Home Fiqih Islam Macam-Macam Air Untuk Bersuci di Fiqih Islam

Macam-Macam Air Untuk Bersuci di Fiqih Islam

133
0

Macam Macam Air – Kita Bagaikan seorang muslim wajib hukumnya untuk mengetahui segala hal mengenai thaharah atau bersuci. thaharah Herbi langsung dengan berbagai ibadah kita seperti sholat misalnya. bila thoharohnya tak Absah, maka shalat kita pun tak Absah. thaharah sendiri dengan cara Generik Yaitu suatu pekerjaan yang bertujuan untuk menghiangkan najis dan hadast yang ada di tubuh badan dan pakaian. Disorientasi satu contoh pekerjaan thaharah Yaitu berwudhu, mandi dan istinja’.
Dan Disorientasi satu hal penting pula di proses bersuci Yaitu media yang kita gunakan Yaitu air. Jadi air yang kita gunakan untuk bersuci bukanlah air sembarangan di karenakan setiap bentuk dan jenis air yang ada mempunyai hukum yang berbeda beda di agama islam. islam sendiri mengklasifikasikan pembagian air kedalam beberapa macam jenis. ada air yang mensucikan, air suci yang tak mensucikan, air makruh hingga air yang najis untuk digunakan. air di islam sendiri Dikotomi Jadi 4 macam bagian yang semuanya akan kita bahas di kesempatan kali ini dengan cara detail dan lengkap.

Baca Juga : Sebab-Sebab Mandi Wajib dan Penjelasannya

So, berikut ini daftar jenis dan Macam-Macam Air Untuk Bersuci di Fiqih Islam lengkap beserta contohnya. dan semua hukum air yang ada tak mungkin terlepas dari Disorientasi satu dari 4 pembagian dibawah ini . . .

macam macam air

Macam Macam Air

Loading...

1. Air Suci Yang Mensucikan (Air Absolut)

Pertama ada air yang suci dan Bisa mensucikan (air Absolut/air tohur). Yang termasuk kategori air Absolut ini Yaitu setiap air yang tak ada sifatnya Serupa sekali, Sekiranya kita tanyakan kepada seseorang, Benda apakah yang ada digelas itu ? misalnya, maka mereka akan menjawab “air”. Atau ada sifatnya, akan tetapi tak mengikat, misalnya air sumur, maka sifat sumur itu tak mengikat. Bukankah bila air Itu kita Berpindah ke bak mandi Jadi air bak mandi, atau kita letakkan digentong Jadi air gentong. Atau kita alirkan ke sungai Jadi air sungai. Air macam Ini juga dikatakan air Absolut. Lain halnya seperti air kelapa, dimanapun kita letakkan air kelapa Itu, orang akan selalu Menyebut bahwa air Itu Yaitu air kelapa. Maka hukum air Itu suci dan boleh dikonsumsi, tapi tak Bisa digunakan untuk thaharah di karenakan air itu terikat dengan sifat yang Inheren. 

2. Air Suci Tapi tak Mensucikan

Air suci yang tak Bisa mensucikan ini terbagi Jadi dua macam, berikut ini penjelasannya :
1) Air Musta’mal
Air musta’mal Yaitu air yang bekas digunakan untuk thaharah yang wajib seperti mandi dan wudhu’ wajib, akan akan tetapi air itu tak dihukumi air musta’mal kecuali bila memenuhi syarat-syarat berikut ini :
a) Air itu Yaitu air yang sedikit, Yaitu air yang Anemia dari dua qullah (216 liter). bila air Itu dua qullah atau lebih, maka tak akan Jadi air musta’mal walaupun digunakan berulang-ulang untuk thaharah.
b) Air itu digunakan untuk toharoh yang wajib. Lain halnya bila air Itu digunakan untuk taharah yang sunnah, seperti wudhu tajdid (memperbaharui wudhu), mandi sunnah, dan lain-lain. Maka bila air bekasnya ditampung lalu digunakan lagi untuk thaharah tak apa-apa, di karenakan air itu tak dihukumi air musta’mal.
c) Air Itu sudah terpisah dari anggota badan. Lain halnya bila air itu masih mengalir di anggota badan, maka belum dihukumi air musta’mal, hingga air itu terpisah dari badannya.
d) saat memakai air Itu tak berniat ightirof. Lain halnya bila berniat igthirof, Yaitu berniat mengambil air itu dari tempatnya untuk digunakan diluar tempat Itu, Maka air yang tersisa ditempat Itu tak Jadi musta’mal. Dan bila tak berniat ightiraf, begitu kita memasukkan tangan untuk mengambil air ditempat itu Seusai basuhan pertama tentunya langsung Jadi air musta’mal.
2) Air Absolut Yang Berubah Sifatnya
Padahal macam kedua dari air yang dihukumi suci akan tetapi tak Bisa digunakan untuk bersuci (thaharah) Yaitu air Absolut yang berubah Disorientasi satu sifatnya atau semuanya (bau, warna dan rasanya). misalnya air itu berubah dikarenakan bercampur dengan sesuatu yang suci, seperti air teh, kopi, sirup dan lain-lain. Maka hukumnya suci Bisa dikonsumsi, akan tetapi tak Bisa digunakan untuk thaharah. Serupa hukumnya seperti air musta’mal asalkan air itu memenuhi syarat-syarat berikut ini :
a) Berubahnya air itu dengan sesuatu yang suci, lain halnya bila berubahnya di karenakan sesuatu yang najis, maka air itu dihukumi najis.
b) Berubahnya dengan perubahan yang banyak sekiranya tak lagi dinamakan air, seperti air teh, kopi, dan lain-lain. Lain halnya bila perubahannya sedikit, agak keruh, dan lain-lain akan akan tetapi nama air masih Inheren di air itu, maka tak berubah hukum asalnya Yaitu suci dan Bisa digunakan untuk bersuci / thoharoh.
c) Berubahnya air itu dengan sesuatu yang mukholit Yaitu sesuatu yang tak Bisa dipisahkan dari air Itu atau tak Bisa dibedakan dengan Etos mata mana yang air dan mana sesuatu yang merubahnya Itu seperti air kopi, maka kita tak Bisa membedakan mana air dan mana kopinya dan tak Bisa dipisahkan antara air dan kopinya Seusai keduanya sudah menyatu.
d) Menjaga air itu dari sesuatu yang Bisa merubah sifat air Itu Yaitu pekerjaan yang mudah. Lain halnya bila menjaga air Itu supaya tak tercampur dengan sesuatu itu sulit untuk dilaku-kan, maka hukum air Itu tetap tak berubah, Yaitu suci dan Bisa digunakan untuk bersuci, seperti air yang bercampur dengan lumut, atau tanah di sungai, dan lain-lain.

