Home Berita Islam Terbaru Pengertian Wujud, Qidam, Baqa Dan Mukhalafatuhu Lil Hawadits untuk Allah

Pengertian Wujud, Qidam, Baqa Dan Mukhalafatuhu Lil Hawadits untuk Allah

2138
0

فَوَاجِبُ لَهُ الْوُجُوْدُ وَالْقِدَمْ     كَذَا بَقَاءُ لاَ يُشَابُ بِالْعَـدَمْ
وَأَنَّهُ لِمَـا يَنَـالُ الْعَـدَمُ      مُخَالِفٌ بُرْهَانُ هَذَا الْقِـدَمُ

“Maka sifat yang wajib untuk Allah, Yaitu wujud, qidam, baqâ yang tak berkesudahan dan mukhâlafah lil hawâdith (berlainan dengan tiap-tiap sesuatu yang bersifat dengan ‘adam). Dalil untuk ini Yaitu dalil qidam”.

Sifat-sifat yang wajib ada di Allah ada 20 (dua puluh), namun di bait ini menyebutkan 4 (empat) sifat.

1. Wujud (ada).

Wujud artinya ada, dan wajib menyakini dengan sesungguhnya bahwa Allah itu ADA, tak boleh tak ada, di karenakan akal tak Bisa menerima bahwa Allah itu tak ADA.

Pengertian Wujud, Qidam, Baqa Dan Mukhalafatuhu Lil Hawadits untuk Allah

Wujud (ada) Yaitu satu sifat yang sangat sulit untuk dipahami, di karenakan meskipun kita mengakui bahwa diri (zat) itu ADA, akan akan tetapi sangat sulit untuk membedakan antara ZAT dengan ADA sehingga berkopetensi ZAT Yaitu ADA, ADA Yaitu ZAT, di artian tak ada Disparitas antara ZAT dengan ADA, dan mungkin juga bahwa ZAT bukan ADA, ADA bukan ZAT, akan akan tetapi ADA Yaitu suatu sifat yang bersarang dan bertempat di ZAT dan ZAT Yaitu suatu tempat untuk diposisika ADA. Ini tak ada bedanya, bagus ADA (wujud) yang terdapat di Allah ataupun yang terdapat di mahkluk (hawadits). Oleh di karenakan demikian timbullah beragam pendapat dikalangan filosof mengenai makna WUJUD. Di antaranya:

Menurut Imam Al asy’ariy bahwa, WUJUD Yaitu diri zat (‘ainu zat), bukan sifat, di karenakan zat bukan sifat dan sifat bukan zat, maka WUJUD Yaitu bukan sifat yang berbeda dan selain dari diri zat (laisa bi zaizi ‘alaiha), akan akan tetapi WUJUD Yaitu zat dan zat Yaitu WUJUD, maka WUJUD dan ZAT merupakan dua Perkataan yang bersamaan artinya (taraduf). DIRI (‘ain) di bahasa arab disebut dengan nafs, maka di karenakan WUJUD Ambiguitas diri zat sebagaimana terjemahan dari nafsu, sehigga WUJUD Itu di dikatakan dengan sifat nafsiyah yang dihubungkan (nisbah) kepada kalimat nafs. Maka berdasar pendapat ini, mengatagorikan WUJUD Bagaikan sifat Yaitu majaz (kiasan).

Menurut Imam Fakhrur Raziy, bahwa WUJUD Yaitu sifat stubutiyah, beliau mendefinisikan

الحال الواجب للذات ما دمامت الذات غير معللة بعلة

“Satu keadaan yang wajib dan mesti ada di zat, ada keadaan Itu tak dikarenakan dengan sesuatu di karenakan” .

