Home Ceramah Islam Terbaru PERBUATAN SUNAH di SHALAT (BAG. 1) : Tasyahud Awal dan Qunut, KAJIAN...

PERBUATAN SUNAH di SHALAT (BAG. 1) : Tasyahud Awal dan Qunut, KAJIAN FIKIH MAZHAB SYAFII

24
0
KAJIAN FIKIH MAZHAB SYAFII — FIKIH SHALAT
SUNAH SHALAT

PERBUATAN SUNAH saat SHALAT
(BAGIAN PERTAMA)
a. Sunah Ab’adh (سنة الأبعاض )
Sunah ab’adh Yaitu perbuatan sunah yang menyerupai bagian utama dari shalat yang bila ditinggalkan maka shalat tak batal tapi diminta menyempurnakannya dengan melaksanakan sujud sahwi. Perbuatan yang termasuk sunah ab’adh ini Yaitu:
qunut
1. Membaca tasyahud pertama, duduk saat tasyahud, dan membaca shalawat kepada Nabi SAW di dalamnya.
Tasyahud pertama Yaitu tasyahud yang tak diikuti salam setelahnya. Atau tasyahud yang dilakukan di rakaat kedua di shalat Zhuhur, Ashar, Magrib dan Isya.
Rasulullah SAW bersabda:
فَإِذَا جَلَسْتَ فِي وَسَطِ الصَّلَاةِ فَاطْمَئِنَّ، وَافْتَرِشْ فَخِذَكَ الْيُسْرَى ثُمَّ تَشَهَّدْ
“bila kita duduk di tengah shalat maka bersikaplah tenang. Jadikan paha kirimu Bagaikan alas lalu bacalah tasyahud.” (HR. Abu Daud).
Adapun dalil kesunahan tasyahud ini Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa: “Rasulullah SAW berdiri di shalat Zhuhur Padahal ia wajib duduk. Maka saat telah menyelesaikan shalat beliau menjalankan sujud dua kali.” bila tasyahud ini wajib maka tak Bisa digantikan dengan sujud sahwi.
2. Membaca shalawat kepada keluarga Nabi SAW (âlu Muhammad) di tasyahud akhir.
Berdasarkan hadits Abu Humaid as-Sa’idi RA, ia berkata: “Para sahabat bertanya: ‘Ya Rasulullah, bagaimana tips kami bershalawat padamu?’ Beliau menjawab:
قُولُوا: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
“Katakanlah: ‘Ya Allah, limpahkan shalawat kepada Muhammad, para isterinya dan keturunannya, sebagaimana Engkau bershalawat kepada keluarga Ibrahim. Dan limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad, para isterinya dan keturunannya, sebagaimana Engkau melimpahkan keberkahan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.” (HR. Bukhari dan Muslim).
3. Membaca doa qunut di shalat Shubuh dan Witir Ramadhan, berdiri saat membacanya, shalawat kepada Nabi SAW di dalamnya, dan bershalawat untuk keluarga dan sahabat Nabi SAW.
Qunut dengan cara bahasa berarti doa. Qunut ada tiga macam Yaitu:
a). Qunut di rakaat kedua shalat Shubuh. Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA: “Rasulullah SAW senantiasa menjalankan doa qunut di shalat Shubuh hingga beliau berpisah dengan Global.” (HR. Ahmad, Daruquthni, Baihaqi, dan lainnya).
b). Qunut di rakaat kedua shalat Witir Seusai pertengahan kedua Ramadhan. Diriwayatkan oleh Abu Daud bahwa Ubay bin Ka’ab mengimami mereka (kaum muslimin) dan membaca doa qunut di pertengahan akhir bulan Ramadhan.
c). Qunut nazilah Yaitu qunut di rakat terakhir semua shalat saat turun Bala. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA: “Rasulullah SAW menjalankan doa qunut selama satu bulan berturut-turut di shalat Zhuhur, Ashar, Magrib, Isya dan Shubuh, di penghujung shalat Seusai membaca: ‘sami’allahu liman hamidah’ di rakaat terakhir. Mendoakan beberapa suku dari Bani Sulaim, Ri’l, Dzakwan dan ‘Ushayyah. Dan yang dibelakang beliau mengamini.” (HR. Abu Daud).
