Home Ceramah Islam Terbaru PERBUATAN SUNAH di SHALAT (Bag. 2) : Mengangkat Tangan dan Bersedekap, KAJIAN...

PERBUATAN SUNAH di SHALAT (Bag. 2) : Mengangkat Tangan dan Bersedekap, KAJIAN FIKIH MAZHAB SYAFII

30
0
KAJIAN FIKIH MAZHAB SYAFII — FIKIH SHALAT
SUNAH SHALAT

PERBUATAN SUNAH DI di SHALAT
(Bagian Kedua)


b. Sunah Haiah (سنة الهيئة)
Sunah haiah Yaitu perbuatan sunah yang dianjurkan dilakukan di di shalat dan bila ditinggalkan maka shalatnya tak batal dan tak wajib menyempurnakannya dengan sujud sahwi.
Perbuatan yang termasuk sunah haiah Yaitu Bagaikan berikut:

1. Mengangkat kedua tangan.
Mengangkat kedua tangan dianjurkan di empat keadaan, Yaitu saat takbiratul ihram, rukuk, berdiri dari rukuk, dan berdiri dari tasyahud kedua.
Ini berdasarkan hadits Ibnu Umar RA: “Aku melihat Nabi SAW Mengakses dengan takbir di di shalat. Beliau mengangkat kedua tangannya saat bertakbir hingga menjadikannya sejajar dengan kedua pundaknya. Dan bila bertakbir untuk rukuk beliau menjalankan hal yang Serupa. Dan bila berkata: “sami’allahu liman hamidah” beliau menjalankan hal yang Serupa. Dan berkata: “rabbanâ walakal hamdu”. Beliau tak menjalankan itu saat sujud dan tak pula saat mengangkat kepalanya dari sujud.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dan diriwayatkan dari Ibnu Umar RA juga melalui jalur lain bahwa: “Nabi SAW bila bangkit dari dua rakaat mengangkat kedua tangannya.” (HR. Bukhari dan Nasai).

takbir

Tata tips yang diajurkan di mengangkat kedua tangan Yaitu:

  1. Mengangkat kedua tangan atau yang tersisa bila terputus.
  2. Diangkat hingga sejajar pundak, Yaitu ujung ibu jari di bawah telinga bagian bawah dan ujung jemari lain sejajar dengan telinga bagian atas.
  3. Kedua telapak terbuka.
  4. Jari jemari dibuka sedang.
  5. Kedua telapak dihadapkan ke arah kiblat, bukan membelakanginya atau menghadap ke langit.
  6. Ujung bagian atas jemari agak dicondongkan ke arah kiblat.
  7. Telapak tangan dihadapkan ke arah kiblat.
  8. Waktu mengangkat tangan:
  • Takbiratul ihram: takbir dimulai bersamaan dengan kedua tangan diangkat dan berakhir di keadaan kedua tangan di atas (sejajar dengan pundak). Lalu melepaskan keduanya ke bawah.
  • Rukuk: takbir dimulai bersamaan dengan kedua tangan diangkat. saat kedua telapak sudah sejajar dengan pundak lalu membungkuk sambil memanjangkan takbir hingga sempurna rukuknya.
  • I’tidal: tasmi’ dimulai bersamaan dengan mengangkat kepala dan berakhir dengan tegaknya badan dan kedua telapak tangan sejajar dengan pundak. Lalu melepaskan kedua tangan ke bawah.
  • Tasyahud awal: takbir dimulai sejak akan bangkit dan kedua telapak tangan Berawal Dari diangkat saat hingga batas minimum rukuk. Takbir berakhir saat badan telah tegak dan kedua tangan sejajar pundak. Lalu melepaskan kedua telapak tangannya untuk bersedekap.

bila takbir telah selesai maka tak dianjurkan kembali mengangkat tangan.

2. Bersedekap.
Yaitu meletakan telapak tangan kanan di atas pergelangan tangan kiri di bawah dada. Yang sempurna Yaitu dengan memegang sebagian lengan bawah dan punggung tangan, sementara jari-jari diarahkan ke pergelangan.
Diriwayatkan dari Wail bin Hujr RA yang menceritakan tips Nabi SAW melaksanakan shalat: “Lalu beliau meletakkan tangan kanannya di atas (punggung) telapak kiri, pergelangan dan lengan.” (HR. Nasai).
Tempat meletakkan kedua tangan Yaitu di bawah dada dan di atas pusar.

3. Melihat ke tempat sujud.
Sepanjang shalat Etos seseorang diarahkan terus ke arah tempat sujudnya meskipun ia shalat di hadapan Ka’bah atau di hadapan seorang nabi. Kecuali saat tasyahud maka ia memandang ke arah telunjuknya Seusai diangkat. Tujuannya supaya selalu fokus dan khusyuk di di shalat.
Zubair bin Awwam RA berkata: “bila duduk tasyahud, Rasulullah SAW meletakkan telapak tangan kirinya di atas paha kirinya. Beliau memberi isyarat dengan telunjuk dan matanya tak lepas dari isyaratnya itu.” (HR. Abu Daud dan Nasa`i).

4. tak memejamkan mata.
Dianjurkan untuk tak memejamkan mata selama shalat. Nabi SAW bersabda:

Loading...
إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلاةِ فَلا يَغْمِضْ عَيْنَيْهِ

“bila Disorientasi seorang diantara kalian melaksanakan shalat maka janganlah ia memejamkan kedua matanya.” (HR. Thabrani).
akan tetapi bila di hadapannya ada sesuatu yang membuat tak khusyuk maka dianjurkan untuk memejamkannya.

5. Berhenti sejenak.
Dianjurkan untuk berhenti sejenak sejarak seorang membaca tasbih di enam keadaan, Yaitu:

  1. Antara takbiratul ihram dan doa iftitah.
  2. Antara doa iftitah dan ta’awudz.
  3. Antara ta’awudz dan al-Fatihah.
  4. Antara akhir al-Fatihah dengan membaca amin.
  5. Antara membaca amin dan membaca surah atau ayat. Dianjurkan untuk imam untuk memanjangkan jarak berhenti di shalat jahriyah (shalat dengan suara keras) supaya makmum Bisa membaca al-Fatihah.
  6. Antara surah dan takbir rukuk.

wallahu a’lam

Sumber : ahmadghozali.com

abdkadiralhamid@2016

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Share on LinkedIn

Subscribe to receive free email updates:

PERBUATAN SUNAH di SHALAT (Bag. 2) : Mengangkat Tangan dan Bersedekap, KAJIAN FIKIH MAZHAB SYAFII

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here