Home Kisah Islami Kisah Mengharukan Detik Wafatnya Rasulullah SAW

Kisah Mengharukan Detik Wafatnya Rasulullah SAW

24
0

Kisah Kali ini Yaitu kisah yang mengharukan, detik-detik wafatnya Rasulullah SAW. Sang manusia agung, yang Jadi panutan seluruh manusia. Yang sosoknya tak akan lekang dimakan oleh waktu. Semoga kisah ini menambah rasa cinta kita terhadap beliau untuk mengikuti jejaknya, Berikut kisah nya :
Diriwayatkan bahwa ayat Al maidah ayat 3, diturunkan Seusai Ashar hari Jum’at di Arafah di Haji Wada’. Waktu itu Nabi Muhammad SAW sedang mengerjakan wukuf di Arafah diatas unta, dan Seusai ayat ini tak lagi turun ayat mengenai kewajiban. saat turun ayat ini Nabi Muhammad SAW merasa tak kuat menanggung arti dari ayat Itu. Beliau bertelekan (bersandar) di untanya dan unta pun tertunduk.
Turunlah Malaikat Jibril dan berkata :”Ya Muhammad, benar-benar telah sempurna hari ini perihal agamamu dan telah selesai apa yang telah diperintahkan Tuhanmu kepadamu, dan apa yang dilarangNya padamu.  Kumpulkan sahabat-sahabatmu dan kabarkan di mereka bahwa aku tak
akan lagi turun kepadamu Seusai hari ini.” Lalu kembalilah Rasulullah dari Mekah ke Madinah. Dikumpulkannya sahabat-sahabatnya dan dibacakannya ayat Itu kepada mereka serta menceritakan kepada mereka mengenai apa yang dikatakan oleh Jibril AS.
Mendengar berita Itu bergembiralah para sahabat dan mereka berkata :“Telah sempurna Agama kita” Kecuali Abu bakar ra. Dia sangat bersedih dan kembali kerumahnya. Dia mengunci pintu dan tenggelam di tangisnya siang malam. Para sahabat mendengar keadaan Abu Bakar itu, mereka berkumpul dan mendatangi rumah Abu Bakar ra.
Mereka bertanya : ”Hai Abu Bakar, mengapa engkau menangis di di kita wajib bergembira dan suka? di karenakan Allah SWT telah
menyempurnakan Agama kita.”
Abu Bakar berkata : ”Hai para Sahabat,
kita semua tak mengetahui Bala yang akan menimpamu.
Bukankah kita mendengar bahwa suatu perkara apabila telah sempurna maka
akan muncul kekurangannya? Ayat ini mengabarkan mengenai perpisahan
kita, mengenai keyatiman Hasan dan Husain dan mengenai Istri-istri Nabi
Muhammad SAW yang akan Jadi janda.”
Maka terjadilah teriakan diantara para sahabat, mereka semua menangis,
dan Sahabat-sahabat lain yang tak Empati hadir dirumah Abu Bakar
mendengar tangisan dari kamar Abu Bakar, lalu mereka datang kepada Nabi
Muhammad SAW, dan mereka berkata :”Ya Rasulullah, kami tak tahu bagaimana keadaan para sahabat itu, hanya aja kami mendengar tangisan dan teriakan mereka.”
Maka berubahlah wajah Nabi Muhammad SAW dan berdiri Genjah Futuristis rumah
Abu Bakar dan bertemu para sahabat. Beliau melihat mereka di keadaan Itu diatas,
setelah itu bersabda : ”Apakah yang membuat kita menangis?”
Berkatalah Ali ra.: ”Tadi Abu Bakar berkata, Aku telah mencium bau wafat Rasulullah SAW dari
ayat ini. Apakah benar ayat ini Bisa diambil Bagaikan petunjuk atas wafatmu?”.
Nabi Muhammad SAW bersabda : ”Benar Abu Bakar di ucapannya itu. Memang benar telah dekat keberangkatanku dari hadapanmu dan telah tiba di perpisahanku dengan kita semua.”
Seusai Abu Bakar ra. mendengar sabda Rasulullah itu berteriaklah dia sekeras-kerasnya dan jatuh tak sadarkan diri.
Ali ra. bergetar tubuhnya dan para sahabat lain Jadi ribut, mereka
ketakutan semuanya dan menangis sejadi-jadinya, hingga gunung-gunung
dan batu-batu Empati menangis bersama mereka, demikian pula para
Malaikat. Ulat-ulat dan binatang-binatang darat ataupun di Bahari,
semuanya Empati menangis.
setelah itu Nabi Muhammad SAW berjabatan dengan para setiap orang dari
para sahabat, berpamitan dan menangis serta memberi wasiat kepada
