Home Kisah Islami Kisah Sahabat Nabi : Karomah Saad Bin Abi Waqqash RA

Kisah Sahabat Nabi : Karomah Saad Bin Abi Waqqash RA

42
0

Loading...
Saad Bin Abi Waqqash RA Yaitu orang nomor 3 yang memeluk Islam. Beliau menerima Islam Seusai mendengar kabar dari sahabatnya bernama Abu Bakar Siddiq RA. Saad Terkenal Bagaikan lelaki pemberani dan seorang Pemanah Yang Handal. Selain itu saad mempunyai banyak karomah dan kemuliaan yang diberikan Allah SWT. Disorientasi satunya Yaitu Doa Saad Sangat Makbul. di karenakan Nabi SAW Sempat mendoakannya “Ya Allah, kabulkanlah Sa’ad bila dia berdoa.”.
Berikut kisah mengenai Karomah Saad Bin AbiWaqqash
Baca Sebelumnya KisahKaromah Ali bin Abi Thalib
Kisah Pertama
Jabir r.a. menceritakan bahwa penduduk Kufah mengadukan Sa’ad bin Abi Waqash kepada Khalifah `Umar. ‘Umar lalu mengutus seseorang untuk bertanya mengenai Sa’ad kepada orang-orang Kufah. Utusan itu berkeliling dari masjid ke masjid di Kufah dan semua orang yang ditanyainya membagikan Evaluasi positif terhadap Sa’ad. Akhirnya ia berhenti di suatu masjid dan bertemu dengan seorang laki-laki yang mengaku bernama Abu Sa’dah. Laki-laki itu berkata, “Kami mengadukan Sa’ad di karenakan ia tak membagi rampasan dengan cara Serupa rata, tak berjalan bersama pasukannya,dan tak berlaku adil di menghukumi sesuatu.” Maka Sa’ad berdoa, “Ya Allah, Seandainya ia berdusta, maka panjangkanlah umurnya, panjangkan kefakirannya, dan timpakan berbagai fitnah padanya.”
Ibnu Amir menceritakan bahwa ia menyaksikan laki-laki yang mengadukan Sa’ad itu berumur panjang, hingga-hingga alisnya menutupi mata di karenakan saking panjangnya, ia betul-betul ditimpa kemiskinan, dan di suatu jalan ia Sempat bertemu dengan budak-budak perempuan setelah itu merabanya, di karenakan itu ia terkena fitnah. Sewaktu ditanya, “Mengapa kita Bisa Jadi begini?” Jawabnya, “Aku Jadi tua bangka dan terkena fitnah di karenakan doa Sa’ad.” (Diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, dan Al-Baihaqi dari jalur Abdul Mulk bin Amir)
di riwayat lain dikisahkan bahwa Sa’ad tengah berpidato di hadapan penduduk Kufah, ia bertanya, “Bagaimana kepemimpinanku menurut Etos kalian?” Seorang laki-laki berseru, “Engkau sungguh tak adil di mengemban tanggung jawab, tak membagi dengan cara rata, dan tak Empati berperang bersama pasukan.” Sa’ad berdoa, “Ya Allah, Seandainya ia berdusta, maka butakanlah matanya, segerakan kefakirannya, panjangkan umumya, dan timpakan fitnah padanya.” Lelaki itu setelah itu buta, jatuh miskin sehingga Jadi peminta-peminta, difitnah Bagaikan orang yang Arogan dan pembohong, dan di karenakan itu ia dibunuh. (Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dari jalur Mush’ab bin Sa’ad)
Riwayat lain menceritakan bahwa ada seorang laki-laki muslim mengejek Sa’ad bin Abi Waqash. setelah itu Sa’ad berdoa, “Ya Allah, potonglah lidah dan tangannya dengan kehendak-Mu.” di waktu perang Kadisiyah, laki-laki itu terlempar hingga lidah dan tangannya Frustasi. Ia tak Bisa berbicara sepatah Perkataan pun hingga ajal menjemputnya. (Diriwayatkan oleh Al Thabrani, Ibnu `Asakir dan Abu Na’im dari Qabishah bin Jabir)
Dikisahkan pula bahwa ada seorang perempuan yang mempunyai perawakan seperti anak kecil. Orang-orang mengolok-oloknya, “Itu puteri Sa’ad, ia membenamkan tangannya di tempat bersuci Sa’ad.” setelah itu Sa’ad berdoa, “Semoga Allah menunjukkan kekuatanmu meskipun engkau tak Bisa tumbuh besar lagi.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dan Ibnu Asakir dari Mughirah)
di riwayat lain diceritakan bahwa ada seorang perempuan terus menerus memperhatikan Sa`ad, Sa’ad menegurnya, akan tetapi ia tak mengindahkannya. Suatu hari saat perempuan itu muncul, Sa’ad berkata, “Buruk sekali wajahmu.” Tiba-tiba wajah perempuan itu memuntir ke belakang dan tak Bisa menoleh ke depan. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dan Ibnu Asakir dari Mana’ dari Abdurrahman bin Auf)
