Home Kisah Islami Sejarah Sunan Ampel Dan Silsilahnya

Sejarah Sunan Ampel Dan Silsilahnya

187
0

Sudah kita ketahui bersama bahwa Sunan Ampel Yaitu Disorientasi seorang wali di antara Walisongo yang menyebarkan ajaran Islam di Pulau Jawa . Ia lahir 1401 di Champa . Ada dua pendapat mengenai lokasi Champa ini. Encyclopedia Van Nederlandesh Indie Menyebut bahwa Champa Yaitu satu negeri kecil yang terletak di Kamboja. Pendapat lain, Raffles menyatakan bahwa Champa terletak di Aceh yang di ini bernama Jeumpa.

Menurut beberapa riwayat, orang tua Raden Rahmat , nama lain Sunan Ampel, Yaitu Maulana Malik Ibrahim (menantu Sultan Champa dan ipar Dwarawati). di catatan Kronik Cina dari Klenteng Sam Po Kong , Sunan Ampel dikenal Bagaikan Bong Swi Hoo, cucu dari Haji Bong Tak Keng – seorang Tionghoa (suku Hui beragama Islam mazhab Hanafi ) yang ditugaskan Bagaikan Pimpinan Komunitas Cina di Champa oleh Sam Po Bo .

Padahal Yang Mulia Ma Hong Fu – menantu Haji Bong Tak Keng ditempatkan Bagaikan duta besar Tiongkok di pusat kerajaan Majapahit, Padahal Haji Gan En Cu juga telah ditugaskan Bagaikan kapten Cina di Tuban. Haji Gan En Cu setelah itu menempatkan menantunya Bong Swi Hoo Bagaikan kapten Cina di Jiaotung (Bangil)

Sementara itu seorang putri dari Kyai Bantong (versi Babad Tanah Jawi) alias Syaikh Bantong (alias Tan Go Hwat menurut Purwaka Caruban Nagari) menikah dengan Prabu Brawijaya V (alias Bhre Kertabhumi ) setelah itu melahirkan Raden Fatah. Namun tak diketahui apakah ada Interaksi antara Ma Hong Fu dengan Kyai Bantong.
Sunan Ampel disebut Sayyid Rahmad merupakan keponakan dari Putri Champa permaisuri Prabu Brawijaya yang merupakan seorang muslimah.

Raden Rahmat dan Raden Santri Yaitu anak Makhdum Ibrahim (putra Haji Bong Tak Keng), keturunan suku Hui dari Yunnan yang merupakan percampuran bangsa Han/Tionghoa dengan bangsa Arab dan Asia Tengah (Samarkand/Asmarakandi). Raden Rahmat, Raden Santri dan Raden Burereh/Abu Hurairah (cucu raja Champa) pergi ke Majapahit mengunjungi bibi mereka bernama Dwarawati puteri raja Champa yang Jadi permaisuri raja Brawijaya. Raja Champa di itu merupakan seorang muallaf. Raden Rahmat, Raden Santri dan Raden Burereh akhirnya tak kembali ke negerinya di karenakan Kerajaan Champa dih4ncurkan oleh Kerajaan Veit Nam.

Menurut Hikayat Banjar dan Kotawaringin (= Hikayat Banjar resensi I), nama asli Sunan Ampel Yaitu Raja Bungsu, anak Sultan Pasai . Dia datang ke Majapahit menyusul/menengok kakaknya yang diambil istri oleh Raja Mapajahit. Raja Majapahit di itu bernama Dipati Hangrok dengan mangkubuminya Patih Maudara (kelak Brawijaya VII ) . Dipati Hangrok (alias Girindrawardhana alias Brawijaya VI) telah memerintahkan menterinya Gagak Baning melamar Putri Pasai dengan membawa sepuluh buah Bahtera ke Pasai.

Bagaikan kerajaan Islam, mulanya Sultan Pasai keberatan bila Putrinya dijadikan istri Raja Majapahit, akan tetapi di karenakan takut binasa kerajaannya akhirnya Putri Itu diberikan juga. Putri Pasai dengan Raja Majapahit memperoleh anak laki-laki. di karenakan rasa sayangnya Putri Pasai melarang Raja Bungsu pulang ke Pasai. Bagaikan ipar Raja Majapahit, Raja Bungsu setelah itu meminta tanah untuk menetap di wilayah pesisir yang dinamakan Ampelgading. Anak laki-laki dari Putri Pasai dengan raja Majapahit Itu setelah itu dinikahkan dengan puteri raja Bali. Putra dari Putri Pasai Itu wafat saat istrinya Putri dari raja Bali mengandung tiga bulan. di karenakan dianggap akan membawa celaka untuk negeri Itu, maka saat lahir bayi ini (cucu Putri Pasai dan Brawijaya VI) dihanyutkan ke Bahari, akan tetapi setelah itu Bisa dipungut dan dipelihara oleh Nyai Suta-Pinatih, kelak disebut Pangeran Giri.

Kelak saat terjadi huru-hara di ibukota Majapahit, Putri Pasai pergi ke tempat adiknya Raja Bungsu di Ampelgading. Penduduk desa-desa sekitar memohon untuk Bisa masuk Islam kepada Raja Bungsu, akan tetapi Raja Bungsu sendiri merasa wajib meminta izin terlebih Dulu kepada Raja Majapahit mengenai proses islamisasi Itu. Akhirnya Raja Majapahit berkenan memperbolehkan penduduk untuk beralih kepada agama Islam. Petinggi daerah Jipang menurut Anggaran dari Raja Majapahit dengan cara rutin menyerahkan hasil bumi kepada Raja Bungsu. Petinggi Jipang dan keluarga masuk Islam. Raja Bungsu beristrikan puteri dari petinggi daerah Jipang Itu, setelah itu memperoleh dua orang anak, yang tertua seorang perempuan diambil Bagaikan istri oleh Sunan Kudus (tepatnya Sunan Kudus senior/Undung/Ngudung), sedang yang laki-laki digelari Bagaikan Pangeran Bonang. Raja Bungsu sendiri disebut Bagaikan Pangeran Makhdum .

