KESABARAN JUNJUNGAN RASULULLAH di BERDAKWAH..(7) (AKHLAK SABAR SAW)

Anas bin Malik radhiyallahu `anhu Sempat Menyebut : “Aku Sempat berjalan bersama Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam di beliau mengenakan jubah dari Najran yang kasar tepinya. Tiba-tiba datanglah seorang Arab gunung dan menarik jubah beliau dengan cara keras. karena perbuatannya itu, aku melihat bekas tarikan Itu di Hepotenusa pundak beliau. setelah itu dia (orang Arab gunung itu) berucap : ‘Wahai Muhammad, perintahkanlah, bahwa harta Allah yang ada padamu untukku.’ Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam melihat kepadanya dan tersenyum seraya memerintahkan untuk membagikan harta kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Contoh lain Yaitu kisah Muawiyah bin Al-Hakam As-Sulami, yang Menyebut : “saat aku shalat bersama Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, tiba-tiba ada seseorang dari satu kaum yang bersin. Maka aku mengucapkan yarhamukallah. saat semua orang melemparkan pandangannya kepadaku, sehingga aku berkata : ‘Duhai ibuku yang Dehidrasi aku, ada apa kalian melihatku?’ Mereka lalu menepuk tangan mereka ke pahanya. saat aku lihat, mereka menyuruh aku diam, lantas aku pun diam.
Seusai Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam selesai shalat –dengan bapak dan ibuku– sungguh aku belum Sempat melihat seorang pengajar pun yang lebih bagus pengajarannya dari beliau shallallahu `alaihi wa sallam. Demi Allah, beliau tak membentakku, tak memukulku, dan tak pula mencelaku.
Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya di di shalat ini tak layak sedikit pun ada ucapan manusia. Sesungguhnya shalat Yaitu tasbih, takbir dan bacaan Al Qur’an.’ “ (HR. Muslim di kitab Masajid bab Tahrimul Kalam fish Shalah)
Demikian pula sikap Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam terhadap seorang pemuda yang meminta ijin untuk berzina. Seperti Disampaikan Abu Umamah : “Sesungguhnya Sempat ada seorang pemuda yang datang kepada Nabi shallallahu `alaihi wa sallam Menyebut, ‘Wahai Rasulullah, ijinkanlah aku berzina.’ di itu, orang-orang yang ada di situ membentaknya seraya Menyebut, ‘Mah, mah!’ Sementara Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam menyuruh pemuda itu untuk mendekat. ‘Mendekatlah,’ ajak beliau. Pemuda itu pun mendekat. setelah itu Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bertanya, ‘Sukakah engkau Seandainya hal ini terjadi di ibumu?’ ‘tak, demi Allah, aku Bagaikan jaminanmu,’ jawabnya. ‘Demikian pula halnya setiap manusia pasti tak menyukai hal itu terjadi di ibu-ibu mereka,’ jelas Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam kepada pemuda itu. setelah itu beliau ajukan pertanyaan lagi, ‘Sukakah engkau bila hal itu terjadi di anak perempuanmu?’ Ia Jawab, ‘tak, demi Allah, Allah menjadikan diriku Bagaikan jaminanmu’ Beliau jelaskan lagi, ‘Demikian pula manusia tak menyukai hal itu terjadi di anak perempuan mereka.’ setelah itu beliau tanya, ‘Sukakah engkau bila hal itu terjadi di saudara perempuanmu?’ Pemuda itu menjawab, ‘tak, demi Allah, Allah menjadikan aku Bagaikan jaminanmu’ Lalu beliau bersabda, ‘tak pula manusia menyukai hal itu terjadi di saudara-saudara perempuan mereka.’ ‘Sukakah engkau bila hal itu terjadi di bibimu (ammah / saudara perempuan bapak)?’ Tanya beliau kembali. Dijawabnya, ‘tak, demi Allah, Allah menjadikan aku Bagaikan jaminanmu’ setelah itu Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam nyatakan, ‘tak pula manusia menyukai hal itu terjadi di bibi mereka.’ Beliau berikan lagi pertanyaan, ‘Sukakah engkau bila hal itu terjadi di bibimu (khalah / saudara perempuan ibu)?’ Jawab pemuda itu, ‘tak, demi Allah, Allah menjadikan aku Bagaikan jaminanmu.’ Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam menuturkan, ‘tak pula manusia menyukai hal itu terjadi di bibi (khalah) mereka.’ ” Selanjutnya Abu Umamah menyatakan : “Maka Rasulullah meletakkan tangannya kepada pemuda itu seraya mengucapkan : “Ya Allah, ampunilah dosanya, bersihkanlah hatinya dan peliharalah kemaluannya.’ “ (Kisah ini dinukil dari HR. Ahmad dan Thabrani, disahihkan oleh Al-Albani di Silsilah no. 370)
Kelembutan Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam pun ditunjukkan pula terhadap seorang Arab gunung lainnya yang kencing di masjid.