Qais bertutur, “Ada seorang laki-laki mengejek Ali. Maka Sa’ad berdoa, ‘Ya Allah, laki-laki ini telah mengejek Disorientasi seorang walimu. Jangan pisahkan golongan ini, hingga Engkau perlihatkan kekuasaanMu.’ Demi Allah, kami belum berpisah, hingga kudanya terbenam ke di lumpur, setelah itu ia terlempar di bebatuan, hingga otaknya keluar dan akhirnya mati” (Riwayat Al- Hakim).
di riwayat lain disebutkan bahwa Sa’ad mendoakan buruk untuk seorang laki-laki. Tiba-tiba laki-laki itu tertubruk seekor unta betina hingga ia mati. setelah itu Sa’ad menahan nafas dan bersumpah tak akan mendoakan buruk untuk seorang pun (Riwayat Al-Hakim dari Mush’ab bin Sa’ad).
Al-Hakim meriwayatkan dari Ibnu Al-Musayyab bahwasanya Marwan Sempat berkata, “Harta ini milik kami maka kami berhak memberikannya kepada orang yang kami kehendaki.” setelah itu Sa`ad mengangkat kedua tangannya dan berkata, ‘Aku akan berdoa.” Marwan meloncat, lalu merangkulnya sambil berseru, “Engkau akan berdoa kepada Allah, hai Abu Ishaq. Tolong jangan berdoa, di karenakan harta itu Yaitu milik Allah.”
Diceritakan pula bahwa Sa’ad bin Abi Waqash Sempat berdoa, “Ya Allah, hamba mempunyai anak-anak yang masih kecil, maka tangguhkan kematianku hingga mereka dewasa (balig).” Dua puluh tahun setelah itu, Sa’ad baru menemui ajalnya, sesudah menderita sakit parah. (Riwayat Al-Baihaqi dan Ibnu Asakir dari Yahya bin Abdurrahman bin Labibah)
Dikisahkan juga bahwa saat Sa’ad sedang berjalan-jalan, lewatlah seorang laki-laki sambil mencaci maki Ali, Thalhah, dan Zubair. Sa’ad berkata kepada laki-laki itu, “kita mencaci-maki para pemimpin yang dianugerahi keunggulan oleh Allah. Demi Allah, kita wajib menghentikan cacianmu kepada mereka atau aku akan mendoakan keburukan untukmu.” Laki-laki itu menjawab, “kita menakutiku, seolah-olah kita ini nabi.” Sa’ad lalu berdoa, “Ya Allah, ia telah mencaci-maki para pemimpin yang telah Engkau unggulkan, maka timpakan malapetaka padanya hari ini.” Tiba-tiba datanglah seorang peramal perempuan sehingga orang-orang berlarian menghindarinya, lalu sang peramal memukul laki-laki itu dengan keras. Orang-orang mengikuti Sa’ad, dan berkata, ‘Allah telah mengabulkan doamu, ya Abu Ishaq.” Doa Sa’ad mustajab, di karenakan Nabi Saw telah mendoakan supaya doanya mustajab. (Riwayat Al Thabrani dari Amir bin Sa’ad)
Al-Tirmidzi dan Al-Hakim meriwayatkan dan menyatakan kesahihan hadis Nabi mengenai Sa’ad, “Ya Allah, kabulkanlah semua doa yang dipanjatkan Sa’ad!” hingga setiap doa yang dilantunkan Sa’ad selalu dikabulkan Allah. di hadis lain juga dinyatakan, “Ya Allah, kabulkanlah doa Sa’ad dan tepatkanlah lemparan panahnya!”
Kisah 2
Riwayat lain menceritakan bahwa saat Sa’ad bin Abi Waqash r.a. hingga di sungai Tigris, ia Menelusuri Bahtera untuk menyeberang, akan tetapi ia tak sukses di karenakan Bahtera-Bahtera telah ditambatkan. Sa’ad dan pasukannya tinggal di sana beberapa hari di bulan Safar. Tiba-tiba datang air pasang. Sa’ad bermimpi melihat sekawanan kuda milik pasukan muslimin menceburkan diri ke sungai, lalu menyeberangi air pasang itu, Padahal air pasang sungai Tigris sangat tinggi. Sa’ad menakwilkan mimpinya Bagaikan petunjuk supaya ia menyeberangi sungai itu. Maka ia mengumpulkan pasukannya, lalu berkata, ‘Aku akan menyeberangi sungai ini,” dan mereka menyetujuinya. Sa`ad mempersilakan pasukannya untuk menceburkan diri ke sungai, lalu berkata, “Katakanlah! Kami memohon pertolongan Allah dan bertawakkal kepada-Nya. Cukuplah Allah untuk kami, sebaik-bagus Zat tempat memasrahkan diri. Tiada daya dan kekuatan, kecuali