mereka. setelah itu Beliau Hayati Seusai turunnya ayat Itu di
delapan puluh satu hari.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. Bahwa Seusai dekat wafat Nabi
Muhammad SAW, Beliau memerintahkan Bilal untuk menyerukan shalat kepada
manusia. Bilal lalu menyerukan Adzan dan berkumpullah para Sahabat
Muhajirin dan Anshar ke Masjid Rasulullah SAW. Beliau mengerjakan
shalat dua rakaat ringan bersama para sahabat. setelah itu naik mimbar,
memuji dan Menyebut keagungan Allah SWT.
Beliau berkhutbah dengan suatu khutbah yang di, hati Jadi takut karenanya, dan air mata bercucuran karenanya.
setelah itu Beliau bersabda :
”Wahai sekalian muslimin, sesungguhnya aku Yaitu seorang Nabi kepada kita,
pemberi nasihat dan berda’wah kepada Allah SWT dengan seijinNya. Dan
aku berlaku kepadamu Bagaikan seorang saudara yang menyayangi dan
sekaligus Bagaikan ayah yang belas Afeksi. Barang siapa diantara kita
yang mempunyai suatu penganiayaan di diriku, maka hendaklah dia
berdiri dan membalas kepadaku sebelum datang balas membalas di hari
kiamat.”
tak ada seorangpun yang berdiri menghadapnya, sehingga Beliau
bersabda demikian kedua kali dan ketiga kalinya. Barulah berdiri
seorang laki-laki bernama Ukasyah bin Muhshin.
Berdirilah dia didepan Nabi Muhammad SAW dan berkata : “Demi
Ayah dan Ibuku Bagaikan tebusanmu Ya Rasulullah, seandainya engkau tak
mengumumkan kepada kami berkali-kali, tentu aku tak akan mengajukan
sesuatu mengenai itu. Sungguh aku Sempat bersamamu di Perang Badar.
di itu untaku mendahului untamu. Maka turunlan aku dari unta dan
mendekatimu supaya aku Bisa mencium pahamu. akan tetapi engkau lalu
mengangkat tongkat yang biasa engkau pergunakan untuk memukul unta supaya
Genjah jalannya dan engkau pukul lambungku. Aku tak tahu apakah itu
atas kesengajaan dirimu atau engkau maksudkan untuk memukul untamu ya
Rasulullah?”.
Rasulullah bersabda: ”Mohon perlindungan kepada Allah hai Ukasyah, Seandainya Rasulullah sengaja memukulmu.”
Bersabda lagi Beliau kepada Bilal: ”Hai Bilal, berangkatlah ke rumah Fathimah dan ambilkan tongkatku.”
Maka keluarlah Bilal dari Masjid sedang tangannya diatas kepalanya:
”Ini Yaitu Rasulullah, sekarang Beliau membagikan dirinya untuk diqishash.”
Dia mengetuk pintu Fathimah, dan bertanyalah Fathimah: ”Siapa yang ada di depan pintu?”
Bilal menjawab: ”Aku datang untuk mengambil tongkat Rasulullah”
Fathimah bertanya : ”Hai Bilal, apa yang akan diperbuat Ayah dengan tongkat itu?”
Bilal menjawab: ”Hai Fathimah, Ayahmu membagikan dirinya untuk di qhisash.”
Fathimah bertanya lagi: ”Hai Bilal, siapakah yang hingga hatinya mau membalas di Rasulullah?”
Lalu Bilal mengambil tongkat itu dan masuklah dia ke Masjid serta
membagikan tongkat itu kepada Rasulullah, sedang Rasul setelah itu
menyerahkannya kepada Ukasyah.
saat Abu Bakar dan Umar ra. memandangnya, maka berdirilah mereka berdua dan berkata : ”Hai Ukasyah, aku masih berada didepanmu, maka balaslah kami dan janganlah engkau membalas kepada Nabi Muhammad SAW.”
Bersabdalah Rasulullah SAW: ”Duduklah engkau berdua, Allah telah mengetahui kedudukanmu.”
Berdiri pula Ali ra. dan berkatalah dia: ”Hai Ukasyah, aku
masih Hayati didepan Nabi Muhammad SAW. tak akan aku hingga hati Seandainya
engkau membalas Rasulullah SAW. Ini punggungku dan perutku, balaslah
aku dengan tanganmu dan deralah aku dengan tanganmu.”
Nabi Muhammad SAW bersabda : ”Hai Ali, Allah telah mengetahui kedudukan dan niatmu.”
Berdiri pula Hasan dan Husain, dan mereka berkata : ”Hai
Ukasyah, bukankan engkau mengenal kami berdua. Kami Yaitu dua orang
