Reuni 212, Wartawan Senior: Mereka Panik Melihat Semangat Baja yang Ternyata tak Surut

Reuni 212, Wartawan Senior: Mereka Panik Melihat Semangat Baja yang Ternyata tak Surut
Berita Islam 24H – Banyak orang yang pusing memikirkan apa alasan umat Islam kumpul lagi di Jakarta dengan tema Reuni 212. Mereka sibuk Menelusuri logika di balik “kumpul lagi” itu. Sibuk Menelusuri jawaban, “untuk apa?”.
untuk mereka, reuni semacam ini tak ada gunanya. Sia-sia! Buang-buang waktu, tenaga dan dana.
“Mereka” yang sibuk memikirkan alasan kumpul itu, ada dua golongan. Yang pertama Yaitu “mereka” yang benar-benar tak paham mengapa umat Islam wajib datang lagi ke Jakarta di HUT aksi damai 212. Yang kedua Yaitu “mereka” yang selalu mengantongi kalkulator politik; yang membawa sempoa politik ke mana-mana di karenakan “mereka” paranoid.
Yang pertama. Mereka ini tak banyak jumlahnya. Mereka dari hari ke hari sibuk dengan dunianya, tak mau tahu dengan keniscayaan untuk membangun persatuan di kalangan umat. Sebagian mereka malah merasa tak wajib mempersoalkan siapa yang seharusnya Jadi pemimpin dan bagaimana umat wajib dipimpin.
untuk mereka, yang paling penting Yaitu roda kehidupan biologis Bisa berjalan normal, ada penghasilan, dan makan-minum lancar. di bahasa percandaan biasa disebut “yang penting dapur berasap, perut kenyang”. Jadi, Seandainya “parameter perut” ini tak bermasalah, sudah cukup. tak wajib memikirkan bagaimana kondisi umat, siapa yang memimpin umat, apa-apa aja tantangan yang dihadapi umat, dlsb.
di karenakan itu, mereka merasa tak perlulah bersusah payah beraksi solidaritas dan mengekspresikan keresahan terhadap tutorial negara dikelola oleh pemegang kekuasaan. tak wajib aksi damai umat Islam, apalagi disusul pula dengan kumpul-kumpul reuni seperti Reuni 212, kemarin. Inilah “mereka” yang masuk golongan pertama.
setelah itu ada “mereka” kategori kedua. Yaitu, orang-orang yang sangat sadar bahwa aksi damai umat yang menunjukkan persatuan Yaitu “ganjalan” untuk mereka. “Mereka” ini Yaitu pemegang kekuasaan dan para pendukung serta simpatisannya. Ke mana mereka pergi, kalkulator politik selalu ada di saku. Sempoa politik tetap ada di laci meja kerja mereka.
Begitu ada aksi umat, bagus aksi damai setahun yang lalu ataupun aksi reuni, kalkulator dan sempoa langsung dikeluarkan untuk menghitung apa maksud reuni, mengapa jutaan orang masih aja rela datang ke Jakarta dari tempat yang jauh-jauh, siapa dalangnya, ke mana arahnya, dll. Semua dihitung. Berhitung sambil memikirkan bagaimana tutorial untuk membuat supaya solidaritas umat Bisa sirna.
Maka, “mereka” jenis kedua ini akan memakai segala macam Forum yang ada di tangan mereka untuk merancang “software” yang Bisa melemahkan semangat juang umat. “Mereka” juga memakai para pendukung intelektual untuk disebar ke segenap penjuru media kaki-tangan, untuk “menertawakan” aksi Reuni 212. Mereka bermunculan di layar kaca TV-TV pembebek dengan komentar-komentar yang intinya “membodohkan” umat yang berkumpul di Jakarta. Barisan “mereka” di medsos pun melancarkan gempuran sinistis terhadap reuni.
Dan, TV-TV pembebek pun memahami keinginan “mereka”. Stasiun-stasiun anti-umat itu tak menampilkan aksi reuni Bagaikan berita. Atau, setidaknya mereka sengaja mengecilkan peristiwa itu di pemberitaan.
Intinya, “mereka” panik. Panik melihat tekad dan semangat baja yang, ternyata, tak surut di kalangan umat. Panik di karenakan instink paranoid “mereka” Menyebut bahwa aksi-aksi reuni semacam 212 mengindikasikan bahwa persatuan umat telah teruji.
Mereka panik di karenakan mereka telah terlanjur merancang dan mengimplementasikan langkah-langkah politik yang menempatkan umat Islam Bagaikan musuh mereka. Sesuatu yang sangat Galat. Galat besar. Padahal, umat ini tak bermaksud memusuhi mereka sepanjang mereka tak memusuhi umat.
Seusai Reuni 212, hampir pasti kalkulator dan sempoa politik “mereka” menghasilkan hitungan yang membuat perasaan Jadi tak enak. Sebab, tahun politik tak jauh lagi.
Seandainya umat Bisa menjaga momentum persatuan seperti yang tampak sekarang ini, berarti ada ancaman nyata terhadap eksistensi kekuasaan “mereka”.
Oleh Asyari Usman
Wartawan Senior

Loading...

Reuni 212, Wartawan Senior: Mereka Panik Melihat Semangat Baja yang Ternyata tak Surut

Facebook Comments
Loading...

Leave a Reply