Anas bin Malik mengisahkan : “saat kami berada di masjid bersama Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang Arab kampung. Orang itu lantas berdiri dan kencing di masjid. Maka (bangkitlah) para shahabat Rasulullah membentaknya seraya membentak, ‘Mah, mah!’ Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam lantas mencegah para para sahabat sambil bersabda, ‘Jangan kalian putuskan kencingnya. Biarkan dia.’ Maka para shahabat pun membiarkannya hingga ia selesai. setelah itu Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam memanggilnya dan menasehatinya, ‘Sesungguhnya masjid ini tak patut sedikit pun untuk tempat buang air, (begitu pula) buang untuk kotoran. Masjid ini merupakan tempat untuk berdzikir kepada Allah, shalat dan membaca Al Qur’an.’ setelah itu beliau memerintahkan untuk mengambil seember air dan menyiramkannya.” (HR. Muslim)
tak hanya hingga di sini, kesabaran Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam terhadap orang-orang bodoh. Bahkan, di riwayat Bukhari masih berlanjut kisah orang Arab gunung Itu. Yaitu, saat Rasulullah dan para shahabat shalat bersamanya, maka orang tadi berdoa di shalatnya, “Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad dan janganlah engkau rahmati seorang pun selain kami.” Maka saat selesai shalat beliau bersabda, “Sungguh engkau telah mempersempit yang luas.” Yang dimaksud Yaitu rahmat Allah yang luas. Demikianlah Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam menyikapi seorang yang memang bodoh, membutuhkan pengajaran dan pendidikan. saat orang Arab gunung itu Seusai faqih (memahami agama) dia katakan, “Ayah dan ibuku Bagaikan Agunan. Sungguh Nabi shallallahu `alaihi wa sallam bangkit kepadaku tanpa mencela, menghardik atau pun memukulku.” Selain itu kita juga dapati sifat ta`anni beliau shallallahu `alaihi wa sallam saat para shahabat membentak si orang gunung Itu. Beliau malah Menyebut, “Biarkan dia”. Hal itu di karenakan beliau berfikir dan melihat Hepotenusa hikmah, Yaitu bila dibentak dan diganggu saat dia sedang buang air, akan membawa dampak negatif yang lebih banyak. Bisa Jadi najis dari kencingnya akan berceceran di tempat yang lebih luas, atau najis itu Bisa aja mengenai pakaiannya. Bahkan, justru akan menjadikan penyakit untuk orang Itu di karenakan menahan kencing dan lainnya. Demikianlah semestinya sikap seorang mukmin, apalagi dia seorang da’i. Janganlah Genjah bersikap emosional, bersifatlah ta`anni.
