Home Kisah Islami Sejarah Sunan Gunung Jati Dan Silsilahnya

Sejarah Sunan Gunung Jati Dan Silsilahnya

218
0

Sunan Gunung Jati atau lazim kita sebut dengan Raden Syarif Hidayatullah[1] , lahir sekitar 1450 M, namun ada juga yang Menyebut bahwa ia lahir di sekitar 1448 M. Sunan Gunung Jati Yaitu Disorientasi satu dari kelompok ulama besar di Jawa bernama walisongo. Sunan Gunung Jati merupakan satu-satunya Walisongo yang menyebarkan Islam di
Jawa Barat .

Orang tua
Ayah
Sunan Gunung Jati bernama Syarif Hidayatullah, lahir sekitar tahun 1450 . Ayahnya Yaitu Syarif Abdullah bin Nur Alam bin Jamaluddin Akbar , seorang Mubaligh dan Musafir besar dari Gujarat , India yang sangat dikenal Bagaikan Syekh Maulana Akbar untuk kaum Sufi di tanah air. Syekh Maulana Akbar Yaitu putra Ahmad Jalal Syah putra Abdullah Khan putra Abdul Malik putra Alwi putra Syekh Muhammad Shahib Mirbath , ulama besar di
Hadramaut , Yaman yang silsilahnya hingga kepada Rasulullah melalui cucunya Imam Husain .

Ibu
Ibu Sunan Gunung Jati Yaitu Nyai Rara Santang (Syarifah Muda’im) Yaitu putri dari Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi dari Nyai Subang Larang, dan merupakan adik dari Kian Santang dan Pangeran Walangsungsang yang bergelar Cakrabuwana / Cakrabumi atau Mbah Kuwu Cirebon Girang yang berguru kepada Syekh Datuk Kahfi, seorang Muballigh asal Baghdad bernama asli Idhafi Mahdi bin Ahmad. Ia dimakamkan bersebelahan dengan putranya Yaitu Sunan Gunung Jati di Komplek Astana Gunung Sembung ( Cirebon )
Silsilah dari Raja Pajajaran
Sunan Gunung Jati

@ Syarif Hidayatullah
Rara Santang (Syarifah Muda’im)
Prabu Jaya Dewata @ Raden Pamanah Rasa @ Prabu Siliwangi II
Prabu Dewa Niskala (Raja Galuh/Kawali)
Niskala Wastu Kancana @ Prabu Siliwangi I
Prabu Linggabuanawisesa @ Prabu Wangi (Raja yang tewas di Bubat)
Pertemuan orang tuanya
Pertemuan Rara Santang dengan Syarif Abdullah cucu Syekh Maulana Akbar masih diperselisihkan. Sebagian riwayat (lebih tepatnya mitos) menyebutkan bertemu pertama kali di
Mesir , tapi analisis yang lebih kuat atas dasar perkembangan Islam di pesisir saat itu, pertemuan mereka di tempat-tempat pengajian seperti yang di Majelis Syekh Quro , Karawang (tempat Berguru Nyai Subang Larang ibu dari Rara Santang) atau di Majelis Syekh Datuk Kahfi, Cirebon (tempat Berguru Kian Santang dan Pangeran Walangsungsang, kakanda dari Rara Santang).
Syarif Abdullah cucu Syekh Maulana Akbar, sangat mungkin terlibat aktif membantu pengajian di majelis-majelis itu mengingat ayah dan kakeknua datang ke Nusantara sengaja untuk menyokong perkembangan agama Islam yang telah dirintis oleh para pendahulu.
Pernikahan Rara Santang putri dari Prabu Siliwangi dan Nyai Subang Larang dengan Abdullah cucu Syekh Maulana Akbar melahirkan seorang putra yang diberi nama Raden Syarif Hidayatullah.

Riwayat Hayati
Proses Berguru
Raden Syarif Hidayatullah mewarisi kecendrungan spiritual dari kakek buyutnya Syekh Maulana Akbar sehingga saat telah selesai Berguru agama di pesantren Syekh Datuk Kahfi ia meneruskan ke Timur Tengah. Tempat mana aja yang dikunjungi masih diperselisihkan, kecuali (mungkin) Mekah dan Madinah di karenakan ke 2 tempat itu wajib dikunjungi Bagaikan bagian dari ibadah haji untuk umat Islam.
Babad Cirebon menyebutkan saat Pangeran Cakrabuwana membangun kota Cirebon dan tak mempunyai pewaris, maka sepulang dari Timur Tengah Raden Syarif Hidayatullah mengambil peranan mambangun kota Cirebon dan Jadi pemimpin perkampungan Muslim yang baru dibentuk itu Seusai Uwaknya wafat.LoL
Pernikahan
Memasuki usia dewasa sekitar di antara tahun 1470-1480, ia menikahi adik dari Bupati Banten saat itu bernama Nyai Kawunganten. Dari pernikahan ini, ia mendapatkan seorang putri Yaitu Ratu Wulung Ayu dan Maulana Hasanuddin yang kelak Jadi Sultan Banten I
Kesultanan Demak