3. Air Suci Tapi Makruh Digunakan

Ada beberapa macam air yang bila kita gunakan untuk thaharah makruh hukumnya, akan akan tetapi Absah thaharahnya di karenakan air Itu memang suci sebanrnya, macam macam dan jenis airnya seperti dibawah ini :
1) Air yang sangat Geothermal, di karenakan ditakutkan orang yang menggunakannya tak akan menyempurnakan wudhu nya.
2) Air yang sangat dingin, di karenakan juga ditakutkan orang yang menggunakannya tak menyempurnakan wudhu’nya.
3) Air yang berada ditempat tempat yang Sempat diturunkan Adzab oleh Allah di tempat itu. di karenakan ditakutkan ada Adzab susulan dan juga di karenakan semua hal yang ada ditempat Itu akan membawa keapesan (tak ada keberkahan).
4) Air yang Geothermal di karenakan sengatan matahari. Adapun sebab makruhya memakai air Itu, di karenakan dari bejana yang terkena sengatan matahari itu akan mengeluarkan dzat yang akan menyebabkan orang yang menggunakannya akan terkena penyakit lepra. Akan akan tetapi tak makruh memakai air yang Geothermal di karenakan sengatan matahari kecuali bila memenuhi syarat-syarat dibawah ini :
a) Air itu sudah terasa Geothermal dengan sengatan matahari. Lain halnya bila belum Geothermal, misalnya baru hangat kuku, maka tak makruh menggunakannya.
b) Air itu digunakan disaat masih Geothermal. Lain halnya bila air Itu digunakan Seusai Jadi dingin, maka hukumnya tak makruh menggunakannya.
c) Air itu digunakan untuk orang yang Hayati. Dan harom bila digunakan untuk orang yang sudah mati bila hal itu menyakitkan.
d) Air itu ditampung oleh bejana yang Bisa dipatri/ las, seperti besi, tembaga dan timah. Dikecualikan bejana yang terbuat dari emas dan perak, di karenakan tak akan mengeluarkan zat yang membahayakan kulit manusia, akan akan tetapi hukumnya harom dari segi memakai tempat yang terbuat dari emas dan perak. Lain halnya bila bejana yang menampung air itu terbuat dari tanah liat, beling, plastik, dan lain-lain maka tak makruh hukum menggunakannya.
e) Air Itu digunakan di musim Geothermal. Lain halnya bila digunakan di musim dingin, maka tak makruh menggunakannya walaupun air itu masih Geothermal.
f) Air itu digunakan untuk badan. Lain halnya bila air Itu digunakan untuk mencuci baju, maka tak makruh.
g) Air itu terkena Geothermal matahari disuatu kota yang Geothermal. Lain halnya bila berada dikota yang tak Geothermal, maka tak makruh.
h) Orang yang menggunakannya tak takut akan terjadi penyakit di dirinya. Lain halnya bila dia yakin Seandainya memakai air itu akan terkena penyakit lepra, maka hukumnya Jadi harom menggunakannya.
i) Air Itu bukan satu-satunya yang dia punya. Lain halnya bila tak ada air lagi selain air Itu, maka hukumnya wajib menggunakannya untuk thaharahnya (bersuci) dan tak boleh bertayammum karenanya. 

4. Air Najis (Air Mutanajis)

Adapun macam air yang ketiga Yaitu air yang terkena benda najis dan dinamakan air mutanajis. Padahal hukum dari air Itu diperinci Bagaikan berikut:
bila air itu sedikit (Anemia dari dua qullah / 216 liter) lalu kejatuhan benda najis, maka hukum air Itu Jadi najis walaupun tak berubah sifatnya (bau, warna ataupun rasanya).
Dan bila air itu banyak (dua qullah atau lebih) lalu kejatuhan najis, maka air itu tak dihukumi najis, kecuali bila berubah Disorientasi satu sifatnya (warna, bau ataupun rasanya).
Itu tadi Elaborasi mengenai jenis dan Macam-Macam Air Untuk Bersuci di Hukum Fiqih Islam. semoga bermanfaat dan menjadikan kita semakin mengerti akan klasifikasi pembagian air di islam supaya proses bersuci kita Jadi lebih bagus dan sempurna. wallahu a’lam.

Macam-Macam Air Untuk Bersuci di Fiqih Islam

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here