Home Fiqih Islam Kisah dan Bukti Kecintaan Para Sahabat Kepada Rasulullah SAW

Kisah dan Bukti Kecintaan Para Sahabat Kepada Rasulullah SAW

42
0

Musli Fiqih – Bagaikan umat islam kita wajib mencintai Nabi Muhammad SAW dengan sepenuh hati. bahkan tak dikatakan sempurna iman seseorang sebelum ia mencintai Rasulullah SAW melebihi apapun di Global ini termauk harta, istri, anak, dan kedua orang tua kita sekalipun. jasa dan kebaikan Rasulullah tak mungkin Sempat Bisa kita balas dengan apapun. Afeksi sayangnya kepada kita umatnya jelas jauh melebihi Afeksi sayang kedua orang tua kita sekalipun. kita masuk surga kelak insyaallah juga melalui perantara Nabi Muhammad SAW. bagaimana kita akan membalas jasa jasanya. kenapa hanya dengan mencintai dan merindukannya susah untuk kita?

Ambillah contoh dari para sahabat Nabi, cinta dan mahhabbah kepada Nabi ini benar benar dijalankan oleh para sahabat yang tinggal di Masa Nabi Muhammad SAW dan sesudahnya. mereka mempraktekkan kecintaan yang tulus dan sesungguhnya hingga nyawa, harta dan keluarga pun Jadi taruhannya. ituah bukti dan sebaik bagus cinta yang sebenarnya. merek tak rela Nabi disakiti sedikitpun oleh musuh musuh islam.

baca juga : profil biografi Habib Umar bin Hafidz

suatu kecintaan yang wajar dan memang wajib untuk kita kaum muslimin. amal dan ibadah kita tak mampu membuat kita selamat di akhirat kelak, syafaat dan pertolongan Nabi Muhammad SAW lah yang akan menyelamatkan kita dari siksa api neraka. maka dari itu muslim fiqih akan membagi sedikit kisah dan cerita mengenai bagaimana bukti kecintaan para sahabat Nabi kepada Rasulullah SAW. berikut kisahnya berdasarkan hadist – hadits / riwayat yang ada . . .
Kisah dan Bukti Kecintaan Para Sahabat Kepada Rasulullah SAW
Kisah dan Bukti Kecintaan Para Sahabat Kepada Rasulullah SAW :

Seorang shahabiyah (sahabat wanita) mulia, yang bapaknya, saudaranya dan suaminya terbunuh di Perang Uhud tatkala dikabari berita duka Itu justru ia malah bertanya bagaimana keadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu dikatakan kepadanya, “Beliau (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) bagus-bagus aja seperti yang engkau harapkan.” Dia menjawab, “Biarkan aku melihatnya.” Tatkala ia melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dia Menyebut, “Sungguh semua musibah terasa ringan wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali apabila hal itu menimpamu.” (Sirah Nabawiyyah Libni Hisyam, 2:99).

Diriwayatkan dari Ibnu Sirin, ia berkata: Aku Sempat berkata kepada Ubaidah bin Al-Jarrah, “Aku mempunyai sebagian dari rambut Nabi saw. Kami menerimanya dari Anas bin Malik atau dari keluarga Anas.” Maka Ubaidah berkata, “Sungguh, satu lembar rambut Nabi saw. yang ada padaku lebih aku cintai daripada Global dan seisinya.” (HR. Bukhari).

Kisah kecintaan sahabat kepada Rasulullah saw. banyak Disampaikan di sejarah. Disorientasi satunya ditunjukan oleh Umar bin Khatthab. ”Ya Rasulullah, aku mencintaimu lebih dari segalanya, kecuali jiwaku,” Perkataan Umar. Mendengar itu, Rasulullah saw. menjawab, ”Tak seorang pun di antara kalian beriman, hingga aku lebih mereka cintai daripada jiwamu.”

”Demi Dzat yang menurunkan kitab suci Al-Quran kepadamu, aku mencintaimu melebihi kecintaanku kepada jiwaku sendiri,” sahut Umar Impulsif. Maka Rasulullah saw. pun menukas, ”Wahai Umar, di ini kita telah mendapatkan iman itu” (HR. Bukhari).