Loading...

Silsilah
Sunan Ampel / Raden Rahmat / Sayyid Ahmad Rahmatillah bin
Maulana Malik Ibrahim / Ibrahim Asmoro bin
Syaikh Jumadil Qubro / Jamaluddin Akbar al-Husaini bin
Ahmad Jalaludin Khan bin
Abdullah Khan bin
Abdul Malik Al-Muhajir (Nasrabad,India) bin
Alawi Ammil Faqih (Hadhramaut) bin
Muhammad Sohib Mirbath (Hadhramaut)
Ali Kholi’ Qosam bin
Alawi Ats-Tsani bin
Muhammad Sohibus Saumi’ah bin
Alawi Awwal bin
Ubaidullah bin
Ahmad al-Muhajir bin
Isa Ar-Rumi bin
Muhammad An-Naqib bin
Ali Uraidhi bin
Ja’far ash-Shadiq bin
Muhammad al-Baqir bin
Ali Zainal Abidin bin
Husain bin
Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra binti Muhammad
Jadi, Sunan Ampel mempunyai darah Uzbekistan dan Champa dari sebelah ibu. akan tetapi dari ayah leluhur mereka Yaitu keturunan langsung dari
Ahmad al-Muhajir , Hadhramaut. Ambiguitas mereka termasuk keluarga besar Saadah BaAlawi.
Keturunan
Isteri Pertama, Yaitu: Dewi Condrowati alias Nyai Ageng Manila binti Aryo Tejo Al-Abbasyi, berputera:
1. Maulana Mahdum Ibrahim/Raden Mahdum Ibrahim/ Sunan Bonang /Bong Ang
2. Syarifuddin/Raden Qasim/ Sunan Drajat
3. Siti Syari’ah/ Nyai Ageng Maloka/ Nyai Ageng Manyuran
4. Siti Muthmainnah
5. Siti Hafsah
Isteri Kedua Yaitu Dewi Karimah binti Ki Kembang Kuning, berputera:
1. Dewi Murtasiyah/ Istri Sunan Giri
2. Dewi Murtasimah/ Asyiqah/ Istri
Raden Fatah
3. Raden Husamuddin (Sunan Lamongan )
4. Raden Zainal Abidin (Sunan Demak)
5. Pangeran Tumapel
6. Raden Faqih (Sunan Ampel 2 )
Sejarah dakwah

Syekh Jumadil Qubro (alias Haji Bong Tak Keng), dan kedua anaknya, Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishak bersama Serupa datang ke pulau Jawa. Seusai itu mereka berpisah, Syekh Jumadil Qubro tetap di pulau Jawa, Maulana Malik Ibrahim ke
Champa , Vietnam Selatan, dan adiknya Maulana Ishak mengislamkan Samudra Pasai.
Di Kerajaan Champa , Maulana Malik Ibrahim sukses mengislamkan Raja Champa, yang akhirnya mengubah Kerajaan Champa Jadi Kerajaan Islam. Akhirnya dia dijodohkan dengan putri raja Champa (adik Dwarawati), dan lahirlah Raden Rahmat.

Di setelah itu hari Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa tanpa diikuti keluarganya.
Sunan Ampel (Raden Rahmat) datang ke pulau Jawa di tahun 1443 , untuk menemui bibinya, Dwarawati. Dwarawati Yaitu seorang putri Champa yang menikah dengan raja
Majapahit yang bernama Prabu Kertawijaya .

Sunan Ampel menikah dengan Nyai Ageng Manila, putri seorang adipati di Tuban yang bernama Arya Teja. Mereka dikaruniai 4 orang anak, Yaitu:
1. Putri Nyai Ageng Maloka,
2. Maulana Makdum Ibrahim (Sunan Bonang ),
3. Syarifuddin (Sunan Drajat)
4. Syarifah, yang merupakan istri dari
Sunan Kudus.
Mohlimo[3] atau Molimo, Moh (tak mau), limo (lima), Yaitu falsafah dakwah Sunan Ampel untuk memperbaiki kerusakan akhlak di tengah masyarakat di Masa itu Yaitu:
1. Moh Mabok: tak mau minum minuman keras, khamr dan sejenisnya.
2. Moh Main: tak mau main judi, togel, taruhan dan sejenisnya.
3. Moh Madon: tak mau berbuat zina, homoseks, lesbian dan sejenisnya.
4. Moh Madat: tak mau memakai narkoba dan sejenisnya.
5. Moh Maling: tak mau mencuri, korupsi, meramp0k dan sejenisnya.
Makam Sunan Ampel di Surabaya
di tahun 1479 ,

Sunan Ampel mendirikan Mesjid Agung Demak. Dan yang Jadi penerus untuk melanjutkan perjuangan dakwah dia di Kota Demak Yaitu Raden Zainal Abidin yang dikenal dengan Sunan Demak, dia merupakan putra dia dari istri dewi Karimah.Sehingga Putra Raden Zainal Abidin yang terakhir tercatat Jadi Imam Masjid Agung Itu yang bernama Raden Zakaria (Pangeran Sotopuro).
Sunan Ampel diperkirakan wafat di tahun 1481 di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel Surabaya

Semoga bermanfaat dan mohon maaf atas kesalahan, ,@waulohualam.Sumber Link Wikipedia.

Tulisan terkait:

Sejarah Sunan Ampel Dan Silsilahnya

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here