Perlakukanlah orang-orang awam dan jahil dengan sabar serta ajarilah mereka dengan lemah lembut. Adapun orang-orang bodoh yang tak mau mengerti Ungkap orang, tinggalkanlah dan hindarilah dia dengan bagus dan ucapkanlah ucapan yang bagus. Allah berfirman di mengungkapkan sifat hamba-hamba-Nya : “Hamba-hamba Allah yang Maha Rahman Yaitu orang-orang yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati. bila orang-orang bodoh mengajak bicara mereka, mereka mengucapkan Perkataan-Perkataan yang mengandung keselamatan.” (Al-Furqan: 63) di menafsirkan ayat ini Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan, “Yaitu bila orang-orang bodoh mengganggu mereka dengan ucapan yang jelek, mereka tak membalasnya dengan yang semisal. Bahkan mereka memaafkan dan memaklumi serta tak mengucapkan selain kebaikan semata. Sebagaimana Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam tak membalas kerasnya kejahilan seseorang melainkan dengan kelembutan yang amat sangat.”
Dikisahkan di suatu riwayat, seorang mencela orang lain setelah itu orang yang dicela Itu Menyebut alaikas salam (semoga keselamatan atasmu). Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam yang mendengar ucapan itu langsung menegur, “Ketahuilah, sesungguhnya malaikat (yang menyaksikan) di antara kalian berdua membelamu. Setiap dia mencelamu malaikat itu berkata, ‘Bahkan engkau! Engkau lebih berhak dengannya!’ Sedang saat engkau mengucapkan kepadanya, ‘alaikas salam,’ malaikat itu berkata, ‘bahkan atasmu! Engkau lebih berhak dengannya.’ “ (HR. Ahmad 5)
di ayat lain, Allah juga memerintahkan berpaling dari orang-orang bodoh.“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang yang mengerjakan yang ma’ruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (Al-A`raf: 199)
Berkenaan dengan ayat ini, kita tengok riwayat Umar bin Khattab. Dikatakan Ibnu Abbas : “Uyainah bin Hishn bin Huzaijah datang dan singgah di rumah saudaranya, Al-Har bin Qais. Beliau Yaitu Disorientasi seorang yang dekat dengan Umar bin Khattab. di waktu itu para pembaca Al Qur’an merupakan teman-teman duduk Umar dan tempat bermusyawarah, bagus orang tua atau pun pemuda. Berkatalah Uyainah kepada anak saudaranya itu, ‘Wahai anak saudaraku, engkau mempunyai kedudukan di Hepotenusa khalifah. Maka mintalah ijin supaya aku diperkenankan menemuinya.’ Berkatalah Al-Har, ‘Aku akan mintakan ijin untukmu.’ ”
Ibnu Abbas mengungkapkan kisah selanjutnya : “setelah itu Al-Har bin Qais memintakan izin kepada Umar. Seketika itu Umar mengizinkannya. saat menghadap Umar, Uyainah ucapkan, ‘Wahai Ibnul Khattab, demi Allah, engkau tak memberi kami banyak. tak pula menghukumi kami dengan adil.’ Lantaran itu, marahlah Umar. Nyaris dilakukan sesuatu oleh Umar terhadapnya. akan tetapi Al-Har malah mengucapkan, ‘Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah berfirman kepada Nabi-Nya : “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (Al A’raf :199) Sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang bodoh.” Demi Allah, Umar radliyallahu `anhu tak melampaui apa yang dikatakan di ayat Itu. Beliau memang seorang yang selalu ‘berhenti’ di apa yang dikatakan di kitab Allah.” (HR. Al-Bukhari, Demikianlah sikap Amirul Mukminin Umar bin Khattab saat diberitahu bahwa ia (yang menghadap beliau) Yaitu orang bodoh. Sikap beliau tak keluar dari apa yang dikatakan oleh Allah : “Jadilah pemaaf, perintahkanlah yang ma’ruf dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.”

KESABARAN JUNJUNGAN RASULULLAH di BERDAKWAH..(7) (AKHLAK SABAR SAW)

Facebook Comments

Leave a Reply