Seorang sahabat mulia yang keluarganya Yaitu Quraisy, ia ditangkap oleh Quraisy untuk dibunuh, maka berkata Abu Sufyan berkata kepadanya, “Wahai Zaid, semoga Allah menguatkanmu, apakah engkau suka apabila Muhammad menggantikan posisimu sekarang untuk dipenggal kepalanya sedang engkau duduk manis bersama keluargamu..?!! Maka Impulsif Zaid menjawab, “Demi Allah, sungguh tidakkah aku suka apabila Muhammad sekarang tertusuk duri di tempatnya, sedang aku bersenang-suka bersama keluargaku.” Abu Sufyan pun Menyebut, “Saya tak melihat seorang pun yang kecintaannya melebihi kecintaan sahabat-sahabat Muhammad kepada Muhammad.” (Sirah Nabawiyyah Libni Hisyam, 3:0).

Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra., ia berkata: Suatu hari telah datang Hindun binti Utbah, ia berkata, “Wahai Rasulullah! Seluruh penghuni rumah yang ada di muka bumi, lebih aku sukai mereka terhina dari di penghuni rumahmu. Dan tak ada penghuni suatu rumah di muka bumi di pagi hari yang lebih aku cintai supaya mereka Jadi mulia dari di penghuni rumahmu… (Mutafaq ‘alaih)

Betapa cinta sahabat kepada Rasulullah saw., tergambar saat Rasulullah saw. bersama Abu Bakar ash-Shiddiq beristirahat di Gua Tsur di perjalanan hijrah dari Makkah ke Madinah dengan cara sembunyi-sembunyi. Kala itu Rasulullah saw. tertidur berbantalkan paha Abu Bakar. Tiba-tiba Abu Bakar merasa kesakitan di karenakan kakinya digigit kalajengking. Tapi, dia berusaha sekuat tenaga menahan sakit, hingga mencucurkan air mata, jangan hingga pahanya Dinamis, khawatir Rasulullah saw. terbangun.

Abu Thalhah radhiallahu’anhu di waktu Perang Uhud, beliau membabi buta melemparkan panah-panah ke arah musuh hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat ada sedikit rasa iba kepada musuh. Maka Abu Thalhah radhiallahu’anhu, “Demi bapak dan ibuku yang Jadi tebusanmu, wahai Rasulullah, jangan engkau merasa iba dengan mereka, di karenakan panah-panah mereka telah melukai dan menusukmu, sesungguhnya leherku Jadi tameng lehermu.” (HR. Bukhari, no.3600 dan Muslim, no.1811).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a bahwa Tsumamah bin Tsaal berkata: Ya Muhammad, demi Allah, Dulu tak ada di muka bumi ini satu wajah pun yang paling aku benci daripada wajahmu. Tapi, akhirnya wajahmu Jadi wajah yang paling aku cintai. Demi Allah, Dulu tak ada suatu agama pun yang paling aku benci daripada agamamu, tapi sekarang agamamu Jadi agama yang paling aku cintai. Demi Allah, Dulu tak ada suatu negeri pun yang paling aku benci daripada negerimu, tapi sekarang negerimu Jadi negeri yang paling aku cintai. (Mutafaq ‘alaih).

Diriwayatkan dari ‘Aisyah r.a bahwa Saad Sempat berkata: Ya Allah, sungguh engkau mengetahui bahwa tak ada seorang pun yang lebih aku sukai untuk diperangi karenamu daripada suatu kaum yang mendustakan Rasul-Mu dan mengusirnya. (Mutafaq ‘Alaih).

Anas bin Malik berkata: Sesunguhnya Rasulullah saw. di di perang Uhud telah terpojok sendirian bersama tujuh orang Anshar dan dua orang Quraisy (Muhajirin). saat musuh (kaum Musyrik) telah merangsek mendekati beliau, beliau bersabda, “Siapa yang Bisa menolak mereka dari kita, maka ia akan masuk surga atau Jadi temanku di surga.” Maka majulah seorang laki-laki dari kaum Anshar lalu memerangi musuh hingga terbunuh. setelah itu musuh kembali merangsek mendekat. Beliau bersabda, “Siapa yang Bisa menolak mereka dari kita, maka ia akan masuk surga atau Jadi temanku di surga.” Maka majulah seorang laki-laki dari kaum Anshar, lalu memerangi musuh hingga ia terbunuh. Hal seperti itu terjadi berulang-ulang hingga terbunuhlah tujuh orang Anshar. Rasulullah bersabda kepada dua sahabatnya (dari Muhajirin), “Kita tak sebanding dengan para sahabat kita itu.”(HR. Muslim)

Loading...

