Home Ceramah Islam Terbaru RUKUN SHALAT (BAG. 2) : TAKBIRATUL IHRAM, DAN BERDIRI, KAJIAN FIKIH MAZHAB...

RUKUN SHALAT (BAG. 2) : TAKBIRATUL IHRAM, DAN BERDIRI, KAJIAN FIKIH MAZHAB SYAFII

26
0
KAJIAN FIKIH MAZHAB SYAFII — FIKIH SHALAT

RUKUN SHALAT (BAGIAN KE-2)
2. Takbiratul Ihram.
Yaitu mengucapkan allâhu akbar di permulaan shalat. Dalil rukun ini Yaitu hadits yang diriwayatkan Ali bin Abi Thalib RA, bahwa Rasulullah SAW:
مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ، وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ، وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ
“Kunci shalat Yaitu bersuci, pembukanya Yaitu takbir, dan penutupnya Yaitu salam.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).
Takbiratul ihram wajib memakai kalimat takbir, Yaitu Allahu Akbar. tak apa-apa menambahkan sesuatu yang tak merubah istilah takbir, seperti: “Allahul akbar”, atau menambah sifat Allah, seperti: “Allahul jalîl akbar”. Tapi semua itu tak afdal.
Takbiratul Ihram (http://srarkafaaltahzib.blogspot.co.id)
Takbiratul Ihram 
 
Syarat takbiratul ihram
Terdapat sejumlah syarat yang wajib dipenuhi di takbiratul ihram, diantaranya Yaitu:
1. Memperdengarkan bacaan takbir Itu minimal kepada dirinya.
2. Dilakukan di keadaan berdiri bila melaksanakan shalat wajib.
3. Menghadap kiblat.
4. wajib dengan bahasa Arab bila mampu.
5. Diucapkan bersamaan dengan menghadirkan niat shalat di hati.
6. Mengucapkan takbir Seusai masuk waktu shalat.
7. Mengakhirkan takbir makmum daripada takbir imamnya.
8. memakai Perkataan “Allah” dan “akbar”.
9. Dibaca dengan cara berurut.
10. Melafalkan setiap hurufnya dengan benar.
11. tak menambah dengan huruf lain, misalnya:
  • tak memanjangkan huruf hamzah di awal lafal “Allah”, seperti: Aallah.
  • tak memanjangkan huruf ba` di lafal “akbar”, seperti: akbaar.
  • tak mentasydidkan (membaca dobel) huruf ba`, seperti: akbbar.
  • tak menambahkan huruf waw diantara keduanya, seperti: allahuwakbar.
  • tak menambahkan huruf wal sebelum lafal “Allah”, seperti: wallahu.
  • tak merubah huruf kaf Jadi kho’, seperti: akhbar, atau Jadi qaf, seperti: aqbar.
12. Membaca dengan cara muwalah (tak membuat jeda antara kedua Perkataan).
13. tak memanjangkan huruf mad (alif) di lafal “Allah” lebih dari tujuh alif (14 ketukan).
14. tak bermaksud mengucapkan takbir selain takbir untuk shalat, misalnya takbir untuk membagikan semangat, berzikir, dan lain-lain.

3. BERDIRI
Berdiri saat melaksanakan shalat Yaitu rukun di shalat wajib. Yang dimaksud berdiri Yaitu menegakkan tubuhnya sehingga setiap tulang berposisi tegak di tempatnya. Berdiri Yaitu wajib meskipun dengan bersandar di sesuatu yang bila dihilangkan ia akan terjatuh, seperti tongkat, badan manusia, dan lainnya, tapi hukumnya Yaitu makruh. bila seseorang menunduk tanpa uzur hingga tangannya mencapai lutut maka batal shalatnya. Diriwayatkan dari Imran bin Hushain RA, ia berkata: “Aku mempunyai penyakit wasir, lalu aku bertanya kepada Rasulullah SAW maka beliau berkata:
صَلِّ قَائِمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ
“Shalatlah sambil berdiri, bila tak Bisa maka sambil duduk, dan bila tak Bisa maka dengan berbaring.” (HR. Bukhari).
Adapun di shalat sunah, seseorang boleh melaksanakannya dengan duduk tapi hanya mendapatkan setengah pahala dari orang yang melaksanakannya sambil berdiri. Begitu pula, ia boleh shalat sunah sambil berbaring menyamping dan hanya mendapatkan seperempat dari pahala shalat sambil berdiri. Tapi, tak boleh shalat sunah sambil terlentang untuk orang yang mampu melaksanakannya sambil berdiri, duduk atau berbaring menyamping. Rasulullah SAW:
مَنْ صَلَّى قَائِمًا فَهُوَ أَفْضَلُ، وَمَنْ صَلَّى قَاعِدًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ اْلقَائِمِ، وَمَنْ صَلَّى نَائِمًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ اْلقَاعِدِ
“Barang siapa yang shalat sambil berdiri maka itu afdal. Barang siapa yang shalat sambil duduk maka baginya setengah pahala yang berdiri. Dan barang siapa yang shalat sambil tidur maka baginya setengah pahal yang duduk.” (HR. Bukhari)
Seseorang tak boleh melaksanakan shalat wajib sambil duduk kecuali tak mampu berdiri. Yang dimaksud dengan ketidakmampuan disini Yaitu mendapatkan kondisi sangat sulit atau membahayakan diri Yaitu kondisi yang karenanya seseorang diizinkan untuk bertayamum. Kondisi sulit Itu Yaitu kekhawatiran bertambahnya penyakit, keterlambatan sembuh, terjadinya cela (cacat) besar di anggota tubuh yang tampak, cacat tetap di Disorientasi satu anggota tubuh, atau kesulitan yang biasanya tak mampu dipikul.
Ketidakmampuan berdiri
bila seseorang tak mampu berdiri maka ia wajib menjalankan Disorientasi satu dari beberapa hal berikut dengan cara berurutan, Yaitu:
  1. Berdiri sambil bersandar.
  2. bila tak mampu maka berdiri diatas lutut.
  3. Jikat tak mampu maka shalat sambil duduk. tutorial duduk yang paling bagus Yaitu duduk iftirasy, Yaitu duduk diatas telapak kaki kiri sementara telapak kaki kanan ditegakkan (dijinjitkan), seperti di duduk diantara dua sujud.
  4. bila tak mampu maka dengan berbaring menyamping. Yang afdal Yaitu menyamping di Hepotenusa kanan tubuhnya.
  5. bila tak mampu maka berbaring sambil terlentang dengan meninggikan bagian kepalanya supaya Bisa menghadap kiblat. Rukuk atau sujudnya dengan menundukkan kepala.
  6. bila tak mampu maka shalat dengan kelopak mata.
  7. bila tak mampu maka melaksanakan shalat di hatinya.
bila di tengah-tengah shalat seseorang mampu berdiri maka ia wajib berdiri, atau mampu duduk maka ia wajib duduk dari Letak berbaring atau terlentang. Begitu seterusnya.

WALLAHU A’LAM

Sumber : http://ahmadghozali.com

abdkadiralhamid@2016
Loading...
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Share on LinkedIn

Subscribe to receive free email updates:

RUKUN SHALAT (BAG. 2) : TAKBIRATUL IHRAM, DAN BERDIRI, KAJIAN FIKIH MAZHAB SYAFII

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here