Peran Amerika di Penjajahan Palestina

Peran Amerika di Penjajahan Palestina
Berita Islam 24H – Palestina memang selalu membara. Ya, selama bangsa keturunan babi dan kera masih bercokol di sana, gejolak akan selalu menggema. Terlebih Seusai adanya statement dari Donald Trump mengenai status Al-Aqsa Bagaikan ibu kota Israel. Pernyataan ini menyulut api yang telah lama berkobar.
Maka, terjadilah gelombang penolakan di seluruh penjuru Global. Semua mata Global tertuju di Palestina, terkhusus Al-Aqsa. Tak terkecuali di Indonesia, kaum muslimin berkumpul di Monas di 17/12 lalu untuk menggalang solidaritas untuk Al-Quds dan Palestina.
Namun, sebelum pernyataan dari presiden Amerika, Benjamin Netanyahu (Perdana Menteri Israel) Sempat berujar,“Al-Quds Yaitu ibu kota abadi untuk Israel dan akan terus kekal di bawah naungan pemerintahan bangsa Yahudi dan tak boleh Dikotomi-untuk dengan orang lain.” Keselarasan pernyataan ini Bisa kita tarik kesimpulan bahwa antara Israel dan Amerika mempunyai Interaksi dekat dan tak terpisahkan. Bagaikan Haman dan Fir’aun, dua negara ini seharusnya mendapatkan porsi perlawanan yang Serupa.
Kita tahu bahwa Haman Yaitu seorang pembesar Fir’aun dan Hayati sezaman dengan nabi Musa. Ia bertugas membantu Fir’aun di melaksanakan segala perintahnya, seperti membuat bangunan yang tinggi. Dan Haman Yaitu sekutu Fir’aun. Maka, antara Israel dan Amerika Yaitu satu kesatuan. bila kita bersuara lantang mengecam Israel, jangan lupa Israel itu ada dan berjaya di karenakan Amerika dibelakangnya. Seperti apa Interaksi kedua negara ini hingga diibaratkan seperti Haman dan Fir’aun?
Ikatan Mesra Antara Israel dan Amerika
Amerika memperlihatkan Disorientasi satu langkah memalukan di Konferensi PBB di Durban, Afrika Selatan. Langkah ini memperlihatkan betapa loyalnya Amerika Serikat (AS) kepada Israel hingga bersedia menjalankan apa aja demi kepentingan Israel. di itu delegasi AS dan Israel menjalankan walk out bahkan sebelum konferensi yang dilaksanakan dari tanggal 29 Agustus hingga 1 September itu dimulai. Konferensi PBB itu bertemakan “Rasisme, Xenophobia dan Intoleransi.”
Awal Interaksi orang Yahudi dengan Amerika sudah dimulai sejak pendaratan Christoper Columbus (1451-1506) di Waiting Island, Bahama di tanggal 12 Oktober 1492. Tujuan perjalanan ini semula Yaitu untuk mencapai “kepulauan rempah-rempah” Maluku di Hindia Timur dengan mengambil rute ke arah barat yang belum Sempat dijelajahi sebelumnya oleh pelaut mana pun. Semula Columbus mengajukan usul permohonan ini kepada raja Portugis, akan tetapi permohonannya ditolak.
di akhirnya orang Yahudi membantu Columbus di eskpedisinya. Mereka membujuk Ratu Isabella untuk membantu Columbus mengingat Harta kerajaan kian hari kian susut dan kemungkinan Columbus akan menemukan pulau emas. Bujukan itu sukses hingga Sri Ratu bersedia menawarkan perhiasan-perhiasannya untuk digadaikan Bagaikan dana untuk pelayaran itu.
Columbus menjalankan tiga kali lagi ekspedisi pelayaran ke “Benua Baru”. Setahun setelah itu di bulan Oktober 1493 ia berlayar meninggalkan Spanyol, kali ini dengan 17 buah kapal, dengan rencana membangun tempat-tempat perdagangan dan koloni, dengan membawa serta beratus-ratus kolonis, termasuk di antara mereka para “marano” (Yahudi Bawah Tanah). Ia membangun koloni pertama di pulau Hispaniola, dan menemukan lagi pulau-pulau Puerto Rico, Jamaika, kepulauan Virgin, dan Antilla. di pelayarannya yang ketiga di tahun 1498 ia mendarat di benua Amerika dan menemukan Trinidad. Nasib tragis menimpa Columbus di karenakan dikhianati dan meninggal di keadaan miskin dan terhina di 1506.