Qunut dilakukan saat i’tidal (berdiri Seusai rukuk) Seusai menyelesaikan bacaan zikirnya. Diriwayatkan bahwa Anas bin Malik RA ditanya: “Apakah Rasulullah SAW menjalankan qunut di shalat Shubuh?” Ia menjawab: “Ya.” Lalu ditanya kembali: “Apakah beliau qunut Seusai rukuk?” Ia menjawab: “Seusai rukuk sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Bacaan qunut Yaitu Bagaikan berikut berikut:
اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ، إِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ، وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ
(ALLAHUMMAHDINÎ FÎMAN HADAYT, WA ‘ÂFINÎ FÎMAN ‘ÂFAYT, WA TAWALLANÎ FÎMAN TAWALLAYT, WA BÂRIK LÎ FÎMÂ A’THAYT, WA QINÎ SYARRA MÂ QADHAYT, INNAKA TAQDHÎ WA LÂ YUQDHÂ ‘ALAIK, WA INNAHU LÂ YADZILLU MAN WÂLAYT, WA LÂ YA’IZZU MAN ‘ÂDAYT, TABÂRAKTA RABBANÂ WA TA’ÂLAYT)
Ya Allah, berilah aku hidayah bersama orang yang Engkau beri hidayah. Sembuhkanlah aku bersama orang yang Engkau beri kesembuhan. Perhatikanlah urusanku bersama orang yang Engkau perhatikan urusannya. Berilah aku keberkahan bersama orang yang Engkau beri keberkahan. Jagalah aku dari keburukan apa yang Engkau tetapkan. Sesungguhnya Engkaulah yang memberi keputusan dan tak ada yang mencampuri keputusan-Mu. Sungguh tak ada yang hina orang yang Engkau cintai. Dan tak yang mulia orang yang Engkau musuhi. Sungguh banyak kebaikan-Mu dan sungguh tinggi derajat-Mu.”
Doa ini sesuai hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Hasan bin Ali RA.
Dan para ulama menganjurkan untuk menambah bacaan:
فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ، نَسْتَغْفِرُكَ اللّهُمَّ رَبَّنَا وَنَتُوْبُ إِلَيْكَ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
(FALAKAL HAMDU ‘ALÂ MÂ QADHAYT, NASTAGHFIRUKALLAHUMMA RABBANA WA NATÛBU ILAIK, WA SHALLALLAHU ‘ALÂ SAYYIDINA MUHAMMADININ NABIYYIL UMMIYYI WA ‘ALÂ ÂLIHI WA SHAHBIHI WA SALLAM)
“untuk-Mu lah segala pujian atas apa yang Engkau tetapkan. Kami memohon ampunan di-Mu ya Allah Tuhan kami, dan kami bertaubat kepada-Mu. Semoga shalawat dan salam selalu terlimpahkan kepada penghulu kami Muhammad, nabi yang ummi, serta kepada keluarga dan sahabatnya.”
Dianjurkan pula di berqunut menjalankan beberapa amalan berikut:
1) Mengangkat kedua tangan saat berqunut dan menghadapkan telapak ke arah langit.
2) Dilafalkan dengan bentuk jamak bila berjamaah. Yaitu dengan mengganti dhamir (aku) Jadi (kami) di kalimat seperti: allahumahdinâ…, wa ‘âfinâ…, dan seterusnya.
3) Dibaca dengan keras.
4) Para makmum mengamini.
5) tak mengusap muka Seusai berdoa.
bila imam tak berqunut maka dianjurkan untuk makmum untuk berqunut dengan menyebutkan kalimat doa, pujian dan shalawat kepada Nabi SAW. Misalnya dengan Menyebut:
اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ يَا غَفُوْرُ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
(ALLAHUMMAGHFIRLI YA GHAFÛR, WA SHALLALLAHU ‘ALÂ SAYYIDINA MUHAMMADIN WA ‘ALÂ ÂLIHI WA SHAHBIH WA SALLAM)
Ya Allah, ampunilah aku, wahai Yang Maha Pengampun. Semoga shalawat dan salam selalu terlimpahkan kepada penghulu kami Muhammad, kepada keluarga dan sahabatnya.”

Wallahu A’lam

Sumber : ahmadghozali.com

abdkadiralhamid@2016
Loading...
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Share on LinkedIn

Subscribe to receive free email updates:

PERBUATAN SUNAH di SHALAT (BAG. 1) : Tasyahud Awal dan Qunut, KAJIAN FIKIH MAZHAB SYAFII

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here