Home Hakikat Makrifat KISAH-KISAH RIDHA

KISAH-KISAH RIDHA

22
0
Dihikayatkan bahwa seseorang dari kalangan orang-orang shalih melewati seorang laki-laki yang terkena penyakit lumpuh separuh badan, ulat bertebaran dari dua Hepotenusa perutnya, lebih dari itu ia juga buta dan tuli. Lelaki lumpuh itu Menyebut, “segala puji untuk Allah yang telah menyelamatkanmu dari cobaan yang telah dialami oleh banyak orang.” Lantas lelaki shalih yang lewat itu heran, setelah itu bertanya kepadanya, “Wahai saudaraku! Apa yang diselamatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dari dirimu Padahal saya melihat semua musibah, menimpa dirimu?” Ia menjawab, “Menyingkirlah kita dariku hai pengangguran! Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyelamatkanku di karenakan Dia menganugerahkan kepadaku lisan yang selalu mentauhidkan-Nya, hati yang Bisa mengenal-Nya, dan waktu yang selalu kugunakan untuk berdzikir kepada-Nya.”

Loading...
Dihikayatkan pula bahwa ada seorang yang shalih yang apabila ditimpa suatu musibah atau mendapat cobaan, selalu berkata, “Ini Yaitu sesuatu yang bagus.” di suatu malam serigala datang memangsa ayam jagonya, kejadian ini disampaikan kepadanya, maka ia pun berkata, “Ini Yaitu sesuatu yang bagus.” setelah itu di malam itu pula anjing penjaga ternaknya dipukul orang hingga mati, lalu kejadian ini disampaikan kepadanya. Ia pun berkata, “Ini Yaitu sesuatu yang bagus.” Tak berapa lama keledainya meringkik, lalu mati. Ia pun berkata, “Ini Yaitu sesuatu yang bagus, insya Allah.” Anggota keluarganya merasa sempit dan tak mampu memahami mengapa ia mengucapkan Ungkap itu. di malam itu orang-orang Arab datang menyerang mereka. Mereka membunuh semua orang yang ada di wilayah Itu. tak ada yang selamat selain dia dan keluarganya. Orang-orang Arab yang menyerang Itu menjadikan suara ayam jago, gonggongan anjing, dan teriakan keledai Bagaikan indikasi bahwa suatu tempat itu dihuni oleh manusia, Padahal semua binatang miliknya telah mati. Jadi, kematian semua binatang ini merupakan kebaikan dan Jadi penyebab dirinya selamat dari pembunuhan. Maha Suci Allah Yang Maha Mengatur dan Maha Bijaksana.

Al-Mada’ini menceritakan,

“Di daerah pedalaman saya Sempat melihat seorang perempuan yang saya belum Sempat melihat seorang pun yang lebih Higienis kulitnya dan lebih cantik wajahnya daripada dirinya. Lalu saya berkata, “Demi Allah, kesempurnaan dan kebahagiaan berpihak kepadamu.” Lantas perempuan Itu berkata, “tak. Demi Allah, sesungguhnya saya banyak dikelilingi oleh duka cita dan kesedihan. Saya akan bercerita kepadamu. Dulu saya mempunyai seorang suami. Dari suami saya Itu saya mempunyai dua orang anak. Suatu saat ayah kedua anak saya ini sedang menyembelih kambing di hari raya Idul Adha. Padahal anak-anak sedang bermain.” Lantas anak yang lebih besar berkata kepada adiknya, “Apakah kita ingin saya beritahu bagaimana tips ayah menyembelih kambing?” Adiknya menjawab, “Ya.” Lalu si kakak menyembelih adiknya. saat si kakak ini melihat darah, maka ia Jadi cemas, lalu ia melarikan diri ke arah gunung. Tiba-tiba ia dimangsa oleh serigala. setelah itu ayahnya keluar untuk Menelusuri anaknya, ternyata ia tersesat di jalan sehingga ia mati kehausan. Akhirnya saya pun Hayati sebatang kara.” Lantas saya bertanya kepadanya, “Bagaimana engkau Bisa sabar?” Ia menjawab, “Apabila peristiwa Itu terus-menerus menimpa saya, pasti saya masih merasakannya. Namun, hal itu saya anggap hanya suatu luka, hingga akhirnya ia pun sembuh.”

di di putranya meninggal Global, Imam asy-Syafi’i rahimahullah. Berkata, “Ya Allah! bila Engkau memberi cobaan, maka sungguh Engkau masih menyelamatkanku. bila Engkau mengambil, sungguh Engkau masih menyisakan yang lain. bila Engkau mengambil suatu organ, sungguh Engkau masih menyisakan banyak organ yang lain. bila Engkau mengambil seorang anak, sungguh Engkau masih menyisakan beberapa anak yang lain.”