Seiring perjalanan waktu, kaum Yahudi Berawal Dari bermigrasi ke Nieuw Amsterdam (completely new York). Mereka Sempat berpindah ke daerah Philadelphia saat terjadi revolusi Amerika (1775-1783). Seusai Revolusi Amerika berakhir orang-orang Yahudi itu balik kembali ke completely new York dan menjadikannya Bagaikan negara bagian dengan konsentrasi Paling Besar masyarakat Yahudi di Amerika Serikat hingga di ini. Orang-orang Yahudi Menyebut kota completely new York Bagaikan “completely new Jerusalem” dan pegunungan Rocky oleh mereka diberi nama yang bernuansa agama, “Gunung Zion”.
Amerika oleh kaum Yahudi dipandang Bagaikan “Tanah yang Dijanjikan” yang sesungguhnya. tak mengherankan apabila perkembangan komunitas Yahudi di Amerika Serikat melalui completely new York sangat pesat. Keberhasilan kaum Yahudi di Amerika Serikat di perdagangan, terutama di bidang pinjam-meminjamkan uang, sangat besar.
Orang-orang Yahudi sukses menguasai industri perfilman, industri gula, industri rokok dan produk tembakau – lima-puluh persen dan mungkin lebih, di industri pengepakan daging olahan – lebih dari enampuluh persen, di industri alas-kaki, bagian Paling Besar dari bisnis musik, permata dan perhiasan, gandum dan produk pertanian lainnya, kapas, minyak dan gas bumi, industri besibaja, media-massa cetak, kantor berita, bisnis minuman keras, sekedar Menyebut “beberapa” industri yang sayapnya menyapu usaha bisnis di di ataupun di luar-pantai Amerika, semuanya ada di bawah kekuasaan modal Yahudi, bagus dengan cara berdiri-sendiri ataupun berpatungan dengan usaha bisnis orang Yahudi di luar Amerika Serikat.
Rakyat Amerika akan ternganga apabila mereka mengetahui barisan “pebisnis Amerika” yang memegang prestise komersial dengan label Amerika di luar-negeri di umumnya Yaitu orang Yahudi. Kiranya hal ini membagikan sedikit pemahaman mengenai”perilaku pebisnis Amerika” di sebagian besar Global. Tatkala yang menjalankan bisnis atas nama “Amerika”, akan tetapi tak menjalankannya sesuai dengan hukum setempat yang berlaku, tidaklah mengherankan apabila ada orang-orang Amerika yang tak mengakuinya.
Mungkin kita tahu bahwa Amerika sering disebut Bagaikan negeri Paman Sam. Penamaan ini pertama kali ditampilkan di tahun 1812 oleh seorang karikaturis Amerika, Thomas Nast. Tokoh Paman Sam digambarkan seseorang dengan profil, pakaian,dan tutup-kepala khas Yahudi, yang diangkatnya dari tokoh Samuel Wilson (1766-1854), yang di waktu itu menjabat Bagaikan inspektur perbekalan perang.
Paman Sam bukan hanya diambil dari nama Samuel Wilson, akan tetapi juga terkait dengan nama nabi kaum Yahudi di di Kitab Perjanjian Lama, seperti di Kitab Samuel I dan Samuel II, juga Bisa ditemukan di Kitab Raja-Raja I dan II, dimana terdapat nama Samuel. Bahkan lambang mata uang dolar – $ – oleh para pedagang uang Yahudi di waktu itu diambil dari huruf-awal S yang ada di nama Haikal Sulaiman (Solomon Temple), yang berlaku hingga hari ini.
Dominasi Yahudi di Amerika juga berlaku di didalam pemerintahan AS. Peran lobi Yahudi di di pemerintahan Amerika Serikat terutama sekali sangat meningkat di masa pemerintahan presiden Franklin Delano Roosevelt (1882-1945). Presiden Roosevelt telah membukakan jabatan-jabatan yang begitu luas kepada orang-orang Yahudi ke di birokrasi pemerintahan Amerika Serikat yang belum Sempat terjadi sebelumnya.