Kisah kecintaan Abu Bakr Ash Shiddiq r.a. di di pertama kali beliau dan Rasulullah s.a.w pergi ke Ka’bah untuk menyatakan keIslamannya dihadapan kafir-kafir Quraisy, Rasulullah s.a.w menyarankan jangan, akan tetapi di karenakan kecintaan beliau kepada Agama Allah SWT dan Rasulul-Nya. Beliau langsung aja mengucapkan kalimah tauhid dihadapan pemuka-pemuka kaum kafir Quraisy, di di itulah belau dan Rasulullah s.a.w diserang oleh orang Quraisy dan Abu bakr r.a melindungi tubuh Rasulullah s.a.w dengan tubuhnya. Abu Bakr r.a ditendang, dipukul dengan terompah (sepatu/kasut) sehingga berdarah tubuh beliau sedemikian parahnya sehingga beliau tak sadarkan diri 1 hari lamanya, di keadaan yang demikian, Bani Teen, orang dari suku beliau membawa beliau pulang, sedang Rasulullah s.a.w telah Allah SWT selamatkan dengan Qudrah-Nya.Seusai lama tak sadarkan diri Abu Bakr r.a. Mengakses mata dan Perkataan-Perkataan yang pertama keluar dari mulut beliau ialah:”Bagaimana keadaan Rasulullah s.a.w ?” Perkataan-Perkataan ini berulang-ulang terucap dari mulut beliau dan berkata:”Demi Allah, saya tak akan makan sesuatu apapun sehingga saya melihat wajah Rasulullah s.a.w.”

Dari Abdullah bin Abu Bakar ra., ‘.Sesungguhnya Sa’ad bin Muadz r.a berkata kepada Nabi SAW. “Ya Rasulullah. mahukah engkau kami buatkan suatu benteng dan kami siapkan di sisimu suatu kenderaan. setelah itu kami maju berhadapan dengan musuh, bila kami diberi kemenangan oleh ALLAH maka itulah yang kami harapkan. tapi bila terjadi sebaliknya, maka engkau Bisa Genjah pergi dengan kenderaan ini. Menemui pasukan kita yang masih ada di belakang kita. Sebab di belakang kami tertinggal sejumlah kaum yang sangat mencintaimu. Sungguh andaikata mereka tahu bahwa engkau akan berperang pasti mereka akan Empati semuanya. Akan akan tetapi di sebabkan mereka tak tahu bahwa engkau akan menemui pasukan musuh seperti ini. Maka tidaklah hairan bila sebahagian orang tak Empati bersama engkau.” Maka Rasullah SAW menyatakan terimakasihnya dan mendoakan kebaikan baginya, setelah itu mereka membangunkan suatu benteng untuk Nabi.
(Ibnu Ishaq, Al-Bidayah 3/268)

Diriwayatkan dari ‘Aisyah r.a: Maka Abu Bakar berkata, “Demi Allah, sungguh aku lebih cinta bersilaturrahmi kepada kerabat Rasulullah saw. daripada kepada kerabatku.” (HR. Bukhari).

Alibi Abi Thalib, Beliau Sempat ditanya mengenai cintanya kepada Rasulullah s.a.w. beliau menjawab: “Demi Allah, kami menganggap Rasulullah s.a.w, lebih berharga dari anak-anak kami dan ibu-ibu kami. Untuk berada disamping baginda Yaitu lebih berharga kepada kami daripada meminum air sejuk saat terasa terlalu dahaga.”

Ali bin Abi Thalib pulalah yang mengantikan tempat tidur Rasulullah s.a.w di di rumah Rasulullah s.a.w dikepung oleh pemuda-pemuda dan tukang bunuh dari berbagai kabilah di Quraisy dengan senjata terhunus, demi menyelamatkan Rasulullah s.a.w beliau tidur mengantikan tenpat tidur nabi dan beliau Rasulullah s.a.w tugaskan untuk memulangkan barang amanah yang Sempat dititipkan oleh kaum Quraisy kepada Rasulullah s.a.w.

Kisah kecintaan Tsauban, Sahabat Nabi Muhammad SAW ini tinggal di Madinah sepanjang Hayati Rasul SAW. Namun suatu di dari hari ke hari tubuhnya semakin kurus dan ringkih. saat ditanya oleh sahabat-sahabat yang lain, beliau tak mau menjawab. Namun di ditanya sendiri oleh Nabi, Tsauban menjawab,

“Wahai Rasul, saya ini sebenarnya orang yang kuat. Saya Bisa menahan lapar dan haus saya di sedang tak ada Boga atau minuman. Saya juga tahan pergi perang dan tak bertemu berbulan-bulan dengan keluarga saya. Tapi ada satu hal yang saya tak tahan, Yaitu apabila datang kerinduan kepadamu di siang hari, tak mampu aku tunggu malam untuk berjumpa denganmu. Apabila datang kerinduan padamu di malam hari, tak mampu ku tunggu pagi untuk berjumpa denganmu. Sepanjang waktu itu aku berada di keadaan gelisah, susah, tak enak makan dan tidur hingga aku Bisa berjumpa denganmu, ya Rasulullah.