cucu Rasulullah. Membalas kepada kami Yaitu Serupa seperti membalas
kepada Rasulullah.”
Nabi Muhammad SAW bersabda : ”Duduklah engkau berdua wahai kegembiraan mataku.”
setelah itu Nabi Muhammad SAW bersabda: ”Hai Ukasyah, pukullah Seandainya engkau mau memukul.”
Ukasyah berkata: ”Ya Rasulullah, engkau memukulku Dulu di keadaan aku tak terhalang pakaianku.”
Lalu Rasulullah menyingkapkan pakaiaannya, dan berteriaklah orang-orang Islam yang hadir seraya menangis.
saat melihat putihnya jasad Rasulullah, Ukasyah menubruknya dan mencium punggungnya.
Berkatalah dia:
”Nyawaku Bagaikan tebusanmu ya Rasulullah, siapakah yang akan hingga hati untuk
membalasmu ya Rasulullah. Aku melakukannya hanya mengharapkan supaya
tubuhku Bisa menyentuh jasadmu yang mulia, dan Allah akan memelihara
aku berkat kehormatanmu dari neraka.”
Bersabdalah Nabi Muhammad SAW: ”Ingat, barang siapa yang ingin melihat penghuni surga maka hendaklah dia melihat orang ini.”
Semua orang Islam yang hadir berdiri, dan mencium antara kedua mata Ukasyah seraya berkata : ”Beruntung sekali engkau, engkau sukses mendapatkan derajat yang tinggi dan berkawan dengan Nabi Muhammad SAW di surga.”
Ya Allah, mudahkanlah kepada kami untuk mendapatkan syafa’atnya, berkat keagungan dan kemegahanMu
(Dari Mau’idhatul Hasanah)
Ibnu Mas’ud berkata: ”saat dekat wafat Nabi Muhammad SAW
berkumpullah kami di rumah Ibu kita Aisyah. setelah itu Beliau memandang
kami dan bercucuranlah air matanya.
Beliau bersabda:
”Marhaban bikum rahimakumullah” (selamat datang kita semua, mudah-mudahan Allah memberi rahmat kepada kita) aku berwasiat kepada kita supaya takwa kepada Allah dan taat kepadaNya. Telah dekat perpisahan dan telah tiba kembali kepada Allah dan ke surga Al-Ma’waa. Hendaklah nanti Ali yang
memandikan aku, Al-Fadhal bin Abbas yang menuangkan air dan Usamah bin
Zaid yang membantu keduanya. Kafanilah aku dengan pakaianku sendiri
Seandainya kita mau, atau dengan pakaian buatan Yaman yang putih. bila kita
sudah memandikan aku letakkanlah aku di tempat tidurku didalam kamarku
ini di tepi liang lahadku. setelah itu keluarlah meninggalkan aku sesaat.
di karenakan pertama-tama yang menshalatkan aku Yaitu Allah Azza wa Jalla,
setelah itu Jibril, setelah itu Israfil, setelah itu Mika’il, setelah itu Malaikat
Maut beserta anak buahnya, setelah itu semua Malaikat yang lain. Seusai
ini barulah kita masuk sekelompok demi sekelompok dan shalatkanlah aku.”
Seusai mereka mendengar Perkataan perpisahan Nabi Muhammad SAW ini mereka berteriak seraya menangis.
Mereka berkata:
”Ya Rasulullah, engkau Yaitu Rasul kami
dan kepala kumpulan kami. Serta penguasa perkara kami. bila engkau
wajib pergi, lalu kepada siapakah nanti kami akan kembali di
menghadapi kesulitan?”
Nabi Muhammad SAW bersabda :
”Aku tinggalkan kita di jalan kebenaran dan jalan
yang bersinar dan aku tinggalkan untuk kita dua penasehat: Yang
berbicara dan yang diam. Yang berbicara Yaitu Al-Qur’an, sedang yang
diam Yaitu kematian. Apabila ada suatu kesulitan di kita maka
kembalilah kepada Al-Qur’an dan Sunnah, dan apabila hatimu keras
membantu lembutkanlah dia dengan mengambil pelajaran dengan hal ihwal
kematian.”
Detik-detik Rasulullah saw menjelang sakaratul maut.
Ada suatu kisah mengenai totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit telah Berawal Dari menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata membagikan petuah, “Wahai umatku, kita semua ada di kekuasaan Allah dan cinta Afeksi-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Ku wariskan dua hal di kalian, sunnah dan Al Qur’an. Barang siapa mencintai sunnahku, berarti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-Serupa masuk surga bersama aku.”