Hal itu juga berdampak dengan Dominasi mereka di Departemen luar negeri AS. Dulu departemen luar negeri Amerika Serikat Yaitu suatu instansi WASP (White, Anglo-Saxon, Protestant – berkulit putih, keturunan Inggeris, dan beragama Kristen Protestan). Di bawah presiden Clinton Forum penting itu berubah Jadi WJM (White, Jewish, Males – berkulit-putih, Yahudi, dan pria). Sejak menteri luar-negerinya Madeleine Albright yang Yahudi, ternyata semua calon pejabat untuk Letak puncak terdiri dari orang Yahudi, dan pria.
Dengan dikuasainya departemen luar-negeri Amerika Serikat selama di bawah menteri luar-negeri Madeleine Albright di era pemerintahan Bill Clinton, yang bersama isterinya Hillary Rodham Clinton Jadi anggota Freemasonry dan pendukung Israel yang gigih, infiltrasi orang Yahudi ke Washington D.C. berlangsung dengan deras. di masa pemerintahan George W. Bush, Jr., seorang pengusaha minyak yang dekat dengan orang-orang Yahudi, infiltrasi itu makin Jadi-Jadi.Ada lima-belas orang Yahudi yang “kebetulan” menduduki Letak-Letak puncak strategis di Washington, DC. dan Gedung Putih.
Dengan komposisi pejabat keturunan Yahudi yang menduduki Letak-Letak puncak strategis bagus di departemen luar-negeri, departemen pertahanan, dewan keamanan nasional, departemen keuangan, serta Gedung Putih yang seperti itu, tidaklah mengherankan apabila Amerika Serikat senantiasa mengambil sikap moralitas-ganda di setiap peristiwa yang berkaitan dengan Israel.
Disorientasi satunya apa yang kami tulis di atas aksi walk out tanpa malu yang dilakukan AS di konferensi PBB di Durban. Selain itu Resolusi PBB No. 3379-D/10/11/75 yang menyatakan bahwa “Zionism, a Movement on Racism” hanya mampu bertahan 15 tahun. Resolusi Itu dicabut di tahun 1991 atas desakan Amerika Serikat Seusai berakhirnya Perang Teluk.
Contoh moralitas ganda itu tampak dengan cara telanjang di kasus agresi Israel terhadap Palestina di 29 Maret 2002 yang lalu. saat Global mengutuk Agresi biadab negara Yahudi-Israel terhadap Palestina misalnya, Presiden Bush justru mendukung dan membenarkan tindakan Israel Itu Bagaikan tindakan “bela diri” menghadapi ”terorisme bom bunuh diri” oleh pejuang-pejuang Palestina, dan menyatakan perdana menteri Ariel Sharon Bagaikan “tokoh perdamaian” yang bertentangan dengan pendapat Generik internasional.
Contoh lain di masalah dukungan AS di Israel untuk pengembangan kekuatan nuklir. Amerika Serikat tak Sempat mentoleransi negara manapun untuk Memajukan dirinya Jadi kekuatan nuklir. Sikap politik ini tak berlaku terhadap Israel. Amerika seolah menutup mata dengan apa yang dilakukan Israel soal pengembangan senjata nuklir walau negeri penjajah Palestina ini selalu mengelak fakta ini.
Membela Palestina Dengan Melawan Keduanya
Dengan melihat segala bentuk Dominasi Yahudi atas Amerika, tentu bukanlah hal yang mengagetkan bila Donald Trump membuat pernyataan kotroversial soal Al-Aqsa. Apa yang telah kami paparkan di atas hanyalah sebagian kecil dari bentuk Dominasi mereka di negara “adidaya” Amerika yang telah dimulai sejak lama.
Maka, bila kita bersuara lantang menolak Israel yang digambarkan seperti Haman, maka jangan terlupa dengan sang Fir’aun yang berada di belakangnya. Inilah taktik yang selama ini dikelola dan diperagakan Al-Qaidah (AQ). AQ berperang melawan Barat dengan menganut filosofi dasar “menggetok“ atau menyerang kepala ular. Padahal kepala ular yang dimaksud Yaitu Amerika.
Oleh sebab itu, bila kita ingin membela Palestina, tak Disorientasi bila kita menyuarakan untuk menolak segala apa yang datang dari Israel. Tapi jangan lupa Israel itu disokong penuh oleh Amerika. Maka, lebih ampuh bila kita ingin melumpuhkan seekor ular dengan menggetok kepalanya daripada hanya memotong ekornya. [berita-islam24h.com / kn]

Loading...

Peran Amerika di Penjajahan Palestina

Facebook Comments
Loading...

Leave a Reply