Masalahnya, di di Global, engkau begitu mudah ditemui. Yang saya pikirkan nanti di hari akhirat. Engkau Yaitu Rasulullah, sementara aku hanyalah Tsauban. Engkau pasti akan ditempatkan bersama para Nabi di surganya yang paling tinggi. Sementara aku, andai pun Allah mengampuni dosa-dosaku dan berada di surga, pasti surgaku berada di bawah surgamu, ya Rasulullah. Dan apalah artinya surga bila aku tak Bisa berjumpa denganmu ya, Rasulullah. Inilah yang membuat saya terus kepikiran dan membuatku semakin kurus dan pucat wajahku.”

Nabi terdiam lalu Allah membagikan berita gembira kepada “Tsauban-Tsauban berikutnya hingga sekarang”, suatu wahyu lewat malaikat Jibril. Nabi Genjah tersenyum dan berkata, “Wahai Tsauban, dengarkanlah, Allah telah mengirimkan untukmu satu ayat yang merupakan Agunan bagimu. Satu ayat yang merupakan kabar gembira untukmu dan orang-orang yang mengikuti jalanmu: “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-Serupa dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS 4: 69)

Simaklah Cerita Sayyidina Abu Bakar kepada sahabat-sahabatnya dari para ulama:
“Di tengah perjalanan hijrah bersama Nabi Muhammad SAW, di itu sedang musim Geothermal yang sangat luar biasa. Di siang yang terik sekali, kami Menelusuri naungan untuk beristirahat hingga matahari agak condong ke arah barat. Seusai menemukan naungan, saya membersihkan tempatnya lalu saya gelar selimut kain untuk alas tidur setelah itu saya mempersilakan beliau untuk beristirahat.

saat aku lihat Nabi Muhammad sudah memejamkan mata, aku melihat keadaan sekitar dan melihat pengembala dengan kawanan kambingnya. Saya Futuristis orang Itu dan bertanya kambing itu milik siapa. Pengembala itu menyebutkan nama seseorang yang sangat saya kenal dan mempunyai Interaksi bagus dengan mereka di Kota Makkah. setelah itu saya meminta pengembala Itu untuk memerahkan semangkuk susu. Begitu Bisa, saya berusaha untuk mendinginkannya. Saya setelah itu mengalirkan air di bawah mangkuk Itu supaya susunya Jadi dingin. Seusai itu saya Futuristis ke tempat Nabi SAW, saya tunggu hingga beliau bangun. Begitu Nabi bangun, saya sodorkan susu Itu dan menceritakan dari mana susu Itu berasal. Nabi setelah itu mengambilnya dan meminumnya, hingga Demisioner susu Itu dan hilanglah dahagaku.”

Ajaib kah? Pertama, Sayyidina Abu Bakar mempersilakan Rasul untuk beristirahat sementara beliau berjaga. Padahal yang bepergian mereka berdua, seharusnya yang kelelahan juga pasti mereka berdua. Di kejadian selanjutnya, beliau bahkan tak mencecap susu satu tetes pun, namun beliau Menyebut hanya dengan melihat Nabi meminumnya, maka dahaga beliau Empati hilang dan seakan-akan Empati merasakan kesegarannya. di karenakan untuk dia, keselamatan Nabi, kenyamanan Nabi, lebih daripada kenyamanannya sendiri. Ini jalan cinta, yang diambil oleh para sahabat-sahabat Nabi SAW.

Bagaimana? luar biasa bukan kecintaan mereka kepada Rasululah SAW, adapaun kita ummatnya yang berharap bayak di beliau. apa yang sudah kita perbuat? sudahkan kita mencintainya? sudahkan kita mengikuti ajaran dan sunnahnya?. melihat cinta sahabat kepada beliau yang luar biasa aja sudah membuat kita terheran heran. bagaiman dengan cinta Nabi Muhammad SAW kepada sahabat dan kita umatnya? kita tak akan mampu mengitungnya. renungkanlah. allahumma sholli alaa Muhammad.

Kisah dan Bukti Kecintaan Para Sahabat Kepada Rasulullah SAW

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here