Home Ceramah Islam Terbaru MELURUSKAN NIAT

MELURUSKAN NIAT

30
0
untuk seorang salik atau murid (orang yang berusaha mencapai derajat kedekatan kepada Allah), niat merupakan unsur yang sangat penting di setiap langkahnya. Niat merupakan penentu diterima atau tidaknya amal-amal yang ia lakukan. Rasulullah SAW menegaskan:
إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّماَ لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya perbuatan itu tergantung di niat. Dan sesungguhnya seorang mendapatkan sesuai apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Oleh karenanya, janganlah engkau menjalankan suatu perbuatan atau mengucapkan suatu Perkataan kecuali dengan niat mendekatkan diri dan mengharapkan pahala dari Allah SWT.
Ketahuilah bahwa beribadah kepada Allah tak dibenarkan kecuali sesuai dengan syariat Allah yang disampaikan melalui Nabi-Nya Muhammad SAW.
Kejujuran seorang di niatnya akan terbukti di amal yang ia lakukan. bila seorang menuntut ilmu, misalnya, dengan niat akan mengamalkan dan mengajarkannya, lalu Seusai tercapai ilmunya ia tak menjalankan apa yang diniatkan Padahal mampu untuk itu maka niatnya tak jujur.
Niat tak berpengaruh di kemaksiatan. bila seorang membiarkan orang lain menggunjing dengan niat tak ingin menyinggung dirinya dan membuat suka hatinya maka orang Itu dianggap Bagaikan pelaku gunjing juga. Begitu juga, orang yang membiarkan kemungkaran Padahal ia mampu merubahnya dengan alasan tak ingin menyakiti hati pelakunya maka ia akan mendapatkan dosa yang Serupa.
Bisa aja berkumpul di satu perbuatan beberapa niat. Orang yang menjalankan itu akan mendapatkan pahala dari setiap niat yang ia nyatakan. Misalnya, seorang membaca Alquran dengan niat bermunajat kepada Allah, mempelajari ilmu-ilmu yang dikandung Alquran, mentadaburi kekuasaan Allah, dan lain sebagainya.
Begitu pula, beberapa niat ini Bisa berkumpul di suatu perbuatan bukan ibadah, seperti makan, tidur, berjalan, dan lain sebagainya. Misalnya, seorang makan dengan niat mengamalkan perintah Allah yang berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang bagus-bagus yang Kami berikan kepadamu.” (Al-Baqarah: 172). Juga berniat supaya Jadi kuat di beribadah kepada-Nya, berniat bersyukur Seusai makan nikmat Itu, dan lain sebagainya.
Niat mempunyai dua makna:
1. Niat di arti tujuan yang membuat seseorang menjalankan perbuatan Eksklusif. Misalnya, niat mendapatkan keridhaan Allah lalu ia beribadah karenanya. Niat di makna ini, umumnya, lebih bagus dari perbuatan itu sendiri. Rasulullah SAW bersabda:
نِيَّةُ الْمُؤْمِنِ خَيْرٌ مِنْ عَمَلِهِ
“Niat seorang mukmin lebih bagus dari amalnya.” (HR. Baihaqi dan Thabrani).
2. Niat di arti tekad dan keinginan menjalankan sesuatu. Misalnya, seseorang berniat menjalankan shalat di masjid atau berniat akan bersedekah kepada fakir miskin. Niat di makna ini tak lebih bagus dari amal. akan tetapi seorang yang telah berniat itu tak lepas dari tiga keadaan:
  • Berniat lalu berbuat, maka ia mendapatkan pahala dari niat dan amalnya. Inilah yang terbaik.
  • Berniat tapi tak berbuat Padahal ia mampu. Ia hanya Bisa pahala dari niatnya aja bila niat itu bagus.
Dua keadaan ini sebagaimana ditunjukkan di hadits Ibnu Abbas RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ : فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً ، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِئَةِ ضِعْفٍ ، وَإِنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً ، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً
“Sesungguhnya Allah telah menetapkan kebaikan dan keburukan. Lalu jelaskan: barang siapa berniat satu kebaikan tapi tak melakukannya maka Allah mencatatnya Bagaikan satu kebaikan yang sempurna. bila ia berniat kebaikan itu lalu mengamalkannya maka Allah mencatatnya Bagaikan sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kebaikan. bila ia berniat satu keburukan tapi tak melakukannya maka Allah mencatatnya Bagaikan satu kebaikan sempurna. Dan bila ia berniat menjalankan keburukan itu lalu mengamalkannya maka Allah mencatatnya dengan satu keburukan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
  • Berniat menjalankan sesuatu yang ia tak mampu melakukannya. Sehingga ia berniat menjalankan sesuatu itu bila mampu, seperti bila seorang berniat sedekah bila mempunyai harta. Maka ia mendapatkan balasan bagus atau buruk sesuai perbuatan yang ia niatkan Itu meskipun belum mengamalkannya.
Diriwayatkan dari Abu Kabsyah al-Anmari RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
أُحَدِّثُكُمْ حَدِيْثاً فَاحْفَظُوْهُ: إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ: عَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَفْضَلِ المَنَازِلِ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُولُ: لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا، فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَلَا يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَلَا يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَخْبَثِ المَنَازِلِ، وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَهُوَ يَقُولُ: لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ
“Aku sebutkan suatu ucapan maka jagalah: ‘Sesungguhnya Global ini milik empat orang. (Pertama) Seorang hamba yang diberi Allah harta dan ilmu lalu ia bertakwa kepada Allah di pemberian itu. Ia menyambung silaturahmi dan mengetahui Copyright Allah di dalamnya. Inilah derajat terbaik. (Kedua) seorang hamba yang diberi ilmu tapi tak diberi harta, ia berkata dengan niat yang tulus (jujur): ‘bila aku punya harta maka aku akan menjalankan seperti yang dilakukan si fulan.’ Ia berbuat dengan niatnya sehingga pahala kedua orang itu Serupa. (Ketiga) seorang hamba yang diberi Allah harta tapi tak diberi ilmu, lalu ia terperosok di hartanya tanpa ilmu dan tak bertakwa kepada Allah di hartanya. Ia tak menyambung silaturahmi dan tak mengetahui Copyright Allah di dalamnya. Inilah derajat paling buruk. (Keempat) seorang hamba yang tak diberi harta dan ilmu, ia berkata: ‘bila aku mempunyai harta maka aku akan menjalankan seperti yang dilakukan si fulan.’ Ia berbuat dengan niatnya sehingga dosa keduanya Serupa.” (HR. Tirmidzi).
Walllahu a’lam
Disarikan dari kitab Risalah Mu’awanah karya Qutbul Irsyad al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad
abdkadiralhamid@2016
Loading...
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Share on LinkedIn

Subscribe to receive free email updates:

MELURUSKAN NIAT

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here