Home Berita Islam Terbaru Pembubaran Pengajian, Mengapa Aktivis-Aktivis dan Pemerintah Bungkam?

Pembubaran Pengajian, Mengapa Aktivis-Aktivis dan Pemerintah Bungkam?

95
0
Pembubaran Pengajian, Mengapa Aktivis-Aktivis dan Pemerintah Bungkam?
Berita Islam 24H – Menyikapi isu kemajemukan di berbangsa dan beragama di Indonesia, kerap kali kita disuguhi tutorial-tutorial tak etis yang terus di pertontokan. Dari pembakaran masjid di Tolikara, pelarangan masjid Muhammadiyah di Bireuen, pembubaran pengajian MTA di Blora dan Purworejo, kecaman terhadap HTI dan FPI serta serentetan peristiwa yang berbingkai isu keagamaan yang lainnya. Sabtu kemarin, pembubaran pengajian ini kembali terjadi di Sidoarjo, Jawa Timur.
Atas peristiwa-peristiwa diatas, ironisnya tak banyak dan nyaris tak terdengar suara-suara lantang aktivis yang kerap kali menggaungkan konsekuensi Disparitas, Copyright asasi manusia, humanisme, serta jargon-jargon kebebasan yang berbingkai kerukunan antar elemen untuk memperkuat kesatuan bangsa.
Aktivis-aktivis ini begitu lantang dan berlomba-lomba adu suara saat terjadi pembubaran acara keagamaan di Bandung, tragedi Aceh Singkil, ataupun hal-hal lain yang terus di besar-besarkan tapi dengan cara tak langsung terus menyudutkan Islam.
Belum lagi serangkaian dakwah nahi mungkar, yang dilakukan beberapa ormas Islam. Dengan lantang pula, senada dan seirama dengan cara kompak mereka memberi label ormas radikal, ormas intoleran, ormas wahabi, antek arab dan semacamnya. Lalu bagaimana dengan tragedi pengajian Sabtu kemarin, mengapa mereka semua bungkam?
Pasca tragedi pembubaran, bukan hanya aktivis-aktivis yang bungkam, tapi keberadaan negara juga sepertinya senyap. Kehadiran negara hanya terwakili dari sosok polisi yang turut serta mengamankan pengajian. Tak ada pernyataan-pernyataan tegas dari pemerintah pusat ataupun pemerintah daerah untuk menggaungkan toleransi dan ataupun pernyataan mendinginkan untuk menegosiasikan keniscayaan atas Disparitas.
Sejak bertahun-tahun lamanya kita di Indonesia terus diperkenalkan dan digaungkan dengan trilogi di kehidupan beragama. Kerukunan antar umat yang seagama, kerukunan antar umat beragama, serta kerukunan antar umat beragama dengan pemerintah. Konsep kerukunan antar umat beragama di Indonesia ini terilhami dari konsep ukhwah yang kita pelajari di Islam, yakni ukhwah Islamiyah, ukhwah insaniyah serta ukhwah wathoniyah.
Dengan berbingkai di tiga konsep kerukunan ini, seharusnya aktivis-aktivis yang vokal di menyikapi berbagai kasus intolaransi wajib turut pula hadir, berpikir kritis dan aktif mengadvokasi terhadap kasus-kasus intoleransi antar umat Islam sendiri.
Pemerintah, Bagaikan aktor utama pemilik kuasa wajib pula bersikap bijak. sangat sering kemana-mana pemerintah menyosialisasikan gerakan anti radikal, gerakan anti terorisme, hingga gerakan anti kekerasan. Lalu saat ada Copyright sekumpulan masyarakat terancam, tak Bisa berserikat dan berpendapat di karenakan egoisme Disorientasi satu kelompok yang merasa paling benar, mengapa pemerintah hanya diam, menunggu berapa peristiwa lagi akan terjadi. [beritaislam24h.info / spc]
Loading...

Pembubaran Pengajian, Mengapa Aktivis-Aktivis dan Pemerintah Bungkam?

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here