Disparitas antara sifat stubutiyah dengan sifat maujudat, Seandainya stubutiyah berada antara ada dan tak, sifat itu ada akan tetapi tak Bisa dilihat yang tingkatan wujudnya berada di kharijil az azhan tak ada di kharijil a’yan, untuk sifat ini di bahasa arab sering diibarat dengan sabit bizzat, akan akan tetapi Seandainya sifat mawjudat diibarat dengan qaimah biz zat, Yaitu nyata, Bisa diraba dan Bisa dilihat walau wajib dibuka hijab terlebih Dulu.

Wujud dasar pendapat ini termasuk kedalam sifat bukan diri zat (‘ainuz zat), sifat yang dimaksudkan disini Yaitu sifat hal atau stubutiyah yang berada antara ada dan tak, sifat Itu ada akan akan tetapi tak Bisa dilihat di karenakan posisinya tak berada di kharijil a’yan

Sifat hal wujud berbeda dengan sifat hal di ma’nawiyah, di karenakan wujud Allah tak didahului dengan sebab, ilat dan tak ada zat lain yang menciptakannya akan akan tetapi Allah ada dengan sendirinya, di istilah Tauhid disebut dengan Wujud zatiy, sifat ma’nawiyah wujudnya dengan ada sifat ma’aniy seperti Qadirun dengan sebab ada Qudrah, Muridun dengan ada Iradah dan seterusnya.

Imam Al-asy’ariy dan Imam Fakhrur Raziy berbeda mengenai pengertian wujud namun keduanya sepakat bahwa Allah itu ada , kita tak wajib mendalami makna hakikat wujud di karenakan tak mengerti hakikat wujud tak Bisa merusakkan aqidah yang terpenting menyakini bahwa Allah itu ada, tak boleh dengan tak ada di karenakan demikian sehingga keduanya masih digolongkan kedalam aqidah ahlus sunnah waljamaah.

2. Qidam (sedia)

di Ummul Barahin Imam Sanusy mendefinisikan Qidam dengan 3 (tiga) bahasa, hal 76

عبارة عن سلب العدم السابق على الوجود

Qidam Yaitu Perkataan lain dari di menafikan Tiada yang mendahului Ada.

عبارة عن عدم الاولية للوجود

Qidam Yaitu dari di tiada awal wujud

عبارة عن عدم افتتاح الوجود

Qidam Yaitu singkatan dari di tiada permulaan wujud

Ketiga macam defenisi Qidam Itu mempunyai maksud yang Serupa Yaitu menyatakan bahwa wujud Allah tak diawali oleh tak ada yang setelah itu baru ada, dengan Perkataan lain tiada satu saatpun yang telah lewat yang tak ada Allah, Allah senantiasa ada dari Dulu hingga sekarang, dengan tak didahului oleh proses penciptaan. Hal ini berbeda dengan alam, alam diciptakan dari ketiadaan, pertama tak ada Serupa sekali, setelah itu diciptakan oleh Allah maka ia ada, muncul alam Itu Seusai tak ada, ada masa-masa yang telah lewat yang kosong dari di alam setelah itu alam Itu ada, sebagaimana yang ada di diri kita sendiri, kita tak ada sebelum kita dilahirkan dan setelah itu dengan cara tiba-tiba kita muncul di muka bumi. Justru di karenakan sifat alam seperti demikian sehingga di sebut baharu, baharu Itu mustahil di Allah.

Qidam merupakan sifat yang pertama dari sifat salbiyah, Yaitu sifat yang menafikan hal-hal yang tak layak dengan Allah, menafikan baharu di Allah.

Wujud Allah tak terkait dengan Masa, sebab Masa itu ciptaan Allah, sebelum wujud Masa, Allah telah wujud . Wujud Allah tak terkait dengan tempat, artinya wujud Allah tak berada di tempat, sebab Allah tak berada di tempat dan tak berada di Masa

3. Baqâ (kekal)

Sifat yang ketiga yang mesti ada di Allah dan wajib untuk mengimaninya Yaitu baqa (kekal), lawannya fana (lenyab, hilang dan sirna)

Loading...

