Home Ceramah Islam Terbaru NAFSU YG TERSEMBUNYI

NAFSU YG TERSEMBUNYI

23
0
NAFSU YG TERSEMBUNYI

Beberapa Ahli sejarah Islam meriwayatkan suatu kisah menarik. Kisah Ahmad bin Miskin, seorang ulama abad ke-3 Hijriah dari kota Basrah, Irak.

••••••••••••••••••••••••●●●●
Menuturkan lembaran episode hidupnya, Ahmad bin Miskin bercerita:

Aku Sempat diuji dengan kemiskinan di tahun 219 Hijriyah. di itu, aku Serupa sekali tak mempunyai apapun, sementara aku wajib menafkahi seorang istri dan seorang anak. Lilitan hebat rasa lapar terbiasa mengiringi hari-hari kami.
Maka aku berazam untuk menjual rumah dan Berpindah ke tempat lain. Akupun berjalan jalan Menelusuri orang yang bersedia membeli rumahku. 
Bertemulah aku dengan sahabatku Abu Nashr dan kuceritakan kondisiku. Lantas, dia malah memberiku 2 lembar roti isi manisan dan berkata: “berikan Boga ini kepada keluargamu.”
Di tengah perjalanan pulang, aku berpapasan dengan seorang wanita fakir bersama anaknya. Tatapannya jatuh di kedua lembar rotiku. Dengan memelas dia memohon:
“Tuanku, anak yatim ini belum makan, tak kuasa terlalu lama menahan siksa lapar. Tolong beri dia sesuatu yang Bisa dia makan. Semoga Allah merahmati Tuan.”
Sementara itu, si anak menatapku polos dengan tatapan yang takkan kulupakan sepanjang hayat. Tatapan matanya menghanyutkan akalku di khayalan ukhrowi, seolah-olah surga turun ke bumi, menawarkan dirinya kepada siapapun yang ingin meminangnya, dengan mahar mengenyangkan anak yatim miskin dan ibunya ini.
Tanpa ragu sedetikpun, kuserahkan semua yang ada ditanganku. “Ambillah, beri dia makan”, kataku di si ibu.
Demi Allah, Padahal waktu itu tak sepeserpun dinar atau dirham kumiliki. Sementara di rumah, keluargaku sangat membutuhkan Boga itu.
Impulsif, si ibu tak kuasa membendung air mata dan si kecilpun tersenyum indah bak purnama.
Kutinggalkan mereka berdua dan kulanjutkan langkah gontaiku, sementara beban Hayati terus bergelayutan dipikiranku.
Sejenak, kusandarkan tubuh ini di suatu dinding, sambil terus memikirkan rencanaku menjual rumah. 
di Letak seperti itu, tiba tiba Abu Nashr terbang kegirangan  mendatangiku.
“Hei, Abu Muhammad! Kenapa kau duduk duduk di sini sementara limpahan harta sedang memenuhi rumahmu?”, tanyanya.
“Subhanallah….!”, jawabku kaget. “Dari mana datangnya?”
“Tadi ada pria datang dari Khurasan. Dia bertanya tanya mengenai ayahmu atau siapapun yang punya Interaksi kerabat dengannya. Dia membawa berduyun-duyun angkutan barang penuh berisi harta”, ujarnya.
“Terus?”, tanyaku keheranan.
“Dia itu Dulu saudagar kaya di Bashroh ini. Kawan ayahmu. Dulu ayahmu Sempat menitipkan kepadanya harta yang telah ia kumpulkan selama 30 tahun. Lantas dia rugi besar dan bangkrut. Semua hartanya musnah, termasuk harta ayahmu.
Lalu dia lari meninggalkan kota ini Futuristis Khurasan. Di sana, kondisi ekonominya berangsur-angsur membaik. Bisnisnya melajit sukses. Kesulitan hidupnya perlahan Tanah pergi, berganti dengan limpahan Harta. 
Lantas dia kembali ke kota ini, ingin meminta maaf dan memohon keikhlasan ayahmu atau keluarganya atas kesalahannya yang lalu.
Maka sekarang, dia datang membawa seluruh harta hasil keuntungan niaganya yang telah dia kumpulkan selama 30 tahun berbisnis. Dia ingin berikan semuanya kepadamu, berharap ayahmu dan keluarganya berkenan memaafkannya.”
Mengisahkan awal episode baru hidupnya, Ahmad bin Miskin berujar :
“Kalimat puji dan syukur kepada-Nya berdesakan meluncur dari lisanku. Bagaikan bentuk syukurku, Genjah kucari wanita faqir dan anaknya tadi. Aku menyantuni dan menanggung biaya Hayati mereka seumur Hayati.