Al-Ahnaf bin Qais Menyebut,

“Saya mengadukan sakit perut yang saya alami kepada pamanku, namun ia malah membentakku seraya berkata, “bila sesuatu menimpamu, janganlah engkau mengeluhkannya kepada seorang pun. Sesungguhnya manusia itu ada dua macam. Teman yang kita susahkan dan musuh yang kita senangkan. Janganlah engkau mengeluhkan sesuatu yang menimpa dirimu kepada makhluk sepertimu yang tak mampu mencegah apabila hal serupa menimpa dirinya. Akan akan tetapi, adukanlah di Dzat yang memberi cobaan kepadamu. Dialah yang mampu membagikan kelonggaran kepadamu. Hai putra saudaraku! Sungguh, Disorientasi satu dari kedua mataku ini tak Bisa melihat semenjak empat puluh tahun lalu. Saya tak memberitahukan hal ini kepada istri saya dan kepada seorang pun dari keluarga saya.”

Ada seorang yang shalih mendapat cobaan terkait putra-putranya. saat ia dianugerahi dua orang anak dan baru aja Berawal Dari beranjak besar sehingga membuatnya bahagia, tiba-tiba anaknya dijemput kematian. Ia ditinggalkan anaknya dengan penuh kesedihan dan patah hati. Akan akan tetapi, lantaran kuatnya iman, ia hanya Bisa mengikhlaskan di karenakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bersabar seraya berkata, “Milik Allah Subhanahu wa Ta’ala – segala sesuatu yang telah Dia berikan. Milik Allah Subhanahu wa Ta’ala pula segala sesuatu yang telah Dia ambil. Ya Allah! Berilah keselamatan kepadaku di musibah ini dan berikanlah ganti yang lebih bagus lagi.” Allah pun menganugerahkannya anak yang ketiga. Seusai beberapa tahun, si anak jatuh sakit. Dan ternyata sakitnya sangat parah hingga hampir mati. Sang ayah berada di sisinya dengan air mata yang berlinangan. setelah itu ia merasakan kantuk dan tidur. Di di tidurnya ia bermimpi bahwa kiamat telah datang. Ketakutan-ketakutan di hari Kiamat telah muncul. Lantas ia melihat shirath (jembatan) yang telah dipasang di atas permukaan Neraka Jahannam. Orang-orang sudah siap menyeberanginya. Laki-laki Itu melihat dirinya sendiri di atas shirath. Ia hendak berjalan, akan tetapi ia takut terjatuh. Tiba-tiba anaknya yang pertama yang telah mati datang berlari-lari menghampirinya seraya berkata, “Saya akan Jadi sandaranmu wahai ayahku!” Sang ayah pun Berawal Dari berjalan. Akan akan tetapi, ia masih khawatir terjatuh dari Hepotenusa lain. Tiba-tiba ia melihat anaknya yang kedua mendatanginya dan memegangi tangannya di Hepotenusa lainnya. Lantas lelaki Itu sungguh-sungguh bergembira. Seusai ia berjalan sebentara, ia merasakan sangat haus, lalu ia meminta kepada Disorientasi satu dari dua anaknya Itu supaya memberinya minuman. Keduanya berkata, “tak Bisa. bila Disorientasi satu dari kita meninggalkanmu, niscaya engkau terjatuh ke neraka, lalu apa yang sebaiknya kita lakukan?” Disorientasi satu dari kedua anaknya berkata, “Wahai ayahku! Seandainya ada saudara kami yang ketiga bersama kami, pastilah ia Bisa mengambilkan minum untukmu sekarang.” Lantas lelaki Itu terjaga dari tidurnya seraya ketakutan. Ia memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa ia masih Hayati dan Hari Kiamat belum tiba. Seketika ia melirik ke arah anaknya yang sedang sakit di sampingnya. Ternyata anaknya telah meninggal Global. Kontan ia menjerit, “Segala puji untuk Allah.” Sungguh, saya telah mempunyai simpanan dan pahala. kita Yaitu pendahulu bagiku di atas shirath di hari Kiamat kelak.”

KISAH-KISAH RIDHA

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here