Masa ini Anemia banyak diteliti para sejarawan hingga tiba masa pendirian Kesultanan Demak tahun 1487 yang mana ia membagikan andil di karenakan Bagaikan anggota dari Dewan Muballigh yang sekarang kita kenal dengan nama Walisongo. di masa ini, ia berusia sekitar 37 tahun Anemia lebih Serupa dengan usia Raden Patah yang baru diangkat Jadi Sultan Demak I bergelar Alam Akbar Al Fattah. apabila Syarif Hidayat keturunan Syekh Maulana Akbar Gujarat dari pihak ayah, maka Raden Patah Yaitu keturunannya juga tapi dari pihak ibu yang lahir di Campa.

Dengan diangkatnya Raden Patah Bagaikan Sultan di Pulau Jawa bukan hanya di Demak, maka Cirebon Jadi semacam Negara Bagian bawahan vassal state dari kesultanan Demak, terbukti dengan tak adanya riwayat mengenai pelantikan Syarif Hidayatullah dengan cara resmi Bagaikan Sultan Cirebon…

Hal ini sesuai dengan strategi yang telah digariskan Sunan Ampel, Ulama yang paling di-tua-kan di Dewan Muballigh, bahwa agama Islam akan disebarkan di P. Jawa dengan Kesultanan Demak Bagaikan pelopornya.

masalah proses Islamisasi
Seusai pendirian Kesultanan Demak antara tahun 1490 hingga 1518 Yaitu masa-masa paling sulit, bagus untuk Syarif Hidayat dan Raden Patah di karenakan proses Islamisasi dengan cara damai menemui masalah internal dari kerajaan Pakuan dan Galuh (di Jawa Barat) dan Majapahit (di Jawa Tengah dan Jawa Timur) dan masalah external dari Portugis yang telah Berawal Dari expansi di Asia Tenggara.

mengenai personaliti dari Syarif Hidayat yang banyak dilukiskan Bagaikan seorang Ulama kharismatik, di beberapa riwayat yang kuat, mempunyai peranan penting di pengadilan Syekh Siti Jenar di tahun 1508 di pelataran Masjid Demak. Ia Empati membimbing Ulama berperangai ganjil itu untuk menerima hukuman mati dengan lebih Dulu melucuti ilmu kekebalan tubuhnya.

Eksekus1 yang dilakukan Sunan Kalijaga akhirnya berjalan bagus, dan dengan wafatnya Syekh Siti Jenar, maka Disorientasi satu duri di daging di Kesultana Demak telah tercabut.
Raja Pakuan di awal abad 16, seiring masuknya Portugis di Pasai dan Malaka, merasa mendapat sekutu untuk mengurangi pengaruh Syarif Hidayat yang telah berkembang di Cirebon dan Banten. Hanya Sunda Kelapa yang masih di kekuasaan Pakuan.
Di di yang genting inilah Syarif Hidayat berperan di membimbing
Pati Unus di pembentukan armada gabungan Kesultanan Banten, Demak, Cirebon di P. Jawa dengan misi utama mengusir Portugis dari wilayah Asia Tenggara. Terlebih Dulu Syarif Hidayat menikahkan putrinya untuk Jadi istri Pati Unus yang ke 2 di tahun 1511.

Loading...

Kegagalan expedisi jih4d II Pati Unus yang sangat fatal di tahun 1521 memaksa Syarif Hidayat merombak Pimpinan Armada Gabungan yang masih tersisa dan mengangkat
Tubagus Pasai (belakangan dikenal dengan nama Fatahillah),untuk menggantikan Pati Unus yang syahid di Malaka, Bagaikan Panglima berikutnya dan menyusun strategi baru untuk memancing Portugis bertempur di P. Jawa.

Sangat kebetulan di karenakan Raja Pakuan telah resmi mengundang Armada Portugis datang ke Sunda Kelapa Bagaikan dukungan untuk kerajaan Pakuan yang sangat lemah di Bahari yang telah dijepit oleh Kesultanan Banten di Barat dan Kesultanan Cirebon di Timur.
Kedatangan armada Portugis sangat diharapkan Bisa menjaga Sunda Kelapa dari kejatuhan berikutnya di karenakan praktis Kerajaan Hindu Pakuan tak mempunyai lagi kota pelabuhan di P. Jawa Seusai Banten dan Cirebon Jadi kerajaan-kerajaan Islam.

