Home Doa Islam saat Suami Istri Berjima’ Jadi Wajib, Sunnah, Makruh dan Haram

saat Suami Istri Berjima’ Jadi Wajib, Sunnah, Makruh dan Haram

59
0

Website Eksklusif Doa – Islam sudah mengatur segala sesuatu di Global ini dengan Dosis yang pas. Termasuk juga soal Interaksi suami istri. di Islam, Interaksi yang sangat pribadi Bisa Jadi perbuatan wajib, sunnah, mubah, ataupun haram. saat bagaimana?

Jadi wajib apabila seorang suami atau istri sedang menemui kondisi menginginkan yang memuncak. Dikhawatirkan padanya Seandainya tak menjalankan Interaksi seksual dengan pasangan halalnya akan jatuh di perbuatan maksiat / zina. Maka saat suami mengajak istrinya Herbi, istri diharuskan memenuhinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَلَمْ تَأْتِهِ فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ

Artinya :
“Apabila seorang laki-laki mengajak istrinya ke ranjangnya, lalu istri tak mendatanginya, hingga dia (suaminya –ed) bermalam di keadaan marah kepadanya, maka malaikat melaknatnya hingga pagi tiba.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Seharusnya yang dialkukan istri Yaitu memenuhi ajakan suaminya saat dirinya diajak Herbi suami istri.

إِذَا دَعَا الرَّجُلُ زَوْجَتَهُ لِحَاجَتِهِ فَلْتَأْتِهِ ، وَإِنْ كَانَتْ عَلَى التَّنُّورِ

Artinya :
“bila seorang laki-laki mengajak istrinya untuk menyalurkan hajatnya, maka hendaklah ia mendatangi suaminya, meskipun dia sedang berada di tungku perapian.” (HR. Ibnu Syaibah, at-Tirmidzi, ath-Thabarani dan berkata at-Tirmidzi Hadits Hasan Gharib, dan dishahihkan Ibnu Hibban no 4165)

Berkata al-Imam Syaukani rahimahullah, mengenai hadits diatas: “Seandainya di keadaan seperti itu aja tak boleh seorang istri menyelisihi suami, tak boleh tak memenuhi ajakan suami Padahal dia di keadaan seperti itu, maka bagaimana dibolehkan untuk menyelisihi suami selain dari kondisi itu.” (Silahkan Lihat Nailul Authaar:269/231)

Jadi Sunnah dengan cara Generik saat rutin melalukan diniatkan mencapai beberapa tujuan utama dari dari berhubunga antara lain:

  1. Dipeliharanya nasab (keturunan), sehingga mencapai jumlah yang ditetapkan menurut takdir Allah
  2. Mengeluarkan air yang Bisa mengganggu kesehatan badan bila ditahan terus
  3. Mencapai maksud dan merasakan kenikmatan, sebagaimana kelak di surga
  4. Menundukkan Etos, menahan nafsu,
  5. Menguatkan Heroisme dan supaya tak berbuat serong untuk kedua pasangan

Dihukumi makruh saat menjalankan Interaksi seksual di di kamar mandi. Makruh juga hukumnya menceritakan detail proses Interaksi intim yang dilakukan suami istri kepada orang lain tanpa kepentingan yang besar di dalamnya.

Loading...

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata:”Dan di hadits ini (”Sesungguhnya yang termasuk manusia paling buruk kedudukannya di Hepotenusa Allah di hari kiamat Yaitu seorang laki-laki yang menggauli istrinya lalau dia menceritakan rahasianya (jima’ Itu)”(HR Muslim) ) ada pengharaman untuk seorang laki-laki menyebarluaskan apa yang terjadi antara dia dengan istrinya berupa jima’, dan menceritakan dengan cara detail hal itu dan apa yang terjadi dengan perempuan di kejadian itu (jima’) berupa ucapan (desahan) ataupun perbuatan dan yang lainnya. Adapun sekedar menyebutkan Perkataan jima’, apabila tak ada faidah dan keperluan di dalamnya maka hal itu makruh di karenakan bertentangan dengan muru’ah (kehormatan diri)

Jadi haram atau berdosa saat istri sedang haid, suami memaksa menjalankan Interaksi. Atau saat istri sedang nifas termasuk menjalankan Interaksi seksual di dubur (anal seks).

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Kaum muslimin sepakat akan haramnya menyetubuhi wanita haid berdasarkan ayat Al Qur’an dan hadits-hadits yang shahih” (Al Majmu’, 2: 359). Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Menyetubuhi wanita nifas Yaitu sebagaimana wanita haid Yaitu haram berdasarkan kesepakatan para ulama.” (Majmu’ Al Fatawa, 21: 624)

di hadits disebutkan,

مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوِ امْرَأَةً فِى دُبُرِهَا أَوْ كَاهِنًا فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم

Artinya :
“Barangsiapa yang menyetubuhi wanita haid atau menyetubuhi wanita di duburnya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.” (HR. Tirmidzi no. 135, Ibnu Majah no. 639. Syaikh Al Albani Menyebut bahwa hadits ini shahih).

Al Muhamili di Al Majmu’ (2: 359) menyebutkan bahwa Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang menyetubuhi wanita haid, maka ia telah terjerumus di dosa besar.” (Source: Islam Post)

saat Suami Istri Berjima’ Jadi Wajib, Sunnah, Makruh dan Haram

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here