di Ummul Barahin Imam Sanusy mendefinisikan baqa dengan 2 (dua) bahasa, hal, 79

عبارة عن سلب العدم اللاحق الوجود

Perkataan ganti dari di menafikan tiada yang dihinggapi di zat Allah

عبارة عن العدم الأخرية لوجود

Perkataan ganti dari di Perkataan-Perkataan tiada akhir tengtang wujud Allah

Kedua kalam Itu merupakan definisi dari baqa yang mempunyai arti yang Serupa, Yaitu menyatakan wujud Allah tak dihinggapi oleh tiada, zat Allah tetap ada selama-lamanya, tak Sempat hilang, tak Sempat lenyab, tak Sempat sirna dan tak Sempat berubah, akan akan tetapi zat Allah tetap ada sebagaimana wujudnya.

Sifat Baqa ini tak berdiri di zat Allah, akan akan tetapi sifat ini berfungsi untuk menafikan mati, lenyab dan sirna di zat Allah sehingga sifat ini digolongkan kedalam sifat salbiyah, yang kekal di Allah bukan hanya Zat, akan akan tetapi sifa-sifatNya juga kekal, maka Seandainya zat Allah qidam dan baqa, maka semua sifat-sifat Allah juga qidam dan baqa .

Seandainya kita telah menyakini bahwa Allah bersifat dengan baqa (kekal), berarti kita membantah dan menolak semua bentuk fana (sirna) yang mustahil datang terhadap Allah, fana, hilang dan lenyap ada dua bentuk:

  1. Fana mahdhan Yaitu hilang Serupa sekali di Etos mata, seperti api yang menyala, apabila dimatikan, maka api itu hilang dan lenyab di Etos mata.
  2. Fana Tabdil Yaitu hilang dengan sebab berubah kepada sifat yang lain, memang sifat pertama tak ada lagi, akan akan tetapi ia berganti ke jenis lain seperti Padi berganti Jadi Beras, beras berganti Jadi Nasi, lalu berganti Jadi Tape dan hingga seterusnya .

Kedua bentuk fana ini mustahil dan Higienis dari zat Allah yang maha tinggi.

di kitab Ma’rifat, Abu Kemala( ulama asal aceh ) bagikan wujud kepada 4 (empat) macam.

  1. Wujud (Ada) di permulaan, Ada di pertengahan dan Ada di akhir kesudahan (Ada selama-lamanya, dan tak Sempat tak ada, Yaitu wujud Allah)
  2. tak ada di permulaan, Ada di pertengahan, setelah itu tak ada di akhir kesudahan (ada sementara, Yaitu wujudnya Alam semesta ini )
  3. tak ada di permulaan, akan akan tetapi Seusai dijadikan maka ia ada, lalu ditetapkan selama-lamanya Yaitu seperti Syurga, Neraka dan sebagainya.
  4. tak ada di permulaan, tak ada di pertengahan, dan tak ada di akhir kesudahan, (tak ada selama-lamanya) Yaitu barang-barang yang mustahil seperti anak tuhan dan tuhan lain selain Allah.

Zat yang kekal tak Sempat lenyab hanya Allah, yang lain dariNya Hayati hanya sementara, semuanya akan sirna saat datang janji, sebagimana firmanNya

كل شيئ هالك إلا وجهه

Tiap-tiap sesuatu akan binasa kecuali zat Allah

Kita Hayati di Global sifatnya hanya sementara, semuanya akan mati, di hari kelak akan dihidupkan kembali dan akan disidangkan satu persatu oleh hakim yang sangat adil Yaitu Allah, untuk yang bagus amalannya akan ditempatkan di Syurga dan untuk yang buruk amalnya akan di tempatka di di Neraka. Hayati di hari itu akan tetap, tak akan mati lagi, dan sebenarnya inilah hakikat Hayati dan hakikat masa depan yang wajib kita persiapkan bekal terlebih Dulu, alangkah herannya seorang manusia yang mau bersusah payah di waktu muda supaya Hayati suka di usia tua,akan tetapi ia tak mau bersusah payah demi hari yang kekal kehidupan Yaitu akhirat.

