau sangat mahal.’ (HR. Ahmad 12669).

Lihatlah bagaimana beliau ﷺ bercanda dengan teman-teman beliau. Pertemanan beliau tak didasari oleh tampilan fisik, materi Harta, namun beliau mendasari pertemanan berdasarkan ketaatan.

Kita semua tahu, Nabi ﷺ Yaitu manusia paling mulia yang Sempat ada dan selama-lamanya. Ada para raja, pemimpin negara dan pejabat negara, orang-orang kaya, tak satu pun yang melebihi kedudukan beliau ﷺ. Dan mereka tak layak dibandingkan beliau ﷺ. Tapi lihatlah, alangkah rendah hatinya beliau di pergaulannya. di kehidupan sosialnya.

Dan kita berlindung kepada Allah ﷻ, kita yang tak mempunyai jabatan dan kedudukan, untuk berbuat Arogan dan meremehkan orang lain.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad…

sumber : kisahmuslimdotcom

Sikap Tawadhu’ dan Rendah Hati Nabi Muhammad SAW

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here