milik Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.” Lalu mereka menceburkan diri ke Sungai Tigris, menyeberangi air yang pasang itu, dan terombang-ambing ombak. Sungguh ajaib, mereka terapung di sungai itu sambil berbincang-bincang dan berpasangan, seperti saat berjalan di daratan. Orang-orang Persia merasa heran dengan hal yang tak masuk akal Itu. Pasukan muslimin setelah itu menaklukkan Persia dan Genjah mengumpulkan sebagian besar Harta mereka, Yaitu kota-kota di Persia. di bulan Safar tahun 16 H, kaum muslimin menguasai rumah-rumah peninggalan kerajaan Persia. (Riwayat Abu Na’im dari Ibnu al-Dafili)
di riwayat lain diceritakan bahwa Sa’ad berkata, “Kami menyeberangi sungai Tigris sambil membawa kuda dan binatang piaraan kami, hingga tak seorang pun melihat air dari dua tepinya. Kuda-kuda itu mendatangi pasukanku sambil menghela surainya diiringi ringkikan. saat melihat tingkah kuda Itu, pasukanku Genjah menyeberangi sungai itu tanpa memedulikan apa pun. tak ada sesuatu pun milik pasukanku yang hilang di air, hanya suatu gelas yang pegangannya telah pecah. Gelas itu terjatuh dan hanyut terbawa air. Namun angin dan gelombang menyeretnya ke tepi dan pemiliknya mengambilnya kembali.” (Abu Na’im meriwayatkan kisah ini dari Abu `Utsman al-Nahdi)
Riwayat lain menyebutkan bahwa orang yang berjalan di atas air bersama Sa’ad Yaitu Salman al-Farisi. Pasukan Sa’ad menyeberangi sungai Tigris sambil terapung beserta kuda-kuda mereka. Sa’ad berkata, “Cukuplah Allah untuk kami, Dialah sebaik-bagus Zat tempat memasrahkan diri. Demi Allah, Allah benar-benar akan menolong wali-Nya, memenangkan agama-Nya, dan mengalahkan musuh-Nya, bila di diri pasukan tak ada kejahatan atau dosa yang mengalahkan kebaikan.” Salman berkata kepada Sa’ad, “Sesungguhnya Islam itu baru. Demi Allah, lautan tunduk kepada Sa’ad dan pasukannya seperti halnya daratan tunduk kepada mereka. Mereka menyeberangi sungai, hingga air itu tak terlihat dari tepian. Sambil terapung di sungai, mereka berbincang-bincang lebih banyak daripada saat mereka berjalan di daratan. Mereka sukses melintasinya, tak ada sesuatu pun yang hilang, dan tak ada seorang pun yang tenggelam.” (Diriwayatkan oleh Abu Na’im dari Abu Bakar bin Hafsh bin `Umar)
Riwayat lain menceritakan bahwa Sa’ad dan pasukannya menccburkan diri ke sungai Tigris berpasang-pasangan. Salman Jadi pasangan Sa’ad, mereka berdampingan berjalan di atas air. Sa’ad berkata, “Demikianlah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” Air sungai Tigris mengapungkan Sa’ad dan pasukannya, sementara kuda mereka menyeberangi sungai sambil berdiri tegak. apabila Sa’ad lelah, di depannya terhampar suatu gundukan, lalu ia beristirahat di atasnya seolah-olah berada di atas tanah. tak ada pemandangan yang lebih menakjubkan selain pemandangan itu, di karenakan itulah hari itu disebut dengan Yaumul Jaratsim. bila ada yang lelah, maka di depannya terhampar suatu gundukan tempat untuk istirahat. (Riwayat Abu Na’im dari Amir al-Sha’idi)
Qais bin Abi Hazim berkata, “Kami menundukkan sungai Tigris yang sedang meluap airnya. Meskipun air pasang mencapai puncak ketinggiannya, prajurit berkuda tetap tegak dan air tak hingga menyentuh ikat perut kudanya,” (Riwayat Abu Na’im).
di riwayat lain diceritakan bahwa saat kaum muslimin menyeberangi sungai Tigris, penduduk Persia berkata, “Mereka itu jin, bukan manusia,” (Riwayat Abu Na’im dari Habib bin Shahban, dikutip dari kitab Hujjatullah ‘ala al-‘Alaamin).
Disarikan : http://www.kawansejati.org/

Baca Info Menarik berikut ini di >>> Peristiwa Unik Matahari Yang wajib kita Ketahui

Tag : Kisah Sahabat Nabi

Kisah Sahabat Nabi : Karomah Saad Bin Abi Waqqash RA

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here