4. Mukhalafatuhu lil hawadits ( berbeda Allah dengan sekalian makhluk ).

Sifat yang keempat yang wajib untuk Allah Yaitu Mukhâlafat lil Hawâdith artinya berlainan Allah dengan sekalian yang baharu, Imam Sanusiy memberi definisi dengan:

لا يماثله تعالى شيئ منها مطلقا لا فى الذات ولا فى الصفات ولا فى الأفعال

“ Allah tak bersamaan dengan sesuatu apapun (di zat, sifat dan perbuatan)”.

Hakikat zat Allah tak ada seorangpun yang mengetahuinya, akan akan tetapi terhadap mukallaf sudah Absah imannya dengan beriktiqad bahwa Allah itu berbeda dengan Alam dan Alam berbeda dengan Allah, antara Allah dengan Alam merupakan dua perkara yang Antagonis, sehingga bila ada pertanyaan mengenai pengertian Alam, jawabannya boleh dan benar dengan Perkataan-Perkataan al alam huwa ma siwa Allah (alam Yaitu yang bukan Allah), maka di karenakan demikian, untuk mengetahui ketidaksamaan Allah dengan alam penting terlebih Dulu mengenal Asterik-Asterik alam di karenakan dengan sebab telah mengerti Asterik-Asterik Itu, maka akan mengetahui bahwa yang selain itu Yaitu Allah sebagaimana di satu qaidah.

فكل ما تصورته فهو ليس بالله

“Apa aja yang terbayang di zihin kita mengenai alam, maka yang terbayang itu Yaitu bukan Allah”.

Ada beberapa hal yang berkaitan dengan alam :

  1. Jirim, sesuatu benda yang mengisi lapang (udara) berukuran menurut besar dan kecilnya benda Itu seperti batu, sebutir beras, sebiji tupung dan setitik bedak.
  2. Jisim, Yaitu sesuatu benda yang tersusun dari dua jauhar farad (melekul) sehingga Jadi satu, andai Perkataan mau Dikotomi dua, Bisa dan mungkin Dikotomi.
  3. Jauhar farad, Yaitu sesuatu benda yang tak Bisa dibagikan lagi di karenakan sudah terlampau halus, kalaupun mau Dikotomi akan hilang dan lenyab, seperti sebiji beras Dikotomi dua, diambil satu lalu Dikotomi dua lagi, diambil satu lalu Dikotomi dua lagi, diambil, dan Dikotomi, diambil dan Dikotomi dan terus Dikotomi, bila sudah hingga kepada semaca pecahan yang tak mungkin lagi Dikotomi, kalupun mau Dikotomi habislah ia, itulah yang disebut dengan jauhar farad.
  4. ‘A’radh, Yaitu sesuatu sifat yang datang lalu menghilang seperti Dinamis, tetap, berbalik-balik, berputar-putar dan lain sebagainya
  5. Sifat Yaitu sesuatu sifat dasar yang tetap seperti putih, hitam, manis, asam, pendek, panjang dan lain-lain.

Nah kelima macam ini merupakan ciri khas, ketentuan dan keadaan di yang baharu (alam) yang tak Bisa dipisahkan bahwa alam bertempat, Dinamis, menetap, berwarna dan mungkin Dikotomi, ini semua tak ada di zat, sifat dan perbuatanNya. Allah berlainan dengan alam, dan tiada satu makhlukpun yang Serupa dengan zat Allah, sifat dan perbutanNya.
Itulah  Pengertian Wujud, Qidam, Baqa Dan Mukhalafatuhu Lil Hawadits untuk Allah, semoga sedikit tulisan ini Bisa membantu kita di mempelajari ilmu tauhid dari kitab mu’tabarah dari ulama barakah. Amin.

Pengertian Wujud, Qidam, Baqa Dan Mukhalafatuhu Lil Hawadits untuk Allah

Facebook Comments
Loading...

Incoming search terms:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here