Aku pun terjun di Global bisnis seraya menyibukkan diri dengan kegiatan sosial, sedekah, santunan dan berbagai bentuk amal salih. Adapun hartaku, dia terus bertambah ruah tanpa berkurang.
Tanpa sadar, aku merasa takjub dengan amal salihku. Aku merasa, telah mengukir lembaran catatan malaikat dengan hiasan amal kebaikan. Ada semacam Asa pasti di diri, bahwa namaku mungkin telah tertulis di Hepotenusa Allah di daftar orang orang shalih.
••••••••••••••••••••••••●●●●
Suatu malam, aku tidur dan bermimpi.
Aku lihat, diriku tengah berhadapan dengan hari kiamat.
Aku juga lihat, manusia bagaikan ombak, bertumpuk dan berbenturan satu Serupa lain.
Aku juga lihat, badan mereka membesar. Dosa dosa di hari itu berwujud dan berupa, dan setiap orang memanggul dosa dosa itu masing-masing di punggungnya.
Bahkan aku melihat, ada seorang pendosa yang memanggul di punggungnya beban besar seukuran KOTA (kota tempat tinggal, pent), isinya hanyalah dosa-dosa dan hal hal yang menghinakan.  
setelah itu, timbangan amal pun ditegakkan, dan tiba giliranku untuk perhitungan amal. 
Seluruh amal burukku ditaruh di Disorientasi satu daun timbangan, Padahal amal baikku di daun timbangan yang lain. Ternyata, amal burukku jauh lebih berat daripada amal baikku.
Tapi ternyata, perhitungan belum selesai. Mereka Berawal Dari menaruh satu persatu berbagai jenis amal bagus yang Sempat kulakukan.
Namun alangkah ruginya, ternyata dibalik semua amal itu terdapat NAFSU TERSEMBUNYI. Nafsu tersembunyi itu Yaitu riya, ingin dipuji, merasa bangga dengan amal shalih. Semua itu membuat amalku tak berharga. Lebih buruk lagi, ternyata tak ada satupun amalku yang lepas dari nafsu nafsu itu.
Aku Frustasi asa.
Aku yakin aku akan binasa.
Aku tak punya alasan lagi untuk selamat dari siksa neraka.
Tiba-tiba, aku mendengar suara, “masihkah orang ini punya amal bagus?”
“Masih”, jawab seseorang. “Masih tersisa ini.”
Aku pun penasaran, amal bagus apa gerangan yang masih tersisa?
Aku berusaha melihatnya. Ternyata, itu HANYALAH  dua lembar roti isi manisan yang Sempat kusedekahkan kepada wanita fakir dan anaknya.
Demisioner sudah harapanku.
Sekarang aku benar benar yakin akan binasa sejadi jadinya.
Bagaimana mungkin dua lembar roti  ini menyelamatkanku, Padahal Dulu aku Sempat bersedekah 100 dinar sekali sedekah (100 dinar = +/- 425 gram emas), dan itu tak bermanfaat sedikit pun. Aku merasa benar benar tertipu Demisioner habisan.
Genjah 2 lembar roti itu ditaruh di timbanganku. Tak kusangka, ternyata timbangan kebaikanku Dinamis turun sedikit demi sedikit, dan terus Dinamis turun hingga hingga lebih berat sedikit dibandingkan timbangan kejelekan.
Tak hingga disitu, tenyata masih ada lagi amal baikku. Yaitu berupa air mata wanita faqir itu yang mengalir di aku berikan sedekah. Air mata tak terbendung yang mengalir kala terenyuh akan kebaikanku. Aku, yang kala itu lebih mementingkan dia dan anaknya dibanding keluargaku.
Sungguh tak terbayang, di air mata itu ditaruh, ternyata timbangan baikku semakin turun dan terus turun. hingga akhirnya aku mendengar seseorang berkata, “Orang ini telah selamat.”
 
SELESAI
••••••••••••••••••••••••●●●●
Adakah terselip dlm hati kita nafsu ingin dilihat hebat oleh org lain di ibadah-ibadah kita?
Semoga bermanfa’at

Loading...

abdkadiralhamid@2016

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Share on LinkedIn

Subscribe to receive free email updates:

NAFSU YG TERSEMBUNYI

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here