Khutbah singkat itu diakhiri dengan Etos mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya di-di. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. “Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” desah hati semua sahabat kala itu.
Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di Global. Asterik-Asterik itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung di turun dari mimbar. di itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, Seandainya Bisa.
Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang Jadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.
“Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” Perkataan Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. setelah itu ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah Mengakses mata dan bertanya di Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?” “Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan Etos yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak dikenang.
“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di Global. Dialah malaikatul maut,” Perkataan Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak Empati menyertai. setelah itu dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit Global menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu Global ini. “Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah? ” tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.
“Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” Perkataan Jibril. Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. “Engkau tak suka mendengar kabar ini? ” tanya Jibril lagi. “Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku Sempat mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan surga untuk siapa aja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya,” Perkataan Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail menjalankan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin di dan Jibril membuang muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu Jibril?”
Tanya Rasulullah di Malaikat pengantar wahyu itu. “Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” Perkataan Jibril. Sebentar setelah itu terdengar Rasulullah memekik, di karenakan sakit yang tak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan aja semua siksa maut ini kepadaku, jangan di umatku”. Badan Rasulullah Berawal Dari dingin, kaki dan dadanya sudah tak Dinamis lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali Genjah mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu.” Di luar pintu tangis Berawal Dari terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan diwajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang Berawal Dari kebiruan.
“Ummatii, ummatii, ummatiii” – “Umatku, umatku, umatku” Dan, pupuslah kembang Hayati manusia mulia itu. di ini, mampukah kita mencinta sepertinya? Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wasalim ‘alaihi. Betapa cintanya Rasulullah kepada kita. Kirimkan kepada sahabat-2 muslim lainnya supaya timbul kesadaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan RasulNya mencinta kita. di karenakan sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka.

Loading...

Sumber   

Baca Info Menarik berikut ini di >>> Peristiwa Unik Matahari Yang wajib kita Ketahui

Tag : Kisah Inspiratif Islam

Kisah Mengharukan Detik Wafatnya Rasulullah SAW

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here