Tahun 1527 bulan Juni Armada Portugis datang dihantam Agresi dahsyat dari Pasukan Islam yang telah bertahun-tahun ingin membalas dendam atas kegagalan expedisi Jihad di Malaka 1521 .
Dengan ini jatuhlah Sunda Kelapa dengan cara resmi ke di Kesultanan Banten-Cirebon dan di rubah nama Jadi Jayakarta dan Tubagus Pasai mendapat gelar Fatahillah.
Perebutan pengaruh antara Pakuan-Galuh dengan Cirebon-Banten Genjah bergeser kembali ke darat.

akan tetapi Pakuan dan Galuh yang telah Dehidrasi banyak wilayah Jadi sulit menjaga keteguhan moral para pembesarnya. Satu persatu dari para Pangeran, Putri Pakuan di banyak wilayah jatuh ke di pelukan agama Islam. Begitu pula sebagian Panglima Perangnya.
Perundingan Yang Sangat Menentukan

Satu hal yang sangat unik dari personaliti Syarif Hidayatullah Yaitu di riwayat jatuhnya Pakuan Pajajaran, ibu kota Kerajaan Sunda di tahun 1568 hanya setahun sebelum ia wafat di usia yang sangat sepuh hampir 0 tahun (1569). Diriwayatkan di perundingan terakhir dengan para Pembesar istana Pakuan, Syarif Hidayat membagikan 2 opsi.

Yang pertama Pembesar Istana Pakuan yang bersedia masuk Islam akan dijaga kedudukan dan martabatnya seperti gelar Pangeran, Putri atau Panglima dan dipersilakan tetap tinggal di keraton masing-masing. Yang ke dua Yaitu untuk yang tak bersedia masuk Islam maka wajib keluar dari keraton masing-masing dan keluar dari ibukota Pakuan untuk diberikan tempat di pedalaman Banten wilayah Cibeo sekarang.

di perundingan terakhir yang sangat menentukan dari riwayat Pakuan ini, sebagian besar para Pangeran dan Putri-Putri Raja menerima opsi ke 1. Sedang Pasukan Kawal Istana dan Panglimanya (sebanyak 40 orang) yang merupakan Korps Elite dari Angkatan Darat Pakuan memilih opsi ke 2. Mereka inilah cikal bakal penduduk Baduy di sekarang yang terus menjaga anggota pemukiman hanya sebanyak 40 keluarga di karenakan keturunan dari 40 pengawal istana Pakuan. Anggota yang tak terpilih wajib Berpindah ke pemukiman Baduy Luar.

Yang Jadi perdebatan para ahli hingga di ini Yaitu opsi ke 3 yang diminta Para Pendeta Sunda Wiwitan . Mereka menolak opsi pertama dan ke 2. Dengan Perkataan lain mereka ingin tetap memeluk agama Sunda Wiwitan (Genre Hindu di wilayah Pakuan) akan tetapi tetap bermukim di di wilayah Istana Pakuan.

Sejarah membuktikan hingga penyelidikan yang dilakukan para Arkeolog asing saat masa penjajahan Belanda, bahwa istana Pakuan dinyatakan hilang di karenakan tak ditemukan sisa-sisa reruntuhannya. Sebagian riwayat yang diyakini kaum Sufi menyatakan dengan kemampuan yang diberikan Allah di karenakan doa seorang Ulama yang sudah sangat sepuh sangat mudah dikabulkan, Syarif Hidayat telah memindahkan istana Pakuan ke alam ghaib sehubungan dengan kerasnya penolakan Para Pendeta Sunda Wiwitan untuk tak menerima Islam ataupun sekadar keluar dari wilayah Istana Pakuan.

untuk para sejarawan, ia Yaitu peletak konsep Negara Islam modern saat itu dengan bukti berkembangnya Kesultanan Banten sebagi negara maju dan makmur mencapai puncaknya 1650 hingga 1680 yang runtuh hanya di karenakan pengkhianatan seorang anggota istana yang dikenal dengan nama Sultan Haji .

Dengan segala jasanya umat Islam di Jawa Barat memanggilnya dengan nama lengkap Syekh Maulana Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati Rahimahullah.

Tulisan terkait:

Sejarah Sunan Gunung Jati Dan Silsilahnya

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here